Discover Lombok, Nusa Tenggara Barat

Lombok memang tak jauh berbeda dengan wisata saya sebelumnya, Bali. Dengan mayoritas penduduk beragama Islam, di sepanjang jalan tidak banyak tercium aroma menyan atau sesajen khas umat Hindu.

  25 – 30 Maret 2016 menjadi catatan travelling saya selanjutnya. Memang, tujuan saya ke Lombok bukan travelling, melainkan mengikuti Kelas Inspirasi Lombok 3 di beberapa Gili.
25 Maret 2016
  Setelah Jogja, Lombok menjadi kota kedua yang saya datangi sendirian. Ya, Sendiri. Sibuknya teman, menjadi alasan saya kenapa saya memilih pergi sendiri. Dimulai dari rumah menuju travel Bandung, Bandung menuju Halim Perdana Kusuma, dan Halim menuju Lombok International Airport.
Waktu yang saya tempuh dari Rumah-BEC (1jam), BEC-Halim (3jam), Halim-Lombok (1 jam 45 menit).
Saya tiba di Lombok pukul 22.00 WITA, satu jam lebih cepat dari WIB.
Saya langsung pergi menuju kota Mataram menggunakan Bis Damri (25 ribu) dan 15ribu untuk ojek menuju Rumah Singgah Lombok di Jalan Bangil V No.6 BTN, Mataram.
Di Rumah Singgah, saya disambut hangat oleh mamak dan bapak yang sudah lama menjadikan rumah itu sebagai rumah singgah untuk para bacpacker yang sedang berkunjung ke Lombok. Sebagaimana rumah lainnya, Rumah Singgah (Rusing) ini juga mempunyai aturan yang harus ditaai seperti mengisi buku tamu, akrab dengan backpacker lainnya, aktivitas dibawah jam 11 malam dan mengisi testimoni untuk Rusing.
Disana juga saya berbagi cerita bersama backpacker lainnya. Sesudah para backpacker bercerita, saya sempat menahan air mata. Karena inilah yang saya rasakan ketika jauh dengan orang tua dan harus melakukan aktivitas dengan sendiri.26 Maret 2016
  Pagi yang cerah saat itu. Cocok untuk menikmati suasana dan suasini pantai. Pantai Senggigi, Pantai Montong dan Pantai Ampenan jadi pilihan saya. Jaraknya yang hanya 15-20 menit dari Mataram dan akses yang mudah untuk saya yang menggunakan motor saat itu. Kalian hanya membayar tiket parkir 2000-5000 Rupiah. Sebelumnya, saya harus melipir sejenak menuju Aula Museum NTB, untuk mengikuti briefing Kelas Inspirasi Lombok 3.

Pantai Montong

 

Pelabuhan Pantai Senggigi

27 Maret 2016
  Minggu dengan penuh aktivitas. Saya bersama Relawan Kelas Inspirasi lainnya sudah berkumpul pukul 09.00 WITA di Aula Museum NTB untuk bergegas menuju Gili Gede. Pulau terpencil yang berjarak 2 jam dari Mataram menuju Pelabuhan Tembowong dan 30 menit dari Pelabuhan menuju Gili Gede.
Di Gili Gede rombongan kami menuju Gili Layar terlebih dahulu, hanya untuk merefresh otak kita dan merawat nalar sebelum otak dan fisik kita disibukan dengan Acara Kelas Inspirasi Lombok 3 ini. Disana terdapat spot Snorkling dan memancing.  Hati-hati juga saat snorkling, karena banyak bulu babi disekitar bibir pantai. Jangan lupa juga untuk tidak menginjak karang dan tanaman laut lainnya.

Menuju Gili Gede

 

Menuju Gili Gede

 

Snorkling di Gili Layar

Hampir 3jam kami keasikan di Gili Layar. waktunya kami kembali ke Gili Gede. tempat kami bertugas untuk memberikan motivasi, inspirasi dan semangat kepada anak-anak sekitar Gili.
Ternyata di Gili Gede juga terdapat bukit. Orang sekitar menyebutnya Bukit Senja, karena disana kita bisa menikmati senja Gili gede. dan Subhanallah.. mata saya dimanjakan dengan senja saat itu. Ditemani angin yang berhempus pelan dan  renungan perjalanan menuju Lombok.

Sunset di Bukit Senja

 

Sunset di Bukit Senja

 

28 Maret 2016
Senin yang berbeda dari biasanya. Tanpa upacara, tanpa macet-macetan dan tanpa pelajaran sekolah yang berat. Senin kami diawali dengan menikmati sunrise di Pelabuhan sekitar Gili Gede.Lagi-lagi saya dimanjakan dengan matahari yang perlahan mulai muncul, seolah ia masih malu untuk memulai paginya. Memang, Tuhan memang menciptakan Indonesia ketika sedang tersenyum.

