Backpacker Absurd ke Derawan

Post

Ini adalah perjalanan biasa...dilakukan oleh dua orang biasa...tapi menuju tempat yang LUAR BIASA!

Perkenalkan, gue dan sohib gue adalah dua orang cewek absurd yang nggak sengaja nemuin keberuntungan beruntun sampai akhirnya ombak laut ngebawa kami ke pulau surga yang namanya DERAWAN.

*drum roll*

#DAY1

Ke-absurd-an ini berawal dari kami yang baru aja pulang dari tugas dinas di Samarinda hari Jumat, 6 Juni 2014. Kebetulan kami kerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, jadi kalo mau balik ke "kantor" harus singgah ke Kota Tarakan dulu.

Pesawat kami landing sekitar pukul 10.45 WITA. Tujuan kami setelah bandara pasti lah pelabuhan. Jarak dari Bandara Juwata ke Pelabuhan Tengkayu nggak jauh, sekitar setengah jam aja. Untuk pilihan transportasinya bisa naek mobil - mobil carteran atau naek ojek. Kami sih biasanya minta jemput temen. Hehehehe.

Pas di pelabuhan, kami berniat pesen tiket balik, tapi iseng - iseng nanya jadwal keberangkatan menuju Derawan sekaligus harganya. Eh si mbak - mbak penjual tiket malah nawarin kami: "Siang ini ada speedboat reguler perdana ke Derawan."

Kami berdua saling pandang, kemudian hening. Spontan kami senyum dan nanya berapa harganya. Cuma 250 ribu sekali jalan, jadi kalau PP cuma 500 ribu. Tanpa pikir panjang, kami batal beli tiket pulang dan beralih ke Derawan. Padahal kami cuma bawa beberapa lembar sisa baju yang masih belom kepake sisa pelatihan kemaren. yang ada di pikiran kami cuma satu: kesempatan nggak bakal datang dua kali! NEKAT!(Sebenernya sih mumpung kami masih dalam "surat ijin" jadi nggak dianggep bolos kerja. Hahahaha!)

Jadi, sekarang udah ada speedboat reguler rute Tarakan-Derawan PP dengan tarif Rp 250.000 sekali jalan. Tiket PP bisa langdung dipesan biar nggak kehabisan. Tapi rute ini hanya melayani keberangkatan di hari Jumat pukul 2 siang dan balik hari Minggu pukul 2 siang WITA (Kabarnya, jam ini bakal diganti jadi hari Minggu pukul 9 pagi untuk mengantisipasi penumpang yang ngejar pesawat siang/sore).

Dulunya ke Derawan melalui Tarakan hanya dilayani dengan speedboat pribadi yang di carter, bisa sampe 2 juta lebih per boat. Buat kalian yang mau wisata rombongan, nggak campur sama penumpang laen, bisa pakai cara ini. Atau buat kalian yang mau lewat rute lama: Berau (Tanjung Redep) - Derawan, bisa juga sih. Rutenya, dari bandara Berau (Tanjung Redep) langsung ke Tanjung Batu via mobil - mobil carteran, tarifnya antara 70 - 100 per orang lah dengan waktu tempuh 3 jam. Setelah dari Tanjung Batu bisa nyeberang dengan speedboat selama 30 menitan. Saran dari orang Derawan sih, hati - hati dikibulin tukang boat. Jangan mau carteran, tarifnya itung aja per kepala 50 ribu, gitu. Gue sendiri belum coba rute itu jadi rute Berau-Derawan ini gue cuma denger pengakuan orang - orang Derawan aja sih.

Balik ke cerita gue.

Karena gue backpacker absurd dadakan, gue langsung lari - lari menuju speedboat yang ternyata udah penuh orang. Kami harus duduk di bangku "cadangan" deh. Oh iya, buat kalian yang belom pernah naek speedboat, bangku "cadangan" adalah bangku - bangku plastik yang diletakkan di tengah boat. FYI, speedboat itu kan duduknya hadap - hadapan / semacam angkot gitu.

