Gunung Rinjani – Menepati Janji

Jauh sebelum kami bertemu, jauh sebelum kami saling bertanya, dan jauh sebelum kami memutuskan memilih bersama. Ada yang bilang, “bagaimanapun jodoh akan menemukan kekasihnya sendiri, meski di puncak puncak ataupun di kedalaman air”. Penikmat senja dan pecandu kabut pagi

Laju kereta tujuan Kutoarjo bergoncang namun tak cukup membuat Icha, istriku, terbangun dari tidur. Dia sudah lelap sejak 15 menit kereta ini berjalan. Ah, pelor kalau kata kawan-kawan pejalan, nempel-molor. Namun, nilai lebihnya aku tak perlu kerja keras, tak perlu pura-pura perhatian, ataupun berkasih-kasihan seperti jamaknya pasangan yang baru saja menikah.

Kami menuju kampung, menginap 3 hari, kemudian kembali packing. Mengisi perbekalan ke dalam tas carrier, memperkerjakan kembali Osprey miliknya dan Jackwolfskin ku, sama besar dan beratnya. Kembali berkendara tujuan Yogyakarta untuk bersiap terbang menuju Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Gunung Rinjani, mimpi kami berdua. Jauh sebelum kami bertemu, jauh sebelum kami saling bertanya, dan jauh sebelum kami memutuskan memilih bersama. Ada yang bilang, “bagaimanapun jodoh akan menemukan kekasihnya sendiri, meski di puncak puncak ataupun di kedalaman air”. Penikmat senja dan pecandu kabut pagi.

Selasa, 13 Oktober 2016, malam, landing pesawatnya sedikit kurang ajar di Mataram. Aku terbangun dan terpaksa mengumpat, Astagfirullah Djancukk!!, yang tentu saja langsung mendapat sorot mata neraka dari istriku. Untung aku kebal. Tak mengkeret, justru menegang.

***

Mas Ragil, seseorang yang namanya aku kenal dari kawan driver pada perjalanan ke NTB sebelumnya, ada dipostingan sebelumnya itu lhoo, hingga pukul 23.00 WITA belum menjemput kami. Padahal badan yang lelah dan mata sipit sudah mulai tidak bisa kompromi. Akhirnya ku putuskan, sebelum kami tidur berdiri, untuk menyewa mobil menuju Senggigi untuk bermalam satu hari.

Tak lama setelah bebersih, kamar diketuk. Mas Ragil ternyata, setelah berkenalan (ini kali pertama jumpa) dan meminta maaf karena tak bisa menjemput karena ada tugas mendadak dari kantornya, kami mendapat masukan terkait rencana pendakian menuju puncak Gunung Rinjani. Bla bla.. hoamm.. blaa.. hoaam.. konklusinya Mas Ragil berkenan mengantar kami ke pos pendaftaran di Sembalu. Ngualhamdulillah.

Paginya, sebelum istirahat bisa dibilang cukup, Mas Ragil sudah menjemput. Kami segera bersiap, isi packing tas carrier kami biarkan berantakan karena setelah ini masih harus membeli berbagai macam sayur, buah, bumbu dapur, dan minuman sehat di pasar rakyat Mataram. Pendakian bolak balik 5 hari terlalu mengerikan jika hanya didukung oleh logistik supermi dan sebangsanya. Ini bukan pelatihan survival: ini honeymoon. Whuakakakakak.

Butuh waktu hampir tiga jam dari Senggigi menuju Pos Pendaftaran di Sembalun. Melewati jalan yang naik turun, berkelok, dan agak banyak rusaknya. Untung lansekap yang mengiringi kami begitu mengesankan: bukit hijau dengan komposisi sebagian besar berupa savana, persawahan, sungai, dan terakhir menembus hutan hujan.

DSC_0131
Masjid Yang Hendak Dibangun
DSC_0136
Bertani

***

Proses administrasi pendakian Gunung Rinjani yang memakan waktu tempuh cukup lama ternyata tidak rumit, bahkan tidak membutuhkan fotokopi KTP dan tetek ((((TETEK))))) bengek lainnya. Berkebalikan dengan gunung di Jawa Barat yang waktu tempuh masih hitungan jam, justru ribet. Sebut saja G. G**ede Pa**rango (ed.)

Mengingat pendakian ini cukup lama dan carrier dipunggung tidak mungkin menampung seluruh logistik, akhirnya M. Ragil mengenalkan kami ke salah satu porter yang sangat banyak di kawasan Sembalun ataupun Senaru. Sebut saja namanya M. Mawar (sumpah saya lupa namanya).

