Drama Sebuah Nama, Kolam Adalah Rumah Itik Kembali

[Dokumentasi Pribadi] Pemandangan di SPL

Banyak dari kita yang memberi nama aneh pada seorang teman. Temanku sering memanggilku “Ti” lalu “Tik” dan tanpa sebab yang jelas berubah menjadi Itik. Kau juga pasti mempunyai nama panggilan dan cerita semacam itu. Seperti Aprilia yang kerap dipanggil Pil lalu menjadi Upil misalnya? Tapi, kau tahu apa yang membuat nama Itik terdengar mendrama?

Perkenalkan namaku Itik. Di kartu tanda penduduk, alamatku resmi tertulis Kampung Kolam. Seolah, ya begitulah seharusnya, seorang Itik memang harus tinggal di Kolam. Jadi, saat temanku memperkenalkanku pada temannya, dia akan mengatakan seperti ini, “Namanya Itik. Tinggalnya di Kolam.” Dan aku hanya tersenyum manis. Semanis senyum seekor Itik sebelum dia menjadi angsa.

[Dokumentasi Pribadi] Bisa Bermalasan di Pagi Hari Adalah Berkah
[Dokumentasi Pribadi] Bisa Bermalasan di Pagi Hari Adalah Berkah
Aku selalu suka rumahku. Dua buah pohon bakau besar berdiri megah di depan rumah. Waktu kecil, aku suka memanjat pohon itu, terkadang membawa makanan ke puncaknya dan bergaya seolah telah menaklukan pohon tertinggi di dunia. Kadang lainnya, aku malah menjadi penjelajah. Ada banyak sekali jenis pohon bakau. Satu yang paling kusuka adalah pohon prepat. Rasa dasar buah prepat adalah asam. Tapi, masuk hutan, mencari buahnya dan membuatnya menjadi rujak dengan menambahkan cabai, garam dan gula membuat masa itu tak tergantikan. Lengkap sudah, ada manis, asam, asin, dan pedas.

Aku tidak menemukan buku sejarah yang merunut silsilah kampungku. Bahkan dalam peta kota saja, kampungku hanya digambarkan berwarna biru: sebuah lautan. Kampung kecil ini berada di Belawan, sebuah kota pelabuhan di gegap gempitanya kota Medan. Kampungku tidak berdiri di atas daratan. Kami mendirikan rumah bermodelkan rumah panggung dengan banyak titi yang saling terhubung. Saat pasang surut, kau bisa melihat tanah lumpur yang menjadi daratan. Tapi saat pasang sedang naik, air pasang menutupi semuanya. Teori kekanakanku mengatakan bahwa alasan tetua dulu menamai kampung ini sebagai Kampung Kolam karena kampung kami persis seperti sebuah kolam besar. Sebuah laut yang diapit daratan.

Dokumentasi Pribadi: Kampungku Saat Sedang Pasang
[Dokumentasi Pribadi] Kampungku Saat Sedang Pasang
Aku selalu suka kampungku. Berpuluh tahun berlalu tapi kampungku tidak berubah banyak. Seolah sama, tak tersentuh peradaban. Saat malam hari, aku bisa mendengar suara berang-berang bermain bersama atau malah sedang membangun bendungannya. Lalu, pagi hari saat aku membuka jendela, ada bangau putih yang mencari ikan kecil di sebelah rumah. Orang-orang pernah heboh dengan sebuah ikan yang hidup di dua alam, laut dan darat, atau seperti apa yang mereka sebutkan, ikan yang bisa berjalan di daratan, tapi aku akan dengan santainya menjawab, “Di rumahku ada banyak ikan semacam itu. Glodok namanya.”

Apa yang membuatku rindu rumah, selalu #ingetkampung saat sedang di rantau? Keluarga adalah jawabannya.

Ayahku adalah nelayan musiman. Hobinya memancing. Saat aku punya banyak waktu libur, ayahku akan mengajakku pergi memancing dengan sampan. Aku mengangguk setuju. Seringnya malah aku yang memaksa untuk diajak memancing. Masa bodoh dengan warna kulit yang menjadi lebih gelap. Aku lebih mencintai ayahku dan lautan. Kami bahkan sering memancing sekeluarga. Pernah satu masa, hujan turun tanpa tanda. Lalu setelah kehebohan dadakan itu, kami singgah dan berteduh di salah satu gubuk tengah laut entah milik siapa. Ayahku juga sering memancing keributan, mengganggu kami dengan lelucon usilnya agar kami tak sibuk dengan dunia kami sendiri.

[Dokumentasi Pribadi] Ketika Ayahku Memilih Memancing Tanpa Sampan
[Dokumentasi Pribadi] Ketika Ayahku Memilih Memancing Tanpa Sampan
Kau tahu pelabuhan internasional Belawan? Tak sampai sepuluh menit dari rumahku. Ada banyak kapal ekspor barang disini. Juga ada kapal penumpang semacam kelud. Banyak wisatawan yang datang sekedar berselfie ria. Atau  ke OP misalnya? Mendengarkan musik sebuah band, lalu duduk memandangi ocean pasific? Tapi, sebagai penduduk lokal, mari aku perkenalkan banyak hal yang abai orang perhatikan. Stt… Kau harus menyewa boat bermesin jika ingin ke tempat ini. Saat kau menyewa boat seharian, biaya sewa berkisar antara 250-400 tergantung seberapa baik kau menawar. Tapi untuk wisatawan yang hanya berkeliling saja, biaya sewa kurang dari 100ribu. Dan satu boat bisa untuk delapan hingga sepuluh orang. Lumayan kalau bisa patungan.

