Danau Tondano Dan Danau Linow, Danau Kece Di Sulawesi Utara

Belum pernah terlintas di kepala saya untuk menginjakkan kaki di bumi nyiur melambai, Sulawesi Utara. Sampai akhir tahun lalu saya sampai juga disana untuk sekedar kabur dari rutinitas saya selama ini. Bukan tanpa alasan Sulawesi Utara disebut dengan bumi nyiur melambai, ketika pesawat yang saya naiki dari Ternate akan landing di bandara Sam Ratulangi, dari atas terlihat banyak sekali pohon kelapa berjajar, sejauh mata memandang dari atas hanya terlihat pohon kelapa, pohon kelapa, dan pohon kelapa.

Sesampainya di Manado saya langsung menuju Tomohon. Jarak Manado – Tomohon tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Ada banyak opsi transportasi untuk menuju Tomohon, antara lain dengan taksi, bus kecil, dan opsi pilihan saya waktu itu sering disebut dengan “mobil plat hitam” yaitu mobil penumpang biasa yang digunakan untuk mengantar orang-orang yang ingin ke Tomohon. Cukup membayar 15.000, kita akan diantar sampai ke tempat tujuan di Tomohon.

Selama di Tomohon, transportasi yang saya gunakan adalah dengan menyewa motor dari tempat saya menginap. Ada baiknya, sebelum sampai di Tomohon, konfirmasi dahulu dengan pihak hotel kalau kita ingin menyewa motor dari mereka, karena di Tomohon rental motor sangat jarang ditemui, bahkan saya tidak menemukan satu pun selama saya keliling-keliling disana.

Tujuan pertama saya adalah menuju Danau Tondano, danau terluas di Sulawesi Utara. Papan penunjuk arah di Tomohon cukup jelas, sehingga saya tidak perlu berhenti untuk bertanya pada warga sekitar jalan menuju Tondano. Lama perjalanan menuju Danau Tondano sekitar 45 – 60 menit, itupun karena sesekali saya berhenti untuk menghirup udara segar sepanjang jalan sambil melihat pemandangan yang super menyejukkan mata.

Jalanan super mulus menuju Danau Tondano
Jalanan super mulus menuju Danau Tondano
Sejuk !
Sejuk !

Jalan menuju Danau Tondano, indah ! Jalanan mulus, bahkan super mulus dengan sawah di kiri dan kanan dihiasi dengan background Bukit Tampusu. Saya pun memacu motor dengan perlahan sambil menikmati pemandangan seakan terlalu malas untuk cepat sampai di Danau Tondano haha ! Ada beberapa hal unik yang saya temui dalam perjalanan adalah adanya beberapa rumah ala ala Belanda yang berjejer rapi di pinggir jalan lengkap dengan cerobong asap, pond dan kincir angin di depan rumah.

Rumah ala ala Belanda
Rumah ala ala Belanda

Tidak terlalu lama berjalan, bentangan danau terluas di Sulawesi Utara ini mulai terlihat. Satu hal yang terlintas di kepala saya ketika melihat Danau Tondano adalah saya ingin sekali mencicipi perkedel nike, makanan khas Tondano. Nike merupakan ikan endemik Danau Tondano. Nike menyerupai ikan teri namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Makan pisang goreng pake sambel
Makan pisang goreng pake sambel
Perkedel nike
Perkedel nike

Sayangnya saat saya kesana, enceng gondok sedang banyak tumbuh di pinggiran danau sehingga menutupi pinggiran danau sampai 10 meter. Tapi tidak masalah, tidak menutupi keindahan Danau Tondano yang memang pantas menyandang gelar danau terluas di Sulawesi Utara karena memang luas. Banget.

Danau Tondano dan Gunung Kaweng
Danau Tondano dan Gunung Kaweng
img_4414
Eceng gondok menutupi pinggiran danau

Setelah puas menikmati keindahan Danau Tondano, saya melanjutkan perjalanan menuju Danau Linow. Jalan menuju Danau Linow memiliki arah yang berlawanan, sehingga saya harus kembali lagi ke Tomohon dan mengambil arah menuju Kawangkoan. Jarak Tomohon – Kawangkoan tidak terlalu jauh namun papan penunjuk menuju Danau Linow kurang cukup jelas, sehingga saya selalu berpatok pada arah Kawangkoan jika bertemu papan penunjuk jalan. Jalannya cukup jelas, lurus saja terus ikuti jalur menuju Kawangkoan, namun harus berhati-hati saat sampai di belokan menuju Danau Linow, papan penandanya sangat kecil. Saya pun sempat kelewatan sekali karena kurang memperhatikan.

Jika dalam perjalanan mulai mencium aroma belerang, maka jalan yang diambil sudah pasti benar. Danau Linow dikenal dengan danau tiga warna. Warna ini terbentuk karena pengaruh kandungan belerang. Namun, 3 warna yang dimaksud bukan warna-warna kontras seperti merah, kuning, atau ungu. Melainkan lebih monochrome dengan warna hijau tua, hijau muda dan putih.

Harga tiket masuk menuju Danau Linow seharga Rp. 25.000,00. Sepintas terlihat mahal, namun tiket tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan minuman berupa kopi atau teh. Danau Linow dikelola oleh swasta, maka sarana di sekitar danau sangat terawat. Saya pikir harga tersebut rasanya pantas.

Tukarkan tiket ini dengan kopi atau teh
Tukarkan tiket ini dengan kopi atau teh

Walaupun danau belerang, namun aroma yang ditimbulkan tidak terlalu menyengat sehingga rasanya masih nyaman untuk duduk di pinggir danau sambil minum kopi atau teh. Kalau tidak ingat ini danau belerang, saya ingin mencelupkan kaki disana sambil bersantai. Tapi berhubung saya masih sayang kaki, niat itu pun menguap begitu saja hahaha !

Danau Linow dengan warna khas yang ditimbulkan belerang
Danau Linow dengan warna khas yang ditimbulkan belerang
So refreshing...
So refreshing…
Danau Linow dikelilingi perbukitan hijau
Danau Linow dikelilingi perbukitan hijau

Danau Tondano dana Danau Linow, indah mana ? Jawaban saya cuma satu, INDAH SEMUA ! Semuanya bisa merefresh otak hanya dengan melihat kedua danau tersebut. Jadi, kapan kalian mampir ke danau-danau indah punya Sulawesi Utara ?

Terobsesi mengelilingi Indonesia dan melihat seluruh festival di setiap daerah di Indonesia. Author of http://laksmindirajournal.blogspot.com

Leave a Reply