Cerita tentang Sabang, Pulau Weh dan Kilometer Nol

Tugu Kilomete Nol Indonesia

Apa yang ada di benakmu saat mendengar atau membaca kata Sabang?

Tugu Kota Sabang
Tugu Kota Sabang

Ya, mungkin langsung terngiang lagu wajib nasional “Dari Sabang sampai Merauke” yang dulu sering dinyanyikan saat kita SD. Yang kita tahu dari Sabang itu adalah satu tempat di ujung barat Indonesia yang berkebalikan dengan Merauke. Sabang menjadi batas wilayah terbarat negeri ini. Sebagai orang Sumatera, aku sudah dikenalkan tentang lokasi Sabang ini semenjak sekolah dasar. Siapa sangka, aku benar-benar mengunjunginya saat semester akhir kuliah S2.

Sabang menjadi istimewa karena semua anak Indonesia tak ada yang tak kenal Sabang berkat lagu wajib di atas. Saat menginjakkan kaki di Sabang, ternyata aku tahu, Sabang tak sekadar lagu. Sabang lebih istimewa dari itu.

Ada banyak yang indah-indah di Indonesia bagian timur. Tapi tak sedikit pula hal yang indah di bagian baratnya. Jangan pernah mengabaikan keindahan Sumatera, itu kata nenek moyang kita. Jadi, pada kesempatan ini aku menjambangi Sabang, satu sudut kota kecil di ujung Sumatera.

Jalanan Kota Sabang yang berliku
Jalanan Kota Sabang yang berliku

Aku dengan geng traveling-ku terbang ke Medan, lalu lanjut jalur darat menuju Aceh menembus hutan Bukit Barisan Sumatera. Perjalanan panjang, ya. Tapi seru. Dari Aceh, kami bertolak ke pelabuhan Ulee Lheue untuk naik kapal express ke Pulau Weh. Yes, Sabang itu terletak di Pulau Weh, pulau yang menjadi ujung barat Indonesia.

I was very excited. Kami berada di Pulau Weh, menikmati pulau ini tanpa aku harus merasa asing. Saat sopir menjemput kami di pelabuhan Balohan, si abang guide langsung mengira aku orang Aceh. Dengan muka lonjong, kulit sawo matang, alis tebal, mata kecil dan hitam, berjilbab pula semakin membuatnya yakin kalau aku ini orang Aceh. Bahkan dia bertanya dengan dialek Melayu Aceh yang sudah tak sulit bagiku untuk mengerti bahasanya. Tapi sayang, tebakan abang guide kami itu salah. Ya, sesama berdarah Sumatera, roman wajah kami memang gampang dikenali.

Nah, sekarang pertanyaannya, Sabang itu seperti apa, sih?

Ada banyak sekali tempat yang kudatangi selama di Pulau Weh. Bisa dibilang, mengunjungi Pulau Weh itu adalah sebuah perjalanan paket komplit. Ada lautnya, ada pantai, ada kuliner, ada gunung, ada bukit, ada air terjun, ada tempat-tempat sejarah. Terdengar seperti Bali, ya, segala macam bentuk liburan ada kecuali kafe-kafe gemerlap dan klub malam. Itulah yang membedakannya memang dengan pesona-pesona pulau di Indonesia yang lain. Bisa dibilang pula, Pulau Weh itu sepotong surga.

Tak ada yang tidak jatuh cinta saat melihat Kota Sabang yang tenang dan rindang. Jika merunut pada arti nama, Sabang itu berasal dari bahasa Arab, ‘Shabag‘ yang artinya gunung meletus. Kota Sabang yang berpantai dan berbukit-bukit ini memang terbentuk melandai akibat letusan gunung. Ada dua gunung aktif yang berada di Pulau Weh ini, gunung api Jaboi di daratan dan gunung api Pria Laot yang terletak di perairan Pulau Weh. Dua gunung ini pula yang membuat Sabang jadi kota yang subur dan memiliki bawah laut yang tak kalah dari taman nasional bawah laut di wilayah Indonesia bagian timur. Jadi, Sabang tak boleh diremehkan, ya.

