#Ingetkampung, Inget Dieng

Ini bukan pertama kalinya aku ke Dieng, kampung halamanku. Sebuah desa yang namanya diambil dari Bahasa Sansekerta, yang berarti tempat tertinggi atau tempatnya dewa-dewi. Berada di ketinggian sekitar 2000 mdpl, Dataran Tinggi Dieng menawarkan hawa sejuk pegunungan serta pemandangan alam yang tidak kalah dari Pegunungan Alpen sekalipun. Pantas saja Dieng sering dijuluki Swiss dari Timur.

 

Entah ini kali keberapa aku datang ke Dieng, tapi tidak pernah sekalipun merasa bosan. Selalu saja ada rasa rindu dan haru. Dan dalam kunjungan mudik tahun ini, aku kembali mengunjungi tempat-tempat favoritku selama berada di Dieng, Negeri di Atas Awan.

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan di Dieng selain mengawali hari dengan menikmati matahari terbit dari puncak Bukit Sikunir. Pukul 4 pagi merupakan waktu yang tepat untuk memulai pendakian. Rutenya tidaklah sulit. Jalan setapaknya mudah dilalui dengan petunjuk arah yang jelas. Dalam 30 menit, aku sudah mendapati diriku di puncak tertinggi Bukit Sikunir. Berlatarkan pemandangan Gunung Sindoro, Gunung Prau, dan Gunung Lawu berselimut kabut tipis serta semburat cahaya keemasan dikejauhan, rasanya setimpal dengan perjuangan bangun pagi dan olahraga pagi.

Bukit Sikunir

Selain Bukit Sikunir, Dieng juga terkenal dengan kawah vulkaniknya yang masih aktif. Kawah Sikidang namanya. Diambil dari Bahasa Jawa, kidang artinya kijang. Dinamakan demikian karena lava panas yang berada dalam dasar kawah kerap terlihat meloncat tinggi ke udara seperti kijang. Sungguh suatu pertunjukkan alam yang spektakuler.

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Kawasan Kawah Sikidang ini didominasi dengan hamparan tanah tandus disertai beberapa lubang kawah menganga. Sungguh kontras dengan pemandangan sekelilingnya yang rapat ditumbuhi pepohonan hijau. Rasanya seperti berada di bulan. Eksotis sekaligus fotogenik. Tak heran jika tempat ini tidak pernah sepi pengunjung meski di hari biasa sekalipun.

Kawah Sikidang
Hamparan tanah tandus di Kawah Sikidang

Tempat lain yang mesti disambangi adalah Batu Ratapan Angin atau disebut juga Batu Pandang Dieng. Merupakan kumpulan 2 buah batu yang bertumpuk di atas bukit dekat Dieng Plateu Theatre. Posisinya yang tinggi terkadang menimbulkan suara desis seperti orang meratapi kesedihan saat ada hembusan angin kencang. Barangkali itulah yang menyebabkan tempat ini dinamai Batu Ratapan. Sedangkan sering disebut Batu Pandang karena dari atas sana dapat terlihat jelas pemandangan ikonik telaga warna.

Batu Pandang Dieng

Pemandangan di Batu Pandang Dieng

Telaga warna juga merupakan tempat yang tidak boleh terlewat saat berada di Dieng. Telaga ini terkenal akan keindahan warnanya yang dapat berubah-ubah setiap waktu, tergantung cuaca, sudut, dan jarak pandang. Kadang bewarna biru, hijau, putih kekuningan, bahkan bewarna warni seperti pelangi. Bergantung kadar sulfur di dasar telaga. Saat terkena sinar matahari, akan terjadi pembiasan cahaya yang bercampur dengan endapan sulfur sehingga tercipta permukaan telaga warna yang bewarna warni

Telaga Warna
Telaga Warna

Terakhir, kunjungan di Dieng tidak akan lengkap jika belum mengunjungi Kompleks Candi Arjuna. Candi yang beraliran Agama Hindu ini diperkirakan dibangun pada Abad ke 9 oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Berderet berurutan dari utara ke selatan, terdapat Candi Puntadewa, Candi Sembrada, Candi Srikandi, dan Candi Arjuna yang paling selatan. Sementara Candi Semar yang berada persis di depan Candi Arjuna merupakan candi pendamping. Hingga kini pun, Kompleks Candi Arjuna masih sering digunakan Umat Hindu untuk beribadah.

Candi Arjuna
Candi Arjuna
Pemandangan Candi Arjuna

Itulah sepenggal kisah mengenai tempat-tempat favoritku selama berada di kampung halamanku, Dieng. Meski kunjungan kali ini terasa singkat, tetapi memberi kesan mendalam. Sampai berjumpa lagi Dieng!

#ingetkampung, #ingetdieng

 

Instagram : @williamkellye

Field Engineer / Diver / Travel Blogger

Leave a Reply