Gunung Ciremai, Perjalanan Menaklukkan Diri

Adzan Ashar baru saja lepas ke angkasa, ketika Nusa sibuk mempersiapkan logistik untuk mendaki gunung. Nusa, seorang pemuda berpostur tinggi tapi kurus yang baru saja lulus SMA dari salah satu sekolah di Kabupaten Kuningan.

“Apa lagi yang perlu dibawa, De?” tanya ibu Nusa sembari memperhatikan anaknya.

“Nggak ada lagi. Udah semua,” timpal Nusa sambil memasukkan perlengkapan mendaki gunungnya. “Kalau gitu aku berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum.” Nusa pamit dan mencium tangan ibunya.

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati, De. Ibu do’akan semoga kembali pulang dengan selamat,” ucap ibunya lembut. Dia sebenarnya cemas membiarkan Nusa mendaki gunung. Sebab kakaknya Nusa pernah mengalami musibah ketika mendaki beberapa tahun sebelumnya. Dia tak ingin kejadian serupa menimpa Nusa.

“Iya, Bu. Aku akan baik-baik saja, kok. Besok sore juga udah pulang.” Nusa mencoba meyakinkan ibunya sembari melambaikan tangan. Dia pun berangkat.

Bagi Nusa, ini akan menjadi pendakian perdananya. Sudah lama sekali dia menunggu hari yang sangat dinanti tersebut. Sebab saat masih sekolah, kesempatannya untuk mendaki sempat kandas berkali-kali.

Ada-ada saja penyebabnya. Bentrok dengan acara lain, tidak dapat izin dari orang tua hingga penyebab yang paling menyedihkan, kehilangan gairah. Nusa menolak begitu saja ajakan temannya ketika ada kesempatan datang.

Dua bulan setelah pengumuman kelulusan, kesempatan untuk mendaki gunung kembali menghampiri Nusa. Beruntung, dia punya teman yang tidak pernah bosan untuk mengajaknya mendaki. Awan namanya, teman Nusa sejak SMP dan satu organisasi pecinta alam semasa mereka SMA.

Berbeda dengan Nusa, Awan telah beberapa kali mendaki Gunung Ciremai. Meski bergabung dengan organisasi Siswa Pecinta Alam (sispala), Nusa tidak paham betul apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaki. Logistik peralatan yang dibawanya jauh dari kata lengkap. Sebuah daypack sekolah, sleeping, kupluk, kaos kaki bola, nesting + kompor paravin, senter dan termos mini.

Sementara yang dikenakan Nusa adalah kaos lengan pendek, celana gunung abal-abal dan sepatu casual. Masih banyak perlengkapan yang tidak persiapkan, seperti raincoat, alat navigasi, obat-obatan & p3k, survival kit hingga sandal ganti. Bahkan pakaian dan khususnya sepatu tidak memenuhi standar minimal pendakian.

Tidak hanya itu, logistik perbekalan yang dipacking ke dalam daypack pun seadanya. Satu cup pop mie, beberapa bungkus mie instan, permen, coklat, air mineral 1L dan 600mL serta air panas pada termos mini. Bayangkan, dengan persiapan yang bisa dibilang tidak cukup matang, Nusa akan mendaki gunung dengan tinggi 3078 mdpl. Gunung tertinggi di Jawa Barat. Semoga saja semesta mendukungnya.

Pukul lima sore, seluruh anggota telah berkumpul di rumah Arya. Selain Awan, Nusa akan mendaki bersama Arya, teman sispalanya juga. Kemudian Iqal, Henry dan Rio yang merupakan adik kelas dan juniornya di sispala. Rio sendiri mengajak 4 orang antek-anteknya. Total ada 10 orang yang akan mendaki.