:: Memancing ::

Cobalah memancing di laut. Duduk di boat yang diayun ombak dan menikmati makan siang yang sudah kau siapkan. Tapi, sedikit saran dariku, bawalah makanan yang banyak. Aku sendiri selalu lapar saat sedang di laut. Eh, kalau beruntung kau bisa bertemu para pedagang yang menggunakan sampannya untuk berkeliling dan menjual rujak, pecal, aneka mie dan gorengan.

:: Pasir Putih ::

Aku akan berpikir dua kali untuk menginjakkan kaki ke Pasir Putih. Ratusan monyet menginvasi daerah ini dan menjadikannya sebagai daerah kekuasan mereka. Tapi, melihat ratusan monyet adalah pengalaman yang menakjubkan. Wisatawan yang bernyali, dan herannya malah banyak, suka membawakan sekarung pisang untuk monyet-monyet ini. Dan, apakah kau percaya bahwa ada manusia yang tinggal di daratan itu? Kau hanya harus melihatnya untuk percaya.

:: Hutan bakau ::

Ada banyak hutan bakau di kawasan Belawan. Saat aku berada di kawasan ini, wow, rimbunnya bakau dan lautan yang bebas sampah selalu membuatku serasa berlayar masuk ke era lain. Hijau, adem, aku merasa lebih bebas. Membuatku menjadi lebih positif. Bahwa ada banyak hal yang ternyata bisa disederhanakan.

:: Belajar Kreasi Daur Ulang ::

Nah, kalau kau menyukai bidang crafty, kau juga bisa datang ke Belawan dan belajar mengolah sampah menjadi banyak barang cantik semisal tas, bros, bunga dan dompet. Tak perlu takut masalah biaya, gratis. Masih banyak orang baik yang rela berbagi ilmu cuma-cuma. Juga ada bank sampah yang menyediakan bahan dasarnya. Atau belajar merangkai kulit kerang menjadi bale atau aneka kreasi bunga? Kreatifitas tanpa batas adalah kuncinya.

[Dokumentasi Pribadi] Pemilik sekaligus pengajar di rumah daur ulang sudah mendapat banyak penghargaan nasional.
[Dokumentasi Pribadi] Pemilik sekaligus pengajar di rumah daur ulang sudah mendapat banyak penghargaan nasional.
Kebetulan saja, hari itu saat saya sedang belajar, ada proses peliputan. Saya jadi belajar hal baru.
Kebetulan saja, hari itu saat saya sedang belajar, ada proses peliputan. Belajar hal baru selalu menyenangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumentasi Pribadi: Bakau di Depan Rumah
[Dokumentasi Pribadi] Bakau di Depan Rumah
:: Liburan Gratis ::

Liburan gratis? Banyak. Duduk saja di SPL, bawa peralatan mancingmu sendiri. Tempat ini jauh dari keramaian, tenang dan sunyi. Laut biru, duduk santai, sejuknya angin dengan sebatok kelapa segar adalah percikan surga yang terdampar di bumi. Kau juga bisa melihat sumber pembangkit listrik besar yang dayanya cukup untuk kebutuhan listrik satu provinsi.

Cuma pingin naik boat? Menyebrang saja ke Kampung Nelayan. Hanya 3 ribu. Ada juga pangkalan angkatan laut dengan beberapa tempat iconic yang disediakan untuk berfoto.

“Itik, kami ke rumahmu ya?” saat beberapa teman hanya ingin makan kerang sambal kecap. Belawan selalu menyenangkan. Kampung Kolam selalu sama. Pohon bakau di depan rumahku masih tegap berdiri.

Apa yang menarik dari nama Itik? Agaknya mendrama, ketika secara harfiah, Itik benar-benar pulang ke Kolam. Apalagi jika temanku menambah lawakan, “Cepat-cepat berubah jadi angsa ya.” Tapi, aku menyukai nama itu. Nama panggilan itu mengingatkanku pada rumah. Rindu pohon bakau, ikan hasil memancing, bangau putih atau sekedar laut biru. Mereka bilang foto mengabadikan kenangan. Tapi, datang dan berkunjunglah kesini, sepoi angin laut akan membuatmu lupa pada kamera dan ponsel pintar itu. Alam selalu punya cara untuk membuatmu terpesona.

__________________________________________________________________________________________________________________

Aku sudah memancing puluhan kali, menjelajah dan ikut berenang di lautan.  Aku juga sudah pernah pergi jauh, melihat bangau dan laut di tempat lain. Tapi, Itik akan selalu merindukan Kolam. Memandang foto rumah tak pernah sama rasanya dengan benar-benar pulang. 

__________________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

2 Comments

  1. Mantap kalipun. Kukira di Belawan selain Ada Pelabuhan, cuma ada tempat belanja barang luar negeri. Ternyata Ada Kampung kau yang seru. Makasih ceritanya mencerahkan.

  2. Dimaklumi, Bang, kalau gak tau. Sampai sekarang alamat saya gak masuk peta. Ayo, main kesini. Bolehlah panjat pohon atau nyari prepat misalnya? gratis 😀

Leave a Reply