Bercermin di Danau 2 Rasa Kalimantan Timur

LABUAN CERMIN : PESONA BAHARI DI BIDUK – BIDUK
Biduk – biduk merupakan kecamatan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Berada di daerah tropis dengan posisi geografis 10 LU – 20.33 LS dan 1160 BT – 1190 BT, dengan ketinggian 5 – 55 meter di atas permukaan laut. Disini terdapat objek wisata yang cukup ramai dibicarakan oleh para pecinta wisata bahari, yaitu Labuan Cermin

peta-biduk-biduk

Untuk menuju Biduk-biduk dapat ditempuh dengan beberapa cara, yaitu:
Pertama, melalui jalur udara yaitu melalui bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan – Balikpapan menuju bandara Kalimaru – Tanjung Redeb (ibu kota kabupaten Berau). Dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, dari Bandara Kalimaru bisa menuju terminal dimana banyak terdapat mobil travel atau charter yang bisa mengantar menuju biduk-biduk dengan biaya sekitar 250-300rb per orang sekali jalan atau charter dengan biaya sekitar 1,5jt sekali jalan, dengan kisaran waktu tempuh 4-5 jam perjalanan melewati jalan aspal halus sehalus perasaan aku.
Kedua, melalui jalur darat yang bisa ditempuh dengan kisaran waktu sekitar 10 – 14 jam. Jadi persiapkan tubuh dalam kondisi fit, karena perjalanan panjang, berkelok, berlubang, berlumpur serta penuh kenangan bersama mantan akan dilalui yang tentukan cukup membuat pantat panas karena kelamaan duduk. Jangan lupa juga persiapkan makanan kecil serta minuman karena sepanjang perjalanan akan sulit menemukan warung penjual.
Kali ini saya akan menceritakan perjalanan menuju biduk-biduk melalui jalur darat dari Samarinda tempat tinggal saya.

2 September 2016
Perjalanan saya dimulai dari ibu kota propinsi Kalimantan Timur yaitu Samarinda menuju Sangatta dengan waktu tempuh 4 jam (kurang lebih 500km), dengan kecepatan siput saya mengendara mobil, hehe.. (idealnya sih waktu tempuh cukup 3 jam). Menggunakan mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar hasil minjem mobil punya adik saya, hihi.. karena memang medannya yang menantang dan berliku seperti kisah cintaku, serta jalanan Kalimantan masih banyak yang rusak, dan saat itu memasuki musim hujan, sehingga sebaiknya menggunakan mobil double gardan atau 4WD. Sebelum berangkat isi solar full tank 70 liter dari samarinda.

20170106222755_img_5032
Mobil yang saya gunakan

Sangatta merupakan titik temu saya dengan teman-teman rombongan. karena gaya nyetir saya yang gas rem gas rem gak jelas itu, dimana akan memakan waktu 24 jam jika saya tetap sebagai driver, maka hasil kesepakatan para pemegang saham diputuskan harus berganti driver yang sudah hapal rute perjalanan. Oya, isi full bensin saat masih di Sangatta, karena kita baru akan menjumpai SPBU lagi sekitar 4 jam kedepan setelah menyeberang di Kecamatan Kaubun

Bersama mobil teman lainnya yaitu Mitsubishi Hilux, dengan keseluruhan jumlah 10 orang, sekitar pukul 10 malam kami melakukan perjalanan ke Biduk – Biduk Kabupaten Berau melewati jalan poros daerah Muara Wahau, Bengalon, Kaliorang sampai daerah Sangkulirang dermaga penyebrangan.

20170105230655_img_5012
2 unit mobil yang kami pergunakan

Karena perjalanan yang kami lakukan di malam hari dan suasana gelap tidak terdapat lampu penerangan jalan, jadi tidak banyak yang bisa saya ceritakan terkait pemandangan selama perjalanan berangkat ini, hampir sepanjang waktu perjalanan saya pergunakan untuk tidur.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, sampailah kami di desa Kaubun Kutai Timur yang merupakan perbatasan Kabupaten Kutai Timur dengan Kabupaten Berau, disini kami akan menyeberangi sungai dengan menggunakan kapal feri kayu yang hanya cukup untuk 2 mobil, dengan biaya 250rb per 1 unit mobil. Tetapi karena kami tiba di pelabuhan sekitar pukul 2 dini hari, dimana air sungai sedang surut sehingga tidak dapat dilakukan penyebrangan saat itu juga, sehingga kami pun harus menunggu sampai air pasang. Sekitar pukul 4 pagi saat air pasang, kami pun segera menyeberang sungai menggunakan kapal feri selama 10 menit.

