Cinta dari “Guru Petualang”

Masih kuingat jelas, saat aku kecil dulu keluargaku bukanlah tipe yang sanggup melakukan piknik dan berlibur bersama setiap bulan. Kami hanya keluarga kecil biasa.

Kami bukan keluarga yang kekurangan, namun juga tak memiliki uang yang lebih.

Hal yang paling aku ingat, aku adalah seseorang perengek dan peminta. Jika keinginanku tak dipenuhi, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menangis, bahkan hingga tetangga sebelah terkadang mendatangi orang tuaku. Karena tak tahan dengan tangisanku.

Begitupun saat aku tahu atau mendengar tetanggaku akan piknik atau rekreasi ke pantai, kumenangis keras di dalam kamar.. merengek kepada kedua orang tuaku agar aku juga diajak piknik seperti mereka..

Padahal saat itu aku belum tahu apa itu arti piknik, hanya saja saat tetanggaku bilang akan ‘piknik’ dengan muka senang aku pikir itu pasti sesuatu hal yang menyenangkan yang tak pernah kurasakan sebelumnya..

Saat itu ayah & emakku hanya terdiam sembari menatapku, hingga aku tertidur karena telah lelah menangis..

IMG_0150 IMG_0412

Pelajaran pertama

Saat itu, Aku baru Kelas 3 SD, di Minggu pagi tiba-tiba Emak mengajakku piknik ke kebun binatang kota.

Aku hanya pergi berdua bersama Emak.
Sedikit cerita tentang Ayah, Ayahku adalah seorang pegawai dinas tenaga kerja, beliau tak pernah mengenal hari libur.

“Perjalanan” paling berkesan yang kuingat bersama ayah adalah saat aku digendongnya ke taman kota disore hari untuk menyaksikan pertunjukan topeng monyet keliling.

Di kebun binatang, aku baru tahu jika gajah itu tak berwarna pink dan benar-benar sangat besar, setinggi pohon yang sering  kupanjat di depan rumah- bahkan mungkin lebih tinggi. Sebelumnya aku berpikir gajah berwarna pink dan setinggi manusia biasa karena pada majalah anak-anak yang sering saya baca dia nampak menggemaskan. Aku juga baru tahu jika ada burung dengan ekor yang sangat besar dan tak bisa terbang, yaitu burung merak. Aku benar-benar ingat. Saat itu aku menangis kencang, dan disaat yang hampir bersamaan Burung-burung itu tiba-tiba mengembangkan ekornya..

 

Pelajaran kedua

Pada ulang tahunku yang ke-8, Emak mengajak aku mengunjungi saudara di Kerinci – Jambi. Suasana disana sangat berbeda dengan kampung halamanku. Banyak pohon-pohon besar setinggi rumah di pinggir jalan. Jalanannyapun tak seramai di kampungku.

Beberapa kali kami melewati wilayah hutan.  Banyak Tebing dan Bukit besar nampak  menjulang cantik dikejauhan – dimana setelah aku beranjak dewasa ini, aku baru tahu bahwa bongkahan tanah yg besar itu adalah Gunung Kerinci.
Gunung Berapi tertinggi di Indonesia.

Disana cara berpakaian dan bahasa orang-orang yang kutemui sangat berbeda. Ini pertama kali aku bertemu orang dengan latar belakang budaya berbeda.

Dan pengalaman yang paling kuingat adalah, Emak membentakku karena menertawakan cara bicara atau logat mereka.

Sosok Emak yang kutahu sangat kalem dan jarang marah sebelumnya, tiba-tiba membentak membuatku kaget, hingga aku akhirnya aku ketakutan dan kembali menangis.

Emak menasehatiku.. Bahwa hal tersebut sangat tidak sopan.

Hal yang tidak pantas untuk dilakukan dengan menertawakan pembicaraan atau logat orang lain yang kita jumpai..

 IMG_20161123_131759_HDR-01

Pelajaran ketiga

Pada liburan sekolah SD, setelah masa ujian nasional, Emak mengajakku ke Pantai BaleKambang sebagai hadiah karena saya berhasil masuk peringkat 5 besar di sekolah.

Bukan keindahan gulungan ombak atau pasir puti nan halusnya yang berkesan, namun pengalaman dikejar anjing coklat tua-lah yang paling membekas.

Iyah, anjing Coklat Tua.. Anjing itu milik salah satu warga/nelayan lokal di pesisir pantai tersebut. Sebenarnya sih saat itu aku hanya melemparnya dengan pasir, tapi tiba-tiba anjing itu berlari sambil menyalak ke arahku seakan mau menerkamku hidup-hidup..

Pahlawanku datang.

Tanpa rasa takut Emak perlahan mendekati si anjing itu, sembari mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. Ajaibnya si anjing berhenti menjadi beringas setelah kepalanya dielus manja oleh Emak. Anjing itu terus menggosokan kepalanya ke kaki Emak.

Tak lama setelahnya, pemilik anjing datang dan meminta maaf pada kami.