Kebetulan kemaren itu kami barengan sama tiga rombongan keluarga. Yang pertama adalah penduduk asli Derawan, yang kedua adalah pengantin baru bersama keluarga "super besar"nya, nah yang ketiga kami waktu itu belum tau rombongan apa. Speedboat akhirnya melaju setelah kami datang. Nggak disangka, ombaknya jauh lebih gede ketimbang ombak sungai yang biasa kami lewati menuju kabupaten. Tapi karena kami mungkin sudah terbiasa, tetap aja kami bisa tidur pulas meskipun duduk di bangku cadangan dan ombak yang berhasil bikin beberapa orang mabok. Hahahahaha.

Dua jam berlalu, kami pun bangun. Nggak kerasa, kami udah ada di tengah laut. Tanpa kapal satupun yang nemenin. Hahaha. Nggak lama kemudian keliatan beberapa pulau. Penumpang yang merupakan penduduk asli Derawan tiba - tiba ngomong: "Itu pulaunya, udah keliatan dikit". Ternyata udah keliatan, tappi kecil banget. Barulah 45 menit kemudian pulau itu udah mulai tampak jelas. Spontan kami semua kegirangan kayak anak kecil: "De...Ra...Waaaaaaaan." (maklum, yang pernah tau Derawan ya cuma rombongan orang asli sana, yang laen ya baru pertama kali, hahaha)

Setelah desak - desakan di speedboat, akhirnya terbayar sudah jerih payah kami. Dari kejauhan pulau itu nggak beda dengan pulau - pulau eksotis Indonesia lainnya: menakjubkan. Tapi setelah mendarat dan menjelajahi, ternyata Derawan punya sisi - sisi eksotisme tersendiri menurut gue.

Setibanya di pelabuhan, kami berdua langsung heboh. Seumur - umur gue belom pernah ngeliat laut sebening itu di bawah telapak kaki gue. Emang gue nya aja kali ya yang nggak pernah ke tempat - tempat eksotis, haha! Tapi bener, tetibanya itu kami langsung ambil handphone dan foto - foto dengan kamera resolusi rendah (punya temen gue sih masih bagus 8 Megapixel, lah gue cuma 2 Megapixel, burem! haha!) soalnya emang kami nggak punya DSLR. Kami nggak ribet bawa barang karena emang kami cuma bawa tas punggung dengan isi seadanya tadi. Ini nih boatnya:

20140606_170615

Setelah nyampek, suer, kami nggak tau mau kemana. Gue belom sempat blog-walking tentang Derawan, jadi gue juga nggak tau tempat - tempat yang recommended di sini. Hahaha! Untungnya kami ketemu rombongan (yang tadi gue nggak tau rombongan apa itu) dan ternyata mereka rombongan dari instansi sebelah yang juga baru pertama kali liburan di Derawan. Kenalan lah kami sama mereka, lima orang. Akhirnya, kami bertujuh memutuskan buat muterin pulau yang katanya cuma butuh waktu 30 menitan itu (emang bener, cuma 30 menit ternyata setelah kami buktiin).

 

Akhirnya kami menginap di penginapan yang berbeda soalnya mereka udah nggak sanggup jalan lebih jauh (maklum, ada yang udah bapak - bapak). Gue dan sohib gue di penginapan Pinades, sedangkan mereka berlima di penginapan Lestari 1. Derawan menawarkan banyak pilihan resort, penginapan, dan homestay. Kalo buat kalian yang berduit atau rombongan, bisa pilih resort agak mewah, rate nya paling rendah (jauh dari tepian pantai) 500ribu dan paling tinggi...entahlah..mungkin tiga juga keatas. Tapi emang eksklusif banget tempatnya. Kayak gini nih:

20140607_062154

Tapi karena kami hemat budget, jadi kami pilih penginapan murah tapi masih di atas laut letaknya. Pinades namanya, bagian dari Sari Cottage. Semalem yang nonAC plus kamar mandi dalem harganya 200ribu, buat 2 orang tapi pake kasur lantai (tapi kasur lantai yang tebel loh). Kalo Penginapan Lestari 1 yang nonAC cuma 175ribu, kasurnya springbed juga buat dua orang. yang AC 250 ribu.  (harga bisa berubah sewaktu - waktu, ya!)

