MENJELAJAH DIENG PLATEAU, NEGERINYA PARA DEWA

Beberapa bulan lalu saya sempat di jenuhkan oleh skripsi. Saya rasa, untuk dapat menulis puluhan lembar skripsi, saya membutuhkan pikiran yang segar dan terbuka agar mendapatkan banyak inspirasi.

Oleh karna itu, saya memutuskan untuk berlibur sejenak agar otak kembali rileks dan ide-ide mengalir dengan lancar. Toh, memaksakan diri untuk terus mengerjakan skripsi malah akan menjadikan hasilnya tidak bagus.

Awalnya saya tidak tahu harus ke tempat apa. Namun setelah mencari info kesana-kemari akhirnya saya jatuh hati kepada sebuah daerah di Wonosobo yang di kenal dengan Datarang Tinggi Dieng Plateau. So, saat itu juga saya langsung berangkat ke Dieng Plateau bersama beberapa rekan saya yang baru saya kenal melalui sosial media.

±10 jam perjalanan membuat badan saya terasa pegal. Namun, rasa pegal itu seketika hilang setelah saya sampai di Dieng. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan saya dimanjakan oleh pemandangan yang indah, keelokan alam yang membuat saya enggan berkedip, serta udara sejuk yang menjadi pelengkap selama perjalanan.


Tidak beberapa lama, mini bus kami sampai di depan tugu Dieng, Awalnya saya enggan untuk turun dari bus. Namun, karna beberapa wisatawan sudah keluar berhamburan dan berfoto ala-ala, akhirnya sayapun ikut terbawa suasana.


Berikut oleh-oleh pertama saya saat di Dieng.

Setelah puas berfoto ria, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan.


Sebagai Daerah Kawasan Wisata, Dieng memiliki banyak sekali Pilihan tempat menginap, baik penginapan sederhana, Homestay maupun Hotel. Tentunya dengan harga dan fasilitas yang bervariasi.


Untuk menghemat pengeluaran kamipun menyewa sebuah homestay dengan fasilitas yang sangat memuaskan. Dalam satu kamar terdapat double bed, televisi, Kamar mandi di dalam, hot water serta hidangan makan yang sudah disediakan oleh pemilik homestay yang sangat ramah.


Sa’at itu saya sekamar dengan dua orang teman saya yang bernama Naya dan Gery. walaupun saya baru mengenal mereka tetapi saya percaya mereka anak baik-baik, hehe.


Sesampainya di Homestay, sayapun langsung membersihkan tubuh, shalat berjamaah, makan siang, dan istirahat sejenak. Setelah itu barulah petualangan menjelajah Dieng dimulai. Yaay !

Dieng Plateau Theater merupakan tempat pemutaran film dokumenter tentang Dataran Tinggi Dieng. Tempat yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 April 2006 ini menjadi destinasi pertama yang saya kunjungi.

Selama ±20 menit durasi film, saya disuguhkan berbagai informasi tentang Dieng, seperti terbentuknya dataran tinggi Dieng dan gunung-gunung kecil disekitarnya, keadaan masyarakat Dieng, kondisi Geografis, adat dan budaya Dieng, Fenomena alam, Mata pencaharian warga Dieng dan masih banyak lagi sejarah Dieng yang diputar di bioskop ini.

Keuntungan lain setelah menonton bioskop Dieng Plateau Theater adalah saya dapat memiliki bekal pengetahuan tentang dataran tinggi Dieng, sehingga selama perjalanan yang saya lakukan menjadi lebih berkesan.

Jadi tidak salah jika saya berpendapat bahwa Dieng Plateau Theater merupakan destinasi utama yang wajib di kunjungi sa’at berada di Dieng.

Setelah menikmati film dokumenter di Dieng Plateau Theater, sayapun melanjutkan perjalanan menuju Batu Ratapan Angin. Untuk menuju lokasi ini tidak perlu menempuh jarak yang terlalu jauh, karna tempat ini masih satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater. jadi “tinggal salto juga sampai” begitu kata gery.


Batu Ratapan Angin merupakan dua buah batu besar yang berdampingan yang terletak diatas bukit. Oleh karna itu, untuk menuju tempat ini saya harus berjalanan menanjak melawati bebatuan dan beberapa perkebunan kol yang berada di kanan-kiri jalan.