Puncak kelok 8
Puncak kelok 8

Kota Sabang bukan kota yang besar tapi orang-orangnya bersahaja. Jalanan relatif sepi dan kondisi jalan sangat mulus. Kami juga dengan bebas memilih tempat-tempat pemberhentian yang pemandangannya oke. Jalan serasa milik kami sepenuhnya. Semacam dream city, ya, kota ini. Tenangnya luar biasa. Terlihat sekali orang Sabang sangat menghargai wilayahnya dan menjaga agar kota mereka layak dikunjungi wisatawan.

Dengan senang hati kami menyusuri setiap sudut Kota Sabang. Cuaca yang panas di sebuah pulau ditambah kadar minyak dari angin laut membuat tubuh kami cepat lelah. Tetapi, kota Sabang yang seperti kota baru dibangun ini meluruhkan kepenatan itu. Kami dikenalkan pada kelok 8 yang panoramanya langsung menghadap ke laut. Jalanan kota Sabang memang berliku-liku dan naik-turun bukit. Kelok 8 ini termasuk jalan baru yang sengaja dibuat untuk pengunjung, dan agar jalanan bukit tampak lebih landai.

Makan rujak khas Sabang di panorama Pulau Klah
Makan rujak khas Sabang di panorama Pulau Klah
Pulau Klah di depan mata
Pulau Klah di depan mata

Satu hal yang tak boleh dilewatkan, makan rujak khas Sabang di jalan Gampong Krueng Raya. Bukan soal rasa rujaknya yang spesial tapi lokasinya yang luar biasa. Kami duduk di sebuah warung rujak di pinggir jalan dan langsung menghadap ke panorama Pulau Klah. Siang-siang, makan rujak khas Sabang di bawah pohon rindang tepi jalan sungguh momen yang jarang terjadi. Pas sekali, apalagi Pulau Klah disebut-sebut sebagai jantungnya Teluk Sabang. Kami yang tak sempat berlayar ke Pulau Klah cukup puas melihat pulau mungil itu dari atas sini. Rasanya ingin menghabiskan hari di bukit itu.

Dulu sekali, dalam pelajaran Geografi di sekolah, kita diberi tahu bahwa Sabang itu batas wilayah paling barat Indonesia. Makanya dibangunlah tugu Titik Kilometer Nol Indonesia. Kami ke sana, ke titik itu yang saat ini sedang direnovasi. Kata orang sana, pemda sedang merancang pembangunan sebuah menara dengan angka nol di bagian puncaknya, melambangkan bahwa Indonesia itu bermula dari sini dan ujungnya tentu ada di Merauke. Tugu tersebut mudah dijangkau tentu dan berada di perbukitan. Kita bisa melihat laut lepas Samudera Hindia dari Titik Kilometer Nol.

Tugu Kilomete Nol Indonesia
Tugu Kilomete Nol Indonesia

Namun, tahukah kamu ada fakta lain tentang perbatasan negeri ini? Pulau Weh bukan batas paling barat. Masih ada Pulau Rondo yang tak jauh dari Pulau Weh itu. Pulau Rondo ini berada di samudera lepas dan tanpa penghuni. Tsunami 2004 pun pernah menerjang pulau Rondo dan pulau itu tetap bertahan. Lebih adil jika titik kilometer nol Indonesia itu dimulai dari Pulau Rondo. Hanya karena pulau itu tidak berpenghuni, titik nol kilometer menjadi anugerah Kota Sabang. Pulau Rondo seakan terlupakan.

Sejak banyak negara tetangga yang meng-klaim pulau-pulau terluar kita (kalau kata anak Sejarah, pulau terdepan), kini Pulau Rondo tak sendiri. Pulau Rondo menjadi markas militer untuk menjaga perbatasan kita. Nelayan pun tak ada yang boleh ke sana. Pulau Rondo terasing tapi tetap punya kita. Kami sebagai pejalan ini jadi tahu bahwa titik-titik perbatasan itu tidak selalu diukur dari pelajaran Geografi di sekolah. Harus banyak berjalan, harus banyak melihat, dan harus banyak belajar.

Leave a Reply