Dari Pulau Batu Berlayar sampai ke Pulau Pasir Putih

Suara mesin perahu yang kami tumpangi terus saja berdengung keras, sementara itu hempasan ombak yang menghantam bagian depan kapal, menciptakan ciprata air yang lama kelamaan membasahi perahu.

Tak jauh dari kapal yang kami tumpangi, terlihat kapal serupa yang juga hendak menuju Pulau Batu Berlayar yang sebenarnya tidaklah terlalu luas. Sebelum benar-benar menepi, kapal yang kami tumpangi terlebih dahulu mematikan mesin kurang lebih beberapa puluh meter dari bibir Pulau Batu Berlayar, tujuannya untuk memberikan waktu kepada penumpang untuk mengabadikan pulau in dari arah laut.

Sementara itu saat mesin kapal dimatikan, kapal perlahan berguncang-guncang mengikuti liukan ombak laut. Saat itu angin tidaklah terlalu kencang, air laut yang jernih kini sudah menanti untuk segera dijamah.

Saat yang lain sibuk mempersiapkan senjata kamera masing-masing, termasuk Mas Bastian, saya masih belum bergeming dari tempat duduk sambil sesekali mengencangkan tali pelampung, maklum masih dalam tahap adaptasi jadi masih berasa was-was kalau-kalau tiba-tiba nyemplung ke laut dan tidak bisa mengapung.

Pulau Batu Berlayar

Gawai dan kamera yang saya bawa masih tersimpan di dalam tas ransel, sementara itu perlahan mesin kapal mulai dinyalakan dan kini kapal mulai bergerak perlahan hingga akhirnya menepi di pantai yang tidak terlalu luas di Pulau Batu Berlayar ini.

Seperti namanya, pulau ini memang menyuguhkan pemandangan kombinasi bebatuan yang berdiri tegak saling tumpang dan kalau dilihat dari kejauhan seakan sebuah layar kapal namun dalam bentuk bebatuan.

Bebatuan ini pada bagian bawahnya banyak menempel kerang-kerang yang sangat tajam cangkangnya dan karena air laut sedang surut, maka kerang-kerang ini jelas terlihat. Pengunjung harus lebih hati-hati saat melangkahkan kaki melewati bebatuan apalagi jika tak memakai alas kaki.

Rombongan wisatawan dari berbagai daerah terlihat memenuhi spot-spot foto di pulau ini. Saya dan Mas Bastian masih terus mengeksplor sudut-sudut cantik di pulau yang tidak terlalu luas ini. Sedari awal memang saya sudah memutuskan untuk terus “menguntit” Mas Bastian untuk “mencuri” ilmu fotografi darinya.

Benar saja, saat tahu saya terus mengikutinya, beliau malah langsung memberikan arahan untuk mengambil sudut pandang foto begini, dan begitu, belum lagi ilmu-ilmu fotografi lainnya dibaginya langsung sembari praktik.

Dari mulai mengambil sudut di antara bebatuan, berendam dalam air laut (untuk yang satu ini hanya dilakukan oleh Mas Bastian karena beliau membawa peralatan fotografi yang mumpuni saat digunakan di dalam air). Saya pun terus mengikutinya, mencari arah datangnya sinar matahari biar hasil foto tidak backlight hingga ikutan masuk ke dalam celah bebatuan yang mirip goa sehingga bisa mendapatkan foto lain dari pada yang lain di Pulau Batu Berlayar ini.

Beberapa yang lain termasuk Tim KitaINA, Rangga (tour guide lokal kami) serta Khoerul (yang selalu asyik menyendiri karena sedang merekam video untuk materi vlognya) masih asyik sendiri dengan spot-spot menarik untuk berfoto. Beberapa kali, Tim KitaINA dan Rangga pun harus rela menjadi bintang utama dari hasil jepretan Mas Bastian, tentu dengan gaya yang diarahkan ini itu dan mereka pun menurut saja.

Rombongan wisatawan semakin banyak dan sinar matahari makin terik. Kami akhirnya mengakhiri kunjungan di Pulau Batu Berlayar dengan foto bersama, cekrekkkk…

Pulau Pasir Putih

Kami bergegas kembali menaiki kapal yang sedari tadi teronggok di bibir pantai untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pulau lainnya. Kini pulau yang kami singgahi adalah sebuah gundukan pasir putih memanjang yang muncul di tengah-tengah laut saat kondisi air sedang surut. Pulau Pasir Putih, orang-orang menyebutnya.

Pulau yang sama sekal tidak luas ini sudah banyak dijamah oleh para wisatawan yang sedang berenang, bermain pasir, maupun sekedar berfoto-foto. Saat di sini saya juga bisa menemukan para perempuan-perempuan berkulit cerah mulus dengan bikini yang sedang asyik berjemur maupun bermain air sembari menggunakan pelampung dalam bentuk yang lucu-lucu.

Pada ujung gundukan pasir ini masih terlihat kosong, kami langsung saja menuju ke sana mencari spot foto yang mungkin saja kece. Lagi-lagi saya mengikuti Mas Bastian, kali ini beliau benar-benar nyemplung ke pinggiran pantai menjorok ke laut dan langsung berendam sambil tangan yang masih membawa kamera dilengkapi peralatan anti air. Cukup lama beliau di sana hingga bisa mendapatkan hasil jepretan yang diinginkan. Saya hanya bisa mengamatinya dari kejauhan saja.

Saat saya penasaran dengan hasil jepretannya, saya pun berdecak kagum melihat proses penuh perjuangan untuk mendapatkan sebuah foto yang menarik. Untuk kesekian kalinya, beliau memberikan ilmunya secara langsung saat saya terus bertanya dan bertanya.

Dari kejauhan Mas Rangga sudah memanggil-manggil kami untuk segera naik ke perahu dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Ke mana tujuan kami berikutnya? Tunggu kelanjutan ceritanya….

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply