Gili Laba atau Pulau Padar?

Post

Ketika kalian memutuskan untuk sailing ke Pulau Komodo kalian pasti akan searching destinasi favorit lainnya selain Komodo, dan ketika kalian searching kalian pasti akan menemukan Gili Laba dan Pulau Padar ini ada di list tempat yang wajib kalian kunjungi kalau ke Pulau Komodo. Kenapa? Soalnya sayang banget kalau kalian udah jauh-jauh ke sini cuma lihat Komodo saja, kalian mesti melipir ke pulau-pulau cantik yang ada disekitar situ. Apalagi Pulau Padar, kayanya dia yang muncul duluan daripada si komodo, hahaha.

Sekilas kalau kalian lihat kesannya sama ya, tapi ternyata beda loh. Dan saya sangat jatuh cinta dengan Gili Laba? Kenapa? Kita simak keduanya dulu yuk.

Yes Gili Laba, atau ada juga yang menyebutnya Gili Lawa Darat. Gili Laba ini artinya pulau kecil. Jangan kalian bayangkan pulau ini literally kecil ya sehingga langsung keliatan indahnya begitu sampai. Indikator indah itu kalau kalian sudah berpeluh keringat setelah trekking. Haha.

Pagi itu, dihari kedua, sekitar jam 06.30 kami yang masih bermimpi dibangunkan oleh kru-kru dan guide katanya sudah sampai dan siap-siap untuk trekking. Berbekal nyawa yang masih ala kadarnya, saya bangun dan naik ke atas untuk cuci muka dan gosok gigi. Sambil kucek-kucek mata, muka bantal, dan nyawa belum kumpul saya langsung disajikan pemandangan yang bikin saya langsung bangun dan lari buat cuci muka.

Gili Laba atau Pulau Padar img
"Morning call" from Gili Laba

Cantik banget ya!

Setelah ready kami turun dari kapal dan langsung siap-siap mau trekking untuk menuju puncak. Untuk apa sih trekking? Emang gak bisa main-main aja di pantai? Bisa kok kalau mau main-main di pantai, di pantai pun kalian bisa melihat pemandangan bukit-bukit cantik jadi background kalian saat main air tapiiii, kalau kalian trekking ke atas kalian bisa melihat pemandangan yang lebih bangus lagi.

gambar bukit yang menyemangati awal perjalanan kalian di Gili Laba
bukit yang menyemangati awal perjalanan kalian

Trekking ke bukit ini tidak kejam kok, cuma lumayan tinggi, kurang lebih 45 – 60 menit lah, tergantung stok oksigen di paru-paru kalian dan kekuatan kaki sebenarnya. Waktu terbaik, menurut saya, untuk mendaki ke sini adalah pagi hari, tapi jangan pagi-pagi banget, jam 7 kurang pas lah, udara masih sejuk, matahari belum terlalu terik sehingga kalian bisa saving oksigen dengan baik. Kenapa jangan terlalu pagi? Ini berkaitan dengan hasil foto sih, hahaha, kalau terlalu pagi matahari belum terlalu muncul hasil foto kalian gak terlalu bagus, gelap karena tertutup kabut, cuma kalau kalian mau hunting sunset ya gapapa juga, tapi kalian jangan cepat-cepat turun ketika di bukit, karena waktu terbaik di atas bukit adalah ketika matahari sudah muncul sehingga pemandangan lautnya perfect banget.

starting point untuk mendaki
starting point untuk mendaki

Medannya bukit biasa, cuma banyak kerikil-kerikil jadi pastikan kalian pakai alas kaki yang nyaman ya, seperti sandal gunung yang tidak licin, jangan pakai sepatu cantik, sendal jepit boleh aja sih asal kalian udah terbiasa mendaki kalau belum saran saya jangan, daripada nyusahin diri sendiri dan orang lain. Kalau kalian mau foto ala-ala di atas bukit silakan, tapi saran saya, itu baju-baju kalian ditaro ditas saja dan dipakai di atas bukit, karena kalian dijamin keringetan dan kalau pake baju yang gak nyaman khawatir akan menyulitkan kalian trekking. Semakin ke atas bukitnya semakin curam dan terjal karena semakin banyak kerikil-kerikil yang berjatuhan gitu.

Di bukit ini tidak ada pos pemberhentian, jadi kalau kalian lelah, ya udah, istirahat aja dulu, kalau kalian berhenti ditengah-tengah bukit sebenarnya pemandangannya sudah kelihatan dan pemandangan itu seolah sedang menyemangati kalian “ayo naik lagi, diatas lebih indah lagi” tidak hanya itu, hamparan rumput hijau cantik disekeliling kalian juga menambah syahdunya suasana.

eits, ini belum sampai di puncaknya ya
eits, ini belum sampai di puncaknya ya

Even kalian kelelahan, kalian akan menghirup udara yang segar dan angin yang sejuk. Lovely. Sampai diatas pun kalian akan amazing dengan indahnya pulau ini. Waawww saya suka sekali.

sisi lain di puncak Gili Laba
Puncak Gili Laba
another spot at Gili Laba
another spot at Gili Laba

Oh ya, saran saya, kalau kalian sudah di Gili Laba, jangan cuma habiskan waktu foto-foto di spot yang sudah mainstream di instagram tapi coba kalian jalan-jalan lagi, banyak loh spot yang asik banget plus hijaunya rumput itu epic banget. Oh ya, kalau kalian bawa drone, wajib banget loh main drone di puncak ini, baguuuus banget kalau kalian ngeliat keseluruhan pulau ini dengan drone.

gradasi biru laut ini yang buat saya jatuh cinta
gradasi biru laut ini yang buat saya jatuh cinta
masih di puncak Gili Laba
masih di puncak Gili Laba
main di rerumputan hijau kuy!
main di rerumputan hijau kuy!
Gili Laba from drone
Gili Laba from drone

Ya ampun, sebagai warga Indonesia kalian harus bangga banget gak perlu paspor untuk lihat pemandangan yang bagus-bagus dan alami banget. Sebagai traveller yang baik dan budiman, ingat, jangan buang sampah sembarangan! Bawa pulang lagi tuh botol minum kalian kalau abis dari bukit ini.