20170106223551_img_5036
Mobil turun dari kapal feri (perjalanan berangkat)

Buat kalian yang mau telpon, sms, atau update status di sosmed silahkan lakukan di tempat ini, karena tak lama dan tak jauh dari dermaga ini sinyal hp pun akan menghilang sampai 4 jam kemudian.. (mati gaya dibawa tidur lagi)

3 September 2016
Esok hari sekitar pukul 8 pagi kami sampai dibiduk-biduk dengan nyiur yang berbaris rapi melambai-lambai sepanjang jalan seakan mengucapkan selamat datang. kami langsung menuju penginapan yang sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya (penginapan Miranti) dengan harga 200rb perkamar, dengan fasilitas ac, TV, kamar mandi dan pemandangan pantai langsung disamping kamar kami.

Processed with Snapseed.
Sunrise di tepi pantai samping kamar penginapan

Terdapat juga penginapan lain dengan harga yang lebih murah yaitu 100rb permalamnya dengan fasilitas kipas angin dan kamar mandi luar.
Setelah istirahat, makan siang dan sholat duhur kami bersiap menuju pelaminan, eh menuju ke dermaga Labuan Cermin, hihi.. Dari penginapan menuju dermaga ditempuh selama kurang lebih 10 menit menggunakan kendaraan, di dermaga ini kita naik perahu mesin menuju Labuan Cermin dengan biaya 100rb PP, jangan lupa menyewa alat snorkeling yang berada di dermaga Labuan cermin, harga sewanya 20rb.

Processed with Snapseed.

Dermaga Labuan Cermin, dibelakang adalah perahu yang akan kami gunakan tuk menyeberang menuju Labuan Cermin

Setelah kurang lebih 10 menit perjalanan, sampailah kita di Labuan Cermin, yaitu danau 2 rasa dimana air bagian atasnya tawar dan air bagian bawahnya asin. Airnya sangat jernih sehingga tepat diberi nama Labuan Cermin, karena kita bisa berkaca di atas air (thu yang suka nyinyir coba ngaca disini)

Processed with Snapseed.
Pose wajib di atas kapal

Processed with Snapseed.

Processed with Snapseed.
Perahu kecil ini disewa seharga 50rb

Processed with Snapseed.
gak bisa berenang, poto cantik aja pake floating

Puas bermain dilabuan cermin, sore hari kami pun kembali ke penginapan untuk mandi dan makan malam.
Oya, sangat susah sekali mendapatkan sinyal telekomunikasi selama di biduk-biduk, layanan operator pun masih sebatas Telkomsel, sinyal maksimal hanya EDGE itu pun terkadang sering hilang entah ngumpet dimana. jadi jangan berharap bisa update status sosmed secepatnya ya, apalagi mau bikin insta story, lupain dulu deh. Hikmahnya kita jadi lebih banyak punya waktu buat ngobrol dengan teman-teman, tidak sibuk dengan gadget masing-masing. Untuk listrik pun hanya menyala selama 12 jam saja, yaitu pukul 6 sore hingga 6 pagi. Agar tidak berebut colokan listrik saat akan men”charge” peralatan elektronik, baiknya bawa kabel roll extention.

4 September 2016
Selain Labuan Cermin, Kami juga mengunjungi objek wisata lainnya yang terdapat di sekitar biduk-biduk, yaitu pulau Kaniungan Kecil dan Kaniungan Besar. Untuk menuju pulau-pulau tersebut menggunakan kapal kayu yang ada di dermaga Teluk Sulaiman dengan jarak tempuh sekitar 15 menit berkendara dari penginapan kami. Untuk mengelilingi pulau, kami menyewa kapal dengan biaya 700rb, waktu tempuh sekitar 1 jam.

Dermaga Teluk Sulaiman
Dermaga Teluk Sulaiman

Tujuan pertama kami hari ini adalah pulau Kaniungan Kecil, dengan airnya yang hijau serta pasir putihnya sungguh membuat saja jatuh cinta pada pandangan pertama

Processed with Snapseed.

Processed with Snapseed.

Processed with Snapseed.

Beranjak siang, kami pun berpindah ke pulau kaniungan besar yang memiliki pasir putih, tetapi sedikit kotor dengan banyaknya pelepah pohon kelapa memenuhi bibir pantai.

