Berlibur ke Desa Wisata: Mind Relaxing, Soul Refreshing

-Weekend aku ke Jogja ya, stress tiap hari mantengin excel-

Saya masih setengah sadar ketika membaca pesan singkat yang saya terima pagi itu. Oh, dari Mbak Iin.

Emang mau ke mana?

Mbak Iin is typing…

-Terserah kamu, pokoknya kamu atur aja itenerary-nya, pokoknya aku mau refreshing-

Mbak Iin is typing…

-Kalo bisa jadwalnya padat tapi cukup tidur ya. Wakakaka-

WHAT.

Hampir saja saya memulai pagi hari dengan mengumpat, hingga kemudian saya teringat bahwa ia adalah kakak perempuan saya yang tengah banting tulang di ibukota sana. Yasudah. Seketika saya memaklumi tindakan semena-menanya tadi.

Saya paham betul makna refreshing yang diinginkan kakak saya adalah berkunjung ke tempat-tempat bernuansa alam dan tidak banyak orang. Sejenak saya teringat dulu ketika ia masih kuliah di Jogja di tahun pertama saya kuliah. Kami sering keluyuran dari ujung Jogja utara hingga pojok pantai selatan. Namun kali ini saya benar-benar buntu harus membawa kakak saya ke mana, karena saya sudah jarang keluyuran di Jogja.

Mendadak saya teringat salah seorang teman yang tengah membangun bisnis start-up yang berhubungan dengan pengelolaan desa wisata di Jogja bernama ‘Villageria’. Langsung lah saya menghubunginya tanpa pikir panjang. Sempat kami berdiskusi lewat aplikasi chatting beberapa hari, disarankan ini-itu, saya nanya ini-itu, dan berbagai ini-itu yang lain.

Sudah mantap, tiba-tiba saya kembali rempong.

Kenapa? Karena tiba-tiba rencana refreshing kakak ke Jogja bocor ke orang tua. Jadilah orang tua saya ikut karena tidak mau ketinggalan senang-senang. Beruntung ada teman saya  yang sangat setia memberikan informasi dan saran serta membantu menghubungkan saya dengan pengelola desa wisata. Akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran selama dua hari. Desa wisata ini terletak di  Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Awalnya kakak saya sempat protes, mengapa hanya di satu tempat, mengapa tidak seperti saat kami keluyuran dulu yang cenderung kesana-kemari, yang katanya ‘padat tapi cukup tidur’. Saya pun balik protes,

Kamu mau refreshing? Yakin bisa refreshing dengan jadwal padat? Yakin bisa cukup tidur dengan jarak dari kota ke wisata alam yang jauh dan kamu maunya jadwal yang padat? Yakin?-, tanya saya yang seolah terkesan menyerang, ehe.

Mengunjungi beberapa tempat memang menyenangkan, karena kita bisa merasakan suasana dan menikmati pemandangan yang berbeda-beda di setiap lokasinya. Apalagi kita bisa punya stock foto banyak untuk di-upload. Kan keren tuh, tempatnya beda-beda terus, seolah-olah udah keluyuran ke mana-mana. Boleh banget kalau misal kita punya waktu berlibur yang panjang atau memiliki tujuan yang khusus, seperti untuk liputan atau laporan. Tapi jika tujuan utamanya adalah melepas penat dengan waktu yang terbatas, style kesana-kemari bukanlah pilihan yang tepat.

Pemikiran ini sebenarnya terbentuk dari pengalaman saya saat berlibur bersama teman-teman club diving di Bali. Saat saya mengunjungi salah satu relasi kami yang memiliki restoran dan resort di daerah Munduk, sekitar Bedugul, saya melihat seorang berkewarganegaraan asing tengah duduk di depan kamarnya. Ia duduk dengan santainya sembari membaca novel ditemani pemandangan gunung dan perbukitan yang sangat indah di hadapannya. Angin sejuk membelai rambut pirangnya yang panjang secara perlahan. Nikmat sekali, batinku. Mulai detik itu pun saya mulai paham apa yang dinamakan mind relaxing dan soul refreshing.

Meski kami sering berdebat, namun sebagai saudara tentu kami memiliki rasa saling percaya. Akhirnya kakak pun mengalah dan mempercayakan segalanya pada saya. O yeah baby, maka berangkatlah kami ke Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran!

Jalan menuju Desa Wisata GAP Nglanggeran yang masih alami
Jalan menuju Desa Wisata GAP Nglanggeran yang masih alami

Hawa sejuk dan pohon-pohon hijau menyapa kami saat sampai di desa tersebut. Di sana, kami menginap di salah satu homestay dekat sekretariat desa wisata, bernama ‘Homestay Jono’. Mudah ditebak, karena pemiliknya bernama Pak Jono. Kulihat salah satu pigura di dinding yang menyebutkan ‘Homestay Terbaik Peringkat III’. Hmm, tidak heran homestay ini masuk ke jajaran homestay berprestasi, karena kamarnya nyaman, kamar mandinya bersih, dan MAKANANNYA ENAKK! Beneran enak, tipikal masakan rumahan di desa yang nampak sederhana tapi bercita rasa tinggi.

Ibu memutuskan untuk tidak ikut tracking ke GAP (Gunung Api Purba) karena tidak sanggup, mengingat pengalaman dulu saat mendaki Kawah Ijen benar-benar menguras tenaganya. Jadi hanya saya, kakak dan bapak ditemani seorang pemandu bernama Mas Sudadi, yang merupakan salah seorang anggota Karang Taruna Desa Nglanggeran. Sebagai pemandu, saya acungi jempol Mas Sudadi ini. Ia memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang bagus. Meski medan tracking licin, sempit dan terjal, namun ia tetap semangat mengoceh hingga puncak! Terbaik lah karang taruna Desa Nglanggeran ini! Selain mampu mengelola sumber daya alam di sini dengan bijak, juga mampu mengembangkan keahlian sumber daya manusianya hingga mumpuni.

Saya mengabadikan kemegahan Gunung Api Purba. Foto oleh kakak.
Saya mengabadikan kemegahan Gunung Api Purba. Foto oleh kakak.
Jalur trecking menuju puncak yang sempit dan curam. Foto oleh Mas Sudadi.
Jalur trecking menuju puncak yang sempit dan curam. Foto oleh Mas Sudadi.
Dari puncak nampak hamparan hijau mengelilingi embung Nglanggeran
Dari puncak nampak hamparan hijau mengelilingi embung Nglanggeran

Melihat batuan-batuan yang menjulang tinggi menyusun gunung yang konon aktif ini, membuat saya merasa seakan sedang berada di zaman purba. Sungguh magis dan megah, namun tidak memberikan kesan seram. Karena warna hijau masih mendominasi gunung ini. Mengagumkan.

Kurebahkan badan yang lelah usai tracking subuh tadi. Samar-samar saya mendengar alunan musik keroncong jawa tak jauh dari homestay. Angin sejuk dan dingin berusaha melewati celah sempit jendela kamar saya. Ah, segar dan damai sekali rasanya.

 

How to get there :

Jarak dari Jogja 45 km, dengan mobil atau motor perjalanan sekitar 45 menit.

Melalui jalan Jogja-Wonosari dan Bukit Bintang/Bukit Patuk, lalu ikuti plang petunjuk.

Paket Homestay Rp 150.000,-/orang  satu hari (homestay, 3x makan, snack, tiket tracking GAP, tiket embung Nglanggeran, asuransi) + Pemandu Rp 100.000,-

More info : http://gunungapipurba.com/

Villageria (Digital Marketplace of Tourism Village/Website Booking Online Desa Wisata) : http://www.villageria.com

CP Kamalia : (085641510496)

Travel journalist. Adoring the sea, love scuba diving.

Leave a Reply