“Hayu kita berdo’a dulu sebelum berangkat,” ajak Awan yang bertindak sebagai leader pada pendakian ini. “Semoga pendakian kali ini dilancarkan sampai puncak dan dapat kembali pulang dengan selamat. Al-Fatihah.” Semuanya menundukkan kepala dan mulai berdo’a.

gunung ciremai

Memasuki Pos Cibunar, perjalanan mereka diiringi oleh melodi alam. Nyanyian ratusan tonggeret menemani perjalanan malam mereka. Melodi alam seperti ini akan sulit ditemukan jika berada diperkotaan. Namun tidak bagi Nusa. Semasa SMA bersama Awan dan Arya, nyaris setiap akhir pekan mereka mendaki ke lereng Gunung Ciremai. Entah itu ke Cibunar, Lambosir, Kebon Jeruk, Cigenteng ataupun Sorog Jaya. Mereka hiking sekedar untuk menyalurkan hobinya.

Berjam-jam terlewati. Rombongan mereka terpisah menjadi dua. Nusa dan Awan berada di belakang tertinggal dari yang lain. Itu terjadi akibat Nusa berjalan sangat lambat. Musibah tiba-tiba menghampiri Nusa. Sepatu casualnya jebol. Mereka tak menduga hal seperti ini akan terjadi sehingga mereka tak membawa sesuatu yang dapat digunakan untuk memperbaiki sepatu Nusa. Nahasnya. Mereka berdua pun tak membawa sandal ganti.

Pada awalnya Nusa memaksakan berjalan dengan memakai sepatu jebolnya. Namun hal itu justru malah menyulitkan langkahnya. Dipaksa oleh keadaan, dia memutuskan berjalan tanpa alas kaki alias nyeker. Sebuah keputusan yang mau tidak mau harus dilakukan. Pijakan kakinya terkadang masuk ke kubangan air pada cekungan tanah yang seukuran mangkuk. Langkah kakinya menjadi licin dan membuatnya berkali-kali terpleset.

Semakin lama kondisi fisik Nusa semakin menurun. Beban ransel yang digendongnya semakin berat akibat ditambah sepatunya yang jebol. Bukan hanya logistik yang Nusa persiapkan secara tidak matang. Fisiknya yang jarang dilatih kini semakin melemah. Dia memang jarang sekali berolahraga. Satu-satunya olahraga yang dia tekuni adalah sepak bola. Namun itu pun dia lakukan dalam console playstation 2.

Di tengah perjalanan Nusa sempat menyesali keputusannya untuk ikut mendaki. “Ngapain aku ikut mendaki ya. Nelangsa gini. Padahal mah kalau di rumah ini teh lagi tiduran nonton tv sambil ngopi dan nyemil. Ah, nikmat euy!” batinnya membandingkan kondisinya kini dengan kebiasaanya saat di rumah. Dia kembali membatin dan semakin jatuh dalam keputusasaan, “Kalau nanti berhasil sampai puncak, ini bakal jadi satu-satunya pendakianku. Itu pun kalau sampai.”

Mental Nusa lama-kelamaan mulai jatuh. Tak jarang dia mengeluh di perjalanan. “Wan, masih jauh nggak sih? Pegel euy, sumpah. Pengen balik aja aku,” keluhnya pada Awan.

“Udah deket. Sebentar lagi juga sampai. Semangat atuh!”

“He-euh. Tapi istirahat dulu ya,” pintanya dengan wajah memelas.

“Nanti aja kalo nemu tanah yang datar. Jangan pas tanjakan gini atuh. Banyak break mah malah tambah lama entar,” protes Awan karena Nusa terlalu sering minta break.

“Sumuhun, Akang.”

Semakin lama mereka berdua semakin tertinggal di belakang. Awan mau tidak mau harus menemani Nusa. Sebagai seorang leader, dia memiliki rasa tanggung jawab atas keselamatan anggota pendakiannya. Terlebih, dia yang telah mengajak Nusa supaya ikut mendaki. Sebagai sahabat dekatnya, dia tidak bisa begitu saja membiarkan sohibnya terpuruk.

