Bandung, where my heart belongs to (Part 1)

Halo Sobat KitaINA!
Kali ini saya akan menceritakan salah satu kota persinggahan yang mewarnai hari saya sejak duduk di Sekolah Dasar. Yap Bandung..
Dulu, ayah saya menghabiskan waktu pelatihannya di kota ini sejak awal bekerja hingga pensiun. Ketika saya berlibur ke Bandung bersama orang tua, kami pergi ke Tangkuban Perahu dan Peneropongan Bintang Boscha. Karena dulu dokumentasinya tidak ada, jadi saya tidak bisa menampilkan keindahan objek wisata tersebut. (Semoga ada kesempatan lagi nanti kesana, hehe..)

Saya mulai jatuh hati dengan kota ini sejak kecil, dimulai dari cuaca, kemudahan akses jalan hingga  keramahan masyarakatnya. Tetapi siapa sangka sejak Februari tahun ini, saya menerima SK penempatan di kota ini. Bagi saya, Bandung memiliki orang-orang kreatif untuk bisa memajukan pariwisata kotanya. Didukung dengan keindahan alam yang luar biasa khususnya di daerah Lembang, membuat kota ini selalu dibanjiri wisatawan setiap akhir pekan. Di daerah ini banyak objek wisata yang bisa didatangi dalam rangka study tour, wisata keluarga maupun jalan-jalan dengan teman.

Perjalanan saya bermula dari Farm House Lembang, bersama teman kuliah saya yang memiliki hobi seperti seorang photographer. Karena jaraknya tidak jauh dari jalan Setiabudhi, maka kami memutuskan untuk menggunakan aplikasi Uber. Sesampainya disana, Farm House dibanjiri wisatawan yang ingin menikmati susu segar Lembang maupun keindahan alam yang tersedia. Disini juga terdapat Rumah Hobbit seperti yang ada di film-film loh Sobat, ada juga jasa penyewaan baju nona Belanda yang lucu tapi mahal dan tidak ada fotonya maafkan… 🙁

Keindahan air terjun kecil di sekitar gerbang masuk Farm House
Keindahan air terjun kecil di sekitar gerbang masuk Farm House
Dari bangunan ini bisa terlihat Farm House secara menyeluruh
Dari bangunan ini bisa terlihat Farm House secara menyeluruh

Saat berkunjung ke Farm House, banyak wisatawan yang mengabadikan gambar pada titik yang sama. Jadi, kami berusaha untuk menemukan titik terbaik demi kelengkapan perjalanan kami (anti mainstream dong wkwk).

Standing in the rain
Standing in the rain

Selanjutnya bulan April 2016 ini saya pergi ke Floating Market, tidak jauh dari Farm House. Saya kesana bersama tim di kantor, bertepatan dengan acara welcoming party kami selaku karyawan baru di unit tersebut. Di tempat ini terdapat perahu yang terapung guna menjual jajanan yang bisa dinikmati wisatawan. Untuk membelinya, perlu penukaran koin sesuai dengan nominal yang diinginkan. Kita juga bisa mengelilingi Floating Market menggunakan perahu yang telah tersedia.  

Floating Market Lembang
Floating Market Lembang
Rumah kelinci yang menggemaskan
Rumah kelinci yang menggemaskan
Buah dan sayur di perahu ini terlihat seperti asli
Buah dan sayur di perahu ini terlihat seperti asli

Di Floating Market ini, pengunjung bisa memberi makan ikan maupun kelinci dengan cukup membeli makanannya sekitar Rp 5.000,00 kemudian bermain di taman-taman yang menyerupai area perkampungan. Baru-baru ini telah dibuka wahana yang menguji adrenaline pengunjung, semacam flying fox, berjalan di atas jembatan kayu dan lainnya. Seru kan?!

Memberi makan ikan bisa dari jarak sedekat ini :D
Memberi makan ikan bisa dari jarak sedekat ini loh 😀
Taman ini juga cocok untu pra wedding :p
Taman ini juga cocok untuk pra wedding :p

Strength is looking back and seeing what you have been through and knowing you we’re strong enough to make it through ~ unknown.

Indonesian female who wants to see the world with her own dream ~ didianafitriA bachelor of economic faculty from Andalas University, one of the top ten universities in Indonesia. Has a major interest on financial, people and culture matters since in senior high school. Actively participated in global student organization named AIESEC which focus on leadership and exchange programs, runs by students in more than 120 countries.Now, working at PT. Telekomunikasi Indonesia as a Internal Auditor since February 2016 and recruited by Management Trainee program.

Leave a Reply