Menurut kami sih Pinades cukup bersih dan nyaman, soalnya ada balkon belakangnya, beda sama Lestari 1. Jadi kalau mau merenung bisa duduk - duduk doang di balkon sambil pandangin tepian. Murah tapi menyenangkan deh. Begini penampakannya:

20140608_083458

Sekedar saran sih, jangan ke Derawan pas musim liburan. Kata ibu - ibu penjaga penginapan sih, pas musim liburan, orang yang ke Derawan bisa sampai 650 orang. Gue ngebayangin aja, pulau sekecil ini didatengin 650 orang bareng - bareng. Bukan cuma penginapan katanya yang rame, tapi jalanan dan spot - spot keren foto juga. Katanya, penduduk aja sampe miring - miring kalo jalan saking sempitnya. Beruntung lagi gue ke sini pas nggak musim liburan, padahal gue nggak sempet mikir serame itu. Lagipula kalau penginapan dan resort pada penuh, satu - satunya pilihan ya homestay, yaitu rumah penduduk yang dibikin semacam kamar khusus tamu (itu pun katanya juga sering kehabisan). Lebih murah sih, ada yang sampe 100ribu tapi kalo buat liburan kayaknya kurang aja gitu, masa liburan nginepnya di rumah orang. Lagipula kalo homestay umumnya kamar mandinya di luar, kadang campur sama pemilik rumahnya. Kalo buat cewek sih nggak recommended yaaaa kecuali kalo para backpacker bener - bener pengen liburan super hemat. Tapi ada juga homestay yang emang disewain satu rumah gitu jadi bisa buat bareng - bareng, entah berapa harganya gue nggak sempet nanya.

Nyampe di penginapan, kami cuma mikir satu hal: makan. Akhirnya setelah beres - beres, kami mulai menerobos malam buat cari makan. Derawan menawarkan beberapa cafe, tapi karena kami pengen hemat, kami menuju ke warung sederhana aja dan makan nasi goreng. Lumayan kok rasanya. Berdua total cuma 40ribuan.

Abis makan, kenyang, kami balik ke penginapan. Gue menghabiskan malam dengan merenung. Tiba - tiba rombongan berlima ngehubungi kami, katanya besok mau snorkling tapi bayar patungan. Sebenernya kami nggak kepikiran buat snorkling, soalnya pasti nggak bakal mampu nyewa speedboat cuma dua orang aja, Alhasil kami langsung nge-iya-in tawaran itu. Lagi - lagi kami beruntung. Berakhir sudah hari pertama di Derawan.

#DAY2

Kami kesiangan! Padahal mau ngejar sunrise. Cuaca juga lagi mendung. Tapi kami masih ngotot cari sunrise yang menurut perkiraan kami ada di dermaga resort - resort mahal yang kami lewatin kemarin. Emang bener ternyata, sunrisenya masih ada dikit - dikit. Sebenernya di dermaga resort itu ada tulisanya "dilarang masuk selain tamu" sih, tapi karena masih pagi dan lagi sepi banget, kami masuk - masuk aja tuh. Hahaha! Mungkin ceeritanya bakal beda kalo pas musim liburan kali ya..

Karena kami janjian snorkling jam 8 pagi, kami tunda dulu muterin pantainya, balik ke penginapan dan siap - siap. Akhirnya kami ketemu rombongan dan siap naek kapal. Paket snorkling yang kami pakai ini milik Penginapan Lestari, katanya sih 1.750.000 harganya, exclude sewa alat snorkling dan makan siang. Tapi ujung - ujungnya kami total cuma abis 380 ribu include makan malam "super gede" dan sarapan pagi. Gue sendiri nggak tau itungannya gimana, yang jelas ini murah banget, menurut kami.