Pikiran Nusa semakin tidak fokus. Fisiknya seolah memberi tanda bahwa sudah mencapai batasnya. Melanjutkan perjalanan terasa begitu berat. Kembali turun pun bukan solusi yang bagus. Mengingat mereka sudah setengah jalan dan hari sudah larut malam. Keluhan demi keluhan terus dia ekspresikan baik secara lisan maupun sikap. Akan tetapi sesering apapun dia mengeluh, Awan tetap setia menyemangatinya. Seolah ingin menjaga mental sahabatnya supaya tidak jatuh.

Ketika tiba di Pos Batu Lingga, semangat Nusa yang telah memudar mulai kembali. Setelah beberapa lama tertinggal, dia dan Awan akhirnya dapat menyusul teman-temannya. Dengan napas memburu, dia merebahkan badan di tanah. “Ada yang bawa sendal nggak? Sepatuku jebol euy.” Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya saat bertemu teman-temannya. Wajar, dia cukup menderita setelah beberapa lama mendaki tanpa alas kaki.

“Ada. Pake punyaku aja nih.” Rio menawari sambil merogoh sandal di dalam ranselnya.

“Kenapa bisa jebol gitu, Kang?” tanya Iqal heran.

“Nggak tau. Udah waktunya masuk museum paling. Kampret emang.” jawab Nusa kesal sambil mengubah posisinya dengan bersender di pohon.

“Dari tadi kamu nyeker atuh, Sa?” susul Arya ikut bertanya.

“Heu-euh.” timpal Nusa singkat sembari meminum air gula yang ditawari oleh anteknya Rio.

“Gelo euy. Nggak kebayang. Kalo aku mah udah minta gendong ke Pak Kuwu.” seloroh Henry sambil melirik Awan. Awan hanya tertawa mendengarnya. Pak Kuwu adalah panggilan anak-anak sispala ke Awan.

Setelah beberapa menit istirahat. 10 pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan. Nusa kali ini tidak berjalan di belakang. Dia berada di tengah rombongan. Tak mau dia tertinggal lagi di belakang. Dan yang paling penting, dia tidak lagi nyeker. Sudah cukup penderitaan yang dia rasakan setelah berjam-jam mendaki tanpa alas kaki. Sebuah pengalaman yang tidak ingin terulang.

Tidak banyak orang mendaki. Sepanjang perjalanan hanya ada satu rombongan pendaki lain yang mereka temui. Padahal mereka mendaki di bulan Juni, waktu yang bagus untuk mendaki karena telah memasuki musim kemarau. Namun kegiatan mendaki gunung memang belum terlalu hype saat mereka mendaki.

Sekitar pukul satu dini hari mereka tiba di Pos Sangga Buana 1. Nusa langsung menyeduh pop mie menggunakan air panas pada termos mininya. Awan dan Arya sibuk menggelar tenda. Henry dan Iqal sedang mengenakan pakaian hangatnya. Sedangkan Rio dan antek-anteknya memasak air menggunakan kompor paravin dan nesting yang dibawa Nusa.

sangga buana

Sebenarnya bukan hanya Nusa yang tidak matang mempersiapkan kebutuhan pendakian. Baik perlengkapan individual maupun team, sebagian besar tidak menggunakan perlengkapan khusus untuk mendaki. Misalnya sepatu. Bukan cuma Nusa yang memakai sepatu casual. Arya, Henry, Rio dan antek-anteknya juga memakai sepatu yang biasa dipakai untuk pergi ke sekolah. Sementara Awan dan Iqal memakai sepatu futsal. Lalu sleeping bag. Dari sepuluh orang yang mendaki, hanya Nusa seorang yang membawa selimut kepompong itu. Yang lainnya malah hanya membawa sarung.

Logistik team lebih parah lagi. Tenda sebagai barang yang wajib dan vital dalam pendakian gunung, mereka hanya membawa 1 milik Awan. Itu pun tenda kapasitas 2 person yang dipaksa dimasuki oleh 5 orang. Awan, Arya, Henry dan Iqal yang mendapat seat. Henry dihitung 2. Sedangkan Nusa, Rio dan antek-anteknya terpaksa harus tidur beralaskan matras, berselimutkan sleeping bag/sarung dan beratapkan langit berbintang. Semoga mereka tidak hypothermia.

