44 hari solo trip keliling Sumatra bagian ke-2: The Reason.

Why do we travel? Kenapa sih kita harus bepergian, menjelajah atau apapun namanya itu? Pertanyaan ini selalu berulang dalam benak saya sebelum dan selama perjalanan. Kenapa sih saya ngotot banget pingin keliling Sumatra?

Di depan pintu benteng Malborough, Bengkulu
Di depan pintu benteng Malborough, Bengkulu.

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Pertanyaan yang seringkali muncul ketika ragu. Ketika dihadapkan oleh kesulitan selama perjalanan. Dorongan untuk memotong tujuan dan pulang ke rumah seringkali muncul ketika kesulitan datang bertubi-tubi. Demam karena infeksi. Kapal yang tertahan di pelabuhan selama beberapa hari. Biaya tak terduga yang muncul akibat hal-hal diluar rencana. Dan lain-lain, sebut saja. Masihkah perlu untuk  terus berjalan?

Mengunjungi rumah Tan Malaka di Suliki yang sepi. Bapak republik terlupakan di tempat terpencil Sumatra Barat.
Mengunjungi rumah Tan Malaka di Suliki yang sepi. Bapak republik terlupakan di tempat terpencil Sumatra Barat.

Masih. Sepertinya kaki melangkah mengikuti hati. Selalu ada kebahagiaan dan rasa tidak percaya ketika menjejak tujuan baru. Berapa kali membatin, akhirnya sampai juga di Bengkulu. Akhirnya ketemu juga rumah Tan Malaka. Akhirnya kesampaian juga tujuh belasan di nol kilometer. Dan kata-kata batin yang lain. Bagaimana rasanya ketika mimpi menjadi kenyataan? Bagaimana rasanya menjalani mimpi ketika sedang terjaga? Bagaimana rasanya bermimpi ketika tidak sedang tidur?

Merayakan 17 Agustus 2016 di titik 0 kilometer pulau Weh. Ada kebanggan tersendiri yang bersifat pribadi.
Merayakan 17 Agustus 2016 di titik 0 kilometer pulau Weh. Ada kebanggaan tersendiri yang bersifat pribadi.

Amazing! Kebanggaan dan kebahagiaan ketika berhasil mencapai tempat-tempat yang ada dalam daftar mimpiku menjadi jawaban atas keraguan diatas. Terkadang, saya merasa bahwa saya telah melampaui keterbatasan saya. Merasa naik tingkat. Ada yang berubah. Ada yang berkembang, ter-upgrade ketika saya berhasil mewujudkan mimpi. Karenanya saya merasa bangga terhadap diri sendiri. Sebuah personal achievement. Prestasi pribadi. Beginilah cara seorang introvert menilai dirinya sendiri.

Nanjak melewati lumpur setengah betis demi menuju Danau Kaco di Jambi.
Nanjak melewati lumpur setengah betis demi menuju Danau Kaco di Jambi.
Ekspresi rasa puas setelah berhasil mencapai tempat terpencil ini. Tiga jam berkubang dalam tanjakan lumpur tidak sia-sia.
Ekspresi rasa puas setelah berhasil mencapai tempat terpencil ini. Tiga jam berkubang dalam tanjakan lumpur tidak sia-sia.

Why do we travel? Kenapa tempat itu yang dikunjungi dan bukan tempat ini? Well, saya pribadi percaya bahwa jawaban dari pertanyaan itu tidak ada yang mutlak, bahkan selalu pribadi. Berbeda antara satu orang dengan orang lain. Mengapa saya berjalan? Terkadang jawabannya tidak dapat dijelaskan. Hanya dapat dirasakan. Ketika mendatangi tempat baru. Ketika mendapatkan pengalaman baru. Ketika kita merasa beruntung, sial, takjub, bosan, atau bahagia selama perjalanan. Ketika itulah aku mendapatkan jawabannya. Why do I travel? Because ….. ah, maybe just because.

Penulis dan tukang foto wanna be. Bermimpi untuk terus travelling.

Leave a Reply