Appalarangku yang Malang

Post

Bersama kawan (jaket coklat) saat berfoto di dermaga Appalarang.

 

Seorang lelaki datang dari Kota Makassar. Jauh sekali ia mengembara atau bisa juga disebut pulang kampung ke Desa Ara. Dibawanya segenggam takjub di mata, dan di dadanya. Akhirnya ia pulang, sebab sejak lama ia sibuk berperang menebus lapar di kota. Ia kini #IngetKampung.

Orang-orang di Desa Ara masih ramah. Lugu. Mereka punya segalanya yang tak dimiliki orang kota, seperti cara tersenyum, pasir putih yang kilap, air biru tanpa kaporit dan keindahan bawah laut.

Lelaki dari kota itu adalah saya. Ada momen di mana saya berkunjung ke tempat orang Ara beristirahat. Dari Makassar, perjalanan bisa ditempuh lima jam. Adalah Appalarang namanya. Orang kota lebih senang menamainya tempat berfoto ria dan adu gengsi--foto mana yang paling indah.

Memasuki tempat wisata atau tempat beristirahat Appalarang itu, Anda akan menemukan tempat mengaso dan menjual bensin botolan. Tak jauh dari sana, ada pula retail modern. Karibku, Kahfi, yang mengajakku pergi melihat panorama Appalarang mengaku, kalau orang masyarakat Ara senang tempatnya dijadikan kota kecil.

Karena itu, warga Ara sudah lupa jalan ke pasar. Sebab ada toko yang berpendingin ruangan yang berdiri kokoh di luar jalan masuk appalarang. Pengunjung pasti sudah bisa membeli makanan berpengawet yang dipariwarakan di teve mereka.

Perjalananku ke Appalarang dimulai saat saya menemukan dia di banyak unggahan media sosial. Maksud saya, banyak orang berfoto dan menandai tempat itu. Pokoknya banyak yang mengambil sudut pandang panorama, lanskap, atau cara mereka berenang dan menyelam.

 

Kebetulan saat itu saya punya waktu untuk berlibur. Tiga hari tepatnya. Makanya, meski jauh dari Makassar, saya berusaha untuk menyampainya. Tidak etis, jika orang kota atau pun sesiapa yang gila renang, selam, dan senang adu kekuatan fotografi, tak sempat ke sana.

Air laut di Appalarang biru sekali dan bisa memantulkan rupamu jika kaulihat dari dekat. Dari jauh ia membias. Pokoknya seperti kaca. Dasarnya kelihatan jika menengok dari tebing.

Ada banyak bubu yang dipasang oleh masyarakat di sana, sekadar untuk menangkap ikan. Selama saya menghabiskan waktu, saya hanya banyak melihat ikan kecil seperti nemo yang punya beragam warna, benar-benar ciptaan Tuhan itu menambah keelokan Appalarang yang didominasi warna biru lautan.

Suara debur ombak yang menghantam karang begitu liris dan bisa memancing hasrat setiap orang untuk lompat dari pinggir tebing, meskipun itu cuman sedikit dan lebih didominasi oleh aba-aba melompat dari dermaga.

Jika ingin berlama-lama bermain dengan matahari, Anda perlu membawa sunblock. Sebab tak elok, jika Appalarang hanya dikunjungi dalam waktu sebentar--rentang waktu 30 menit atau sejam.

Jika begitu, bawalah uang yang cukup. Di sana ada banyak warung yang tegak berdiri. Warung tersebut terbuat dari kayu dan berlantai tanah, kalau tidak salah kayu dari pohon jambu atau kelor yang tebal dan kuat.

Pemilik warung juga ramah. Jika mendekati gardunya, ia bahkan bisa mengembangkan senyum yang paling molek. Kebanyakan para pedagang, berdagang mi instan dan minuman dingin. "Beli apaki, beli apaki," sekiranya kata-kata itu yang akan kaudengar jika mampir ke sana.

Anda perlu tahu, orang Ara pandai mengikhlas. Masuk ke tempat beristirahatnya pun disuruh bayar Rp15 ribu per orang. Saya berpikir, begitulah konsekuensi pembangunan. Bisa dibilang tepat, sebab jalanan menujunya cukup curam. Pernah ada satu mobil yang terbalik saat pulang, karena saking terjalnya akses menuju 'surga' selatan Sulawesi Selatan itu.

Dan pada akhirnya, kabar lara datang setelah saya sampai ke kota dengan membawa kebanggaan alam Bulukumba. Appalarang kini ditutup. Penutupan itu terjadi lantaran pengelola memungut biaya masuk lokasi wisata.

Saya bertanya-tanya, jadi selama ini uang masuk Appalarang itu lari ke mana? Akhirnya kutemukan jawaban dari sebuah diskusi dengan Kepala Dinas Pariwisata, Muh. Ali Saleng. Sebab saya kebetulan jurnalis di Makassar. Diungkapnya kalau Pemkab Bulukumba sudah beberapa kali mengimbau pada pengelola agar tidak meminta pungutan pada pengunjung.

"Kami melarang untuk melakukan pungutan kepada pengelola, karena ini aset negara dan belum ada kesepakatan kerjasama terkait lokasi wisata ini. Terkait penutupannya, bukan kami dari Pemkab yang menutup, tetapi pengelola sendiri. Sesuai Perda, setiap kegiatan keramaian bakal dipungut retribusi, namun ia menolak mengeluarkan retribusi keramaiannya. Lalu akhirnya, mereka berinisiatif untuk menutup kegiatan dan lokasi wisatanya," ujar Ali.

Saya mengurut dada. O Appalarang, sebegitu malangkah kau sampai dimanfaatkan seperti itu? Meskipun itu suatu kekurangan, tapi Appalarang tetap kucintai. Ia adalah 'surga' di selatan Sulawesi Selatan.

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.