3 Hari Wisata Hemat Paket Komplit ke Tanah Minang

Bali? Bangka Belitung? Lombok? Raja Ampat? Yakin cuman itu aja tempat yang bagus di Indonesia? Belum berkunjung ke Tanah Minang ? Mungkin ketika kamu mendengar kata Minang, yang terbayangkan hanyalah keripik balado, Jam Gadang, atau bahkan Rumah Gadang saja. Padahal wisata di Tanah Minang bisa jadi wisata paket komplit loh. Kamu bisa mendapatkan wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata belanja sekaligus dalam waktu 3 hari saja dan biaya yang cukup terjangkau. Penasaran seperti apa serunya berwisata di Tanah Minang? Yuk ikuti perjalanan aku dan kedua temanku dalam 3 hari all in west sumatera. Let’s check it out!

 

Hari pertama: Berburu Kuliner di Kota Padang

Perjalanan kami di Tanah Minang berawal di siang hari. Kami pun langsung menuju Kota Padang sebagai tempat peristirahatan kami. Sejenak beristirahat, kami langsung mulai berburu kuliner di tempat pilihan pertama kami yaitu Lamun Ombak.

Lamun Ombak adalah rumah makan paling terkenal di Kota Padang. Penasaran dengan cita rasa makanan khas Sumatera Barat langsung dari asalnya, kami pun langsung ke sini. Ketika datang, kami langsung disambut dengan berbagai makanan seperti rendang, gulai ikan, dan udang saos balado. Suasana di Lamun Ombak sangat bersih dan nyaman, apalagi kami mendapat tempat lesehan, jadi makan pun menjadi lebih nikmat dan santai. Untuk berkunjung ke sini, kamu tak perlu repot karena rumah makan yang terletak di Jalan Khatib Sulaiman 99 Padang ini mudah dicari melalui aplikasi seperti google maps. Harga yang ditawarkan juga tidak menguras kantong dengan harga mulai dari 5.000 per item, tergantung apakah makanan tersebut sayuran, daging, atau seafood. Secara keseluruhan, Lamun Ombak berhasil membuat saya yang tadinya tidak menyukai masakan padang, jadi sedikit menyukai masakan padang loh.

Kenyang dengan makanan padang, kami memutuskan untuk mengunjungi wisata bangunan yang ada di Padang. Wisata yang kami kunjungi adalah Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid raya ini unik karena dibangun dengan mengadaptasi arsitektur khas padang. Letak masjid tidak jauh dari Lamun Ombak, yang masih berada di Jalan Khatib Sulaiman. Masjid ini sangat nyaman digunakan untuk beribadah sekaligus tempat yang baik buat kamu yang suka foto-foto.Tanah Minang pic

Masjid Raya Sumatera Barat

Setelah bersantai-santai di masjid, kami memutuskan untuk lanjut menikmati kuliner kota Padang sebagai kudapan malam kami. Kali ini, pilihan jatuh pada makanan khas melayu di Malabar Bofet dan Restoran. Bagi yang pernah mendengar martabak mesir, roti cane, atau teh tarik, di sini lah surga bagi makanan dan minuman tersebut. Harganya juga cukup terjangkau, Martabak Mesir dapat diperoleh dengan harga Rp 22.000, Roti Cane Kuah Kari Rp 6.000, dan Teh Tarik Rp 10.000. Untuk martabak mesir sendiri, kamu bisa sharing berdua dengan teman kamu loh. Cukup murah kan? Namun demikian, restoran yang terletak di Jalan Thamrin No. 1 Padang ini cukup ramai dikunjungi oleh berbagai turis dan warga lokal, jadi siap-siap saja untuk mengantri demi makanan khas melayu yang yang satu ini ya.

Roti Cane di tanah minang img

Favoritku: Roti Cane dengan Kuah Kari 

Sudah kenyang? Yakin? Sebelum menutup hari ini dengan beristirahat, kami memutuskan untuk mencoba satu kuliner terakhir. Pilihan kami jatuh pada Kopi Minang Solok. Kami mengunjungi café bergaya artsy yang digemari anak muda di Padang yaitu Rimbun Espresso & Brew Bar. Disini kami mencoba meminum kopi solok yang diolah langsung di tempat. Harga kopi solok ini hanya Rp 16.000 saja. Setelah mencoba, Kopi Solok ini ternyata rasanya pahit dan sangat kuat aromanya. Bagi kamu yang menyukai kopi, ini akan menjadi hidangan penutup terbaik di Kota Padang.

 

Hari kedua: Tiga tempat, Tiga Kota dalam Satu Hari.