Batu Ratapan Angin disebut juga dengan nama Batu Pandang Dieng atau Batu Pandang Telaga Warna. Namun, apapun itu namanya, tempat ini sukses membuat saya terkagum-kagum oleh pemandangan Mahakarya Sang Pencipta berupa Telaga Warna dan Telaga Pengilon dengan latar belakang pegunungan.

Melalui ketinggian dari Batu Ratapan Angin saya dapat melihat dengan jelas Perbedaan warna yang kontras antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Ini sangat luar biasa !.

Disinipun terdapat beberapa wahana yang cukup menarik untuk di coba. Seperti flying fox dan jembatan merah putih. Sayangnya saya tidak sempat menyicipi wahana-wahana tersebut karna banyak sekali pengunjung yang mengantri.

Setelah puas menikmati pemandangan dari batu ratapan angin, sayapun melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang.


Kawah Sikidang merupakan kolam berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi. Siapa sangka aktivitas vulkanis yang terjadi berabad-abad lalu masih tetap terjadi hingga saat ini.


Saat saya menginjakkan kaki di kawasan kawah, saya langsung disambut oleh aroma belerang yang sangat menyengat. Sehingga tidak salah jika disepanjang perjalan menuju titik kawah banyak sekali pedagang yang menjual masker. Untungnya saya sudah membawa masker sendiri dari rumah hehe.


Semakin jauh saya berjalan, bau belerang terasa semakin kuat. Namun, hal itu sama sekali tidak mengganggu penciuman saya. Mungkin, saya sudah terlanjur kagum menyaksikan kepulan asap kawah sikidang beserta pemandangan eksotis padang solfatara yang berwarna putih disekitar lokasi kawah. 


Bahkan saat saya berjalan menuju kawah utama, saya melihat banyak sekali kawah-kawah berukran kecil di sepanjang jalan.


Hingga akhirnya setelah berjalan kurang lebih 500 meter, sayapun sampai di titik kawah. Disini saya bisa melihat secara langsung Letupan-letupan lumpur panas disertai gas yang mengepulkan asap putih dari jarak dekat.


So, untuk kalian yang ingin merasakan sensasi berdiri di atas periuk magma bumi, di sinilah tempatnya.

Di sekitar kawah terdapat pagar pembatas agar para pengunjung tidak terlalu mendekat sampai ke bibir kawah. Jadi keamanan lokasi wisata ini sangat terjamin.


Uniknya lagi, disini terdapat banyak sekali pedagang yang menjual telur kawah. Yaitu telur yang dimasak diatas uap kawah yang sangat panas. kamu tertarik untuk mencobanya ?

Destinasi saya selanjutnya yaitu mengunjungi rumah para Dewa di Komplek Candi Arjuna. Candi Arjuna merupakan salah satu dari sederet candi di Dieng yang masuk list wajib untuk dikunjungi selama saya di Dieng.


Saat saya sampai di Komplek Candi Arjuna, saya langsung di sambut oleh bangunan candi Arjuna yang berdiri kokoh beserta beberapa candi lainya seperti candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra.


Meskipun masih ada beberapa candi yang sedang direnovasi, tetapi candi-candi di sini tetap mempesona.

Lingkungan candi yang bersih dikelilingi pohon pinus dan rerumputan hijau menjadi pelengkap keindahan Komplek Candi Arjuna. Sehingga tidak salah jika saat itu banyak sekali para wisatawan yang berkunjung untuk menikmati keindahan candi Arjuna. Bahkan untuk berfoto di candipun saya harus sabar mengantri.

Menurut sejarah, candi Arjuna ditemukan oleh tentara inggris pada tahun 1814. Sa’at ditemukan, kondisi candi masih tenggelam di dalam rawa. Sehingga perlu waktu yang panjang untuk mengeringi rawa tersebut. Begitu kata pak Budi selaku guide saya sewaktu di Dieng.


Pak Budi juga menambahkan, “Candi-candi di Dieng merupakan warisan budaya yang perlu dijaga, agar anak cucu kita nanti bisa menikmati keindahan Candi Arjuna sebagai salah satu warisan budaya leluhur.”

Destinasi saya selanjutnya yaitu mengunjugi kawasan Telaga Warna. Sebelumnya saya sudah menikmati telaga warna dari kejauhan yaitu dari atas batu ratapan angin. Namun, kali ini saya akan menikmati keindahan telaga warna langsung dari jarak dekat.


