Ada Apa di Ternate ?

Jika mendengar Ternate, maka pikiran langsung tertuju kepada rempah-rempah, seperti yang diajarkan waktu SD dahulu. Bahwa Ternate dan Tidore dikenal dengan pulau yang sangat kaya dengan rempah-rempah, bahkan disebut sebagai pusat rempah dunia. Hal itulah yang mendasari perjalanan saya kali ini ke Ternate. Selama ini hanya mendengar dari pelajaran IPS di Sekolah Dasar, tapi saya tidak tahu bagaimana wujud sebenarnya Ternate itu.

“Ada apa di Ternate ?”

Begitu respon semua teman-teman begitu tahu saya akan jalan-jalan ke Ternate. Saya hanya bisa menjawab dengan satu kata saja.

“Banyak”

Pesawat yang saya naiki dari Makassar mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Ternate merupakan kota di Maluku Utara yang terletak di kaki Gunung Gamalama. Sesampainya di Ternate, saya langsung menuju ke hotel yang telah saya booking sebelumnya. Transportasi dari bandara menuju kota ada 2 pilihan, yaitu ojek dan sewa mobil. Jarak dari bandara menuju kota tidak jauh, sebenarnya tidak ada kata “jauh” selama saya di Ternate. Menurut tebakan saya, hanya butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk mengelilingi Gunung Gamalama.

Gunung Gamalama terlihat begitu gagah
Gunung Gamalama terlihat begitu gagah

Cara untuk keliling Ternate adalah dengan sewa motor atau ojek. Berhubung saya tidak berhasil meminjam motor staff di hotel tempat saya menginap, maka ojek pun jadi pilihan. Mencari ojek di Ternate tidak susah. Cukup berdiri di pinggir jalan dengan wajah seperti menunggu sesuatu, maka kita akan ditawari ojek. Tarif keliling Ternate seharian seharga Rp. 150.000 – Rp. 200.000. Mahal memang, tapi memang harganya segitu. Senangnya saya adalah, di Ternate tidak ada istilah “tembak harga”. Harga dari satu tukang ojek ke tukang ojek yang lain sama. Keliling-keliling dalam bahasa Ternate disebut dengan “baronda”. Jadi, jika ditawari tukang ojek, cukup katakan “Mau baronda, Bang” maka kita akan langsung diantar keliling Ternate.

Destinasi pertama baronda kali ini adalah Benteng Tolukko. Benteng ini terletak di atas bukit, benteng ini merupakan benteng pengawas perdagangan rempah-rempah. Benteng Tolukko termasuk ke dalam benteng yang terawat sangat baik, di halamannya ditumbuhi tanaman bunga-bunga dan rumput yang hijau. Jika dilihat dari atas, benteng Tolukko berbentuk seperti alat kelamin pria. Entah sengaja dibuat begitu atau ada unsur ketidak sengajaan.

Benteng Tolukko
Benteng Tolukko

img_4168

Benteng Tolukko merupakan peninggalan Portugis. Benteng ini memiliki luas yang tidak terlalu besar. Namun, dari halaman depan bisa terlihat jika Benteng Tolukko terlihat megah. Jika kita naik sampai di bagian paling atas benteng, maka kita dapat melihat laut lepas dan pemukiman warga.

Laut
Laut
Pemukiman warga dilihat dari Benteng Tolukko
Pemukiman warga dilihat dari Benteng Tolukko

Setelah puas menikmati Benteng Tolukko, saya melanjutkan baronda menuju Pantai Sulamadaha yang terkenal di Ternate. Kurang lebih 10 menit perjalanan dari Benteng Tolukko, sampailah saya di Pantai Sulamadaha. Di pantai ini terdapat sebuah laguna yang sering disebut dengan Hol Sulamadaha oleh warga sekitar. Katanya, di hol ini airnya luar biasa bening dan biasa dijadikan spot snorkeling. Berhubung saya tidak berencana untuk snorkeling, maka saya urungkan niat saya menuju hol. Saya pun lebih memilih duduk di warung sambil mencicipi kuliner khas Ternate yaitu, pisang goreng mulu bebe. Mulu bebe artinya adalah mulut bebek, orang Maluku biasa melafalkan mulut bebek dengan “mulu bebe”. Bukan tanpa alasan disebut pisang mulut bebek, pisang ini bentuknya memang melengkung seperti mulut bebek.