Sejak pukul 6 pagi, saya dan teman saya mulai bergegas. Demi mengunjungi tiga kota sekaligus, kami menyewa mobil rental seharga Rp 350.000. Pilihan mobil rental tersebut merupakan yang paling murah dan praktis, karena perjalanan menggunakan travel cukup sulit dan terbilang mahal untuk mengunjungi ketiga kota. Perjalanan pertama hari ini dimulai dengan mengunjungi Puncak Lawang. Puncak Lawang adalah bukit yang terletak di Kabupaten Agam. Tempat ini terkenal sebagai tempat terbaik melihat sunrise di Sumatera Barat. Harga masuk sini pun cukup murah, cukup dengan Rp 5.000, kamu bisa langsung menikmati pemandangan sambil foto-foto ala jaman sekarang. Untuk mencapai puncak lawang, diperlukan perjalanan yang memang cukup jauh yaitu berkisar 3 jam dari Kota Padang. Namun percayalah, perjalanan tersebut terbayarkan oleh pemadangan indah Danau Maninjau yang dikelilingi bukit-bukit.Foto Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Pemandangan Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Setelah puas menghirup udara segar di Puncak Lawang, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Bukit Tinggi. Ya, gak lengkap rasanya kalau ke Tanah Minang tapi gak foto di Jam Gadang kan? Tenang saja, karena dari Puncak Lawang hanya butuh satu jam perjalanan menuju Bukit Tinggi. Sesampainya di sini, seperti biasa kita berfoto di Jam Gadang. Jam Gadang ini terletak di dekat pusat perbelanjaan, jadi kalau berminat untuk belanja, di sinilah waktu yang tepat. Kamu bisa membeli mukena khas bukit tinggi yang sangat terkenal dengan kualitas bordirnya. Bisa banget kan, buat kamu yang mau memberi oleh-oleh untuk mama tercinta? Nah, kalau udah di bukit tinggi, jangan lupa juga mampir ke Ngarai Sianok. Di Ngarai Sianok, kamu bisa menapaki sejarah gua jepang jaman penjajahan sekaligus melihat indahnya ngarai, dan sejuknya alam bukit tinggi. Untuk harga tiket masuk ke ngarai sianok cukup dengan uang Rp 4000 saja, sementara jika kamu berminat menikmati wisata sejarah di Gua Jepang, akan ada biaya tambahan sebesar Rp 70.000 satu grup. Biaya ini sudah termasuk tour guide yang akan membawa kita kembali ke masa lampau dengan berkeliling sambil mendengarkan kisah di balik adanya gua jepang tersebut.

Ngarai Sianok di bukit tinggi img

Indahnya Ngarai Sianok bersatu dengan sejuknya alam Bukit Tinggi

12651136_10201189169848797_6728498398765571994_n

Bersiap kembali ke masa lampau dalam balutan kisah jaman penjajahan Jepang.

Puas menghabiskan waktu di Bukit Tinggi, kami melanjutkan perjalanan ke tempat terakhir kami hari ini yaitu Istano Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Batu Sangkar. Kali ini kami ingin menikmati wisata budaya khas Tanah Minang. Bisa dibilang, Istana Basa Paguruyung merupakan tempat terlengkap untuk melihat budaya khas minang, mulai dari rumah adat, senjata dan musik tradisional, hingga baju adat. Harga tiket masuk sini juga terjangkau yaitu Rp 10.000 per orang. Yang serunya lagi, di sini juga kamu bisa menjadi ‘uni’ atau ‘uda’ sehari dengan mencoba langsung baju adat khas Tanah Minang. Untuk menyewa baju adat tersebut, hanya dibutuhkan biaya Rp 35.000 untuk orang dewasa dan Rp 30.000 untuk anak-anak. Jangan lupa setelah mencoba baju adat, berfoto-foto dengan latar belakang Istano Baso Pagaruyung yang mempesona. Terdapat banyak fotografer yang menawarkan layanan foto langsung cetak di sana. Namun, saran kami, kamu lebih baik bernegosiasi untuk meminta jasa fotografinya saja tanpa cetak foto. Berdasarkan pengalaman kami, kami hanya membayar Rp 20.000 rupiah untuk foto di hampir semua sudut istana. Harga tersebut lebih murah dibandingkan mencetak satu foto dengan harga Rp 30.000. Terakhir, jangan lupa untuk mampir ke lantai 3 istana, karena kamu bisa liat langsung pemandangan indah gunung yang ada di belakang istana.
20160127_164538

Menjadi ‘Uni’ Sehari di Istano Basa Pagaruyung

12628424_10201189174688918_3302020371550582154_o

Pemandangan dari Lantai 3 Istano, so beautiful and fresh!

Akhirnya lengkap juga perjalanan kita hari ini. Sebelum kembali ke tempat peristirahatan di Padang, supir kami mengajak kami untuk mampir ke tempat Sate Padang yang paling terkenal di Sumatera Barat. Ya, Sate Padang itu adalah Sate Padang Mak Syukur yang terletak di Jalan Sutan Syahrir 250, Padang Panjang. Lah, ini berarti di kota lain dong? Tenang saja, meskipun ini di kota lain, tempat sate ini memang terlewat dalam perjalanan pulang kembali ke Padang, jadi gak akan muter-muter. Saking terkenalnya tempat ini, konon mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah ke sini. Untuk harga, satu porsi sate padang yang harganya Rp 22.000 ini sudah cukup membuat perut kenyang ko.