Jika biasanya sewa porter berarti seluruh atau minimal sebagian besar pergeseran perlengkapan dan logistik menjadi tanggungjawab porter, maka kami memutuskan M. Mawar hanya membawa sebagian logistik makanan yang kami bawa sedangkan perlengkapan survival dan sebagian makanan tetap kami bawa secara pribadi.

Cari susah?? tidak juga, kawan. Mendaki tidak hanya perkara bagaimana menikmati, tapi justru bagaimana mengelola batas fisik dan kebatinan. Beratnya carrier dan lelahnya lutut tak pernah mengkhianati rasa sejati. Jika memang rasa itu yang kau cari dari setiap langkah perjalanan.

Apalagi mahluk yang bernama porter: meskipun ndaki ndak pakai sepatu bahkan alas kaki, hanya bermodalkan sarung selembar untuk melawan dingin, dan kadang badan bisa disebut kurus kering, lututnya sudah mirip kambing gunung di Pegunungan Andes. Sudah pasti kami tertinggal.

‘Kan ya ndak lucu taiyee, kalo logistik berhasil sampai puncak tapi kitanya malah mati lemes di tengah perjalanan karena ndak bawa makanan. Sekali lagi, manajemen logistik menjadi sangat penting dalam perencananan pendakian. Cam kan itu! Eh kok galak,..

1
Proses administrasi G. rinjani ada di sini
DSC_0134
Motor Penduduk

***

Pukul 13 Siang WITA, Sembalun, setelah pembagian dan packing logistik selesai kami berpamitan dan berterimakasih kepada M. Ragil. Beliau kembali menawarkan untuk menjemput di Plawangan Senaru yang merupakan titik akhir langkah pendakian. Tentu saja tawaran tersebut terlalu indah untuk di tolak. Pokoknya terimakasih, Mas.

Langkah dimulai kawan, cuaca panas. Sangat terik malahan. Hanya angin yang kadang kala memberi ruang-ruang kesejukan bagi tengkuk dan kepala. M. Mawar masih santai merokok di saung. Persetan dengan Kambing Pegunungan Andes lokal itu, kami duluan.

Trek pertama kami tanah kering, khas wilayah NTB dan NTT yang sebetulnya meranggas. Kontur lumayan naik turun, melelahkan meskipun terlalu berlebihan jika dibilang menyiksa. Lutut masih bisa bergerak berirama, mulut kami tak henti bercerita, dan bernyanyi tentu saja. M. Mawar belum keliatan, ahh mungkin langkahnya tidak secepat yang kami kira.

Ngooeng… Ngoooengg,,

Tiba tiba motor trail ngebut di samping kami yang sedang duduk istirahat. Aku dan istri saling pandang ketika pengendara menawari ojek hingga pos I. Tawaran tersebut kami tolak halus dan ditanggapi tersenyum oleh mas mas nya. Kemudian kembali bertanya “kenapa lewat sini? ini jalur motor? treknya batu batu dan sedikit curam.”

eek, baru sejam udah salah jalan. Pantes M. Mawar ndak keliatan, wong kami salah jalan ternyata. Jangan jangan kambing gunung itu sudah leha leha di pos satu. Minum beer dan berpesta pora dengan peri gunung (apalah ni!). Berhubungan jarak yang harus kami tempuh ketika putar balik cukup menjadi PR, PR banget malah. Kami bersiap siaga saja untuk melanjutkan trek ini. Tuhan bersama kami.

Mas mas ojek melanjutkan perjalanan, kami pun demikian. Tap tap tap, setengah jam kemudian lembah savana muncul, indah sekali, jalur motor terlihat di sana sini. Meski ndak merusak, tapi bikin sedikit lubang-lubang di sepanjang jalur. Bagai jerawat di muka dik Maudi Ayunda. Dan benar kata mas mas itu, setelah savana jalur kami melewati jalur batu yang mendaki. Cukup berat, bahkan kami masih dipertemukan oleh Tuhan dengan mas mas ojek itu lagi, dia kepathet, eh bahasa indonesianya apa ya, pokoknya motor nya itu kepleset di antara dua batu. Ndak bisa naik. Kami dorong sampe keringet sebesar kacang ijo keluar. Terus keluar hingga motor terselamatkan. Fix, tenaga kami terkuras sebelum jalur batu berhasil didaki.