Suasana Pantai Sulamadaha
Suasana Pantai Sulamadaha
Pulau Hiri di seberang
Pulau Hiri di seberang
img_4188
Pisang mulu bebe saat dikupas
img_4192n
Pisang goreng mulu bebe siap disantap dengan cocolan sambal

Setelah kenyang dengan pisang goreng mulu bebe, saya melanjutkan perjalanan menuju Danau Tolire Besar. Danau yang terkenal dengan kemagisan dan mitosnya yang jika melemparkan batu maka batu tidak akan bisa menyentuh air danau. Batu akan terlempar ke samping tebing, sekeras apapun mencoba tidak akan bisa menyentuh air. Katanya kalau bisa menyentuh air, keinginan kita bisa terkabul. Saya pun sudah membuktikan, dan benar saja tidak ada satu batu pun yang menyentuh permukaan air. Boleh percaya atau tidak, jujur saja awalnya saya tidak percaya, tapi setelah mencoba sendiri, saya langsung percaya. Dan mitosnya, di danau ini dihuni oleh buaya putih yang merupakan penunggu danau.

img_4198

Air danau berwarna kehijauan dan tenang
Air danau berwarna kehijauan dan tenang

Jika tidak ada kabut tebal, maka Gunung Gamalama akan terpampang jelas di depan Danau Tolire ini. Danau dengan warna kehijauan ini sangat tenang, sedikit membuat bulu kuduk saya berdiri karena kesan mistisnya. Bahkan ceritanya, belum ada yang berani mengukur kedalaman Danau Tolire. Sehingga sampai saat ini belum diketahui pasti kedalaman Danau Tolire.

Legenda terbentuknya Danau Tolire adalah awalnya danau ini adalah perkampungan namun dikutuk karena ada seorang ayah yang menghamili anak gadisnya sendiri. Kemudian perkampungan ini dikutuk menjadi Danau Tolire. Danau Tolire yang dikenal adalah Danau Tolire Besar yang merupakan wujud dari si ayah. Dan wujud si anak adalah Danau Tolire Kecil yang merupakan danau kecil dan dangkal yang berjarak tidak begitu jauh dari Danau Tolire Besar.

Rute baronda selanjutnya adalah Benteng Kalamata. Perjalanan dari Tolire menuju Benteng Kalamata cukup jauh karena harus memutar gunung. Pada sisi gunung ini sangat jarang ditemukan pemukiman, dan saat itu hanya ada saya dan tukang ojek saja yang melintas. Terbukti, Ternate cukup aman bagi pejalan perempuan seperti saya.

Benteng Kalamata memiliki nama asli Benteng Santo Lucia. Benteng ini adalah benteng untuk mengawasi serangan dari arah Pulau Tidore. Benteng Kalamata berada di dekat Pelabuhan Bastiong, pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Tidore dan Halmahera. Benteng Kalamata terletak menjorok ke tengah laut. Sama dengan Benteng Tolukko, benteng ini tidak terlalu besar. Karena bersentuhan langsung dengan laut, saya menyempatkan untuk duduk di pinggir benteng sambil mencelupkan kaki di laut sambil melihat kegiatan di Pelabuhan Bastiong. So refreshing.

