Brown Canyon, In Memories

“The worst part of holding the memories is not the pain. It’s the loneliness of it. Memories need to be shared.” — Lois Lowry.

Yes, memories need to be shared. Mungkin memang bukan cerita yang baru saja dialami. Tapi cerita yang satu ini masih dan akan selalu terasa fresh di ingatan.

6 November 2014 tepatnya, kurang lebih pukul 16 WIB. Semarang, saat itu, sedang ngehitznya wisata ngarai alias tebing.

Brown Canyon. Namanya keren ya. Apa sekelas Green Canyon apalagi Grand Canyon?

“Itu kan isinya anak alay semua, Ty”

“Hahaha itu mah cuma pengurukan tanah doang”

Itu adalah testimoni dari mereka yang juga belum pernah kesana tapi cuma tahu dari orang lain. Mungkin sumbernya mereka juga tahu dari orang lain yang belum pernah juga kesana. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Karena keingintahuan yang enggak bisa dipengaruhi oleh orang-orang sotoy, maka saya mengajak 6 kawan saya yang tiada duanya di muka bumi ini.

The Most Phenomenal Gang Ever - GANJA
The Most Phenomenal Gang Ever – GANJA

FYI, Brown Canyon berlokasi di Semarang. Jalan yang ditempuh oleh 4 motor yang ditunggangi 7 rider ini, melewati Tembalang, dan melalui Sigar Bencah (yang katanya ada kerajaan di malam hari itu. Hiii serem~). Karena tebing coklat yang kita tuju ini memang letaknya di dataran yang agak tinggi, maka tebingnya bisa kelihatan dari jauh. Sudah kelihatan batang hidung si tebing, beberapa kawan jadi nunjuk-nunjuk. Excited sama alay agak beda tipis ya.

Mulai memasuki kawasan wisata ala-ala, debu dan terbangan tanah mulai menyambut kedatangan kami.

Terus, gimana sama 2 opini publik diatas?

Ternyata………………….. benar.

Lemme explain you more clearly, Brown Canyon adalah sebuah tempat yang terdiri dari tebing-tebing coklat (bukan coklat Willy Wonka), yang sebenarnya adalah tempat pengerukan tanah yang akan dipersiapkan menjadi sebuah perumahan. That’s what I heared from people. Memang perumahan tersebut, dibangun murni dari bukit tanah. Jadi butuh pengurukan dan sebagainya. Uniknya memang orang Indonesia, bukit tanah yang sedang dalam proses pengerukan ini bisa dijadikan alternatif wisata. Ya, lumayan lah buat nambah-nambah foto di instagram sambil pasang #ExploreSemarang.

Penampakan Brown Canyon

Walaupun sore hari, tapi truk pengangkut tanah masih berkeliaran tak kenal lelah. Kalau sudah pada lewat, pasti debu tanah langsung bergelung dan muncullah Gaara di tengah-tengah gulungan tanah…………….. engga ding ngawur. Kalau lihat foto diatas, yang hitam kecil-kecil itu bukan jejeran minion, hobbit, apalagi oompa loompa, tapi memang manusia normal beserta motornya, cuma difoto dari jauh. Kebayang dong luasnya kaya apa Brown Canyon ini?

Ratu Malu Tanpa Jenderal Kancil

Khusus untuk ke tempat ini, Arum-kawan saya, sampai bela-belain bawa kamera beserta tripodnya. Kita happy-happy macam Dora The Explorer. Bikin video ketawa-ketiwi mengakui kalau kita bagian dari para alay. Who the hell wants to care, anyway? Oh ya, kalau enggak salah di tahun ini lagi sibuk skripsi dan smester terakhir ada kuliah. Entah merupakan perjalanan lengkap se-geng yang ke berapa kalau dihitung mundur dari Agustus 2015, dimana kita semua pisah.

Sampai akhirnya surya menenggelamkan diri, kita cabut dan pulang ke Tembalang sambil kantongin bahagia dan kenangan.

Sekarang, enggak tahu pasti sudah jadi apa Brown Canyon ini. Atau lebih tepatnya, enggak tahu pasti nama perumahan yang sekarang duduk arogan disana. Mengeruk habis perbukitan tanah sekaligus tawa-tawa yang menggema diantaranya.

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.” ― Haruki Murakami

A wanderlust who always desires to explore something(s) new

Leave a Reply