Di ketinggian yang hampir menyentuh angka 3000 mdpl, Nusa mencoba tidur dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Tekstur tanah yang tidak rata membuat punggungnya sakit sehingga sering bergonta-ganti posisi. Terpaan angin gunung secara langsung tanpa perlindungan tenda lama-kelamaan membuat suhu tubuhnya menurun. Dia mengakalinya dengan tidur berdempet-dempetan dengan Rio dan antek-anteknya untuk menjaga suhu tubuh supaya tetap hangat.

Nusa mulai memejamkan mata dan mencoba tidur. Rasa lelah setelah mendaki membuatnya dapat tertidur. Namun tetap tak dapat mengusir rasa dingin udara di Pos Sangga Buana 1. Angin gunung terus-menerus menerpa tanpa ampun.

Pukul empat pagi, Nusa terbangun oleh rasa dingin yang luar biasa. Tubuhnya mengigil hingga giginya bergemeletuk. Begitu juga dengan Henry, Iqal dan Awan yang tidur di dalam tenda. Bahkan Arya yang paling kebal, tak kuasa menahan udara dingin di Sangga Buana 1. Sampai-sampai dia menghangatkan diri dengan membakar tablet paravin.

Air mineral yang disimpan pada botol berubah menjadi air kulkas saking dinginnya udara di sana. Roti pun menjadi keras ketika Rio menggigitnya. Seperti telah disimpan berhari-hari di dalam freezer. Bahkan rambut menjadi sangat kaku saat Nusa mencoba menyisir rambut ikalnya. Beku!

Mereka berangkat untuk summit attack meninggalkan Arya yang katanya akan menyusul. Begitu pula dengan Henry dan Iqal yang masih leyeh-leyeh di tenda.

Perjalanan tinggal sedikit lagi. Tinggal Pos Sangga Buana 2, Pos Pangasinan dan terakhir puncak. Begitu kata Awan. Dari 10 orang yang mendaki, hanya Awan dan Arya yang pernah mendaki sampai Puncak Gunung Ciremai.

Baru beberapa menit berjalan. Salah satu anteknya Rio merasa tidak enak badan. Dia ingin turun dan menunggu di camp. Karena kondisinya tidak bisa dipaksakan, dia pun turun ditemani anteknya Rio yang lainnya. Sehingga menyisakan 5 orang yang lanjut mendaki.

pangasinan

Satu jam berlalu. Nusa keluar dari hutan dan tiba di dataran luas yang cukup terbuka. Itulah Pos Pangasinan. Terdapat satu tenda berdiri di sana. Mereka adalah rombongan pendaki lain yang dia temui sebelumnya. Dari sana, Pucuk Gunung Ciremai sudah terlihat.

Sebelum mendaki ke puncak. Mereka berlima memutuskan untuk menyaksikan sunrise di Pangasinan sembari menunggu Arya, Iqal dan Henry. Di ufuk timur, warna kuning kemerahan mulai menerangi gelapnya langit. Sang mentari perlahan mulai menampakkan wujudnya. Nusa tampak begitu menikmati proses terbitnya matahari. Yang membuatnya istimewa adalah karena dia menyaksikannya diketinggian 2800 mdpl.

sunrise ciremai

Nusa merasa menjadi salah satu orang yang beruntung di dunia, sebab tak semua orang pernah menjadi saksi terbitnya sang fajar dari atas gunung. Hal ini pula yang dia idamkan. Salah satu alasan kenapa dia ingin mendaki gunung. “Indah sekali,” ucapnya pelan.

Sementara Rio dan antek-anteknya sudah mulai berfoto. Nusa pun tak ingin kehilangan momen. “Wan, fotoin atuh.” sembari menyodorkan ponsel samsung corby-nya yang dimasanya menjadi ponsel touchscreen yang cukup terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah.

“He-euh, sok sini hpnya.”

“Kamu mau difoto nggak?”

“Nggak ah, udah banyak stoknya. Bosen.”

