#ingetkampung: Cangget, Upacara Adat Suku Lampung

#ingetkampung, inget Cangget!

Cangget adalah malam puncak suatu prosesi adat suku lampung untuk pengambilan gelar Suttan, gelar tertinggi di kedudukan adat masyarakat lampung. Di kampung gue, yaitu Kampung Pagar; Kecamatan Blambangan Pagar; Lampung Utara, cangget masih lumayan sering diadakan sebagai salah satu prosesi adat dalam pernikahan. Diisi dengan tari-tarian oleh para gadis, bujang, dan para Suttan yang dilakukan semalam suntuk hingga subuh tiba, nggak heran kalau tarian ini bakal ngehebohin satu kampung.

Gimana enggak? Tari-tarian akan diiringi oleh bunyi tabuhan musik gong dan melibatkan warga kampung sebagai panitia acara. Pokoknya, Cangget merupakan acara paling meriah seantero kampung, deh! Tabuhan musik khas lampung, tarian Cangget, ratusan gadis menari, dan kerincingan koin-koin di kain tapis yang digunakan gadis-gadis, Untuk memberi gambaran, yuk lihat pakaian adat yang wajib dipakai dalam menari!

Untuk menari, para penari harus memakai pakaian adat lengkap. Mahkota yang dipakai disebut dengan Siger.

Tari Cangget Lampung

Tari Cangget Lampung
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Semua orang dapat menyaksikan dan meramaikan Sesat (rumah adat tempat Cangget dilakukan). Perempuan dan laki-laki yang menari Cangget tidak boleh berasal dari sembarang rumah. Ia merupakan anak gadis/bujang utusan dari Suttan-Suttan di kampung tersebut. Hanya yang memiliki gelar Suttan lah yang dapat mengirimkan anaknya ke acara ini dan ikut andil dalam prosesi Cangget.

Tari Cangget Lampung
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Tidak hanya dari kampung tersebut, Cangget mengundang tetua-tetua dari kampung-kampung lainnya yang berdekatan, juga gadis tamu dari kampung lainnya untuk ikut menari Cangget yang akan menjadi utusan dari rumah si pemilik acara. Acara ini dijadikan suatu wadah untuk berkumpul dan berpesta bagi seluruh warga kampung. Adalah tepat untuk dikatakan bahwa acara ini adalah pesta rakyatnya suku Lampung. Walaupun acara adat ini memakan biaya yang sangat besar dan persiapan yang banyak, seluruh warga kampung pasti menyambut dengan gembira saat acara ini diadakan. Bahkan, para Suttan yang tinggal di luar daerah pun ikut pulang kampung untuk menghadiri acara ini.

Setidaknya, kerbau yang harus dikorbankan untuk melakukan prosesi ini dapat mencapai tiga ekor per satu orang. Itu berarti, jika yang mengambil gelar adalah suami istri dalam prosesi pernikahan, dibutuhkan enam ekor kerbau untuk mengadakan cangget. Belum lagi, jika saudara-saudara lainnya ingin mengambil gelar di acara yang sama, maka bertambah pula jumlah kerbau yang harus dikorbankan. Dibutuhkan kurang lebih satu minggu hingga mencapai malam puncak cangget. Sebelumnya, diadakan berbagai acara adat lainnya sebagai syarat dilakukan cangget.

Walaupun begitu, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dari nenek moyang orang Lampung. Intermezo aja, suku lampung di kampung gue dibagi menjadi empat keturunan. Konon cerita, di kampung gue terdapat empat keluarga yang membagi keturunan keluarganya masing-masing dengan sebutan Suku Gedung, Suku Ruang Tengah, Suku Bilik Libo, dan Suku Bilik Rabo. Suku tersebut merupakan suku adat untuk mengelompokkan garis keturunan keluarga besar. Tetapi, karena Lampung menganut sistem patrilineal, maka yang dianggap bagian dari suku adat tersebut adalah yang laki-laki. Hal itu dikarenakan anak perempuan akan dipersunting oleh laki yang bisa saja berasal dari suku adat lain.

Begitu kurang lebih gambaran mengenai ciri khas kampungnya orang Lampung yang pasti bakal selalu keinget walaupun hidup di perantauan. Remembering these old days, ketika gue masih kecil, gue selalu antusias mau nonton Cangget. Gue sengaja nginap bareng sama sepupu gue, jam tiga subuh minta dibangunin papa dan dianterin ke Sesat dengan jalan kaki. Dan, betapa kepinginnya gue untuk bsa ikut nari, pake pakaian adat lampung lengkap dengan siger. Semoga apa yang gue alami sewaktu kecil dapat dialami juga oleh anak gue kelak ya, mereka harus tau dan bangga akan adat budaya sukunya. Berharap tetap ada generasi penerus yang melestarikan adat budaya Lampung di tengah era milineal jaman sekarang.

Cerita Lain: Lampung Rumahku

 

Leave a Reply