BALONG TAK DIKENAL LAGI DI TANAH SUNDA

Post

Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah, murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa namun dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, dimulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanagara. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya budaya barat lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak manusia Sunda.

Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir punah secara perlahan.

Balong Ikan

Balong, adalah suatu tempat yang sifatnya itu seperti kolam ikan. Balong memang berbentuk kolam dan tak jarang yang mempunyai balong di rumahnya dan ditaburi benih-benih ikan. Apabila sudah beranak pinak ikan-ikan tersebut, lalu dipanenlah oleh yang punya rumah. Dan biasanya tradisi Sunda di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya setelah panen adalah bakar ikan bersama keluarga dan sanak saudara ditemani dengan sambal goang atau sambal mentah --hanya cabe dan irisan bawang merah, serta nasi liwet yang panas. Oh sungguh nikmatnya apabila disantap hangat-hangat dan bersama sanak saudara.

Cerita Lain: Replika Kampung Halaman Zaman Dulu Sebagai Penawar Rindu

Namun, untuk di Sunda atau di daerah Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya, balong itu sendiri selain kolam ikan, ia juga mempunyai arti yang sangat penting bagi layaknya manusia dalam berkehidupan sehari-hari. Fungsi balong itu sendiri di budaya Sunda Kabupaten Tasikmalaya bisa dialihfungsikan sebagai toilet umum, yang di ujungnya biasanya seperti ada bilik khusus yang ditutupi kain untuk buang air besar. Selain itu juga biasanya untuk mencuci pakaian dan mandi. Namun, biasanya terdapat beberapa balong di suatu rumah --yang satunya untuk buang air, yang satunya lagi untuk mandi dan mencuci

Balong Ikan

Itu sudah terjadi sejak saya balita ketika kedua orang tua saya mengajak ke Tasikmalaya, yang notabenenya adalah kampung halaman kedua orang tua saya. Dan SMA kelas tiga pun saya beranjak ke kota santri tersebut, untuk melanjutkan studi sembari mempertebal kadar imanku di sana. Sejak SMA pun saya masih mengalami yang namanya mandi di balong, bersama ikan-ikan yang bertebaran di sana, hingga mereka terkadang tersadar bahwa ada manusia yang hendak mandi sehingga ikan-ikan itu pun menghindar.

Hijau airnya, kok nggak geli sih, kok nggak jijik sih, emang nggak takut gatal apa? Pertanyaan itu sering diajukan ke saya ketika saya beranjak pindah ke Kota Depok. Ya saya menjawab pertanyaan mereka dengan ‘tidak gatal dan tidak jijik’ karena memang sudah budaya kami di tanah Sunda seperti itu. Walaupun airnya hijau dan seperti air cendol saya tetap saja mandi di balong, karena di zaman itu memang akses satu-satunya untuk mandi. Bahkan apabila musim kemarau airnya menyengat sekali ke hidung, namun saya tetap saja tidak merasakan gatal di kulit.

Saat musim kemarau di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya susah sekali menemukan mata air. Terkadang sungai-sungai pun ikut melenyap airnya seketika musim kemarau menghampiri. Untuk mandi pun terkadang jadi sangat sulit sekali, jawaban satu-satunya ialah balong tersebut.

Balong Ikan

Namun, kini di era modernisasi budaya balong pun mulai tergerus dan sudah tidak terlalu penting seperti di era ’90-an. Kini rumah-rumah di tanah Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya mulai membangun toilet seperti pada umumnya di kota-kota besar. Dan balong sendiri hanya dijadikan tempat ikan beradaptasi dengan teman-temannya untuk beranak pinak, sehingga ketika sudah banyak lalu ditangkap oleh yang punya rumah untuk dibakar maupun digoreng.

Tidak ada lagi yang namanya mandi di balong, cuci baju maupun cuci piring. Memang era modernisasi sangat jahanam, yang membuat budaya kampung halaman saya semakin tergerus.

Bahkan yang lebih mirisnya lagi, ketika saya menghampiri kampung halaman saya pada bulan Januari 2017 lalu, anak-anak kecil sudah termakan dengan gadget. Di mana ketika keponakan-keponakan saya direndahkan televisi lalu mereka terlalu enak mengunyah iklan dan tenggelam di media sosial. Ah, kejam sekali memang era globalisasi ini sudah merenggut masa kecil sebagian anak yang pada masanya mereka seharusnya bermain bersama teman-temannya di luar rumah untuk lebih akrab dengan satu sama lain, tidak dengan memakai gadget di tangan yang membuat budaya seperti permainan anak di era ’90-an semakin tercekik, seperti petak umpet, petak jongkok, main benteng, bete 7. Semakin langka di zaman sekarang.

Semoga coretan isi hati saya mengenai budaya di kampung halaman saya serta mulai tergerusnya budaya adat Sunda di era globalisasi ini, dibaca oleh pihak-pihak tertentu agar bisa mengembalikan perlahan budaya Sunda.

Cerita Lain: Kampung Ubud Bali, Kampung Penuh Pesona

#ingetkampung

"Aku ingin ketika aku berkarya, aku tidak terlahir sia-sia dimuka bumi."