Benteng Kalamata
Benteng Kalamata

img_4216

Benteng Kalamata berbatasan langsung dengan laut
Benteng Kalamata berbatasan langsung dengan laut
Pelabuhan Bastiong dari kejauhan
Pelabuhan Bastiong

Destinasi selanjutnya adalah Benteng Orange atau Fort Oranje. Benteng ini terletak di tengah kota dan digunakan sebagai area berkumpul dan bermain keluarga. Saat saya kesana, banyak anak-anak muda yang berkumpul atau sekedar menikmati suasana Ternate di sore hari. Mungkin Benteng Orange semacam Taman Bungkul di Surabaya atau Lapangan Puputan di Denpasar. Dan sepertinya saya paham asal mula penamaan Benteng Orange, karena memang benteng ini didominasi warna orange.

Fort Oranje
Fort Oranje
Bagian dalam Benteng Orange
Bagian dalam Benteng Orange
Didominasi warna orange
Didominasi warna orange

Selesai sudah baronda hari pertama di Ternate. Dan dalam hari pertama, saya langsung jatuh cinta sama Ternate. Kotanya kecil, tenang, dan sejauh mata memandang adanya laut, laut, dan laut dengan pulau pulau tersebar di sekitarnya. Ada pulau Maitara, pulau Hiri, pulau Tidore, pulau Halmahera. Indah ! Dan jika melihat dengan arah yang berlawanan akan melihat Gunung Gamalama yang gagah menjulang tinggi ke langit. Oleh karena itulah, penunjuk arah di Ternate cukup unik. Seperti ini, Ka Bawah, Ka Atas, Ka Lao, Ka Dara. Ka Bawah artinya menuju ke bawah yang artinya ke daerah pesisir. Ka Atas artinya ke atas yang artinya menuju ke arah Kedaton Ternate. Sama halnya dengan Ka Lao dan Ka Dara, Ka Lao artinya ke laut dan Ka Dara artinya ke darat atau ke arah gunung Gamalama.

Masjid Al Munawarah, mesjid terbesar di Ternate
Masjid Al Munawarah, mesjid terbesar di Ternate

Hari kedua di Ternate, saya pun berencana untuk keliling yang dekat-dekat saja. Tujuan pertama hari kedua ini adalah mengunjungi view point Danau Ngade dan Pulau Maitara.

img_4275n
Danau Ngade dan Pulau Maitara dalam satu frame

Selesai menikmati pemandangan, tujuan selanjutnya adalah Pasar Higienis, Ternate. Karena di belakang pasar ini terdapat penjual popeda (sebutan papeda di Ternate) yang terkenal. Dan jangan harap dapat tempat jika jam makan siang tiba, seluruh warung popeda akan ramai dikunjungi pembeli. Terpaksa saya harus sedikit bersabar menunggu meja kosong untuk menikmati hidangan khas Ternate ini.

Di sebuah meja panjang, terhidang piring-piring kecil dengan berbagai jenis makanan. Piring-piring tersebut adalah makanan pendamping untuk makan popeda. Ada ikan kuah kuning, pisang rebus, singkong rebus, daun pepaya, sambel kacang, sambel dabu-dabu dan beberapa makanan lain yang saya kurang tau namanya apa. Sistem makan popeda di sini adalah all you can eat, per orang Rp.35.000,00. Cukup murah, mengingat Ternate merupakan salah satu kota dengan biaya hidup paling mahal di Indonesia.

Popeda dengan lauk pelengkap
Popeda dengan lauk pelengkap
Cara memindahkan popeda ke piring, dengan cara diputar-putar dengan semacam sumpit
Cara memindahkan popeda ke piring, dengan cara diputar-putar dengan semacam sumpit

Setelah kenyang, saya melanjutkan perjalanan menuju Kedaton Sultan Ternate yang tidak terlalu jauh dari pasar. Kedaton Sultan Ternate dibuka hanya pada saat Sultan tidak berada di dalam Kedaton. Berhubung Sultan Ternate ke 48 Mudaffar Sjah meninggal, maka belum ada yang menggantikan posisi Sultan Ternate sampai saat itu. Oleh karena itu, merupakan saat yang tepat untuk mengunjungi Kedaton Ternate.

img_4322
Tampak depan Kedaton Sultan Ternate

img_4330

img_4332

img_43502

Saya merasa cukup beruntung saat itu bisa masuk melihat bagian dalam Kedaton Sultan Ternate, mengingat banyaknya cerita orang-orang yang gagal masuk karena Kedaton sedang tidak dibuka untuk umum.