20160923213438_img_1369
Menikmati indahnya pulau Kaniungan Besar dengan segarnya kelapa muda

Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan di pulau ini, mengingat saat itu cuaca mendung dan sudah mulai gerimis, dan benar saja tak lama hujan pun turun dengan derasnya yang memaksa kami kami tuk segera pulang.
Sesampainya di penginapan kami pun bergegas membersihkan diri dan packing untuk kembali ke kota Sangatta. Perjalanan pulang pun di sertai dengan hujan rintik sampai intensitas sedang, seolah – olah langit pun sedih atas kepulangan kami, hihi..
Karena hujan menyebabkan medan yang kami lalui pun cukup menatang dikarena beberapa jalan masih berupa tanah liat. Sempat beberapa kali mobil kami amblas dan harus ditarik oleh mobil kawan di depan.
Sekitar pukul 7 malam, 500 meter dari dermaga penyebrangan pas ditanjakan terakhir mobil kami ternyata tidak dapat menanjak dengan mulus, alhasil mobil amblas di tengah jalan. Tidak hanya mobil kami yang amblas, ada beberapa mobil pick up pengangkut ikan juga tidak dapat menanjak.

20170106224828_img_5041_1
Amblas, Hikss..

Berbagai usaha kami lakukan agar mobil bisa naik, namun kondisi jalan yang benar-benar becek tidak dapat kami lalui. Malam itu pun kami harus menginap di perjalanan, kami menumpang tidur di teras depan warung milik warga sekitar.

5 September 2016
Jam 7 pagi keesokan harinya, kami kembali berusaha mengeluarkan mobil dari jebakan lumpur, Alhamdulillah.. dengan bantuan seorang pemilik truck, mobil kami berhasil ditarik naik dan kami pun dapat melanjutkan perjalanan. Ada hikmahnya juga dibalik kejadian ini, saya pun bisa melihat pemandangan sekitar yang saat berangkat malam hari tidak dapat kami nikmati.

Processed with Snapseed.
Perjalanan pulang di atas kapal Feri

Processed with Snapseed.
Pemandangan selama penyebrangan

Tepat pukul 11 siang kami tiba di Sangatta.. saya pun berpisah dengan teman-teman rombongan, dan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke kota asal saya Samarinda.

Dokumentasi perjalanan menggunkan iPhone 6s, Gopro hero 4 silver, Sony Mirrorless a6000

Tips & Info :
1. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat
2. Kalau pas hari libur, labuan cermin cukup ramai dikunjungi, mending datangnya di hari kerja supaya bisa dapat spot buat poto-poto
3. Jalurnya cukup sulit tuk solo traveler dan biaya pun cukup besar, pergilah dengan rombongan agar dapat sharing cost
4. Gunakan kendaraan sendiri atau charter mobil, naik motor bisa juga sih, tapi pastinya bakal capek banget
5. Reservasi penginapan jauh-jauh hari, karena jumlah penginapan sangat terbatas
6. Sebaiknya bawa perlengkapan snorkeling sendiri, penyewaan alat snorkeling hanya terdapat di dermaga labuang cermin itu pun kondisinya kurang bagus
7. Cari penginapan yang bisa menyediakan makan sekaligus, agar tidak repot karena agak susah mencari warung makan disini
8. Rata-rata air di biduk-biduk rasanya sedikit asin, persiapan air mineral botol untuk keperluan gosok gigi dan cuci muka
9. Perlengkapan yang sebaiknya dibawa, obat2an pribadi, sunblock, handuk kecil, perlengkapan mandi, baju renang, sendal jepit, topi pantai, kacamata, kamera, charger, dry bag untuk melindungi barang-barang elektronik agar tidak terkena air, pelampung kekinian buat poto2, kabel roll extention
10. Pastikan bawa uang tunai secukupnya, karena gak ada Bank/ATM selain BPD Kaltim (sekalian promosi Bank tempat saya kerja, hihihi..)
11. Fix kan terlebih dahulu harga sewa kapal, karena biasanya diakhir perjalanan mas-mas kapal suka minta tambahan biaya
12. Perhatikan keamanaan & keselamatan

Mau tau keseruan perjalanan ini cek link

Estimasi Biaya (Jalur Darat) :
1. Solar PP Mitsubishi Pajero 160 liter x Rp. 6.500,-
2. Penyebrangan Dermaga Kaubun PP Rp. 500.000,-
3. Penginapan Rp. 200.000,- permalam
4. Sewa Perahu ke Labuan cermin PP Rp. 100.000,-
5. Sewa Kapal ke pulau PP Rp. 700.000,-
6. Sewa alat snorkeling Rp. 20.000,-
7. Biaya makan selama trip sekitar Rp. 200.000,-

*cerita ini dibuat untuk mengikuti kompetisi – Follow ikamariana #marianaonvacation

Leave a Reply