“Anjir. Ai si eta meni gaya.”

sunrise ciremai

Photo2765

Tak seperti Nusa yang begitu excited melihat sunrise, Awan terlihat datar-datar saja. Wajar ini sudah yang kesekian kali baginya. Sehingga menjadi sesuatu yang biasa.

Perjalanan kembali berlanjut. Puncak Ciremai sudah sangat dekat. Pucuknya dapat terlihat dari Pos Pangasinan. Nusa sangat yakin dapat menggapai puncak tersebut. Tinggal sedikit lagi, mimpinya untuk mendaki hingga ke puncak dapat terwujud. Namun walaupun tinggal sedikit lagi, perjalanan justru semakin berat. Medan semakin menanjak. Jalur tanah mulai berganti menjadi bebatuan sedimen. Udara yang sebelumnya sangat dingin berubah drastis menjadi panas. Bahkan oksigen pun semakin menipis, membuat nafasnya tidak teratur. Meski begitu dia tetap berjuang, dia tak akan menyerah untuk mimpinya.

edelweiss ciremai

Beruntung, selepas Pos Pangasinan merupakan habitat dari pohon edelweis. Konon, bunganya tidak akan layu meski di petik. Si bunga abadi. Bunga itu menjadi penyemangat Nusa. Melihat keberadaan bunga edelweis membuatnya sumringah. Tak ayal, perlu perjuangan besar untuk bisa melihat secara langsung edelweiss yang cuma ada di ketinggian gunung. Sepanjang perjalanan ke puncak, pohon edelweiss mendominasi di sisi kanan dan kiri jalur pendakian. Namun sebagian besar bunganya belum mekar.

samudra awan ciremai

Sekitar jam tujuh pagi, Nusa untuk pertama kali menginjakkan kakinya di Puncak Gunung Ciremai. Gunung yang selama ini hanya bisa dia pandangi dari belakang rumah selama 17 tahun, akhirnya dapat dia daki hingga ke pucuknya. Perasaanya campur aduk antara kesal, bahagia, lega hingga haru. Rasa lelahnya seketika lenyap. Dia sangat bersyukur. Perjuangannya tidak sia-sia, karena kini impiannya telah terwujud.

kawah ciremai

Nusa mengambil posisi duduk di bibir kawah. Sejenak dia terdiam memandangi Kawah Ciremai. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah timur. Didapatinya samudra awan yang berada di bawahnya bak kapas raksasa. Lebih rendah lagi nampak rumah-rumah yang terlihat sangat kecil. Sembari mengagumi Maha Karya Tuhan yang luar biasa indah, dia menyadari bahwa manusia betapa kecil dibandingkan dengan gunung, apalagi dimata Tuhan. Maka apa yang dapat disombongkan dari seorang manusia?

Nusa sering mendengar pendaki yang katanya telah menaklukkan gunung ketika pendaki tersebut berhasil mencapai puncaknya. Namun bagi Nusa itu sebuah pernyataan yang terkesan angkuh dari seorang manusia. Setelah tahu bagaimana rasanya perjuangan untuk dapat menginjakkan kaki di puncak gunung, dia menyadari bahwa bukanlah gunung yang dia taklukkan, melainkan dirinya sendiri.

“It’s not the mountain we conquer, but ourselves.” ~ Edmund Hillary

Keesokan harinya Nusa berbaring di kursi sembari menonton televisi. Dia tertawa mengingat dirinya yang putus asa ketika mendaki. Dia sempat berpikir bahwa pendakian kemarin akan menjadi satu-satunya yang akan dia lakukan. Namun setelah turun gunung, dengan percaya diri dia bertekad bahwa pendakian Gunung Ciremai ini hanyalah permulaan dari gunung-gunung lainnya yang akan dia daki.

Terima kasih untuk seluruh kawan-kawan sependakian, khususnya untuk Awan yang tetap setia menyemangati di kala mental jatuh dan fisik telah mencapai batas.

pangasinan ciremai

Photo2824

kawah ciremai

Coretan tentang kisah perjalanan mencari arti hidup

Leave a Reply