Singkat kata, setelah langkah kaki kecil berjalan, berhenti, tarik napas, jalan lagi, sampailah kami di puncak bukit batu. Dan di sana mas mas ojek itu sudah menunggu sambil cengengesan, kembali menawari kami ojek. Istriku kembali menolak secara halus. Kemudia dia berlalu meninggalkan kami berdua. Menyepi di sini.

Kami duduk sebentar menikmati pemandangan hijau, matahari sudah tidak begitu terik, mungkin sekitar pukul 15.00 WITA. Ehm, kelelahan sebenernya yang dibalut dengan desepsi romantis. Jeprat jepret.

Setelah menenggak berapa teguk air dan sedikit roti kami melanjutkan perjalanan. Pemandangan semakin luar biasa, surealis. Mengisi tenaga yang mulai kepayahan. Kami mencoba menjaga ritme, meski harus diakui travelmate ku saat ini sering offside, harus sering diingatkan biar ndak kebablasan jauh di depan (Oke, dibanding istri harus diakui aku jauh lebih keong).

Gunung Rinjani
Suka?
Gunung Rinjani
Bunga Ilalang RInjani
Gunung Rinjani
Savana di Sepanjang Perjalanan

Padang ilalang semakin lama semakin kurangajar indahnya, ditambah pula dengan acara turun kabut pula. Indah yang bertambah tambah. Istriku semakin sering offside, Sudahlah!. Sesekali dia berteriak minta di foto dari belakang. Jeprat jepret dan selanjutnya ketawa. Saya merenungi nasib, bagaimana saya swafoto kalau kamera masih DSLR. Tapi tak apalah, lebih baik tidak ada diri jika ndapuranmu merusak lansekap yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di kalender-kalender pembagian Bank- Bank.

Sore mulai jatuh, dan seperti biasa, mistisisme ku muncul. Melewati jembatan tua dengan tebing-tebing tinggi tertutup ilalang. Menuju sepetak tanah yang ternyata sudah ditunggui lutut sang Kambing Pegunungan Andes lokal dan 3 kawan dari Tanah Pasundan.

Hanya ada 3 tenda berdiri yang terlindungi tebing tanah kering. Di atas kami terdapat ladang savana dengan luasan yang cukup untuk mengadakan pasar malam. Tempat yang memang biasanya dipakai untuk mendirikan tenda bagi pendaki karena ada sumber air. Mungkin karena kami mampu sampai sebelum malam di pos III, kami tidak melihat pendaki lainnya.

Benar saja, saat saya bercengkrama dengan M. Mawar dan 3 kawan dari Pasundan. Beberapa lampu senter pendaki mulai terlihat. Uluk salam kepada kami, kemudian mendirikan tenda di lahan luas itu. Hanya butuh waktu sebentar, sebelum kantuk menyerang. Pukul 22.00 WITA, aku menyerah. Masuk tenda, menarik sleeping bag, kemudian tertidur.

***

Pagi, pukul 05.00 WITA, istriku masih tidur.

Sebagai pecandu fajar, tak mungkin ku sia siakan mentari pertama di lembah Tiga Dara, ya tepat dibelakang tenda-tenda yang mulai hidup, terhampar gundukan savana dan lembah khayal. Benar benar luar biasa.

Fajar memerah kembali memilih terbit tanpa merangkai kata-kata

melembutkan hati-hati yang disesaki asap industri penghasil kesombongan

mencipta persaingan

meneguhkan perang

demi berlanjutnya kesejahteraan: kata mereka

Aku memilih berdiam,

mengingat sendi-sendi cipta Prof. Hamka

betapa keluasan ilmu sekitab, duakitab, ratus hingga ribuan kitab

seharusnya memadikan diri,

merendah ke tanah, menuruni lembah,

Warna kuning emas menyapu hingga titik terjauh mata. Aku berjalan pelan tanpa alas kaki, menyentuh tanah tanah keras. Menghisap udara kuat-kuat kemudian disimpan dalam dada sekuatnya. Kawan, selain keluarga, rimba seperti ini yang selalu aku syukuri. Setelah cukup lama terdiam, mulai potret beberapa gambar. Bersyukur kembali.

Gunung Rinjani
Tenda kami, D ipinggir Jurang
Gunung Rinjani
Pagi Yang Indah Sekali, Kata Koes Plus
Gunung Rinjani
Samping Bukit 3 Dara

Perempuan ku memanggil mengingatkan jika sudah ada teh panas dan secangkir kopi. Aku tersenyum dan menuju tenda.