Sunrise di Pelabuhan Gili Gede

Hanya beberapa menit kami menikmati ini. Selanjutnya kami harus bertugas sebagai Relawan di SDN 1 Gili Gede Indah.

SDN 1 Gili Gede Indah

Setelah 7 jam kami bertugas. Kami menikmati hidangan khas Gili Gede.Tongkol bakar dan sambal khas Gili Gede. Tongkol yang digoreng dan dibakar menjadi ciri khas makanan disini. tak lupa juga mencicipi sambal kecap dan bumbu rahasia. Dijamin, kalian pasti nambah beberapa tongkol. begitupun dengan saya 😀

Tongkol Bakar + Sambal Khas Gili Gede

Pukul 14.00 WITA kami pulang. Kami juga harus kembali ke Mataram dan daerah sekitarnya. Dengan menaiki perahu yang sama kami tiba kembali di Pelabuhan Tembowong.
Kami tiba di Mataram pukul 17.00 WITA. Sisa waktu yang ada saya habiskan untuk istirahat di Rumah Singgah setelah hampir 2 hari diasingkan di Pulau.
Luar biasa memang terasingkan di Pulau yang dikelilingi anak-anak sekolah yang harus kami berikan semangat, motivasi dan inspirasi. Dengan kesederhanaannya, anak-anak sekitar Gili Gede tak malu untuk bersekolah. Keinginan mereka hanya satu, yaitu mendapat ilmu. Ya, selama ini mereka (SDN 1 Gili Gede Indah) harus bersabar mendapat ilmu dari gurunya. Karena keterbatasan guru dan kemampuan dari gurunya, mereka tiap hari harus bergabung dengan kelas lain.

29 Maret 2016
  Hari terakhir sebelum saya harus kembali ke rumah asal saya. Saya  menggunakan jasa travel motor di Rumah Singgah. Dengan membayar Rp.170.000/orang, kalian bisa duduk manis di motor untuk diantar menuju tempat recommended dari tour guide nya. Host saya saat itu Mas Wawan, selama di perjalanan dan tempat wisata, Mas Wawan bercerita semua tentang Lombok yang membuat saya semakin tertarik dan ingin kembali  ke kota ini. Hanya satu cerita yang Mas Wawan sedih, Gili Trawangan yang selama ini diminati kaum traveller baik domestik maupun non domestik ternyata hampir sepenuhnya dikuasai oleh tourist. Bukan suku asli Lombok yaitu Sasak, Bukan.
Dari Mataram saya menuju Lombok Selatan. Pantai dan Bukit sudah menanti. Mulai dari Pantai Selong Belanak – Pantai Seger – Pantai Kuta Lombok – Pantai Mawun – Bukit Tanjung Aan – dan Bukit Merese.

Pantai Selong Belanak
Pantai Kuta Lombok
Pantai Mawun

 

Tanjung Aan

 

Bukit Merese

 

Bukit Merese

 

Bukit Merese

 

Bukit Merese

 

Bukit Merese

 

Bukit Merese

 

Raja Ampatnya Lombok

 

Payung Teduh di Bukit Merese

 

Desa Sade

 

Bandara Lombok International Airport

30 Maret 2016
  Hari yang sedih dan juga senang. Sedih karena harus berpisah dengan kota yang saya sukai setelah Jogja. Senang karena bisa kembali ke kehidupan nyata sebelumnya.
Saya harus kembali pulang. Berangkat pukul 08.00 WITA menuju Pool Damri Mandalika. Hingga tiba pukul 09.00 WITA di Bandara Lombok. Saya harus menunggu selama 3 jam di Bandara untuk mencapai kejongjonan disana. Pukul 12.00 saya flight menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Batu Nunggal menggunakan Bis Primajasa.

Terimakasih Lombok. See You 🙂

*Iternary bagi kalian yang ingin ke Lombok:
Pesawat PP : Sekitar Rp.1,3juta (Alhamdulillah kalo kalian dapet tiket promo)
Bandara – Pool Mandalika : Rp. 25.000
Mandalika – Rumah Singgah : Rp. 15.000
(Selama Trip, Kalian bisa menginap di Rumah Singgah)
Makan sehari 3x: (kalian bisa mencari makan dibawah Rp.10.000 + minum)
dari tgl 25-30 Maret 2016 sekitar: Rp. 120.000
*di tanggal 27-28 saya pergi ke Gili Gede:
Rp.200.000 (Include Bis, perahu menuju Gili Gede, Gili Layar dan makan 3x sehari)
Jasa Travel Motor : Rp.170.000 (Sudah termasuk motor, supir, bensin dan bisa ke tempat yang recommended)
Sewa Motor / hari : Rp. 70.000 (namun kuran efektif jika pergi sendiri dan belum hafal jalanan kota)
Mandalika – Bandara : Rp. 25.000
Oleh-oleh : Tentative
Bandara Soekarno Hatta – Batu Nunggal : Rp. 115.000

Leave a Reply