IMG_7739

Seorang “Guru Petualang”

Enam tahun setelah itu, pertama kalinya aku melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani Emak. Aku pergi ke Gunung Lawu bersama seorang teman. Aku berkenalan dengan banyak orang diperjalanan, mengobrol banyak hal bersama warga lokal di Basecamp, bertemu musang liar berwarna biji kopi di tengah jalur pendakian, serta membuat api unggun bersama rombongan “ORAD” (Olah raga Arus Deras) salah satu universitas di jogja.

Sebenarnya aku sendiri tak memikirkannya dengan sengaja. Saat kumerenung, aku sadar bahwa sebenarnya,

DSC_0803

“Sejak kecil ternyata aku telah diajari “dasar-dasar menjadi seorang petualang” oleh Emak. Cara menggali informasi baru, cara menikmati sebuah perjalanan, cara menghormati orang dengan budayanya yang  berbeda, bahkan cara memperlakukan hewan yang kita temui diperjalanan.. Sesuatu yang sangat membekas di ingatan,.”

Aku paham, piknik adalah hal mewah bagi keluarga kami saat itu. Dengan penghasilan yang biasanya, tak mungkin Ayah bisa mengajakku piknik ke berbagai tempat. Setelah dewasa kutahu, Emak menabung hanya untuk mengajakku piknik.

Saat kubuka album foto perjalanan yang kusimpan di folder “Memories” di laptopku. Telah banyak tempat yang aku kunjungi, baik itu solo trip, bersama adik, bahkan bersama ayahku sudah sering kulakukan. Memang telah banyak orang pula kukenal diperjalanan, telah banyak pengalaman menyenangkan kudapatkan.

IMG_2961-01 IMG_6229

IMG_20161122_091849_HDR

Namun tak ada satupun foto kubersama Emak. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, hingga tanpa sadar melupakan “Guru Petualang”ku. Emakpun dulu pasti sangat sibuk. Bedanya, Emak selalu menyempatkan untuk mengajakku bepergian. Meski itu hanya ke pasar untuk berbelanja dan membelikanku pistol air dan balon terbang.

Emak telah melatih aku untuk menjadi seorang pejalan yang baik, beliau yang pertama kali memperkenalkan dunia padaku. Emak pula yang membentuk mental serta fisik ini menjadi seorang Tour Leader serta Guide yang baik..

iya.. kini profesi yang aku jalani adalah Guide untuk beberapa gunung di Indonesia..
Profesi yang telah Emak ajarkan sejak aku masih kecil dan cengeng..

IMG_1912

IMG_7895

IMG_7862

IMG_3396 IMG_2172 IMG_7938 IMG_1975 IMG_1859 IMG_1114 IMG_1109 IMG_4850 IMG_2930-01IMG_3332 IMG_7429  IMG_20161122_051321IMG_7884

IMG_20161122_091157_HDR IMG_4883 IMG_5191 IMG_5195 IMG_5199

DCIM102MEDIA
DCIM102MEDIA

DSC_0765 IMG_1765 P1110632

 

Aku yakin Emakpun pasti memiliki tempat-tempat impian yang ingin dikunjunginya.
Pulau dewata, Tanah Suci Mekah & Madinah contohnya.

IMG_5978IMG_5975 IMG_5976

Suatu waktu, tepat tanggal 11 Desember 2015 aku kembali menginjakkan kaki di tanah dewata, namun kini aku bersama “Guru Petualang”ku.

Iya.. Bersama Emak, bersama Ranger Pink’ku.. Bersama Koki terbaik..

Alhamdulillah aku kini punya Album baru di laptopku.. Folder yang berisi foto-fotoku bersama Seorang “GURU PETUALANG”

 IMG_6020 IMG_6019 IMG_5954 IMG_5927 IMG_5925 IMG_5922 IMG_5848 IMG_5846 IMG_5843 IMG_5835 IMG_5810 IMG_5808 IMG_5804 IMG_5778 IMG_5755

Foto-foto dan cerita Inilah bukti nyata yang harus aku simpan dengan rapi, dan suatu saat akan ku beritahu kepada anak dan cucu-cucuku kelak.. Bahwa Buyut atau Nenek mereka benar-benar berjasa dalam perjalanan hidupku.. Beliau adalah orang yang tangguh, Beliaulah Pahlawan dalam hidupku..
Beliau telah banyak memberikanku cinta, dan kasih sayang..
Aku percaya bahwa Cinta Anak terhadap Ibunya sepanjang gala, namun tidak dengan Cinta Ibu kepada kita yang sepanjang Masa..
Terima kasih Tuhan..
Kau beri aku orang tua yang spesial..
Kau beri aku Pembimbing yang mengajariku banyak hal..
Terima kasih Atas Cinta yang Emak beri buatku..


#G4D4Adventure

-FA-

A tramp, a gentleman, a poet, a dreamer, a lonely fellow, always hopeful of ROMANCE & ADVENTURE..

Leave a Reply