Bertemu Pak Rasim di Curug Kramat

Berawal dari cerita rekan kerja akan keberadaan sebuah curug di Dusun Kepering, Desa Punggelan, Banjarnegara, membuat rasa penasaran saya begitu besar.

Dari Eka lah, semua rasa penasaran saya itu bermula. Rumahnya yang berada di Dusun Kepering, Kebunnya yang tak jauh dari lokasi curug hingga cerita-cerita dari mulutnya yang selalu membuat rasa penasaran saya yang mendengarnya dan ingin membuktikan sendiri seperti apa rupanya.

Berbekal dari ceritanya, minggu ini saya memberanikan diri untuk membuktikannya secara langsung. Sengaja saya tidak terlebih dahulu mampir ke rumahnya atau minta ditemani sekalian karena selain takut mengganggu waktu liburnya, saya pikir akan lebih menantang jika bisa menemukannya seorang diri dengan berbekal menanyakan langsung ke penduduk sekitar.

Rasa percaya diri yang terlalu besar, terkadang juga tidak baik. Contoh nyatanya kali ini yang saya alami. Karena saking pedenya, saya langsung saja mengarahkan sepeda motor menuju perempatan Dusun Kepering menuju lokasi rumah seorang Bidan Desa. Saya pikir lokasi curugnya berada di belakang rumah Bidan Desa tadi, tapi ternyata salah.

Belakangan saya baru tau setelah bertanya pada tetangga rumah dari bides tadi. Awalnya orang saya minta tolong untuk menunjukan dimana lokasi curug berada merasa kebingungan karena merasa baru pertama kali mendengar, namun setelah saya “sedikit paksa” untuk mengingat-ingat, beliau baru ngeh dan hanya ingat lokasinya berada di belakang PKD (Pos Kesehatan Desa). Hmmm jadi saya salah sangka menyamakan rumah Bidan Desa dengan PKD, padahal keduanya berbeda.

Sepeda motor saya putar balik menuju perempatan Desa Kepering dan saya membelokannya ke sebelah kanan perempatan jalan. Berkendara secara perlahan. Mencoba peka dengan pandangan dan pendengaran. Mencari tahu keberadaan PKD dan sesekali telinga awas mendengar gemericik aliran air di sepanjang jalan yang saya lewati.

Setelah terlewat beberapa puluh meter, saya sedikit menemukan titik terang saat melewati rumah terakhir di ujung dusun ini. Dari bangunannya saya paham jika ini bukan rumah biasa, tapi ini sebuah klinik atau PKD di Dusun Kepering.

Dari samping Gedung PKD ini, terdapat sebuah aliran sungai yang begitu deras. Ah inilah titik awalnya saya pikir, mungkin tidak jauh lagi keberadaan curug yang saya cari.

Sepeda motor pun saya parkir di halaman PKD yang suasananya begitu sepi. Dari informasi penduduk, gedung ini hanya beroperasi tiap Senin-Sabtu mulai pukul 08.00-12.30.

Jalan setapak di belakang PKD masih terlihat licin dan becek karena hujan semalaman sepertinya. Kini di kanan kiri jalan yang saya lewati hanyalah berupa semak-semak dengan sebuah aliran sungai kecil yang menemani.

Saya bertemu dengan dua orang laki-laki yang tengah memanggul batang Kayu Albasia yang sepertinya baru saja ditebang. “Permisi pak, mau tanya, tau dimana lokasi Curug Keramat atau Gerujugan Keramat?”. “Oh Curug Keramat ya?, tinggal jalan kaki beberapa meter saja, nanti kalau ada jalan setapak di pinggir jalan, lewat situ saja, nanti sampai ke bibir sungai kok” Jawab bapak yang sambil memikul batang kayu tadi.

Ternyata berbekal cerita tadi tidaklah cukup. Saya malah tersasar sampai jauh dan menemukan jalan buntu di tengah hamparan kebun dan hutan. Saya memilih berbalik arah dan menuju tempat semula saat bertemu si bapak tadi. Kali ini mata saya awas untuk mencari jalan setapak yang mungkin saja saking jarang dilalui orang menjadi hilang dan tertutup semak belukar.

Benar saja, akhirnya saya menemukan jalan setapak menuju bibir sungai di jurang sana. Hampir saja saya putus asa dan memutuskan untuk pulang saja. Dari kejauhan terlihat dua aliran Sungai. Belakangan saya baru tahu nama kedua sungai tersebut, penduduk sini menyebutnya Kali Ligung dan Kali Purut.

Saya ambil bilah kayu berukuran kecil untuk menuntun langkah menuruni jalanan menurun nan licin. Setelah beberapa menit berjalan seorang diri membelah hutan dan semak belukar, akhirnya saya sampai juga di bibir sungai namun dengan keadaan tebing yang terjal dan susah mencapai dasar sana. Dari sini terlihat bebatuan Kali Ligung yang berukuran besar-besar terhampar di sepanjang sungai.

