Bertualang di Suaka Elang

Suaka Elang Indonesia Photo

Presiden pertama kita, Bapak Ir. Soekarno pernah berucap, “Bebek jalan berbondong-bondong, elang terbang sendirian.” Berdasarkan ucapan Beliau tersebut sepertinya semua pasti akan mengangguk setuju dan mengiyakan, ada keanggunan yang tak terbantahkan dari sosok elang. Ia gagah, sekaligus gigih walau sendiri. Terbang begitu tinggi, hingga tak ada burung lain yang sanggup menyamai. Elang juga terkenal gesit, tak kenal ampun, penuh perhitungan, dan salah satu predator paling dominan.

Berkunjung ke Suaka Elang (raptor sanctuary) adalah salah satu agenda yang kami idam-idamkan. Karena melihat burung elang secara langsung tentunya akan sangat menarik selain itu lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Jakarta. Kami memulai perjalanan darat dari Jakarta menuju Bogor, tepatnya di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Lokasi Suaka Elang ini agak susah dicari karena hampir tidak ada plang penunjuk jalan yang mengarahkan kita kesana. Tips dari saya, jangan ragu untuk bertanya pada penduduk sekitar, tapi lebih baik tanyakan nama lokasinya, bukan Suaka Elang-nya, karena terbukti justru tak banyak orang lokal yang mengetahui keberadaan Suaka Elang tersebut.

Sewaktu kami singgah membeli es kelapa di pertigaan Loji sembari bertanya arah, malah mengundang reaksi nyeleneh dari pembeli lain di warung. Seorang pemuda usil bertanya, “Mbaknya mau beli elang ya?”. Bapak-bapak berkumis tebal di pojokan malah antusias menawarkan dagangannya, “Suka sama burung, ya?” dan tanpa menunggu jawaban saya, bapak-bapak itu terus mengoceh, “Saya punya ayam hutan langka, empat warna! Mau gak?”. Saya hanya menolak dengan halus sambil tersenyum. Bukan tawaran yang menarik, karena hewan-hewan yang mereka tawarkan tersebut beberapa merupakan satwa yang dilindungi.

Setelah melewati jalan sempit di antara hutan rimbun, akhirnya kami sampai juga di lokasi. Setelah memarkir mobil di sebuah tanah lapang, di sebelah sawung berisi gerombolan anak muda yang tengah bermain domino, yang juga bertindak sebagai tukang parkir, kita masih harus jalan kaki kurang lebih 10 menit menuju pos, sementara pengguna sepeda motor bisa terus melintasi jalan sempit dan parkir di sana.

Di pos, kita terlebih dahulu harus membayar tiket masuk seharga Rp 5.000,- per orang. Sayangnya, sang penjaga tidak banyak memberikan panduan dan informasi, jadi kami harus sedikit cerewet bertanya ini itu tentang suaka elang ini.

Nah, mumpung hari masih cerah, mari mengeksplor tempat ini!

Jalan Setapak Menuju Suaka Elang
Jalan Setapak Menuju Suaka Elang

Tak jauh dari pos, kita akan langsung menemukan kandang pertama. Seekor elang brontok (changeable hawk eagle) yang asyik bertengger nampak tidak terganggu dengan kedatangan kami dan terus berkicau. Konon, kandang pertama ini berisi elang-elang yang baru saja disita dari masyarakat, yang juga menjelaskan tindak-tanduk mereka yang tidak takut pada manusia.

Elang Brontok (changeable hawk eagle) di Suaka Elang Img
Elang Brontok (changeable hawk eagle)

Di sebelah kandang, terdapat sebuah jembatan gantung berupa bilah-bilah papan yang dipasang pada wire sling. Beberapa kayunya terlihat lapuk, namun di beberapa bagian sudah diganti dengan papan yang baru. Tepat di bawah jembatan mengalir anak sungai yang gemericik di antara batu-batu.

Jembatan Gantung
Jembatan Gantung

Tak jauh dari jembatan gantung, kita sudah bisa menemukan letak kandang kedua, yang juga disebut kandang display. Elang-elang di kandang ini merupakan elang yang sudah disuaka lebih lama dibanding kandang pertama. Terdapat lima kandang berjejer, tapi hanya dua kandang yang terisi saat kami berkunjung ke sana. Tidak banyak hal yang terdapat di kandang ini, hanya sebuah kayu yang disediakan untuk bertengger dan kolam kecil untuk minum.