Jika ada yang bertanya “Kalau malam nongkrongnya dimana di Ternate ?” Jawaban saya adalah : Kawasan Tapak. Ya, Tapak merupakan daerah yang biasa dijadikan tempat nongkrong anak muda Ternate. Kawasan Tapak sering disebut dengan Swering. Jarak dari hotel saya yang tidak begitu jauh dari Tapak, membuat saya memilih untuk nongkrong di malam terakhir saya berada di Ternate.

Nasi goreng cakalang, pisang goreng, dan air goraka
Nasi goreng cakalang, pisang goreng, dan air goraka
Air goraka
Air goraka

Malam itu saya memesan nasi goreng cakalang dan pisang goreng mulu bebe. Untuk minumannya saya memesan air goraka. Air goraka merupakan minuman khas dari Ternate, yaitu semacam bajigur yang ditaburi kenari cincang diatasnya. Air goraka yang hangat, mampu menghangatkan badan di saat angin laut sedang kencang-kencangnya. Maklum, Tapak terletak di pinggir laut. Makin malam, kawasan Tapak semakin rame dikunjungi muda mudi Ternate. Kursi-kursi di sebelah saya yang kosong perlahan-lahan mulai terisi penuh.

Jika bicara tentang oleh –oleh. Ternate pun memiliki oleh – oleh yang lain daripada yang lain, yaitu batu akik. Batu yang terkenal dari Ternate adalah batu bacan. Bacan merupakan nama pulau yang terdapat di Kepulauan Maluku. Selain batu bacan, banyak pula batu-batu lain yang menjadi unggulan antara lain batu obi dan palamea, yang keduanya juga merupakan nama pulau tempat batu tersebut berasal. Harga batu dibanderol mulai dari puluhan ribu hingga jutaan.

Berbagai macam batu. Mulai dari yang masih mentah hingga sudah menjadi cincin.
Berbagai macam batu. Mulai dari yang masih mentah hingga sudah menjadi cincin.

Selain batu, ada panganan khas Ternate yang cocok dijadikan oleh-oleh yaitu kue bagea dan makron yaitu kue berbahan dasar sagu dengan rasa khas dari rempah-rempah. Ternate memang identik dengan rempah-rempah dan kenari.

3 hari 2 malam waktu yang sangat singkat untuk mengeksplor keindahan Maluku Utara, masih ada Pulau Tidore dan Halmahera yang belum saya kunjungi. Bahkan untuk mengeksplor Ternate pun rasanya terlalu mepet, seperti yang saya lakukan. Masih ada beberapa hal yang belum saya lakukan antara lain mencicipi kuliner khas Ternate, gohu ikan. Gohu ikan biasa disebut sebagai sashimi ala Ternate, karena sama-sama menggunakan ikan mentah sebagain bahan dasarnya. Selain itu, saya juga belum sempat melihat keindahan bawah laut Ternate yang katanya sangat indah. Saya juga belum menemukan spot foto yang persis seperti Ternate di pecahan uang Rp. 1000,00. Itu artinya bakal ada kunjungan kedua ke Ternate ini. Ternate terlalu indah untuk ditinggalkan, saya jatuh cinta.

Jadi, jika ada yang bertanya “Ada apa di Ternate ?” Dengan lantang saya akan menjawab “Banyak !” Tunggu apalagi ? Ayo ke Ternate !

See you when I see you, Ternate

Terobsesi mengelilingi Indonesia dan melihat seluruh festival di setiap daerah di Indonesia. Author of http://laksmindirajournal.blogspot.com

Leave a Reply