Gunung Parang - Jangan anggap remeh ketinggiannya!

Post

Gunung ini letaknya sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor dari rumah saya di Purwakarta. Tapi selama belasan tahun tinggal di kota tersebut saya baru berkesempatan mendaki pada Maret 2016 lalu. Itu pun setelah ramai di internet yang menggembor-gemborkan tentang tebing parang yang bisa dilalui via ferrata (jalur besi). *korban iklan*

Pertama kali mendaki gunung parang, kami (saya, adik saya, teman adik saya, dan teman saya dari Jakarta) mencoba jalur biasa yang normal (padahal normalnya pun bikin kaki dan badan remuk semua). Gunung parang memiliki tiga puncak berbeda, biasa disebut dengan Tower I yang  memiliki ketinggian 934 meter, Tower II memiliki ketinggian yang hampir sama dengan Tower I serta Tower III yang tingginya lebih landai dari 2 Tower lainnya. Nah, yang kami tuju ini adalah puncak Tower I dimana perjalanan yang kami lalui sangat menguras tenaga. Dari basecamp gunung parang, kami berjalan melewati kebun milik warga dan nggak berapa lama langsung dihadapkan dengan jalur vertikal bebatuan sedang lalu besar-besar *jangan harap ketemu 'bonus' pokoknya*.

Jalur menuju tower I
Jalur menuju tower I

Jangan pernah menyepelekan gunung seberapa pun tinggi gunung tersebut. Buktinya, nafas kami saling memburu dan tersengal-sengal padahal baru lima belas menit berjalan. Tiba-tiba kepala pusing, saya meminta istirahat dan ternyata teman saya pun kelelahan menghadapi jalur vertikal bebatuan ini (enaknya kalau perempuan sendiri dalam rombongan, bisa minta istirahat terus hehehe). Kebetulan waktu itu kami baru mulai mendaki sekitar jam satu siang dimana matahari sedang terik sekali.

 

Salah satu pemandangan saat perjalanan ke puncak Parang
Salah satu pemandangan saat perjalanan ke puncak Parang

Perjalanan kami terus menerus vertikal terkadang harus memanjat menggunakan tali rotan yang sudah tersedia disana (talinya kuat kok, buktinya saya yang berat bisa bergelayutan dengan manja *ehh). Rasanya saya ingin kembali ke bawah saja mengingat daritadi dengkul dan jidat saya sudah saling menyapa di setiap langkah menuju Tower I. Tapi semangat semakin menjadi saat kami sudah menemukan 'Pos Taraje' yang menandakan perjalanan tinggal setengahnya. Berhenti sejenak (padahal udah sering istirahat) sebelum mencapai Puncak Tower I yang jalurnya agak ekstrim berupa bebatuan, turunan terjal yang kanan kirinya jurang, bayangkan jalurnya hanya untuk satu orang saja kemudian untuk tahap akhir memanjat rotan untuk naik ke bebatuan vertikal sekitar 2 meter dan harus agak menunduk agar tidak terkena batang pohon saat sudah mencapai di atas.

Tadinya saya pikir ini sudah puncak, ternyata tebing di depan saya itu puncaknya
Tadinya saya pikir ini sudah puncak, ternyata tebing di depan saya itu puncaknya
20160312_155911
Puncak Parang Tower I

Sampai di atas puncak Tower I saya hanya tercengang... Karena semua yang saya lihat adalah kabut dan awan hitam. Hahahaaa.. tiga jam penuh perjuangan saya bahkan tidak bisa melihat pemandangan dengan jelas dari atas sini *sakiiit rasanya*, tapi tidak lama kemudian terdengar bunyi petir yang menakutkan. Yang membuat kami hanya mampu bertahan di atas puncak sekitar lima menit untuk berfoto dan kembali turun ke bawah sebelum hujan. Belum berapa lama kami berjalan petir menyambar-nyambar dan hujan mulai turun, bersusah payah kami melewati lagi bebatuan vertikal yang saat hujan menjadi sangat licin. Nah, salahnya lagi kita nggak persiapan barang-barang yang biasa saya bawa untuk naik gunung (karena tadinya saya pikir hanya beberapa jam perjalanan saja dan tidak akan hujan). Akhirnya kami sampai di basecamp saat maghrib dan ternyata hanya tinggal kami berempat yang baru turun. *kapok*

