INDONESIA DIBALIK ARJUNO

Post

Kau bisa lupa dengan setapak jalan dan kerikil yang kau lalui, namun kau tak akan lupa dengan keramahan warga yang kau kunjungi di Indonesia!

Satu alasan yang paling aku pegang untuk tetap bercita-cita berkelana nusantara yaitu aku tidak ingin menyisakan banyak pertanyaan mengenai Indonesia yang tak mampu kujawab kepada anak-cucuku kelak.

Mulai aku berkenalan dengan beberapa tempat di Indonesia sejak di bangku kuliah. Lokasi kampung halaman dan tempat kuliah yang berbeda pulau membuat aku mengalami shock culture untuk beberapa waktu. Mulai dari makanan hingga tutur sapanya sangat berbeda dengan kebiasaan masyarakat di tempatku yang kemudian menghasilkan banyak tanya. Rasa penasaranku terhadap keberagaman tersebut perlahan terjawab dengan materi-materi yang kudapat di bangku kuliah.

Pengalaman disengat daun peureus (erepteup) di Bodogol, digigit Pacet di Situ Cileunca, dikerubungin nyamuk di Kawasan Mangrove Subang, disengat terumbu karang di Karimunjawa, terbanting di Tebing Citatah, berenang di dinginnya Situ Lembang merupakan pengalaman fisik yang tak terlupakan. Namun, dari beragam pengalaman tersebut, yang nyaris sama adalah bagaimana ramahnya perlakuan penduduk lokal terhadap pengunjung, seperti pertalian marga yang berakhir dengan tawaran menginap gratis di cottage pinggiran Danau Toba, tour gratis di Karimunjawa, tumpangan gratis ketika ekspedisi gua di Rumah Mang Nani di Desa Cikarang, tuak gratis di Sidebuk-debuk, tour aman,ramah, nyaman dan murah di Lamandau, dll. Walaupun demikian, tetap saja ada beberapa pengalaman yang saya anggap sial dan kejam seperti penipuan dan percaloan di sepanjang perjalanan pulang dari pendakian Semeru. Tak banyak, sehingga pengalaman sial tersebut tertutupi oleh cerita-cerita menyenangkan dari perjalanan yang lain seperti pada kisah pendakian Gunung Arjuno.

Gunung Arjuno

Gunung yang merupakan tertinggi ketiga di Provinsi Jawa Timur ini berada di kawasan perbatasan Kabupaten Malang dengan Kabupaten Pasuruan dan Kota Batu. Gunung Arjuno ini berada dalam kompleks Pegunungan Arjuno-Welirang yang terdiri dari beberapa puncak yaitu Puncak Gunung Kembar 1 dan 2, Ringgit, Arjuno dan Welirang. Puncak utama dan tertinggi adalah Gunung Arjuno (3.339 mdpl). Diantara gunung-gunung tersebut, hanya Gunung Arjuno dan Welirang lah yang memiliki aktivitas vulkanisme sementara gunung lainnya merupakan gunung parasit atau gunung yang terbentuk disekitar gunung api karena adanya pembelokan magma namun tak mencapai permukaannya.

Kompleks Pegunungan Arjuno-Welirang
Kompleks Pegunungan Arjuno-Welirang

Dengan fokus menuju Puncak Ogal-Agil di titik tertinggi Arjuno, aku dan seorang teman merencanakan pendakian. Pendakian dapat melewati beragam jalur, seperti jalur Tretes dan Purwosari di Kabupaten Pasuruan, jalur Lawang di Kabupaten Malang, dan jalur Cangar di Batu. Masing-masing jalur mempunyai tingkat kesulitan dan panjang lintasan yang berbeda-beda. Secara singkat, jalur terpanjang adalah jalur Lawang sementara itu jalur yang tingkat kesulitannya tinggi adalah jalur Tretes. Walaupun demikian, jalur Tretes dan Purwosari jalur ini termasuk jalur favorit di kalangan pendaki. Bagaimana dengan jalur Cangar?

Pendakian Jalur Cangar
Berangkat dari Kediri, jalur yang terdekat merupakan Jalur Cangar yang dapat ditempuh selama 4 jam. Dari antara sekian banyak jalur pendakian Gunung Arjuno, jalur ini merupakan yang paling sedikit referensinya. Surfing di google pun tak menghasilkan banyak informasi. Walaupun demikian, itu tak membuat kami ragu untuk memilih jalur tersebut. Siang kami habiskan dalam perjalanan dan menjelang senja kami tiba di Taman Hutan Raya R. Soerjo dan langsung mengurus ijin pendakian di pos tersebut. Pegawai pos, Pak Riyanto memberi denah perjalanan menuju pos pertama di kertas formulir pendakian kami sebelum kami mengingat kami akan melewati perkebunan yang luas dengan setapak yang ruwet.

