44 hari solo trip keliling Sumatra bagian ke-3: The Sea Transport

Travellling needs transport. Mencoba berbagai moda transportasi umum selama perjalanan merupakan keasikan tersendiri buat saya. Ada kalanya pengalaman ini memberikan sudut pandang baru, namun ada kalanya juga memberikan siksaan secara fisik pada tubuh. Terkadang exciting terkadang memboooooosaaaaannnkkaaaannnn…….

Bioskop mini dalam KMP Kelud. Obat anti bosan yang kurang ampuh.
Bioskop mini dalam KMP Kelud. Salah satu obat anti bosan dalam pelayaran 24 jam dari Belawan menuju Batam.

Rasa bosan biasanya timbul setelah perjalanan yang monoton. Kebanyakan di laut tapi tidak menutup kemungkinan terjadi juga di darat. Tapi pelayaran yang lebih dari 3 jam biasanya sudah cukup untuk menimbulkan jenuh. Dalam perjalanan kali ini, saya mengalami empat kali pelayaran yang durasinya terbilang lama, yaitu Bengkulu-Enggano, Enggano-Bengkulu, Sibolga-Gunungsitoli, dan Belawan-Batam.

KMP Kelud yang menghubungkan Belawan-Kepri-Jakarta. Rute Belawan-Batam membutuhkan waktu 24 jam, sedangkan untuk sampai Jakarta butuh 2 hari dari Belawan.
KMP Kelud yang menghubungkan Belawan-Kepri-Jakarta. Rute Belawan-Batam membutuhkan waktu 24 jam, sedangkan untuk sampai Jakarta butuh 2 hari dari Belawan.

Untungnya hampir semua kapal berangkat sore atau menjelang malam. Kapal Wira Glory misalnya. Kapal yang melayani rute Sibolga-Nias ini dijadwalkan berangkat pukul 8 malam dan sampai tujuan pukul 8 pagi. Karena itu tidak heran jika ruang penumpangnya berupa tempat tidur alih-alih tempat duduk.

Ranjang ala kapal Sibolga-Nias. Nomor tiket bukan tempat duduk melainkan tempat tidur.
Ranjang ala kapal Sibolga-Nias. Nomor tiket bukan tempat duduk melainkan tempat tidur.

Bagi saya, saat paling menarik dari penggunaan moda transportasi ini justru sebelum berangkat, termasuk ketika berada di pelabuhan/terminal/bandara. Di pelabuhan Bandar Deli misalnya. Pelabuhan yang berada di Belawan ini saat itu baru saja diresmikan. Lobby utamanya lebih terasa bandara daripada pelabuhan. Rapi dan terkesan modern. Mungkin jika tidak diburu-buru waktu, saya akan betah berlama-lama di pelabuhan ini sambil menunggu kapal berangkat.

Salah satu sudut pelabuhan Bandar Deli. Berasa di bandara alih-alih pelabuhan.
Salah satu sudut pelabuhan Bandar Deli. Berasa di bandara alih-alih pelabuhan.

Begitu pula dengan loket tiket dan ruang tunggu pelabuhan. Loket tiketnya mirip dengan loket check-in bandara minus bagasi. Tertata rapi meskipun calon penumpang langsung membanjiri loket, saling berebutan untuk dilayani duluan. Untungnya budaya antri sudah terbentuk disini. Meskipun berdesak-desakan, tapi antrian tetap tertib dan aman.  Semoga  bisa terus tertib seperti ini. Kerja yang bagus dari awak pelabuhan Bandar Deli 🙂

Antrilah di loket, untuk beli tiket. Siapkan dompet. Awas ada copet. -Project Pop
Antrilah di loket, untuk beli tiket. Siapkan dompet. Awas ada copet. -Project Pop

Satu hal menarik dari pelayaran panjang Belawan-Batam ialah memperhatikan bagaimana penumpang naik-turun di Tanjung Balai Karimun. Saat membeli tiket, saya sempat heran saat mengetahui bahwa harga tiket Tanjung Balai yang dihargai lebih mahal daripada tiket Batam. Padahal kan Batam lebih jauh. Keheranan ini terjawab ketika KMP Kelud mendekati pulau tersebut. Tadinya saya kira kapal akan merapat di pelabuhan untuk beberapa saat. Namun tidak. KMP Kelud berhenti disekitar pulau untuk kemudian didekati oleh kapal kayu. Kapal kayu ini membawa calon penumpang dari Tanjung Balai sekaligus menurunkan penumpang yang hendak menuju pulau tersebut. Oalaah, ternyata ini yang menyebabkan harga tiket Tanjung Balai lebih mahal daripada Batam. Ternyata ongkos operasionalnya lebih tinggi karena harus diantar-jemput dengan kapal kayu untuk mencapai pelabuhan.

Kapal kayu yang mengantar-jemput penumpang Kelud tujuan Tanjung Balai.
Kapal kayu yang mengantar-jemput penumpang Kelud tujuan Tanjung Balai.

Begitulah balada kapal besar di pulau kecil. Pelabuhannya tidak cukup besar untuk sang kapal. Mungkin lautnya juga terlalu dangkal, entahlah. Yang pasti kapal ini tidak merapat di Tanjung Balai, hanya di Batam saja ia bersandar di pelabuhan.

Lain cerita ketika saya hendak menuju Bintan dari Batam. Karena jaraknya yang berdekatan dan kedua pulau ini termasuk pulau yang paling sibuk di Kepulauan Riau, maka transportasi antar pulau tergolong mudah dalam artian jadwalnya cukup banyak.

Pelayaran ini tampaknya juga banyak dikelola oleh swasta. Persaingan tampaknya sangat ketat sehingga saya cukup takjub ketika hendak membeli tiket. Mbak-mbak penjual tiket memanggil-manggil dengan suara keras dari dalam loket. Setengah badannya bahkan sampai terjulur keluar, memanggil calon penumpang yang baru memasuki area loket. Bagi saya, ini pemandangan yang unik, dan yang menyenangkan disini saya tidak ditarik-tarik oleh calo. Persaingan ala ferry Batam ini tampaknya diawasi oleh otoritas pelabuhan. Cukuplah begini saja tanpa calo. Rasanya cukup tenang dalam memilih ferry meskipun terdengar riuh.

Agresif memanggil calon penumpang di hari yang sepi. Unik dan lebih baik daripada diserbu calo,
Agresif memanggil calon penumpang di hari yang sepi. Unik dan lebih baik daripada diserbu calo,

Kondisi ferrynya sendiri cukup terawat. Nyaman dinaiki dan lebih cepat sampai dibandingkan dengan ferry. Tentu dengan harga yang disesuaikan. Tapi itu sepadan dengan apa yang didapatkan kok.

Tempat duduk penumpang dalam kapal Batam-Bintan. Kursinya lebih empuk daripada pesawat.
Tempat duduk penumpang dalam kapal Batam-Bintan. Kursinya lebih empuk daripada pesawat.

Disini saya rasakan bahwa pelayaran seputar Batam sudah terlayani dengan baik. Selain tujuan Bintan, saya juga melihat tujuan Singkep di pelabuhan tersebut. Tarempa dan Natuna mungkin terlalu jauh, tapi alangkah baiknya jika di masa depan, pulau-pulau lain di Indonesia dapat terlayani sebaik Batam. Aamiin.

Penulis dan tukang foto wanna be. Bermimpi untuk terus travelling.

Leave a Reply