Setelah makan pagi dan membereskan tenda, kami melanjutkan perjalanan dibersamai teman-teman dari tanah Pasundan yang dengan segera meninggalkan jarak. Mas Mawar sudah jalan duluan seperti biasa. Panas mulai menyengat saat jam tangan Ripcurl ku menunjukkan pukul 09.00 wib. Sedikitnya ada 6 bukit yang harus dilalui sebelum kami tiba di Plawangan. Bentang alam yang kami lewati hampir sama dengan hari kemarin, mendaki ilalang dan pohon-pohon berdaun runcing.

Pendakian 6 bukit, para pendaki jamak menyebutnya bukit penyesalan, benar-benar menguras tenaga dan keringat, tanah padat dan tanah pasir berganti-ganti. Selesai satu bukit, bukit kedua muncul, bukit kedua kelar, bukit ketiga cengar cengir. Begitu terus sampai bukit ke enam. Sumpahh, bagus banget buat difoto tapi sepet buat diinjek.

Berulang kali aku harus berhenti, membasahi kerongkongan dengan sedikit air putih. Bersikap ruku’ untuk melonggarkan tas carrier agar punggung bisa bernapas dan terpapar angin dingin. Tak lupa berucap ‘jangkrik!’.

Istriku? Di hari kedua dia masih saja offside – meninggalkan daku terseok seok.

Gunung Rinjani
Pendakian 6 Bukit, Aku Terseok Seok
Gunung Rinjani
Kadang Kabut Mendadak Turun
Gunung Rinjani
Pokoknya Hijau

Sekitar pukul 15.00 wib, kami sampai titik datar dimana para banyak pendaki becengkrama. Sagara Anakan beberapa kali terlihat sebelum kabut kembali menutupnya. Ya, ini Plawangan Sembalun. Tempat bermalam favorit pendaki sebelum melakukan summit attack puncak Gunung Rinjani.

Jalur datar ini memanjang hingga trek awal summit. Kebanyakan tenda pendaki Gunung Rinjani berada di sisi kanan jalur demi mendapatkan view Segara Anakan. Nun, disana Mas Mawar melambai-lambai menunjukkan tenda kami yang sudah berdiri. Kaki-kaki pegal kembali bersemangat melangkah, pengen buru-buru lepas sepatu, minum teh hangat, dan kemudian rebahan sambil menunggu senja datang.

Luar biasa kawan,

Angin dingin tiba tiba turun. Mengetuk kain-kain tenda, membangunkan mata yang sedang tidur-tidur ayam. Dengan sedikit mengantuk, aku keluar tenda. Istriku sedang berdiri di pinggir gigir Jalur Plawangan. Melihat kabut yang sedang bergerak, berputar putar, mengintip air hijau biru di bawah. Danau di atas awan yang sedang kemayu, merayu pendaki untuk menggoda dan terpesona.

Aku pun, sama, tergoda dan terpesona.

Porter Telanjang Kaki
Porter Telanjang Kaki
Gunung Rinjani
Tenda Pendaki
Awan Mengintip dari Ruang Ruang Tenda
Awan Mengintip dari Ruang Ruang Tenda

***

Tak terasa gelap pun jatuh,

Diujung malam menuju pagi yang dingin,

Hanya ada sedikit bintang malam ini…

(Payung Teduh: Untuk Perempan yang Sedang Dalam Pelukan)

Ahh,, tidak. Malam belum terlalu matang dan kali ini penuh ribuan bintang. Sorak ramai para pendaki bercampur beragam bahasa. Berjalan menggandeng perempuanku, menikmati gelap kemudian mencari semak semak.

Grasa-grusu, sudah di pucuk, mencari sela sela sepi di lereng hitam dan kemudian terjungkal gegara tersangkut ranting pohon mati. Betis ku bengkak demi panggilan alam.

Aku kebelet eek !

Sudah itu saja cerita di malam kedua.

***

Pukul 03.00 wib, aku menuangkan coklat panas ke termos kecil untuk bekal. Istriku memasukkan beberapa potong roti, sebotol air putih, baterai, dan beberapa buat obat darurat ke daypack. Tak lupa ku selipkan tali harness di sela sela jaket, siapa tau berguna. Sebentar lagi kami akan melakukan summit ke puncak Gunung Rinjani, tenda ditunggui oleh M. Mawar yang sedang tidur pulas.

