Benteng Rotterdam, Ikon Kota Makassar dari Abad Ke-15

Bangunan bersejarah yang satu ini wajib banget kamu datengin kalo berkunjung ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng yang aslinya bernama Benteng Jumpandang ini dibangun oleh Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa ‘risi’ Kallonna, pada tahun 1545. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam sendiri adalah nama yang diberikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Cornelis Janzoon Speelman saat Belanda berhasil merebut benteng tersebut dari Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini juga dikenal dengan nama Benteng Pannyua alias Benteng Penyu karena desainnya yang menyerupai reptil tersebut.

Wujud benteng yang kita lihat saat ini adalah hasil perombakan besar-besaran yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda, termasuk kelima bastion  (sudut pertahanan tempat meletakkan meriam) yang menjadi ciri khas Benteng Rotterdam. Kelima bastion tersebut memiliki dua akses, tangga biasa untuk personel bersenjata ringan dan tangga datar untuk jalur meriam. Sebelumnya benteng ini hanya berbahan dasar tanah liat dan batu bata, oleh Hindia Belanda diganti dengan batu padas berbentuk balok yang diambil dari pegunungan kapur di daerah Maros.

Denah Benteng Rotterdam dari tahun 1800an. (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam)

Benteng ini kini ditetapkan sebagai Pusat Budaya Sulawesi Selatan sekaligus tempat wisata budaya. Kamu bisa masuk ke sana dengan gratis lho! Itu juga sebabnya Benteng Rotterdam sering menjadi lokasi kegiatan komunitas-komunitas yang ada di Kota Makassar. Di dalam kalian bisa melihat bangunan-bangunan sisa jaman Belanda dan jalan-jalan ke atas bastion; buat yang demen foto-foto harus banget nyoba motret dari sana, pemandangannya keren abis!

Enggak cuma itu, dalam kompleks Benteng Rotterdam juga terdapat Penjara Pangeran Diponegoro dan Musem La Galigo. Penjara tersebut terletak di pojok Bastion Bacan (sudut barat daya), tapi bangunan tersebut bukan lokasi penjara yang sebenarnya. Dilansir dari historia.id, enggak ada yang tahu di mana sebenarnya Pangeran Diponegoro ditahan dalam Benteng Rotterdam, bangunan itu cuma buat visual bagi pengunjung.

Salah satu lorong gedung di dalam kompleks benteng. (Doc: Harith Jobs)

Sementara itu, Musem La Galigo adalah museum yang berisikan kurang lebih 4000 koleksi benda bersejarah yang terdiri dari benda-benda prasejarah, kitab-kitab kuno beraksara lontara, pakaian adat hingga peralatan nelayan tradisional suku Bugis. Kamu bisa masuk ke museum ini cukup dengan Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak, murah kan?

La Galigo sendiri sebenarnya adalah nama dari kitab sakral Suku Bugis yang ditulis pada abad ke-13 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno dan ditulis dalam aksara Lontara. Kitab tersebut berisikan kisah penciptaan dunia dari peradaban Suku Bugis.

Benteng Rotterdam terletak tepat di pinggir pantai, enggak jauh dari anjungan dengan tulisan Pantai Losari berwarna merah yang terkenal itu, kalau jalan kaki paling cuma 15 menit. Kamu juga bisa ke sana dengan naik becak lho! Enggak lengkap kalau ke Makassar tapi enggak nyoba naik becak. Saya sih nyaranin buat main ke sana sekitar pukul 15.00 sampai 18.00 WITA. Selain karena jam segitu udah relatif adem (Makassar panas, guys), kamu juga bisa dapet foto-foto sunset yang kece kalau kebetulan cuacanya lagi cerah. Gimana? Udah siap buat menjelajah benteng Kota Makassar ini?

 

Leave a Reply