Last day in the morning, trekking to Padar’s peak.

mandatory place to take a pic, Padar's Peak!
mandatory place to take a pic, Padar's Peak!

Pasti sering banget kaaan lihat orang foto kaya gitu kalau kalian lagi searching-searching tentang Komodo atau Labuan Bajo? Yes pemandangan ini bisa kalian lihat dari puncak bukit di Pulau Padar.

Sama seperti Gili Laba, kali ini lebih pagi, kami naik ke puncak bukit. Naik ke atas Padar ini butuh waktu 30 – 45 menit, lagi-lagi tergantung stok oksigen dan kekuatan otot kaki haha. Sesampainya di awal pendakian kalian akan dibuat baper dengan tangga-tangga kayu seolah tangga itu yang akan mengantarkan kalian sampai ke puncak. Ngarep! Tangganya berhenti di tengah jalan, terus sisanya kalian silakan mendaki, hahaha.

stairway to 'heaven'
stairway to 'heaven'
foto tangga ala-ala di Bukit Padar
tangga ala-ala di Padar

Well, sebenarnya jalur pendakian di Padar gak sulit kok. Pernah naik ke atas Bukit Merese di Lombok? Ya kurang lebih kaya gitu lah, cuma lebih tinggi aja, tapi gak setinggi Gili Laba, lebih sulit trek di Gili Laba menurut saya, kerikilnya lebih licin dan terjal. Disini tidak. Bukitnya landai dan banyak rumput-rumput hijau yang bawaannya bikin mau ngegelinding aja gitu atau guling-gulingan disitu haha. Hanya ada satu trek yang cukup susah yaitu ketika sudah mau sampai di puncak. Cukup terjal, tapi di spot itu saja sih.

Di Padar ini sebelum sampai puncak ada beberapa spot yang bagus buat foto-foto. Salah satunya di bukit pas tangga kayu yang php itu habis. Kaya gini lah contohnya

New Zealand? No, this is Indonesia
New Zealand? No, this is Indonesia
my morning view at Padar

Selain itu, sebelum sampai puncak ada tempat istirahatnya, disini sudah keliahatan loh pemandangan epic pulau Padar itu. Dan kalau saya pribadi lebih senang foto disini haha. Terlihat lebih jelas.

sebelum puncak Padar
sebelum puncak Padar

Setelah menghabiskan waktu 30 menit ngos-ngosan sampailah kita di puncak padar. Finally. Peluh lelah mendaki dari bawah ke sini terbayar sudah. Setiap pergi ke tempat-tempat eksotis di Indonesia yang untuk menjangkaunya cukup sulit, disitulah saya semakin menyadari bahwa Indonesia itu paket lengkap. Gak usah bayangin naik gunung cakep, perbukitan semacam ini aja udah cakep banget, lautnya, rumputnya, oh my heaven on the earth. Oh ya, karena kita berangkat cukup pagi, sesampainya di atas matahari belum begitu nampak jadi kami menunggu beberapa menit untuk menanti matahari muncul dan memulai sesi pemotretan. Lol.

Puncak Padar
Puncak Padar

Oh, fyi, kata warga lokal, di Padar ini juga ada Komodo, jadi kalau kalian ke sini hati-hati ya, jangan karena terlalu semangat pengen explore pulau kalian lantas pergi sendiri dari jalur ke tempat-tempat yang sepi orang. Gak lucu kalau kalian dikagetin sama komodo, mereka pemanjat dan perenang yang handal soalnya. So keep aware ya guys.

Nah, gimana menurut kalian? Kalau terpaksa harus banget milih untuk balik lagi kalian pilih kemana? Hihihi. Kalau saya, saya lebih cinta banget sama Gili Laba, tapi saya juga cinta Padar (ababil). Kenapa? Ketika kalian ada diatas puncak dan lihat ke bawah, ke arah laut, kalian akan melihat gradasi warna biru tua, muda, dan kehijau-hijauan yang cantik dari laut Gili Laba. Kalau di Padar kurang terlihat jelas, hanya saja bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan itu yang bikin eksotis! Serasa di hutan film Jurasic Park. Hmmn, karena saya penggemar gradasi warna biru jadi saya tetap favorit Gili Laba, hihi

Oh ya, kalau kata beberapa travel blogger Padar itu oke buat lihat sunset tapi saya pribadi agak worry sih klo sunset-an di Padar, pas balik pasti gelap ya, kan gak ada lampu jalannya, hehehe, better kalau kalian mau lihat sunset rombongan banyak, jangan terpisah, dan jangan lupa bawa senter, in case bintang-bintang di langit lagi jarang. Well, masih ragu mau ke Gili Laba dan Padar? Hihihi. Kuy lah pack tas kalian dan cus! No regrets deh.