Setelah berdoa sejenak, kami mulai melangkah. Jaket semakin direkatkan, dingin yang menusuk. Senter senter pendaki mulai bersahutan, mereka pun beranjak menuju puncak Gunung Rinjani. Jalan tanah dengan gulir gulir dalam menjadi petunjuk perjalanan, berkelok kelok, disamping kanan dan kiri jurang.

Banyaknya pendaki membuat langkah kami kadang berhenti, debu akibat gesekan pasir dan sepatu membuat cahaya senter seperti terbentur kabut. Jika ada matahari, tentu debu-debu ini terlihat cukup tebal dan perlu dikhawatirkan mengganggu pernapasan.

Terus berjalan, namun setiap setengah jam berhenti untuk minum. Udara malam dan angin yang sangat dingin seperti saat ini membuat rasa haus tersamar padahal disaat yang sama cairan dalam tubuh terus terkuras.

Jalur tidak banyak berubah, hingga perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Aku menyebutnya puncak bayangan. Ketika kalian mendaki kemudian menyorot lampu senter ke atas dan terdapat batas, kalian serta merta akan menganggapnya sebagai puncak. Itulah yang terjadi di Gunung Rinjani. Lampu senter menyorot batas, yang berarti ada tanah datar di atas. Dan ternyata, begitu menapak tanah datar. Maka perjuangan baru di mulai.

Tanah berubah menjadi batu kerikil setengah kepalan tangan. Matahari mulai muncul namun ujung puncak Gunung Rinjani pun belum terlihat. Beberapa kali mulai melihat pendaki yang kembali, tidak melanjutkan perjalanan mungkin karena kaki yang sudah mulai kelelahan.

Istriku berada di depan, karena jalur yang tidak terlalu lebar, cukup berbahaya jika dari arah berlawanan meluncur pendaki lain yang turun. Gigir gigir jurang, saat itu, terlihat sangat menakutkan.

***

Gunung Rinjani
Bahkan Puncak Pun Belum Terlihat
Gigir- Gigir Savana
Gigir- Gigir Savana
Jurang Menganga Sebelum Puncak
Jurang Menganga Sebelum Puncak

Perempuanku menangis kemudian memeluk. Menangis kelelahan dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Sosok yang dua hari berturut turut kemarin selalu offside, meninggalkan ku terseok, kini hampir menyerah. Ku balas peluk erat dan coba kuatkan hatinya. Tali harness ku ambil dari sela jaket kemudian ku ikat ke pinggang melingkar bahu istriku. Kemudian ku dorong agar kembali berjalan pelan.

Kadang masih berhenti, kembali mengeluh. Namun, terus ku dorong untuk terus berjalan. Bukan apa apa, bukan juga memaksa. Ada perbedaan jelas antara batas fisik dan batas kemauan. Aku masih bisa melihat dengan hampir sempurna bahwa istriku masih memiliki fisik yang prima, hanya kemauan dan semangat mulai menurun akibat puncak Gunung Rinjani yang rasa rasanya jauh sekali.

Aku pun lelah, tapi setiap hentakan langkah kaki yang senantiasa mundur 1 langkah mengingatkan ku pada pendakian summit Mahameru. Saat itu aku mendaki dalam kesendirian, jalur summit sangat sepi. Keputusan untuk terus mendaki ataupun kembali semuanya gelap. Sangat gelap. Dan akhirnya aku memutuskan untuk terus mendaki walau tidak ada sinar senter pendaki lain.

Jika saat itu aku merdeka untuk memutuskan mendaki atau memilih turun, di Gunung Rinjani aku tak lagi sendiri. Aku bertanggungjawab atas jiwa manusia lainnya. Tanggungjawab mengantarkan seorang perempuan mencapai titik tertinggi Gunung Rinjani meski pun harus ku papah dan ku gendong.

Cerita Lain: Family Trip Gunung Krakatau

Puncak Gunung Rinjani
Perempuan Di Puncak Rinjani
Puncak Gunung Rinjani
Yah berdua
Anjani
Anjani

Dan semua berbalas,

Tanah datar dengan luka kaldera kaldera yang menganga. Ku sebut Dewi Anjani.

***

Turun dari puncak, tengah hari, pukul 12.00 WITA.

Cuma laki-laki yang suka naik gunung dan mampir ke museum. Kadang kadang motret.

Leave a Reply