Ombak yang tenang di pagi hari bikin suasana makin menakjubkan. Laut yang bening dan tenang bikin kami semua speechless. Norak banget, hahaha! Dan kira - kira satu jam lebih akhirnya kami sampai di Pulau Kakaban.

Awalnya kami pikir itu cuma pantai, tapi di dalam hutannya ternyata ada danau yang isinya ubur - ubur nggak menyengat.

Tibalah kami di danau ubur - ubur dan siap snorkling, Jujur, ini pengalaman gue snorkling pertama kali tapi untungnya gue langsung bisa.

Ini dia danaunya! Gue nggak bisa foto dalam air soalnya nggak punya kamera underwater

Kereeeeen! Tapi geli. Ubur - uburnya dilarang dicium atau dideketin ke kulit muka soalnya bisa bikin agak gatel. Tapi kalo sekedar lewat sih nggak masalah. Cuma ya itu, geli banget apalagi yang gede. Makin ke tengah makin banyak yang gede - gede, hehehe.

Puas maen sama ubur - ubur, kami diajak snorkling. Nggak jauh dari pantai sih, tapi karena masih pagi jadi masih banyak banget ikan warna - warni ngambang. Sayangnya ya itu, gue nggak punya kamera underwater jadi nggak ada dokumentasi. Setelah itu kami balik lagi ke tepian pantai buat foto - foto sambil makan siang.Meskipun makanannya seadanya tapi kalo rame - rame di pinggir pantai pasir super putih dan laut with crystal water gitu rasanya laen! Suer!

Setelah ngisi perut kami lanjut ke pulau Maratua buat ketemu Black Manta, ikan pari yang terkenal itu. Dalam perjalanan, kami ditemenin sama sekawanan lumba - lumba. Yap, bener, kami beruntung lagi. Speedboat kami dikelilingi sekawanan lumba - lumba yang tiba - tiba muncul tiba - tiba ilang sambil atraksi lompat - lompat. Sayang juga nggak ada yang sempat ngambil fotonya, kecepetan dan tiba - tiba sih. Tapi kereeeen!

Kali ini gelombang laut kurang bersahabat, lagi tinggi. Kami udah sampai di spot snorkling Pulau Maratua tapi nggak ada yang berani nyebur. Maklum, belum ada perenang profesional dan kami nggak bawa tour guide. Akhirnya dengan berat hati kami ninggalin sang Black Manta tanpa sempet ketemu.

Perjalanan dilanjutkan ke pulau terakhir yaitu Sangalaki. Lagi - lagi dalam perjalanan kami digiring sekawanan lumba - lumba. Gemes rasanya pengen jepret foto tapi tetep aja nggak kena. Sekitar 15 menit, pulau Sangalaki menyambut kami. Kami langsung menuju ke tempat penangkaran penyu.

Gue secara pribadi nyesel sih harus lliat penyu - penyu itu diajak foto sama tangan - tangan manusia sampe ada yang lemes banget penyunya. Gue nggak mau berlama - lama di sana, nggak tega. Lalu gue dan sohib gue jalan - jalan terpisah dari rombongan. Daaaan, kami sampai di "Private Beach"! Kenapa gue sebut gitu? Karena cuma kami berdua yang ada di sana, di sepanjang mata memandang!

img_20140607_145035 img_20140607_145239

Gue bener - bener nggak mau hengkang rasanya dari pantai ini. tapi sayangnya hari udah sore dan kami semua harus balik ke penginapan sebelum ombak makin tinggi. Tapi mungkin nggak bakal sesepi ini kalo musim liburan ya. Good bye, Sangalaki! :')

 

Sebelum balik, kami diantar dulu buat snorkling di deket Sangalaki. Tapi ombaknya gede banget. Kami emang nyebur sih tapi pemandangan bawah lautnya nggak seheboh tadi pagi. Kami pun hengkang dan sebelum nginjek pulau Derawan lagi, kami mampir ke pulau pasir, semacam yang di Bangka Belitung itu loh. Gundukan pasir tengah laut. Kayak gini nih:

img_20140607_165516

Akhirnya kami balik ke penginapan. Tapi gue yang menggilai sunset masih berniat buat ke dermaga kedatangan yang katanya sunsetnya bagus banget. Setelah lari - larian, ini hasilnya:

20140607_180101

img_20140607_182429

Dan perjalanan pun berakhir. Capek sih tapi seneng banget! Dan setelah bersih - bersih badan, kami pun menuju rombongan berlima di Penginapan Lestari dan makan bareng dengan porsi jumbo! Lanjut ngobrol - ngobrol santai di depan penginapan mereka sampe malem. Akhirnya kami tidur dengan amat sangat nyenyak. :')

#DAY3

Kali ini kami nggak ketinggalan sunrise lagi! Badan udah fit, kami menuju ke pantai. Keren!

img_20140607_062125

Kayaknya kali ini kami justru kepagian soalnya nggak ada orang di pantai kecuali tukang bersih - bersih sampah pantai di pinggiran. Yang gue sayangkan, pengunjung agaknya kurang bijak di pantai. Masih ada sampah - sampah yang bisa ngerusak alam Derawan. Sayang banget. Mental manusia lah yang bikin pantai - pantai eksotis semacam Derawan ini binasa. Apa sih susahnya ngumpulin sampah?

Perjalanan kami berlanjut menyusuri pantai. Burung - burung bangau tebang rendah, hinggap, terbang lagi. Sepi. Nyaman.

Kami terus jalan kaki berdua sepanjang pantai. Yaaaa sesekali duduk juga di pinggir sambil ngelamun, terus lanjut jalan lagi. Sebenernya kami ketemu sama rombongan lima orang yang bareng kami snorkling itu, tapi mereka nyewa sepeda sedangkan kami jalan kaki jadi mereka cabut duluan. Sewa sepeda di sana cuma 20 ribu dua jam (bisa lebih sih sebenernya). Kami sih memilih jalan kaki aja biar lebih seru. Dan akhirnya kami singgah di sebuah dermaga kosong. Kami nggak tau fungsinya apa, nggak berniat nanya juga ke penduduk, jalan aja lurus. Eh ternyata itu adalah pelabuhan tempat penyu - penyu nyender. Kami nggak sengaja nemuin lima penyu yang renang - renang santai di sana. Amazing! Berapa keberuntungan yang udah kami dapet? Hahaha!

Kami pun jalan lagi, sampe ujung dermaga. Niatnya cuma duduk santai, eh ternyata ada yang aneh sama air di bawah kami. Ternyata sekumpulan ikan kecil lagi ngebentuk barisan dan nggak lama kemudian lompat - lompat indah gitu, semacam atraksi ikan berjamaah. Ohmy...bener - bener kami belom pernah ngeliat itu sebelumnya! (Kami emang norak, hahaha!) Dan kami bengong liat ikan - ikan itu sampe kira - kira satu jam lamanya! Gue ngehubungi rombongan lima orang bersepeda itu soalnya gue berani jamin mereka belom ke dermaga yang ini. Nah pas mereka nyampe ternyata penyunya udah pada ilang. Belum seberuntung kami. Yes! :))

Karena udah siang, kami memutuskan buat sarapan dan keliling toko souvenir buat belanja - belanja pernak - pernik laut sekedar buat oleh - oleh.

Tepat pukul setengah satu, dengan berat hati kami check out. Berat rasanya buat balik. Tapi gue masih cukup waras untuk kembali semangat ngumpulin duit biar bisa ke sini lagi lain kali.

Good bye Derawan...I'll be back soon :')

SEKIAN

*Thanks banget buat Fufu atas persahabatan dan perjalanannya. Thanks juga buat rombongan Bu Keke dan DSLR-nya*

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.