Desa Liang

Keindahan Indonesiaku memang tiada tandingannya dimana pun tempat yang ada di negeri ini selalu mempunyai cerita tersendiri, kali ini saya akan membahas mengenai desa yang berada di ujung pulau Ambon Maluku yang tentu saja mempunyai keunikan dan keindahan tersendiri.

Yap, desa yang biasa disebut dengan Liang dan juga merupakan kampung halaman saya adalah desa yang seluruh masyarakatnya beragama islam dan merupakan salah satu negeri islam terbesar di tanah Maluku dan juga bagian dari Jazirah Salahutu, suasana islami sangat kental di desa ini bisa terlihat dengan masjid tua bernama Jami’ yang telah didirikan sejak awal pembangunan Desa Liang.

Bagi orang yang pertama kali mendengar kata Liang pasti akan berpikiran bahwa ini adalah liang kubur yang menjadi momok menakutkan bagi siapapun. Namun yang dimaksud disini adalah Negeri Liang yang berada di ujung Pulau Ambon. Kata Liang dalam bahasa daerah setempat berarti “gua” karena di desa ini terdapat sebuah gua keramat yang besar dan mempunyai dua cabang jalan. Konon katanya dua cabang jalan yang terdapat di dalam gua dapat tembus hingga sampai di Desa Kailolo dan Pulau Pombo, gua ini tidak bisa sembarang orang masuk hanya yang mempunyai silsilah dari para pendahulu Negeri Liang yang dapat masuk dan keluar secara aman.

 

Berbicara soal keindahan Desa Liang tidak bisa diremehkan, terkenal dengan pantai pasir putih dan air laut berwarna biru toska. Pantai di desa ini sering disebut dengan Pantai Liang atau Hunimua. Setiap harinya pantai liang selalu ramai akan wisatawan baik lokal maupun internasional apalagi ditambah dengan enaknya rujak ambon khas Desa Liang yang dibuat oleh mama-mama disana dijamin kita bakal betah berlama-lama di pantai ini.

Perlakuan khusus bagi anak dan cucu desa liang yang telah merantau selalu saya rasakan jika berlibur disini apapun selalu mudah dan gratis jadi sangat terasa kenikmatannya tetapi saya tidak pernah menyalahgunakan perlakuan dari mereka. Saya mendapat darah orang Liang dari ibu saya yang merupakan anak dari wakil desa terdahulu, atau bisa saya sebut kakek saya beliaulah yang dulu mempertahankan Pantai Liang dari penjajahan Belanda. Kakek saya sangat disegani di desa ini orang-orang disini sering menyebut beliau dengan “SAID PARENTAH”. Jika diartikan secara harfiah berarti apapun yang diperintahkan oleh kakek saya selalu dipatuhi warga desa, tetapi beliau telah berpulang pada tahun 1992 lalu.

Walau begitu dengan berlibur disini saya sangat merasakan hal-hal yang telah kakek saya perbuat untuk desa ini dan untuk saya selalu berdoa untuknya. Kita kembali lagi ke pesona Pantai Liang, dengar ombak yang tidak terlalu kuat cocok untuk dinikmati oleh anak-anak hingga orang dewasa jika ingin berenang atau hanya sekedar mengambang dan menikmati pemandangan langit dan pulau seram yang tepat didepat pantai liang. Mari kita lihat pesona pantai liang sebagai berikut.

Pantai Desa Liang

Pantai Desa Liang

Pantai Desa Liang

Indah bukan? inilah Pantai Liang yang sangat terkenal akan keindahan dan estetikanya cocok untuk prewedding dan juga buat hunting bagi anak muda. Keindahan yang terjaga dari dulu oleh masyarakat Liang sampai sekarang masih bisa dinikmati oleh anak cucunya. Di Desa Liang juga banyak kali-kali lho di desa liang biasa disebut dengan “air”, jadi mama-mama di desa ini sering mencuci di kali karena air yang bersih dan terjaga. Konon ada satu kali/air yang dulunya dipakai oleh para bidadari untuk mandi dan yang bisa melihat para bidadari adalah orang yang berhati murni dan berperilaku baik dan para bidadari hanya turun pada hari jumat, kata ibu saya bahwa dulu ada seorang wanita buta bernama ibu khadijah atau sering disebut ibu jija bisa melihat para bidadari, katanya beliau ingin mandi tapi pas tiba di kali tersebut beliau melihat dengan mata hatinya banyak sekali wanita yang cantik jelita dan berkulit putih bersinar, jadi beliau bingung ini orang dari mana karena memang perempuan Desa Liang semua berkulit hitam manis. Oleh karena itulah air/kali tersebut dinamai dengan air/kali bidadari namun saat ini akses ke air/kali bidadari sudah terbuka jadi katanya para bidadari tidak bisa lagi mandi ditempat tersebut. Begitulah yang diceritakan oleh ibu saya.

Cerita Lain: Desa Penglipuran Bali

Di Desa Liang terlihat pemandangan yang tidak biasa yakni makam sanak saudara yang sering dikubur disekitar halaman rumah jadi disetiap rumah di Desa Liang pasti ada makam-makam yang berjejer maupun hanya satu. Di Desa Liang juga ada feri yang bisa mengantarkan kita ke tempat lain di Provinsi Maluku jadi bisa jalan-jalan lagi deh. Pesona dari Desa Liang tidak pernah habis dimakan zaman, negeri yang berdiri sebelum kemerdekaan indonesia ini mempunyai banyak cerita dan adat istiadat yang unik dan istimewa, saya sebagai anak cucu dari Desa Liang sangat bangga memiliki Desa Liang sebagai kampung halaman saya. Terima kasih saya harap jika kalian semua berkunjung ke Ambon jangan lupa ke Desa Liang yah.

Cerita Lain: Mudik Ke Kenawa

2 Comments

  1. Bagusnyaaa ! Indonesia memang tidak pernah kehabisan stock tempat indah. Semoga Kita semua bisa menjaga dan melestarikan Keindahan Alam kita.
    Btw, kalau dari Jakarta mau ke liang naik pesawat apa? Ongkosnya kira2 berapa. Mau dimasukin ke target Destinasi berikutnya

    1. Kalo dari jakarta naik penerbangan sembarang aja nanti turun di ambon,kan di bandara pattimura ada taksi yang jurusannya desa2 jadi tinggal pilih yang desa liang aja. Ongkosnya tergantung pp jakarta-ambon kalo taksinya kurang lebih 50rb

Leave a Reply