Saya pikir lokasi curugnya berada di Hulu Kali Ligung ini yang memang alirannya kencang dan sungainya lumayan lebar dibanding Kali Purut, namun perkiraan saya salah. Semakin jauh berjalan melewati bebatuan sungai menuju hulu Kali Ligung, saya tidak menjumpai keberadaan curug yang saya cari. Kini saya berbalik ke tempat semula dan menuju percabangan kedua aliran sungai dan memilih aliran sungai yang alirannya kecil dan tidak terlalu lebar. Saya pikir di ujung hulu sungai ini, keberadaan curug berada.

Aliran sungai kecil pun saya lewati dari hilir ke hulu dan beberapa saat kemudian saya mendengar suara gemericik air dari ketinggian dan beberapa saat kemudian, curug atau gerujugan yang saya cari pun ditemukan.

curug keramat
dari aliran air inilah, saya menemukan curug ini, hilir ke hulu

Seperti biasa, saya merasa puas ketika menemukan sesuatu yang sedari tadi dicari, walaupun sendirian di tempat seperti ini, berada di antara cekungan aliran sungai dan tebing yang membentuk curug.

curug keramat 2
Curug Keramat yang tidak terlalu besar aliran airnya

Curug Keramat ini tidaklah terlalu besar alirannya serta tidak juga terlalu tinggi lokasinya. Di sekeliling curug ini ditumbuhi rimbunnya tanaman bambu, kelapa, singkong dan juga beberapa batang pohon pinang. Saya pun duduk di atas bebatuan yang ada di sekitarnya sembari menikmati kesejukan hempasan angin yang membawa butiran-butiran air berhawa sejuk.

langit biru
duduk seorang diri sambil memandangi langit

Agak merinding dan merasa horor juga berada di tempat ini apalagi sendirian seperti ini. Setelah puas mengabadikan dan menuntaskan rasa penasaran akan keberadaan curug ini, saya pun memilih mengakhiri kunjungan dan pulang dengan jalan yang berbeda. Agak was-was memang jikalau nanti tersasar seperti kejadian di Curug Gandong beberapa waktu lalu.

Sebuah lereng perbukitan kecil yang ditumbuhi tanaman singkong menjadi jalan pulang saya menuju ke PKD, entah kenapa saya merasa di balik bukit kecil ini sepertinya malah dekat dengan jalan raya. Lha kok? Iya saya baru ngeh setelah beberap langkah melewati tebing ini dan melihat dari kejauhan berupa jalan raya alias jalan aspal. Agak ingin tertawa karena kenapa tadi tidak lewat sini saja pas berangkat?

Hingga saya bertemu dengan seorang bapak-bapak, beliau bernama Bapak Rasim. Sebenarnya malah lebih lama berbincang-bincang dengan beliau dibanding berlama-lama di Curug Keramat tadi. Dari obrolan masalah pertanian, sekolah, pekerjaan, kehidupan keluarga hingga ekonomi, tak terasa kami langsung akrab satu sama lainnya padahal baru pertama kali bertemu.

bapak Rasim
sosok Bapak Rasim

Dari beliaulah saya tau kalau aslinya Bapak Rasim ini berasal dari Purbalingga dan menikah dengan perempuan dari Dusun Kepering. Walaupun hanya menamatkan sekolahnya hingga tingkat sekolah dasar namun dari cerita beliau, saya bisa menangkap jika ia tidak ingin anak-anaknya bernasib sama sepertinya. Tidak heran jika anaknya bisa menamatkan sekolahnya hingga jenjang SMK dan kini sudah bekerja di Jakarta.

Tak terasa hampir sejam lebih kami berbincang-bincang di tengah kebun dan ditemani segerombolan nyamuk yang tak henti-hentinya menghisap darah sedari tadi.

Setelah berpamitan dengan Bapak Rasim, benar saja, jalan setapak yang membelah tanaman Kapulaga ini berujung pada sebuah pinggir jalan raya. Seandainya saya tau dari awal tentu lebih memilih jalur ini daripada harus mblangsak jauh melewati semak belukar dan sungai menuju Curug Keramat.

Saya hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter melewati pinggiran jalan beraspal hingga berujung pada lokasi PKD berada, dimana saya menitipkan sepeda motor.

Kadang kita memang harus melewati jalan berliku dan tidak mudah dalam menjalani hidup hingga Tuhan akhirnya memudahkan jalan kita berikutnya. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi. Bahwa kadang harus bersusah-susah dahulu untuk mencapai segala sesuatu hingga keberhasilan pun akhirnya datang, atau kita akhirnya menemukan jalan yang tepat setelah melewati jalan yang berliku.

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply