Gili Ketapang: Kisah Pulau yang “Bergerak”

Perlahan, perahu kecil kami bergerak meninggalkan Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo. Pagi itu, kami hendak mengunjungi sebuah pulau kecil di utara kabupaten ini, Pulau (Gili) Ketapang namanya. Terjarak 8 kilometer dari daratan utama, perjalanan kami memakan waktu ±40 menit. Tak ada kapal sewaan. Kami naik kapal penumpang bersama penduduk lokal, beberapa wisatawan lain, kelapa, sayur-mayur, serta sepeda motor. Sedikit menegangkan, mengingat saya yang sama sekali tidak bisa berenang, harus duduk di pinggir kapal yang penuh muatan plus diiringi derit papan lapuk kapal yang didera ombak.

Birunya laut membantu menenangkan suasana dan tanpa terasa kami akhirnya tiba di Gili Ketapang. Begitu sampai, kami langsung disambut oleh beberapa “penghuni” lokal. Kambing! Ya, banyak kambing berkeliaran mencari makan di pantai. Entah milik siapa. Hewan-hewan itu tampak memakan apa saja, termasuk sampah.

Selamat Datang di Gili Ketapang
Selamat Datang di Gili Ketapang

Gili Ketapang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pulau seluas ±68 hektar ini berpenduduk sekitar 8.000 jiwa. Mayoritas adalah suku Madura dan bermata-pencaharian sebagai nelayan. Meskipun tampak hidup sederhana, ternyata kondisi penduduk pulau ini cukup makmur. Untuk menuju ke sana, kita bisa menumpang kapal motor dengan tarif Rp7.000,00 sampai Rp10.000,00

Menuju Barat
Menuju Barat

Kami lalu berjalan menyusuri pantai menuju arah barat. Kami sempat berpapasan dengan ibu-ibu yang sedang mencuci tong bekas menangkap ikan, anak kecil yang asik mandi di laut, serta bapak-bapak yang sibuk membangun perahu.

Si Ibu sedang sibuk
Si Ibu sedang sibuk
Para pembuat kapal
Para pembuat kapal

Di ujung pulau, kami dihadapkan dengan hamparan pasir putih dengan pemandangan gradasi warna laut yang indah. Biru tua, biru laut, dan tosca. Sepi. Serasa punya pantai pribadi. Indah, meskipun di beberapa tempat masih tercecer sampah. Kami lantas memanfaatkan situasi ini untuk bermain air dan mengambil gambar.

Pemandangan di ujung pulau
Pemandangan di ujung pulau

img-20150808-wa0015

Wefie dulu
Wefie dulu 🙂

Puas bermain, kami lalu berjalan menelusuri permukiman penduduk. Cuaca terik memaksa kami berhenti di salah satu kios dan membeli se-plastik Es Blewah yang ternyata harganya cuma Rp1.000,00! Hari gini masih ada ya minuman harga seribu perak? Kami lalu dipersilakan untuk istirahat di teras salah satu rumah penduduk. Dan di sinilah, pengalaman paling menarik saya di Gili Ketapang.

Sepertinya, saya menemukan karakter asli bangsa Indonesia pada diri orang-orang Gili. Mereka begitu ramah. Menolong tanpa pamrih. Tak hanya sekali, bahkan dua kali kami dipersilakan mampir di rumah penduduk. Kami sudah seperti keluarga sendiri. Duduk-duduk, makan, numpang sholat, bercerita, dan bahkan, kami akhirnya menemukan jawaban dari mitos yang beredar tentang pulau ini.

Cerita yang berkembang di masyarakat adalah bahwa Gili Ketapang ini… bergerak! Ya, semakin lama, ia “tampak” semakin menjauh dari daratan utama Kabupaten Probolinggo.

Namun ternyata, berdasarkan cerita penduduk Gili, mitos itu tidak benar adanya. Yang sebenarnya terjadi ialah ukuran pulau inilah yang kian lama kian mengecil. Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas pengerukan pasir pantai untuk dijadikan bahan bangunan. Alhasil, garis pantai Gili Ketapang perlahan semakin berkurang, sehingga seolah-olah ia tampak menjauh dari daratan utama.

Menjelang petang, kami memutuskan untuk pulang. Sebenarnya masih ada beberapa tempat menarik yang kami kunjungi di sisi timur pulau, seperti Goa Kucing yang terkenal karena mistisnya. Tapi ya, karena keasyikan ngobrol jadi tidak terasa hari sudah hampir malam.

Kami pulang dulu
Kami pulang dulu

Banyak hal yang kami bawa dari perjalanan kali itu. Teman baru, keluarga baru, pengalaman baru. Bahkan, kami juga membawa pulang jawaban dari dongeng tentang Gili Ketapang. Namun yang terpenting, mata dan hati kami kembali terbuka. Bahwa di luar sana, masih banyak orang-orang baik yang mau menolong tanpa mengharap balasan. Di balik kesederhanaannya, penduduk Gili tetap ramah dan berbagi dengan para pengunjungnya. Semoga kedepannya pemerintah bisa semakin membangun fasilitas yang memadai di pulau ini.

Catatan: kalau ke sana, usahakan bawa teman yang bisa bahasa Madura ya, karena mayoritas penduduk Gili jarang yang bisa berbahasa Indonesia. 🙂

Unpassionate Tax Officer | Skygazer | Sightseer | Amateur Blogger

Leave a Reply