44 hari solo trip keliling Sumatra bagian ke-1: The First Lesson.

Perjalanan seorang diri merupakan tantangan dan impian sekaligus. Solo travel membuat kita dapat lebih merenungkan diri sendiri, melakukan apa yang benar-benar kita inginkan. Bertanggung jawab terhadap dan hanya terhadap diri sendiri. Perjalanan yang lebih berisiko. Perjalanan yang lebih egois. Perjalanan yang lebih idealis. Tidak harus pergi ke tempat yang tidak ingin kita tuju. Tidak harus berkompormi terhadap tujuan kelompok. Tidak akan mendengar keluh kesah travelmate. Tidak akan disalahkan. Tidak akan menyalahkan. Just me and myself travelling through Swarnadwipa aka Sumatra.

Yah sebenarnya tidak seidealis itu juga sih. Intinya saya hanya ingin pergi menjelajah Sumatra ketika masih punya waktu dan dana. Mengunjungi tempat satu per satu akan menghabiskan lebih banyak waktu dan dana daripada mengunjunginya sekaligus. Sebagai gambaran, daripada harus bolak balik Padang-Jakarta PP dan Medan-Jakarta PP, lebih baik dari Padang lalu ke Medan bukan? Irit biaya. Tidak harus pakai pesawat. Dan pasti akan lebih banyak yang dilihat, didengar dan dirasakan selama perjalanan Padang-Medan.

Nah tapi tujuanku bukan hanya Padang dan Medan, melainkan seluruh Sumatra. Ehm, sebenarnya sih seluruh Nusantara, tapi setelah menghitung budget, sepertinya hanya cukup untuk Sumatra saja. Kalimantan mungkin tahun depan, semoga Tuhan mengizinkan, aamiin.

Merencanakan perjalanan merupakan keseruan tersendiri!
Merencanakan perjalanan merupakan keseruan tersendiri!

Dan tentu saja, perjalanan membutuhkan persiapan. Apalagi kali ini saya melakukannya seorang diri. Berhubung dana yang tersedia tidak banyak, maka saya mencari kenalan yang  bersedia menampung tidur selama perjalanan sebab budget untuk penginapan amat terbatas!. Alhamdulillah ada beberapa kenalan baru yang bersedia memberikan tumpangan selama di Palembang, Enggano, Kerinci, Padang, Medan, dan Bintan.

Makan malam di basecamp Kerinci sebelum menuju Padang
Bermalam di basecamp Kerinci sebelum menuju Padang

Kenalan-kenalan ini aku dapatkan dari sosial media. Facebook, Instagram sampai Coachsurfing aku gunakan untuk menjalin relasi, mengumpulkan info, dan mengharapkan tawaran menginap, hehehehe..

Ditemani tuan rumah keliling Sawahlunto & Batusangkar dari Padang!
Ditemani Roni, tuan rumah di Padang berkeliling kampung halamannya di Sawahlunto & Batusangkar!

Disinilah saya rasakan kehangatan dan keramahan bangsa Indonesia. Beberapa tuan rumah yang baru saya kenal bahkan tidak sekedar menawarkan tempat menginap dan makanan tapi juga menemani saya mengelilingi daerahnya. Bahkan ada juga orang yang baru saya kenal di kapal menawarkan diri untuk mengantar saya berkeliling Nias.

Bersama bang Dedy yang baru saya kenal di kapal menuju Gunungsitoli namun berbaik hati mengenalkan Nias kepada saya
Bersama bang Dedy di pelabuhan Gunungsitoli. Meskipun baru saya kenal di kapal, namun ia bersedia mengantarkan saya keliling Nias. A very warm welcome  🙂

Begitulah Indonesia. Keramahan yang saya rasakan langsung ketika berjalan seorang diri menelusuri Sumatra merupakan salah satu pelajaran berharga dalam perjalanan ini. Keramahan itu bukan sekedar omong kosong meskipun terdengar klise. Prasangka tentu ada, bahkan banyak prasangka negatif yang saya dengar sepanjang jalan.

Hati-hati dengan orang daerah A, Waspada dengan orang pulau B. Dan lain-lain. Namun saya membuktikan sendiri bahwa prasangka itu tidak sepenuhnya benar. Scam bukannya tidak ada, namun bantuan dan keramahan yang saya dapatkan sepanjang jalan membuktikan bahwa keramahan orang Indonesia itu nyata. Tidak hanya di Jawa, tidak hanya di Bali, tapi juga di Sumatra dan Nusa Tenggara. Setidaknya itulah yang dapat saya katakan karena saya belum sempat mendatangi Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. I just say what I have experienced.

Merayakan ulang tahun kecil-kecilan mamak. Berasa mendapatkan keluarga baru di Medan.
Merayakan ulang tahun kecil-kecilan mamak. Berasa mendapatkan keluarga baru di Medan.

Keterbatasan dana dalam perjalanan seorang diri ini telah memberikan pelajaran pertama tentang keramahan ini. Rasanya seperti menemukan keluarga-keluarga baru sepanjang perjalanan. I will always remember them as part of my journey. Jadi jangan takut untuk bersolo travelling di Indonesia. Jangan biarkan prasangka menjadi penghalang. Waspada tetap penting tapi berikanlah kesempatan pada keramahan warga lokal untuk merasakan Indonesia yang sesungguhnya.

Penulis dan tukang foto wanna be. Bermimpi untuk terus travelling.

Leave a Reply