Seperti yang telah diinstruksikan sebelumnya, kami pun menitip kendaraan di salah satu rumah warga yang terdekat menuju pos pertama. Ternyata jarak dari Pos Tahura menuju rumah warga itu cukup jauh untung saja niat memarkirkan kendaraan di Pos Tahura tadi dibatalkan. Setelah ijin menitipkan kendaraan, kami memulai langkah pertama menuju gunung. Untuk melewati perkebunan ternyata menyita waktu cukup lama, untung saja kebaikan lainnya datang menghampiri. Ketika sedang berjalan, Pak Heri yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput hasil kebunnya menawarkan kami tumpangan serta bersedia untuk menjadi kompas menuju tujuan pertama kami.

Setelah memarkirkan mobil disekitar lahan kebunnya, beliau mengantar kami menuju pintu pendakian perbatasan hutan dan perkebunan. Tidak semulus yang kami duga, ternyata sangat sulit untuk menuju pos pertama dari perkebunan ini karena sebelumnya ada jalur yang telah dijadikan kebun sehingga beliau kebingungan mencari jalur. Trekking melewati kebun-kebun wortel selama satu jam baru akhirnya dari kejauhan pondok kayu tujuan kami itu terlihat. Setelah menunjuk ke arah pondok itu, beliau pamit karena ingin mengantarkan hasil panen sebelum terlalu malam. Setibanya di pondok, kami memutuskan untuk mendirikan kemah disekitar kebun karena hari sudah gelap dan itu adalah keputusan yang sangat bijak mengingat jalur pendakian via cangar tergolong tak jelas.

Pagi subuh-subuh sekali, kami terbangun Karena aktivitas petani yang mulai ramai dan sangat tak diduga kami bertemu lagi dengan beliau yang mengantar kami kemarin. Setelah sarapan, kembali kami pamit kepada beliau yang kemudian memberikan kami sejumlah wortel dari kebunnya untuk bekal di perjalanan. Sungguh tulus dan berharga apa yang telah beliau berikan, bahkan sebelum berpisah, beliau berpesan agar menyempatkan diri mampir di rumah setelah turun gunung. Tak dapat dipungkiri selama aku melakukan pendakian, selalu ada kebaikan yang kudapat dari warga lokal yang ramah.

Bersama Pak Heri dan istri serta mobil yang mengantarkan kami dari titik awal pendakian hingga batas perkebunan dan hutan, tak tanggung-tanggung mereka juga memberi bekal wortel dari kebunnya. Terimakasih pak, bu..
Bersama Pak Heri dan istri serta mobil yang mengantarkan kami dari titik awal pendakian hingga batas perkebunan dan hutan, tak tanggung-tanggung mereka juga memberi bekal wortel dari kebunnya. Terimakasih pak, bu..

2

Hutan Lali Jiwo
Perjalanan pun kami mulai dan tak lama kemudian jalur itu mengantarkan kami masuk ke Hutan Lali Jiwo. Mendengar namanya, bagi yang mengerti tentu saja akan merasa ada ketakutan untuk memasuki hutan tersebut, begitu juga dengan partner pendakianku yang merupakan orang Jawa. Lali Jiwo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai lupa jiwa. Lebih rincinya lagi kata tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan kejadian dimana orang-orang dirasuki jiwanya oleh ‘yang lain’ sehingga lupa dengan jiwa yang sebelumnya. Menurut warga memang hal mistis itu benar terjadi, beberapa cerita mengatakan pernah ada pendaki yang kerasukan di hutan tersebut, sehingga itu kita diminta harus sopan dan jangan lupa berdoa selama perjalanan.

Secara fisik, Hutan Lali Jiwo merupakan hutan hujan tropis dengan vegetasi dominan berupa pohon Cemara Gunung. Selama perjalanan, seringkali kami melihat beragam burung yang bersiul sekenanya. Pantas saja tempat ini menjadi tempat favorit untuk berburu burung dan hal tersebut telah menjadi perhatian serius dari pengelola hutan mengingat daerah ini merupakan kawasan konservasi.

Hutan ini dimulai dengan jalur landai kemudian diikuti jalur yang curam dan dihiasi jurang pada salah satu tepinya. Banyaknya jurang pada jalur ini yang kemudian menyebutkannya juga sebagai jalur Jurang Kwali Karena secara administratif berada pada Desa Kwali. Semakin lama memasuki hutan, semakin banyak terlihat pepohonan yang gosong dan tumbang. Kebakaran di gunung ini lumayan sering terjadi sehingga menjadi hal yang lumrah terlebih ketika kemarau berkepanjangan. Hampir setiap tahun dipastikan ada laporan kebakaran di gunung ini, bahkan tak tanggung-tanggung satuan wilayah yang kebakaran mencapai puluhan hektar. Dengan kondisi yang demikian, haruslah menghindari pendakian di musim kemarau terutama di bulan Juli hingga Oktober.

9-lali-jiwo
Hutan Lali Jiwo

Watu Tumpuk
Sepanjang pendakian via Cangar, kami banyak bingung dan berdiskusi mengingat jalur tidak terlalu jelas dan tertutupi rumput setinggi leher. Selain itu, plang yang bertuliskan arah pendakian juga banyak yang ngawur, mungkin sengaja dibelokkan oleh pendaki lain, sehingga harus waspada dan teliti. Jika pendakian jalur purwosari terkenal dengan kemistisannya karena melewati candi dan peninggalan-peninggalan lainnya, jalur Cangar terkenal seram karena ketidakjelasan jalurnya. Perjalanan saat terang saja masih ada kemungkinan untuk tersesat apalagi saat gelap.

Semakin menuju ke ketinggian, semakin renggang dan pendek vegetasi di Gunung. Setelah melalui beragam ciri khas hutan, kini kami berada di pos Watu Tumpuk (Jawa: batu bertumpuk). Di pos tersebut memang terlihat jelas banyak sebaran dan tumpukan batu-batuan yang besar. Dataran hijau dengan medan cenderung landai membuat jalur ini merupakan jalur bonus setelah melewati hutan yang curam berjurang.

Pos Watu Tumpuk
Pos Watu Tumpuk

Tengkorak Sapi dan Area Cantigi
Melewati tumpukan batuan, kami pun dihadapkan di pertigaan dengan dua jalur. Jika memilih lurus, dengan langsung kami akan menuju Gunung Welirang, namun kami harus mengambil langkah ke kanan karena ingin menuju Gunung Arjuno. Pertigaan yang sudah diperkirakan sebelumnya cukup mengagetkan kami dikarenakan tepat disitu, kami menemukan susunan kepala dan tulang sapi yang dibentuk menyerupai ‘X’. Entah apa tujuan spesifiknya, namun kami hanya menduga itu sekedar tanda agar berhati-hati.

6
Tanda Tulang, Tanda X, Tanda Waspada

Dari pertigaan tersebut, kami melewati medan yang cukup terjal dan diselilingi beberapa lubang yang mengeluarkan uap panas yang telah ditutupi dengan susunan ranting. Sangat mungkin, ini adalah salah satu peringatan dari tanda tengkorak sebelumnya agar berhati-hati dengan lubang-lubang panas yang membahayakan. Tidak terlalu banyak, hanya sekitar empat lubang yang kami lihat di sekitar jalur, tidak menutup kemungkinan masih ada yang lainnya yang terletak jauh dari jalur. Uap panas yang keluar dari lubang itu kami manfaatkan sebentar untuk menghangatkan telapak tangan karena sebelumnya kami dibasahi rintikan hujan orografis di perjalanan. Selain lubang, rekahan dari beberapa dinding batuan juga menjadi celah uap panas bumi untuk mencapai permukaan bumi.

Dibantu dengan batang dan akar pepohonan, kami melewati tanjakan di zona tersebut dan memasuki zona pohon cantigi. Cantigi, merupakan pohon khas yang tumbuh di area dingin dan berada di ketinggian lebih dari 1.500mdpl. Pohon ini menjadi teman akrab orang-orang yang sering mendaki gunung karena kebanyakan gunung di Indonesia mempunyai area cantigi.

Dari landainya kawasan pepohonan cantigi, kami dihantarkan menuju area sabana nan luas yang menjadi lembah diantara kedua Gunung Kembar yaitu Lembah Lengkean. Pada sebelah kiri ketika menuju Arjuno, itu adalah Gunung Kembar1 dan diseberangnya adalah Gunung Kembar 2 . Dikarenakan daerah bayangan hujan, area ini hanya didominasi oleh rerumputan.

