Ibu Kartini Hingga Horog-Horog Jepara

Horog-horog Jepara

Dulu aku pernah menggerutu, kenapa jarang orang yang tau Jepara, kota kelahiranku?
Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sangat jarang sekali di televisi yang memberitakan tentang kota tempat tinggalku ini.

Saat aku SMP, aku tinggal di asrama di Kota Kudus. Orang bertanya, “Lulu darimana asalnya?”, “Jepara”, jawabku. Temanku dari luar kota yang tidak tau Jepara banyak yang mengatakan kalau Jepara itu di Jawa Timur.

Ketika aku SMA juga kuliah di Yogyakarta, pun banyak juga temanku yang dari luar jawa bertanya, “Jepara itu mana? Lampung?”, ‘hei. di Lampung itu, Way Jepara”, jawabku.
Begitu miris, kataku. Seberapa pelosok kah kota kelahiranku ini?

ketika pertanyaan seperti di atas tadi bermunculan, aku biasanya hanya menjawab, “kota kelahiran Ibu Kartini”, dan mereka baru ingat.
Jepara memang bukan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jepara merupakan kota ukir, juga terkenal dengan wisata baharinya. Namun, disini aku tidak ingin membahas tentang ukiran atau pantai-pantai yang ada di Jepara.

Aku bangga menjadi perempuan Jepara, karena aku memiliki panutan perempuan yang telah tercantum pada deretan pahlawan Nasional, Ibu Raden Ajeng Kartini. Sebagai wanita Jepara sendiri, seolah-olah menjadi tuntutan buatku untuk selalu berusaha menjadi seperti Raden Ajeng Kartini, untuk menjadi perempuan pewaris beliau.

Mungkin Ibu Kartini menjadi salah satu aset yang dimiliki oleh Kota Jepara untuk dikenal oleh Indonesia. Coba saja kalau tidak ada beliau yang dilahirkan di Jepara, mungkin Jepara tidak akan dikenal oleh masyarakat Indonesia yang berada nan jauh di pulau sana.

Kuliner Khas

Nah, yang akan aku bahas di sini adalah kuliner andalan Jepara. Mungkin akan terdengar asing di telinga kalian, namanya Horog-horog. Entah ini makanan atau minuman sejatinya, aku juga tidak tahu. Uniknya, makanan ini bisa dijadikan keduanya. Two in one. Ya, makanan. Ya, minuman.

Makanan ini terbuat dari sagu, bertekstur kenyal, dan gurih tentunya. biasanya makanan ini dijadikan sebagai pelengkap masyarakat Jepara untuk makan bakso, pecel sayur.ketika dijadikan minuman hangat, bisa dicampur dengan santan. So Yummy! Horog-horog bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional Jepara.

Proses pembuatan horog-horog pun relatif rumit, perlu proses berulang kali dari pencucian, pengeringan, penggorengan, serta pengukusan sehingga memperoleh horog-horog bercita rasa gurih.

Mitosnya,
Lezat atau tidaknya hasil bergantung pada hati yang membuatnya. Keikhlasan hati pembuat horog-horog sangat menentukan kualitas produk sementara jika si pembuat sedang kesal atau marah maka produknya menjadi gagal. Selain itu, pembuat juga harus bersih diri. Pembuat horog-horog hendaknya bersih secara fisik, khususnya tangan. Jika tangan masih menyisakan bau amis dan memaksakan untuk mengolahnya maka hasilnya akan cepat membusuk. Kemampuan yang dimiliki oleh pembuat horog-horog belum tentu bisa menghasilkan produk yang enak dinikmati. Sebab, lezat atau tidaknya hasil bergantung pada hati yang membuat. Keikhlasan hati pembuat horog-horog sangat menentukan kualitas produk sementara jika si pembuat sedang kesal atau marah maka produknya menjadi gagal. Selain itu, pembuat juga harus bersih diri. Pembuat horog-horog hendaknya bersih secara fisik, khususnya tangan. Jika tangan masih menyisakan bau amis dan memaksakan untuk mengolahnya maka hasilnya akan cepat membusuk.

Uniknya lagi…
Horog-horog ini pernah menjadi sajian salah satu hotel berbintang lima di kota Bandung, ketika peringatan hari kartini, 21 April.

Cerita Lain: #ingetkampung – Selalu Rindu Moment di Desa Semanding

Pahlawan Nasional Perempuan dari Jepara
Horog-horog Jepara
Tampilan horog-horog ketika dicampur sebagai pelengkap pecel sayur

I'm writer and dreamer.

Leave a Reply