Menikmati Bromo Dengan Cara Berbeda

Menjalani kehidupan di kota dengan rutinitas yang itu-itu saja terkadang hadir rasa jenuh. Ketika tiba pada titik itu biasanya saya melarikan diri ke alam untuk menyegarkan sejenak pikiran. Entah itu merasakan segarnya cipratan air terjun atau duduk terdiam sambil menatap gulungan ombak. Tapi yang paling saya suka adalah tidur di hotel bintang seribu.

Kebanyakan orang yang berwisata ke Bromo biasanya datang pada dini hari ke Bukit Penanjakan. Spot dengan panorama terbaik untuk menyaksikan keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dari bukit itu kita dapat melihat Gunung Bromo, Gunung Batok, Lautan Pasir hingga Gunung Semeru dengan Puncak Mahamerunya. Setelah matahari naik, pengunjung turun ke lautan pasir dan mendaki Gunung Bromo.

Bromo

Begitulah para pengunjung ketika berwisata ke Gunung Bromo. Sama halnya dengan saya, pada beberapa kesempatan saya juga melakukan hal yang serupa. Namun berbeda dengan pengalaman yang akan saya ceritakan kali ini. Bersama Deni dan Ina, saya berkunjung ke Bromo dengan cara yang berbeda. Masih berhubungan dengan kalimat terakhir di paragraf pertama. Yes, Bromo Camp!

“Ham, camping di Bromo yuk?” Ajak Ina pada saya saat mengikuti sebuah event di Gunung Mujur. Saya terdiam sejenak, memahami pertanyaan Ina. Benar juga. Kalau dipikir-pikir itu adalah ide yang bagus. Setiap mendapat ajakan dari teman untuk ke Bromo, biasanya saya selalu berpikir dua kali. Selain karena sudah pernah, suasana di Bromo yang selalu ramai juga salah satu faktornya. Berbeda dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ina, saya langsung meng’iya’kannya.

bromo

Malam itu di lautan pasir hanya ada kami bertiga. Tenda kami dirikan di tempat yang permukaannya tanah (bukan pasir) dan berumput, tepatnya di bawah Bukit Penanjakan 2. Sebenarnya bukan cuma kami bertiga di sana, karena banyak orang yang berlalu-lalang melewati lautan pasir dari Wonokitri menuju Probolinggo dan Malang. Tak ada habisnya sepanjang malam. Menurut penuturan seorang bapak yang menghampiri kami saat mendirikan tenda, di Wonokitri sedang ada parade Ogoh-ogoh. Mungkin itu sebabnya sepanjang malam banyak orang yang lewat dari sana. Parade Ogoh-ogoh sendiri diselenggarakan oleh umat Hindu satu hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Cerita Lain: Pontianak, Kota Seribu Kenangan

Ketika hari semakin larut, langit yang cerah dan tak ada polusi cahaya, di saat itulah ribuan bintang muncul menerangi malam kami. Milky Way orang-orang menyebutnya. Fenomena yang sulit ditemukan jika berada di perkotaan. Jarang-jarang saya dapat menyaksikan momen seperti itu. Langit begitu cantik. Ditemani kopi, cemilan dan obrolan hangat, malam menjadi terasa sempurna.

Bromo

Hotel bintang seribu = tenda + ribuan bintang di langit. Seperti halnya umat Hindu yang merayakan Hari Raya Nyepi. Begitu pun dengan kami. Kami menyepi sejenak dari riuh kota untuk lebih dekat dengan alam. So, inilah cara saya merefresh pikiran saat berada di titik jenuh. Kalau kamu?

Cerita Lain: Kirab Malam Satu Sura: Pesona Budaya Solo yang Ngangenin

Kami juga sempat membuat sebuah video di keesokan harinya. Berikut videonya:

Pecandu Perjalanan. ig : @ilhamfirdaa

Leave a Reply