Setelah kenyang makan sate padang, kami memutuskan untuk beli oleh-oleh makanan untuk keluarga. Pilihan kami jatuh pada Keripik Balado Christine Hakim di Jalan Nipah, Padang. Untuknya toko ini buka hingga pukul 22.00, sehingga meskipun kami sampai ke kota Padang cukup larut, kami sempat membeli oleh-oleh. Untuk yang suka mencoba hal-hal baru, kamu bisa mencoba sensari baru keripik balado cabe ijo yang kini lagi hits. Gak yakin sama rasanya? Tenang aja, karena di toko oleh-oleh ini kamu bisa mencicipi dulu keripik tersebut sebelum membeli.

 

Hari Ketiga: Kecantikan Tropis Tanah Minang

Hari ketiga? Yes, waktunya melihat kecantikan tropis dari Tanah Minang ini. Dalam perjalanan kali ini, kami menikmati keindahan pantai di pesisir Sumatera Barat dengan mengunjungi Pulau Pasumpahan, Pulau Suwarnadwipa, dan Pulau Pamutusan. Demi anggaran biaya yang murah, kami memilih berangkat ke pulau tersebut melalui pinggiran Sungai Pisang. Di sana terdapat Ayah Ali, sang nahkoda kapal yang terkenal sering memberangkatkan backpacker Padang ke berbagai pulau. Jika dengan jalur biasa, harus merogoh kocek hingga Rp 300.000, berangkat dengan Ayah Ali, kamu hanya perlu merogoh kocek maksimal 150.000 (tiket masuk pulau tergantung pulau yang dikunjungi) untuk sampai ke tiga pulau tersebut. Untuk menghubungi Ayah Ali, kamu cukup janjian melalui telpon ke 081266098221. Beliau sangat ramah dan bersedia menuntun kami untuk sampai ke pinggir Sungai Pisang.

Perjalanan pertama, kami langsung menuju Pulau Pamutusan. Ya, pulau ini merupakan pulau terjauh dari ketiga pulau yang akan dikunjungi. Karena jauh, tak heran jika pulau ini masih sangat bersih. Ciri khas yang membuat pantai ini mempesona adalah warna pantainya yang bening dan bergradasi tiga warna. Pulau ini juga semakin unik karena memiliki berbentuk panjang sehingga seperti diapit oleh dua lautan. Such a beautiful beach!

12592564_10205892782618480_9209394072850215481_n

Indahnya Gradasi Warna di Pantai Pulau Pasumpahan

20160201_124222

Ke kanan laut, Ke kiri laut

Melanjutkan perjalanan, kami menuju Pulau Suwarnadwipa.  Pulau ini merupakan pulau yang dapat memberi kesejukan di pesisir tanah Minang. Ingin tidur-tiduran santai di pantai sambil baca buku? Atau makan-makan di lesehan pinggir pantai? Atau snorkeling dan menikmati wisata bawah laut lainnya? Semua impian kamu tentang definisi liburan di pantai bisa diwujudkan di pulau ini. Pulau Suwarnadwipa bisa dikatakan surga bagi kamu yang menyukai keheningan di pinggir pantai sambil ditemani angin sepoy-sepoy yang sejuk. Yang unik dari pulau ini juga, terdapat lesehan rumah adat khas minang yang menjadikan identitas minang di pulau ini tetap terlihat. Tak lupa, bagi kamu yang ingin menikmati suasana pantai lebih lama, di pulau ini juga ada penginapannnya loh. Seru kan?

 

75576_10205892797378849_4301294195180586142_n

Welcome to Suwarnadwipa!

12524198_10201189181449087_3274967837206510944_n

img20160201145802

 

<< Enaknya makan kelapa sambil ditiup angin sepoy-sepoy

Kapan lagi baca buku sambil menikmati derai ombak pinggir pantai>>

 

 

 

Terakhir, perjalanan ditutup dengan mengunjungi Pulau Pasumpahan. Pulau Pasumpahan ini merupakan pulau yang paling dekat dan paling sering dikunjungi. Berbeda dengan Pulau Suwarnadwipa yang dipenuhi oleh pohon yang rindang, Pulau Pasumpahan ini lebih bernuansa tropis dengan banyaknya pohon kelapa. Namun, sama seperti Pulau Suwarnadwipa, di pulau ini sudah mulai banyak beberapa aktivitas yang dapat kamu lakukan seperti bermain ayunan dan voli pantai. Kalau kamu suka berfoto, disini juga terdapat spot-spot unik yang terbuat dari batu karang yang menambah keindahan Pulau Pasumpahan.

img20160201153810

Tropical beauty in Pasumpahan Island

12654365_10201189196009451_6554312021003648077_n

Bermain Ayunan Ala-Ala Pantai

12592749_10201189195969450_492845606284253799_n

Ketika batu karang bersatu padu dengan ranting pohon 

Leave a Reply