Kandang Display
Kandang Display

Elang pertama adalah elang ular bido (crested serpent eagle) yang nampak bertengger angkuh sambil mengeluarkan suara lengkingan yang khas, sementara elang kedua yang merupakan elang hitam (black hawk) yang bertengger tepat di kawat pemisah keduanya, nampak menghadap ke arah satu-satunya kawannya di sana, juga sambil mengeluarkan suara khasnya yang terdengar mirip siulan gembira. Keduanya terus bersahut-sahutan, seperti sedang asyik mengobrol, atau bisa jadi malah sedang asyik ngomongin kami.

Si elang ular bido nampak awas dengan keberadaan pendatang, terbukti dengan pandangan matanya yang setia mengikuti pergerakan kami. Namun tak demikian dengan elang kedua yang nampak asyik sendiri, nyaris tak peduli dengan kehadiran kami.

Elang Hitam (black hawk) - Suaka Elang Img
Elang Hitam (black hawk)
elang-ular-bido-crested-serpent-eagle pic
Elang Ular Bido (crested serpent eagle)

Konon sebenarnya terdapat satu buah lagi kandang rehabilitasi yang berisi elang-elang yang siap dilepasliarkan, tapi tidak boleh dimasuki pengunjung. Katanya elang-elang ini sengaja diberi makan dengan frekuensi lebih jarang, untuk menumbuhkan insting berburu mereka.

Berjalan kaki sedikit dari kandang kedua, kita bisa menemukan hamparan hutan pinus yang menjulang dengan cantik. Di sini kita bisa bersantai menikmati hari dengan aroma hutan pinus yang khas, serta udara yang masih bersih dan segar.

Hutan Pinus Bogor Pic
Hutan Pinus

Jika berjalan lebih jauh lagi, kurang lebih 1,5 km dari hutan pinus, kita bisa menemukan sebuah curug atau air terjun, yang tentu saja tidak akan rela kami lewatkan. Melanjutkan perjalanan dari hutan pinus, kami mulai memasuki hutan hujan yang mulai rapat dan basah, tertutup atap hutan yang lebat.

Jam masih menunjukkan pukul 2 siang, tapi suasana di dalam hutan telah nampak seperti senja, gelap, dan kabut-kabut mulai turun menyelimuti. Ketika kami sudah trekking kurang lebih sekitar 1 km melalui hutan yang rapat dan basah

, di tengah perjalanan, cuaca tiba-tiba berubah drastis dan hujan rintik-rintik mulai turun yang tentu saja tidak butuh waktu lama bagi rintik-rintik air hujan tersebut berubah menjadi hujan lebat. Kami teringat bahwa kata petugas di pos, jalur menuju curug baru saja diperbaiki setelah rusak parah akibat pohon-pohon yang tumbang. Karena tidak tampak tanda-tanda hujan akan mereda dan angin kencang mulai bertiup, kami memutuskan untuk memutarbalik arah, setelah memotong sehelai daun pisang  yang kami temukan untuk berteduh di perjalanan menembus hujan.

Kami akhirnya sampai di pos 20 menit kemudian dalam keadaan basah kuyup, dengan daun pisang telah hancur tercabik-cabik angin. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak memang terkenal sebagai lokasi dengan curah hujan paling tinggi dan paling tidak tertebak. Sambil menunggu hujan dan angin sedikit reda, kami menikmati jajanan pasar yang kami beli di perjalanan.

Sebenarnya petugas di pos awal juga bilang bahwa dua hari kemudian, kebetulan akan diadakan pelepasliaran elang-elang ke alam bebas yang terbuka untuk umum, tetapi sayang sekali kami belum mendapatkan kesempatan untuk kembali. Mungkin lain kali memang harus ke sini lagi untuk melihat secara langsung bagaimana elang-elang tersebut akhirnya bisa kembali hidup bebas di habitatnya.

Elang Liar img
Elang Liar

Foto dan teks oleh Sebastian N. Bayu & Eva Bachtiar

Bonfire, camping, and cold beer.

Leave a Reply