Festival Durian Ndirun, Banjarnegara Tahun 2017

Tahun 2017 ini, Banjarnegara sepertinya memasuki musim yang tidak menentu. Kadang seminggu cuaca panas terik seperti memasuki musim kemarau namun seminggu kemudian bertolak belakang, sepanjang hari juga Banjarnegara diguyur hujan hingga membuat suhu di desa-desa yang berada di lereng perbukitan bertambah dingin.

Tentu ada sisi positif dan negatif dari perubahan cuaca yang tidak menentu ini, di satu sisi para penggarap ladang persawahan tadah hujan yang berada di bawah lereng perbukitan seperti mendapatkan berkah karena pasokan air untuk mengairi persawahan lancar namun bagi petani buah-buahan seperti durian di sepanjang daerah Singamerta-Sigaluh timur Banjarnegara membuat sedikit kecewa karena bakal buah durian ini rontok diguyur hujan terus menerus.

Perkiraan panen raya durian yang direncanakan pada bulan april 2017 ini terpaksa diundur karena pohon-pohon durian yang ditanam warga tidak serentak bisa dipanen dan ini berimbas pada pasokan durian untuk Festival Durian Ndirun yang digelar tiap tahunnya.

Tahun 2017 ini, Festival Durian Ndirun memasuki musim yang ke tiga. Rencana awal akan berlangsung di Dukuh Ndirun, Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Lokasi persisnya berada di timur kota Banjarnegara satu jalur menuju Kabupaten Wonosobo.

Saya baru tahun ini bisa berkesempatan mengikuti Festival Durian Ndirun yang dihadiri langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara. Dari rumah di Punggelan, saya berkendara menuju kota yang ditempuh kurang lebih empat puluh lima menit. Dari informasi yang saya dapatkan, acara dimulai sekitar pukul sembilan pagi namun untuk menghindari ramainya pengunjung, saya berangkat lebih awal dan sampai lokasi sekitar pukul delapan lebih, itu pun sudah lumayan ramai oleh pengunjung.

Memasuki jalan di pinggiran Sekolah Dasar Negeri Singamerta, sepeda motor saya parkir di halamannya karena kendaraan dilarang masuk sampai lokasi utama guna menghindari penumpukan dan membuat jalur menjadi macet. Perjalanan berikutnya ditempuh dengan berjalan kaki melewati tanjakan yang cukup bikin ngos-ngosan nafas ini. Beberapa menit kemudian, rombongan mobil sedan berpelat merah telah membuat para pengunjung harus menepi terlebih dahulu untuk memberi kesempatan rombongan para pejabat ini lewat. Berikutnya saya sudah sampai di lokasi utama yang berada di pelataran Masjid Dusun Ndirun.

Deretan stand-stand milik kelompok tani dan Dinas Pariwisata Banjarnegara telah tertata apik di pinggir jalan raya yang tidak terlalu lebar. Di depannya terdapat sebuah panggung dan tenda khusus untuk tamu undangan. Sesuai dengan temanya, tentu banyak tersedia aneka macam durian yang dipamerkan baik pada stand-stand maupun berupa gunungan durian yang ditata sedemikian rupa dengan puncaknya yang dihiasi hijaunya petai.

Acara berikutnya berupa kirab durian dan kesenian tradisional kentongan dari warga sekitar, paguyuban Kakang-Mbekayu Banjarnegara serta rombongan Bupati, Wabup beserta pejabat daerah lainnya. Dilanjutkan dengan acara demi acara serta pidato pembukaan dari Bapak Bupati, Budhi Sarwono (Wing Chin) yang baru beberapa bulan lalu dilantik.

Saya sendiri sebenarnya telah janjian ketemu dengan blogger wanita Banjarnegara yaitu Idah Ceris namun hingga acara dimulai, kami belum juga bertemu langsung. Baru beberapa puluh menit kemudian kami berjumpa dan ia sudah berada di tenda khusus untuk para tamu, sementara saya berbaur dengan warga sekitar.

“udah sini masuk saja!!” ajak Idah kepada saya. Kemudian saya pun bergabung dengan tamu lainnya di kursi yang terlihat masih kosong dan itu pun hanya beberapa detik saja untuk kemudian saya langsung mengerubuti durian-durian yang telah tertata rapi untuk diabadikan dengan kamera.

Rombongan para pewarta, pegiat sosial serta media lainnya pun berbaur menjadi satu mendekati panggung utama. Setelah acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh Bapak Bupati untuk kemudian dilanjutkan dengan mencicipi legitnya durian Ndirun, sorak sorai warga kian membahana.

Gunungan durian yang berada persis di depan tempat duduk sang bupati yang sedianya akan dibagikan secara tertib oleh panitia kepada tamu undangan ternyata berubah rencananya setelah para tamu dan warga tidak sabar untuk berebut gunungan durian tadi. Saya pun sedikit syok saat kerumunan orang-orang yang seperti kesurupan dan tak takut terkena duri ini merangsek masuk dan berebut gunungan durian layaknya pada acara pesta panen di kota lain. Saya hanya bisa menjauh dan menyaksikannya saja, toh misal tidak kebagian juga tidak apa-apa asal tubuh ini selamat dari terkena luka durian yang tajam.

gunungan durian
sempat mengabadikannya sebelum hancur : )
rebutan durian
menjauh saja melihat orang ganas begitu hehehe

Beberapa menit saja, gunungan durian tadi sudah ludes tak bersisa. Tamu undangan yang duduk di bagian belakang terpaksa hanya bisa gigit jari. Untungnya saya dengan tidak tahu malunya ikut nimbrung mencicipi bongkahan berwarna kuning nan harum yang baru saja dibelah dan tersaji di atas meja para pejabat dan langsung reflek nyomot saja. Mungkin saking senangnya, beliau ini tidak merasa terganggu hahahaha.

Dari kejauhan, suami dari Idah ini melambaikan tangan dan menunjukan sebuah durian dari hasil berebutnya untuk dimakan bersama. Tapi ada harga yang dibayar, punggung tangan suami Idah ini lecet-lecet kena tajamnya durian Ndirun hehehe.

Setelah acara inti, inilah bagian yang ditunggu-tunggu berikutnya oleh para petani yaitu sesi lelang durian dengan varietas dan nama yang unik sesuai dengan asal buah durian dari para petani. Berikut hasil lelang durian dengan nama, rasa, bentuk, warna yang unik dari para petani dan saya rangkum:

acara lelang durian
sesi lelang pun dimulai

Yang pertama adalah:

  • Durian Ulfa yang berjumlah tiga buah dan berakhir dengan harga akhir lelang Rp 400,000 dan yang nekat karena punya uang untuk membelinya adalah salah satu karyawan Bank BRI.
  • Durian Godres yang dihargai Rp 400,000 dan dibeli oleh bapak kepala dinas pariwisata Banjarnegara, Bapak Dwi.
  • Berikutnya adalah lelang bibit durian varietas unggul yang masih langka, jumlahnya empat buah bibit dan dihargai Rp 2,500,000, pembelinya adalah bapak Fajar dari Banyuwoong.
  • Durian Emas yang dihargai Rp 400,000 (tiga buah).
  • Durian Podang berjumlah empat buah yang dilelang langsung oleh bapak Bupati dan laku dengan harga Rp 600,000 dan yang berhasil membelinya adalah Bapak Samsir.
durian lelang
durian yang dilelang, mantap kan?
  • Durian Nisam yang dilelang oleh bapak wabup ini berhasil terjual dengan harga Rp 650,000 dan yang berani membayarnya adalah pengunjung dari Purwokerto.
  • Durian Roti karena bentuknya tebal seperti roti ini berjumlah tiga buah dan dilelang oleh bapak sekda Banjarnegara dan berhasil terjual dengan harga Rp 700,000 pembelinya adalah seorang perempuan dari Banjarnegara.
  • Durian Arjo berjumlah empat buah berhasil terjual dengan harga Rp 650,000 yang dibeli oleh orang dari Cilacap.
  • Durian Dambyang berjumlah empat buah milik Bapak Hartono ini laku terjual dengan harga Rp 500,000 dan dibeli oleh Bapak Indarto.
  • Durian Wurkok milik bapak Martoyo terjual dengan harga akhir Rp 550,000.
  • Durian Pulensari ini terbilang sangat unik karena terjual dengan harga hanya Rp 50 perak dan ternyata ada yang punya pecahan lima puluh rupiah ini yaitu seorang satpolpp bernama Yoga dan penonton pun riuh dengan kejadian tadi.
durian lelang 2
durian pulensari seharga Rp 50,-!!

Sebenarnya acara lelang masih belum berakhir, suami Idah sudah memanggil saya untuk ikut mencicipi hasil rebutan durian tadi dan kami berlima kembali menikmati legitnya durian Ndirun lagi siang itu.

makan rame durian
durian yang kami dapat walau tidak sekuning yang lainnya

Setelah puas dan hari makin siang, kami memutuskan untuk pulang walaupun acara sebenarnya belum selesai. Pengunjung yang tak kebagian rebutan tadi pun terlihat tengah mengerumuni stand-stand milik warga yang juga menjual durian dalam jumlah banyak dan rata-rata laris semuanya.

Siang itu dusun Ndirun harum dengan aroma durian yang menyebar dari sudut-sudut jalanan. Harumnya durian ini seakan mengajak orang-orang untuk singgah dan mampir untuk mencicipi legitnya durian Ndirun.

Semoga Festival Durian Ndirun tahun depan bisa lebih sukses dari yang sekarang dan lebih banyak mendatangkan para wisatawan baik dari lokal maupun luar kota untuk datang dan meramaikannya sehingga para petani di sini bisa tersenyum manis menikmati manis legitnya durian Ndirun yang mereka tanam.

Jadi, Kapan kalian mampir ke dusun Ndirun menikmati legit duriannya?

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply