DESA TEMPLEK : RUMAH ALAM UNTUK KAMI

Menjelang mudik lebaran membuat saya rindu kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil. Mengingat tingkah saat bocah bermain bersama kawan – kawan yang tidak kenal waktu, panas dan hujan, asal hati senang ada saja hal kreatif yang kami lakukan. Ternyata, permainan kami dimasa kecil masih dimainkan oleh adik – adik kami di desa. 

Kampung halaman saya berada di provinsi Jawa Timur tepatnya di kabupaten Kediri. Saya lahir di kediri 23 tahun yang lalu, tidak banyak yang berubah dari saya kecil hingga dewasa. Bahkan, setelah saya dan kawan-kawan satu persatu meninggalkan desa untuk melanjutkan kuliah dan bekerja diluar kota.  Satu-satunya perbedaan fisik dari desa saya hanyalah jalan desa. Jalan bebatuan yang dulunya sering membuat saya menangis karena terjatuh dari sepeda. Sekarang sudah tertata rapi dengan paving beton.

Selain jalanan yang sudah dipaving, di desa saya juga sudah masuk dalam jangkauan operator seluler. Walau konektivitas masih terbatas hanya jaringan H+. Tentunya, berbeda jauh dengan yang saya dapat saat kerja di kota.

Tiap rumah didesa berdempetan antara satu dengan lainnya. Sangat berbeda dibandingkan dengan desa lain, dimana tiap rumah memiliki perkarangan yang cukup luas. Dari situlah desa saya bernama desa ”Templek”.  Awalnya saya bingung kenapa dinamakan Templek.  Ternyata, Templek singkatan dari kata nemplek-nemplek yang artinya dalam bahasa Indonesia yaitu nempel-nempel atau berdempetan.

Rumah warga berdempetan antara satu dengan yang lain disebabkan banyak pasangan menikah dalam satu desa bahkan dengan tetangga yang hanya berjarak 2 sampai 5 rumah.  Setiap ada ruang kosong akan dibangun rumah baru oleh keluarga yang baru. Kira-kira seperti lagu ”pacar lima langkah” yang memang tidak perlu sms , telepon dan sebagainya. Mungkin ini salah satu pemicu kenapa jaringan di desa saya tetap H+ hingga sekarang hehe

Dibelakang rumah saya hanya dibatasi oleh pohon bambu setelahnya akan terlihat rel kereta api dan sawah yang terbentang luas. Kebayang tiap nonton televisi atau ngobrol harus di skip  iklan suara kereta api yang hampir beberapa jam sekali lewat bahkan jika hari raya aktifitas rel kereta akan sangat sibuk dengan kereta api yang riwa riwi membawa penumpang yang mudik ke kampung halamannya.

Hal konyol yang sering kami lakukan waktu kecil ketika terdengar suara kereta, kami berlari kebelakang rumah lalu melambaikan tangan dan berteriak :

Pak Masinis Aku Melu

 ”Pak Masinis aku ikut ‘‘ begitulah teriakan mereka yang setiap hari melihat kereta api namun belum pernah merasakan duduk di gerbong kereta sekalipun.

 Pemandangan ketika kereta lewat dari Jalan persawahan belakang rumah

Rata-rata pekerjaan warga di desa saya hingga sekarang adalah menjadi petani dan menggarap sawah.  Kami pun sudah terbiasa untuk bermain di sawah dan sungai serta memanfaatkan apa yang ada disekitar.

Saat musim hujan maka sungai akan meluap sehingga sawah akan tertutup dengan air sungai.  Berkah bagi kami setelah pulang sekolah untuk bermain getek atau perahu – perahuan. Kami menggunakan ”debok” (sebutan untuk batang pisang) atau terkadang hanya menaiki jembatan bambu irigasi perairan sawah yang hanyut ketika banjir.

Kami akan berimajinasi seakan sedang menaiki perahu sungguhan.

Aku dadi nahkoda e !

Aku jadi nakodanya !

Awakmu penumpange yoo..

Kamu jadi penumpangnya..

Cekelan cah ngko ceblok.

Pegangan nanti kalian jatuh.

Kemudian perahu terbalik. Begitulah celoteh mereka ketika bermain.

 Jembatan bambu yang biasa anak-anak gunakan menjadi gethek atau perahu

Irigasi Sawah

Ketika sungai  surut waktunya kami mencari kijing dan kreco sebutan untuk kerang atau siput yang hidup di air tawar. Hasilnya akan dimasak oleh ibu dan dimakan secara bersama -sama. Protein gratis yang disediakan alam saya dapatkan dengan sangat menyenangkan karena kami bisa bermain air di sungai seharian.

Anak-anak perempuan di desa saya sering merangkai bunga atau ilalang yang tumbuh dengan sendirinya di pinggiran sawah dan sungai. Menjadi anak – anak yang tumbuh di desa membuat kami bermain dan belajar lebih kreatif dari alam.

Tumbuhan ilalang dipinggir sungai 

Merangkai bunga 

Oh iya satu lagi yang tidak boleh terlewatkan dari desa templek di kabupaten Kediri yaitu Nasi tumpang . Saya gak pernah kepikiran jika sayur tumpang yang rasanya memang nikmat terbuat dari tempe yang telah busuk kemudian dimasak dengan santan, kunyit dan bumbu rempah lainnya. Cara penyajiannya disiramkan ke nasi panas yang diatasnya sudah diberi kulup atau sayuran yang sudah dikukus. Lebih enak lagi jika ditambah dengan rempeyek udang dawu atau kacang.  Ngileeer… ingin segera pulang untuk sarapan nasi Tumpang di rumah dan sangat mudah menemukan nasi Tumpang kuliner khas Kediri ini karena dalam satu desa  terdapat  5 -7 penjual nasi Tumpang yang sama.

Nasi Tumpang lengkap dengan kulup dan rempeyek

Jika berkunjung ke kampung halaman saya maka kita bisa menikmati sawah dan sungai yang tetap sama hingga sekarang.  Kakek saya masih memelihara 3 ekor sapi dan kambing dibelakang rumah.  Kita bisa bercengkrama sembari memberi makan sapi atau kambing  sekaligus menghilangkan rasa jenuh diperantauan.

Bonus foto selfie saya dikandang kambing 

Saya berharap desa Templek selalu menjadi rumah alam yang nyaman untuk saya , kawan-kawan , adik- adik dan anak-anak kami nanti 🙂 #ingetkampung

Leave a Reply