20160312_155924
Pertama kalinya naik gunung disambut petir, bukan pemandangan memukau

Setelah kejadian yang membuat kaki dan seluruh badan saya pegal luar biasa, saya yakin akan kapok naik gunung parang. Ehh, waktu teman saya mengajak ke gunung parang melalui jalur ferrata, saya jadi tertarik untuk mencoba. *namanya juga masih labil, kadang suka berubah-ubah* LOL

Gunung Parang via Ferrata
Gunung Parang via Ferrata

Oktober 2016 kemarin akhirnya saya ikutan open trip untuk rock climbing di gunung parang via ferrata. Basecamp pendakian untuk jalur ferrata ini tidak sama dengan jalur yang sebelumnya saya lewati untuk ke Tower I. Saat menunggu giliran sambil memasang perlengkapan safety, hati saya sempat ciut mengingat saya ini sebenarnya takut ketinggian. Ingin rasanya kembali saja ke rumah, tidak jadi menguji nyali saya. Ah, tapi kalau saya tidak mencoba saya tidak akan tahu seperti apa rasanya.

Purwakarta dari atas Tebing Parang
Purwakarta dari atas Tebing Parang

img-20161001-wa0014

img-20161001-wa0030Satu persatu tangga-tangga besi saya pijak dengan hati-hati sambil terus mengganti posisi carabiner pada tali besi yang terpasang di tebing seiring dengan langkah yang terus beranjak naik. Lalu, saat saya memberanikan diri melihat ke bawah... ketakutan itu seolah hilang, pemandangan indah kota Purwakarta terpampang nyata di kedua mata saya. Gunung Bongkok, Gunung Lembu dan Waduk Jatiluhur menjadi latar belakang saya menaiki tangga besi ini. Dengan semangat saya lanjutkan lagi perjalanan. Tak lupa mengabadikan beberapa foto saat berhenti sejenak di spot berupa cerukan mirip goa sambil menikmati sunset.

sunset di tebing gunung parang pic
Menikmati sunset di atas tebing Parang
kota purwakarta dari tebing parang img
Candid - Saat mengabadikan lanskap kota Purwakarta dari spot cerukan tebing Parang
img-20161002-wa0002
Untuk melakukan pose ini, ada ketakutan yang mesti dilepaskan dan keberanian yang harus dikumpulkan.

Saya pikir saat turun mundur melalui jalur tangga besi adalah hal yang mudah, ternyata lebih membuat hati saya berdebar-debar *rasanya kayak lagi mau di putusin sama pacar*. Tenang, kejadiannya nggak perlu lama karena selanjutnya saya harus turun dengan teknik rappeling (teknik ini digunakan untuk medan vertikal menggunakan tali reppel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung. Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun serta menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan turun. *info selengkapnya kalian cari aja di g**gle, hehee). Sayangnya saat saya melakukan rappeling sudah gelap sehingga tidak bisa berfoto. *padahal kan mau pamer, hikkss*

img-20161004-wa0065 img-20161004-wa0076

Jadi, kalau ditanya lebih enak mana? Jalur normal atau via ferrata? Keduanya sama-sama seru, buat pecinta petualangan dan ingin mencoba kedua jalur tersebut, saya sarankan coba dulu jalur yang normal biar sensasinya lebih terasa. Jangan lupa setelah capek mampir dulu makan sate maranggi khas Purwakarta, dijamin lelahnya nggak hilang. Hahahaa iya lah, kan makan buat ngilangin rasa laper, bukan lelah... Wkwk

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.