Cahaya Surga di Yogyakarta

Wait, is this heaven?

Yogyakarta tak pernah berhenti memukau saya. Just when I thought I have mesmerized enough, it keeps surprising me with another one. 

Beberapa bulan yang lalu, saya melancong ke Jogjakarta.  Awalnya, saya dan pasangan hanya ingin menikmati kota Yogyakarta dengan santai, mungkin berjalan kaki di sepanjang Jalan Kaliurang dan memesan gelato favorit kami, lalu menghabiskan sore di Candi Ratu Boko hingga senja menjelang. Tapi, sebuah hashtag di Instagram mengubah seluruh itinerary perjalanan kami.

Caving di Goa Jomblang. Destinasi tersebut rupanya sangat ramai diperbincangkan lewat tagar #explorejogja. Dengan rentetan foto-foto yang banyak orang post, termasuk bule-bule dari berbagai negara, sudah pasti saya tidak mau melewatkannya.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Untuk bisa mencapai ‘cahaya surga’ seperti yang ditawarkan oleh Goa Jomblang ini, Anda harus berangkat pagi-pagi buta untuk menempuh kira-kira 20km perjalanan dari tengah kota. Kami menyewa mobil, sudah dengan supir, seharga 500,000 rupiah; diantar dan ditunggu di lokasi. Awalnya kami nekad pingin sewa motor saja. Tapi ternyata, dengan mobil jauh lebih nyaman mengingat medan jalanan yang dilewati cukup jauh, berkelok-kelok, dan berbatu, bahkan ada satu jalur yang memang belum diaspal. Plus, Anda bisa curi-curi tidur di dalam mobil! 😉

Setelah 4 jam, Anda akan sampai di meeting point dimana Anda akan bertemu dengan semua traveler yang ingin menikmati atraksi ini. Oh iya, saya tidak melakukan reservasi sebelumnya atau ikut paket wisata apapun; benar-benar go-show! Jika Anda memutuskan untuk mengikuti cara saya, datanglah pagi-pagi sekitar jam 9 supaya belum terlalu ramai. Pembayaran dilakukan di tempat. Saya merogoh kocek sebesar 450.000 rupiah/orang. Harga tersebut sudah termasuk peralatan caving, diantaranya sepatu boots, vest, dan helm, asuransi, serta makan siang.

After you’re all equipped, you’ll wait in line. Menunggu untuk apa? Menunggu untuk menyelam ke perut bumi.

Ini adalah momen ter-‘bikin-degdeg-serrr’ dalam hidup saya! Jujur saja, saya bukan penggila adrenalin yang punya rentetan bucket list untuk dicentang, seperti bungee jumping atau menaklukan Gunung Semeru; naik wahana Tornado di Dufan saja tidak berani. Apalagi ini? Turun sejauh kira-kira 20 meter ke dalam perut bumi hanya dengan seutas tali. Perut saya sudah mual hanya dengan membayangkannya.

Teknik tersebut dinamakan SRT, alias Single Rope Technique atau teknik menelusuri goa vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-medan vertikal. Sekali jalan, SRT bisa mengangkut dua orang. Jangan bayangkan SRT ini berupa mesin, ya, sebab, SRT ini dioperasikan oleh manusia. Yup, ada orang-orang khusus yang tugasnya menarik dan mengulur Anda untuk turun ke dasar goa. So, your life is literary on those people’s hands.

img_1360

Anda akan mendarat di hutan hijau segar yang masih alami. Sambil menunggu maksimal 25 orang untuk berkumpul di bawah, barulah bersama-sama Anda akan membelah hutan tersebut, menuju mulut goa. Sesampainya di sana, Anda akan disambut dengan foggy scene yang mungkin sebelumnya hanya Anda lihat di film-film. Mulut goa yang sejauh mata memandang hanya ada kegelapan dan untaian stalagtit di langit. Di sanalah petualangan berikutnya dimulai.

Dengan berbekal lampu pada iPhone, ada juga beberapa penjelajah yang mengandalkan senternya, kami pun menyusuri goa gelap dan lembab, serta berlumpur itu. Beberapa kali kaki kami tergelincir akibat pijakan yang tidak kokoh dan licin akibat tetesan air. Semua itu justru membuat perjalanan semakin seru! Saya sudah tidak sabar ingin melihat atraksi utama dari Goa Jomblang ini.

And there it was. Standing there in front of my very eyes, gurat-gurat cahaya matahari menusuk lurus sepanjang 90m dari atas langit melewati lubang selebar 10m. Menerpa bebatuan tinggi di bawahnya, menciptakan warna-warna natural yang tak berhenti membuat saya kagum. It was, my friend, indeed the most beautiful thing I’ve ever seen.

img_1364.img_1385

Tidak ada yang melewatkan si ‘cahaya surga’ untuk diabadikan. Terdapat petugas yang menyisir satu persatu orang yang ingin berfoto disana, ia amankan supaya tidak ada yang berjalan terlalu jauh, atau bergerombol terlalu banyak. Semua demi kelestarian tempat ini serta keselamatan kami semua.

Setelah tur selesai, kami ‘dikatrol’ naik lagi ke atas dan menyantap makan siang a la Sunda (alias ayam goreng, tahu, tempe, dan lalapan) di pendopo yang sudah disiapkan. Beberapa orang melanjutkan trip ke goa lain, atau ada juga yang lebih memilih pantai untuk persinggahan selanjutnya. Sedangkan kami memutuskan untuk santai sejenak sambil menikmati keindahan alam di depan mata, hamparan kebun hijau luas yang jarang kami temukan di Jakarta yang sudah serba sibuk.

Saya benar-benar kehilangan kata-kata untuk perjalanan yang saya tempuh hari itu. Ternyata, alam memang tidak pernah berhenti memberi kejutan. Semakin tersembunyi, semakin menawan pula rupanya. Terimakasih Yogyakarta, terimakasih Indonesia

 

Leave a Reply