Aceh, Damai Yang Indah

Garis Cahaya yang menyirami celah Goa Ie, Aceh Besar.
Garis Cahaya yang menyirami celah Goa Ie, Aceh Besar. Foto Andi Lubis


“Peu haba ???”

Begitulah orang Aceh menyapa dan menanyakan kabar. Kesan ramah begitu terasa ketika kita berjumpa umumnya orang Aceh. Sikap ini begitu spontan karena masyarakat Aceh memegang teguh prinsip “Peumelia Jamee” yang berarti memuliakan tamu.
Alam Aceh memiliki karakter yang begitu komplit. Keindahan alamnya terbentang berbentuk pegunungan, laut, pantai, danau, goa, air terjun, dan situs-situs sejarah yang menceritakan kejayaan Aceh di masa lalu.

Kota Banda Aceh yang menjadi ibukota Propinsi Aceh, misalnya. Kota ini dikelilingi pegunungan dan pantai yang langsung menghadap samudera. Suasana sunrise dan sunset tak sulit dijumpai di sini. Pantai landai atau dinding tebing banyak terdapat di Pantai Lhoknga, Ulele, dan Lampu’uk.

Suasana matahari terbit di Pantai Lhokme, Aceh Besar.
Suasana matahari terbit di Pantai Lhokme, Aceh Besar. Foto Andi Lubis

Semasa konflik bersenjata dulu, Aceh seperti mutiara yang terbenam. Tak banyak orang yang berkunjung. Jadilah Aceh yang sunyi dan tertutup. Apalagi ketika bencana Tsunami membuat Aceh luluh lantak. Pariwisata provinsi yang berjuluk “Serambi Mekkah” ini jatuh ke titik nadir.

Kini pariwisata Aceh bangkit dengan meraih berbagai penghargaaan. Propinsi paling ujung Indonesia ini memang kental dengan nuansa syariahnya. Maka kehidupan yang religius menjadi pemandangan sehari-hari di Aceh. Hal ini yang menjadi salah satu daya tarik pariwisatanya.

Setiap tahunnya ribuan wisatawan mengunjungi Masjid Baiturrahman yang menjadi kebanggaan orang Aceh.

Jejak Tapak di pasir Pantai Lhoknga. Foto Andi Lubis
Jejak Tapak di pasir Pantai Lhoknga. Foto Andi Lubis

Keelokan alam Aceh memang selalu mengundang orang untuk datang. Baik hanya untuk pelesiran atau berpetualang. Goa-goa di Aceh, seperti Goa Ie, Goa Salju, dan Goa Angin akan menjadi petualangan yang wajib dicoba. Goa-goa tersebut adalah sebagian kecil dari deretan goa-goa eksotis lainnya.

Turun vertikal untuk bisa memasuki gerbang Goa Ie. Foto Andi Lubis
Turun vertikal untuk bisa memasuki gerbang Goa Ie.
Foto Andi Lubis

Pernah mendengar Kota Sabang ? Kota ini berada di Pulau Weh, pulau yang menjanjikan wisata air yang fantastik. Di sini pula terdapat Pulau Rubiah. Pulau terujung dari gugusan kepulauan Indonesia ini, menjadi salah satu destinasi favorit Aceh. Pengunjung bisa snorkling menikmati eksotika biota laut dan turumbu karang.

Menikmati alam bawah air di perairan Pulau Rubiah. Foto Andi Lubis
Menikmati alam bawah air di perairan Pulau Rubiah. Foto Andi Lubis

Menapaki Aceh belum lengkap jika tidak menikmati nuansa seni budaya dan menyantap kulinernya.

“Jak ta jep kupie” (Mari kita ngopi)..”

Kebiasaan Orang Aceh selalu mengajak tamunya minum kopi. Ajakan ini pantang ditampik karena Aceh bangga sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia.

Sebutlah Kopi Gayo atau Ulee Kareng, maka orang akan terpikir secangkir kopi yang enak. Dataran tinggi Gayo di Aceh Tengah memang penghasil kopi yang terkenal. Bagi orang Aceh, minum kopi adalah sebuah tradisi memperkuat kebersamaan.

Menapaki dataran tinggi Gayo akan lebih lengkap dengan menikmati Danau Lut Tawar, pacuan kuda, dan tentu saja panorama di mana kita dapat berdiri sejajar dengan hamparan awan.

Pacu Kuda Internasional di dataran tinggi Gayo, Takengon.
Pacu Kuda Tradisional di dataran tinggi Gayo, Takengon.
Padang rumput di tepi Danau Lut Tawar tempat kuda dibiarkan bebas.
Padang rumput di tepi Danau Lut Tawar tempat kuda dibiarkan bebas. Foto Andi Lubis

Jelajah Aceh memang cocok untuk para backpacker yang maniak pada petualangan. Karena kesemuanya bisa dilakukan dengan biaya yang ekonomis.

Maka ketika orang Aceh menyapamu dengan “Peu haba ?”, maka jawablah dengan “Geut…. “, yang berarti kabar baik.

Lalu bersiaplah kita diajak menjelajah Aceh dengan nuansa petualangan yang tak terlupakan, termasuk menyantap Mie Aceh yang tersohor itu tentunya.

Aceh, memang sebuah damai yang indah. Siapkan ranselmu untuk menikmati suasana damainya karena Aceh selalu menantimu.


 

Suka traveling, fotografi, dan nulis.

Leave a Reply