Saat saya memasuki kawasan telaga warna, saya langsung disambut oleh keelokan telaga warna dan pepohonan rindang yang berada di sekitarnya. Tempat ini disebut telaga warna karna air di telaga ini dapat berubah-ubah warna.


Perubahan warna yang terjadi di telaga ini disebabkan karna adanya kandungan belerang didalamnya, sehingga saat terkena pantulan sinar matahari telaga ini dapat  berubah warna menjadi hijau, biru laut dan warna putih kekuningan. Namun, telaga warna lebih sering mengeluarkan warna hijau.


Saat itu saya juga melihat telaga pengilon yang  berada tepat di sebelah telaga warna. Bedanya, telaga pengilon tidak terdapat kandungan belerang, sehingga warna air yang dihasilkan tidak akan berubah-ubah, yaitu berwarna coklat.


Kedua telaga ini memiliki luas yang hampir sama, sekitar 3 kali luas lapangan sepak bola. Sehingga saya tertantang untuk mengelilingi kedua telaga tersebut.

Awalnya saya berpikir akan merasa lelah jika berjalan memutari kedua telaga ini. Tapi ternyata saya salah, justru sebaliknya saya ketagihan. Bagaimana tidak, disepanjang jalan dipinggir telaga ternyata banyak sekali tempat-tempat menarik yang dapat disinggahi seperti bebatuan bersejarah, patung-patung Dewa serta beberapa Goa Alam seperti goa semar, goa sumur Eyang Kumalasari, goa pengantin dan juga goa jaran. Disini juga terdapat wahana permainan seperti flying fox dan panjat tebing.

Setelah puas mengelilingi telaga warna, tanpa terasa haripun sudah mulai gelap dan perutpun mulai keroncongan. So, kami memutuskan untuk mencari makan malam di sekitar Dieng.


Tidak beberapa lama mencari tempat makan, akhirnya kami menemukan salah satu kedai yang menyajikan menu makanan khas Dieng, yaitu mie ongklok.


Kami sengaja memilih mie onglok karna tidak afdhol rasanya jika berkunjung ke suatu tempat tapi tidak mencicipi kuliner khas daerah.

Mie ongklok merupakan mie kuah yang dicampur dengan sayuran kol dan potongan daun kucai ditaburi reruntuhan daun bawang. Pendamping mie ongklok adalah sate ayam, sate sapi atau sate kambing dengan taburan saus bumbu kacang diatasnya.

Saya tidak dapat menggambarkan bagaimana uniknya rasa mie ongklok ini, tapi yang pasti enak banget!. Kalian harus coba sendiri ke sini.

Setelah puas mencicipi mie ongklok, kamipun kembali ke homestay untuk beristirahat. malam itu saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu istirahat saya sedikitpun, karna saya harus men-charge tubuh saya untuk persiapan pendakian gunung Prau keesokan harinya.
Untuk keseruan perjalanan kali ini, saya akan merangkumnya dalam sebuah video. Silahkan ditonton.

Berikut beberapa tips travelling jika kalian berencana ingin ke Dieng:

  • Menjaga kesehatan fisik dan mental.
  • Membawa pakaian hangat seperti jaket, sweter dan sarung tangan. mengingat udara di Dieng sangat dingin. Bisa mencapai 15 derajat celsius.
  • Dieng memiliki segudang tempat pariwisata, jadi jangan lupa rencanakan terlebih dahulu destinasi apa saja yang ingin kamu kunjungi.
  • Untuk sampai ke Dieng, kamu bisa menggunakan transportasi kereta api atau Bus.
  • Melakukan solo travel saat di Dieng sebenarnya bisa-bisa saja, tapi kalau kurang yakin ajaklah teman atau guide.
  • Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan moment, keindahan Dieng terlalu sayang untuk dilewatkan. Sebarkan pada dunia bahwa Dataran Tinggi Dieng  itu keren banget.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapat saat menjelajah Dieng. Keramahan warganya, pengetahuan warga Dieng akan sejarah kotanya dan kebudayaan Dieng yang tak akan lekang oleh zaman.

Saat perjalanan pulang dalam hati saya berdoa, “semoga kelak saya bisa kembali lagi bersama orang-orang yang saya cintai ke Negeri para Dewa ini”.

Suka kelayapan mengamati geliat masyarakat. Suka menulis random tentang segala hal. Travelling, unek-unek dan berbagai macam cerita hidup.

Leave a Reply