Area Cantigi
Area Cantigi

Duka di Lembah Lengkean
Lembah Lengkean ini menjadi tempat bersemayamnya salah dua anggota organisasi Pecinta Alam di daerah Surabaya, pria dan wanita ditandai dengan susunan batu yang mengelilingi ubin bertuliskan nama. Hal tersebut mengingatkan agar jangan menganggap sepele tempat-tempat yang tampak aman.

Berdasarkan informasi yang diberitahukan pak penjaga pos, diduga, wanita yang menjadi korban sedang menstruasi dan membersihkan diri disekitar lembah tersebut dengan jarak yang cukup jauh dari kumpulannya. Rupanya, setelah lama menunggu, wanita tersebut tak kunjung muncul sehingga memaksa yang lainnya mencari. Salah satu kawanannya yang melakukan pencarian tersebut adalah lelaki yang juga menjadi korban susulan. Selang beberapa hari dari kejadian tersebut, baru mayat tersebut ditemukan. Sejak kejadian, wanita yang sedang menstruasi dilarang keras untuk melakukan pendakian di kompleks pegunungan ini dan biasanya hal tersebut walaupun tabu, penjaga pos tetap menanyakannya untuk mencegah korban-korban berikutnya.

Lembah Lengkean
Lembah Lengkean

Sudah lewat waktu Ashar, kami masih ditengah-tengah perjalanan di jalur yang hanya berlebar sebadan, masih berada di pinggiran badan gunung dengan jurang di sebelah kiri. Kiri dan kanan kami dihiasi dengan pohon-pohon pinus dan sesekali celana tersangkut dan kulit tergores pada tanaman berduri yang terdapat diantara rumput-rumput.

Pukul 5 sore, kami akhirnya dapat tempat yang cukup untuk mendirikan tenda dan membuat perapian. Lagi-lagi kami dikejutkan dengan lubang besar setelah sebelumnya telah melihat dua lubang pada kiri dan kanan jalur yang tak jauh dari Lembah Lengkean. Kali ini, lubangnya jauh lebih luas, hampir seluas lapangan bola dan kami berkemah tepat disampingnya. Uniknya, lembah tersebut dibatasi oleh dua punggungan disisi lainnya. Bentuk ini mengingatkan pengalaman ketika berada di Ranu Kumbolo. Kalau saja lembah yang mungkin kawah itu terisi air, maka ini akan persis dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru.

3
Pendakian lebih dari 10 jam tanpa menemui satu orang pun sepanjang pendakian membuat perjalanan terasa semakin melelahkan. Namun, ketika rembulan merekah diantara kedua punggungan tersebut, rasa lelah pun seakan hilang. Terlebih ketika malam semakin larut, jutaan bintang yang tergabung dalam Bimasakti perlahan kian benderang. Hal tersebutlah yang menjadi alasan utamaku untuk naik gunung, sebab jutaan bintang semakin susah dinikmati dari pemukiman padat penduduk akibat polusi cahaya yang dihasilkannya.

3.339 mdpl
Sesuai rencana, subuh betul harus bangun dan harus segera muncak. Feeling mengatakan sih, puncak tak jauh lagi dari sini. Jam 4 pagi, kami telah bersiap untuk masak dan menggabungkan logistik summit berupa cemilan, minuman dan barang berharga ke dalam satu carrier sementara logistik lain dan tenda ditinggalkan. Satu jam kemudian, setelah sarapan kami siap untuk melangkahkan kaki kembali.

5
Sunsrise di tengah summit attack

Kabut bergerak dengan cepatnya, dua jam setelah kami berjalan melewati beragam bukit baru Puncak Welirang terlihat sejajar dengan pandangan kami dengan asap terlihat mengepul sejalur menyamping dari puncaknya dan di barat daya terlihat perbukitan yang meruncing yang menjadi ciri khasnya Gunung Kelud. Sementara itu, Puncak Ogal-Agil masih terlihat jauh dibalik punggungan-punggungan.

Welirang dan aktivitas vulkanisnya menjadi penghibur dalam perjalanan menuju Puncak Ogal-Agil
Welirang dan aktivitas vulkanisnya menjadi penghibur dalam perjalanan menuju Puncak Ogal-Agil

Akhirnya, kami bertemu dengan pendaki lain dan dari sini juga sudah dekat dengan titik triangulasi Gunung Arjuno. Tampak oleh kami beberapa orang yang melambai-lambai di puncak. Tak sesuai dugaan, ternyata orang-orang tak banyak. Padahal hari ini weekend! Apa memang gunung ini kurang tenar? Padahal untuk pendaki yang mengejar ketinggian, gunung ini seharusnya berada dalam list mereka.

Hampir pukul setengah 9, kami tiba di Puncak Ogal-Agil. Puncak ini dihiasi dengan batu-batu besar sehingga perlu hati-hati saat melangkah agar tidak menginjak batu yang rentan terlepas. Titik triangulasi Arjuno ditandai dengan kumpulan tiang-tiang yang saling menopang dan ditegakkan diatas semen yang telah kaku. Semen dihiasi dengan koin-koin rupiah sementara tiang ditancapkan bersama Merah Putih dan plat seng bertuliskan “TOP Mt. Arjuno 3.339mdpl”.

Top of Arjuno!
Top of Arjuno!

Melepas pandang ke timur, terlihat puncak para dewa yang menjulang tinggi, didahului
oleh Bromo yang tinggal kaldera. Ya, dilanjut dengan Semeru yang gagah! Sementara itu view di selatan, terlihat beberapa pendaki dalam perjalanannya menuju puncak melewati jalur Purwosari yang sangat curam. Puas menikmati irama alam dari atas ini, kami harus bersiap turun, menarik carier dan berjalan gontai menuju desa.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tampak dari Puncak Arjuno
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tampak dari Puncak Arjuno

Terimakasih Nusantara!
Tersesat di hutan sudah biasa. Parahnya, kali ini tersesat di perkebunan yang telah kami lewati sebelumnya.

Tengah hari, kami bersiap turun setelah merilis tenda dan menyusun segala logistik di dalam tas gunung. Sesampainya di batas hutan dan perkebunan, sinar rembulan telah mengganti surya. Merasa sudah aman dan dekat dengan jalan pulang, kami menyumbang sisa logistik kepada pendaki lain yang bertemu di tengah jalan. Beberapa jam kemudian, kami menyesali keputusan tersebut karena kami tersesat di perkebunan dengan setapak yang bercabang yang siap mengantarkan ke jurang, kolam pestisida, dan kebun lainnya tanpa kunjung memberi tanda masuk ke perkampungan dan berjalan dengan kondisi lapar mengenaskan.

Kaki yang sudah tak kuat melangkah memaksa kami untuk mendirikan tenda segera dengan kondisi perut tragis. Bayangan akan nasi padang yang telah direncanakan sebelumnya sirnalah sudah, kini tersisa hanya 300ml air di botol plastik itu. Kami terpaksa harus menikmati ngantuk dan lapar diatas lahan yang kosong dengan bau pupuk kompos berada tak jauh dari kami.

Sebelum matahari terbit, raungan si anggun (angkutan gunung) membangunkan kami. Langsung saja kami berkemas dan berusaha menjangkau para petani yang terlihat tak jauh. Wajah kelaparan dan penampilan yang dekil membuat mereka iba dan menawarkan santapan mereka sembari memberi petunjuk jalan. Sebenarnya, sangat ingin sekali menyantap makanan yang mereka tawarkan itu, namun tentu saja itu akan membuat mereka kelaparan ketika sedang bertani nanti. Jadi niat itu kami urungkan!

Senang rasanya kembali lagi ke jalanan ini. Mampir ke warung adalah cita-cita sejak pagiku yang sadar. Sesampainya di warung, bukannya malah meminta bayaran, mbah pemilik warung memberi dua bungkus roti bersama minuman hangat yang diambil dari dapurnya untuk kami. Selain itu, tetangga di depan rumah mbah mengajak kami masuk ke rumahnya untuk sarapan. Bahagiaku semakin tak terkira karena orang-orang baik ini. Baiknya lagi, ibu tersebut meminta kepada suaminya agar mengantarkan kami ke tempat kendaraan diparkir, karena jaraknya yang cukup jauh. Hanya doa kepada Tuhan yang dapat kami lakukan atas balasan kebaikan mereka. Semoga wajah pribumi yang demikian tak lekang oleh waktu, sekalipun jaman kini telah meleburkan banyak kultur.

Terimakasih bu, Terimakasih Nusantara!
Terimakasih bu, Terimakasih Nusantara!

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.