#ingetkampung | Medan-Simalungun Mendadak Ingin Pulang

Inget Kampung? Sebelumnya, aku akan kenalkan ke kamu, kabupaten Simalungun merupakan surganya destinasi wisata air terjun, mengapa demikian? Sejauh ini mungkin kamu mengenal Sumatera Utara hanya dari kota Medan saja, atau logat obrolan orang Medan yang terkadang asal celetuk dan terkesan kasar. Filosopi durian, berduri di luar namun manis di dalam, mungkin seperti itulah orang Medan, apakah benar adanya?

Namun perlu di ingat, jika kamu punya teman dari kota Medan belum tentu dia berasal dari kota Medan, hanya saja terkadang mereka terlalu malas untuk mengenalkan kampung halaman mereka. Dan lagi, kota Medan sudah mahfum di benak banyak orang. Karena, aku pun demikian, asal dari kabupaten Simalungun namun ngakunya dari kota Medan bila ditanya orang lain dari luar daerah Sumatera, alhasil orang – orang mengira danau toba itu dekat dengan kota Medan, padahal tidak sama sekali.

Dari kota Medan menuju kabupaten Simalungun, sederhananya harus mengunakan alur transportasi darat melalui ragam kota yang menyimpan banyak keunikan, menyimpan banyak rindu tiap mereka yang merantau nan jauh. Di awal perjalanannya, akan dikenalkan dengan kota Tanjung Morawa yang menyimpan Desa Wisata Sejuta Tanaman, selanjutnya dipertemukan dengan kota Lubuk Pakam dengan Taman Buah, semakin menarik bertamu di kota Tebing Tinggi menikmati jajanan Lemang yang masih panas, dan akan dijamu di kota Pematang Siantar oleh banyak jajanan khas seperti Roti Ganda, di penghujung perjalananku maka tibalah di desa Balimbingan kecamatan Tanah Jawa kabupaten Simalungun. Dari sini bulan seperti berbeda, malam penuh bintang terasa panjang, rindu pun bermula di sini dengan segala magisnya.

Air Terjun Hatonduhan

Simalungun Negeri Surganya Air Terjun

Hampir di semua sekitaran kabupaten Simalungun terdapat banyak titik-titik pemandian air terjun yang dikelolah secara tradisional, sehingga masih terlihat asri. Beberapa ada yang belum dikelolah namun akses menuju air terjun tersebut sangat sulit dan fasilitasnya pun tidak memadai, tidak ada toilet, dan sebagainya. Namun beberapa orang memburu titik air terjun yang seperti itu, jauh dari keramaian. Di dekat rumah, ada satu air terjun yang tidak terlalu ramai walau sudah di kelolah baik; yaitu Air Terjun Hatonduhan. Hanya 15 menit dari rumah, jika pulang ke kampung halaman, ini adalah tempat wajib yang saya kunjungi, untuk sekadar bermain air, atau mengenang rindu.

Kenang itu berkecamuk di waktu luang

Rutinitas seperti candu yang menyenangkan, bahkan meluangkan waktu untuk sekadar mengenang rindu, pun harus kucing-kucingan dengan keegoisan. Padahal jika berdamai saja sejenak, aku dan kamu akan memilih untuk pulang ke kampung halaman beberapa hari, membayar rindu yang sudah tertumpuk, seperti tagihan listrik yang lupa bayar dan hampir dicabut paksa. Tega, kata yang tepat jika rindu sudah berkecamuk.

Masa Kecil yang Terabaikan

Beberapa orang menikmati kenangan mereka di masa kecil, bermain di halaman rumah dengan kawan sebaya, membedil guli dengan jari mungil, berlarian kejar mengejar angin, dan banyak hal menakjubkan yang layak untuk dikenang. Masa kecil tidak demikian, mungkin sesekali ada bermain tapi tidak terlalu kentara di ingatan, karena terlalu banyak nama teman masa kecil yang harus aku ingat, tidak sedikit wajah mereka yang sudah terlupa. Masa kecilku terbilang nomaden, berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya dan berakhir di Medan, sejak si ayahanda memutuskan menjual rumah warisannya di tahun 1997 entah untuk apa. Entah, untuk, apa.

Mendadak Ingat Kampung, di-SMS Orang Tua

Pastinya sudah merebak fenomena mama minta pulsa, tapi apakah kamu pernah dapat sms dari si ibunda, “kapan pulang kampung?”. Pesanan singkat yang seketika membuyarkan aktifitas, seakan sekitaran menjadi samar seperti bokeh hasil karya foto DSLR. Bisa dibilang, aku terlalu jarang untuk pulang kampung, mungkin selama setahun hanya 1 atau 2 kali, itu pun kalau ibunda mengingatkan. Nah, mendekati lebaran ini entah sudah dapat berapa kali pesan singkat bernada serupa.

Seketika lupa, dan seketika lagi ingat, ingat kampung, ingat perjalanan yang melelahkan, perjalanan yang penuh perjuangan. Badan ini tidak bisa menerima kenyataan, bahwa kota Medan menuju Simalungun hanya memakan waktu perjalanan 4 jam. Rasanya seperti berhari-hari, walau supir bus sudah kebut-kebutan, tapi tetap saja, aku merasa perjalanan ini cukup jauh. Pening, mual, kedinginan, badan pegal, hampir meriang, tapi tetap saja tidak kapok untuk pulang.

Tapi lelah di perjalanan terbayarkan. Yang buat selalu rindu dengan kampung halaman saat lebaran itu, masakan mie gomak ibunda kadang bisa sampai 3 piring sekali makan, rombongan anak kecil dengan obor berjalan kaki menggemakan takbir ke seluruh desa, dan sunyi heningnya malam yang terasa lama, sesekali jangkrik bersenandung.

credit: sjbuzz

Mie Gomak kadang lebih dikenal dengan spaghetti batak, kuliner khas satu ini primadona di daerah Simalungun dan kota Siantar. Sangat nikmat dengan kuah lontong, atau sekadar sambal cabai pedas ditabur di hidangan mie gomak. Di rumah aku, mie gomak adalah sebuah sajian wajib di hari – hari penting seperti lebaran. Sehingga menjadi tradisi kecil dalam keluarga.

credit: toba times

Satu lagi, berkeliling desa menggunakan obor dan menggemakan takbir merupakan tradisi yang terbilang seru. Karena, di sini semua anak – anak akan keluar dengan baju muslim terbaik mereka, ada yang bedaknya tebal tak merata, ada juga yang usil mengganggu teman lainnya, dan banyak lagi hal yang membuatnya berkesan.

Mungkin tulisan ini terlalu panjang pengantarnya, yang ingin aku sampaikan adalah, jangan lupa untuk pulang kampung. Sedikit cerita tentang kampung halaman di kabupaten Simalungun.

Tulisan ini untuk mereka yang lupa pulang kampung, dan terima kasih terkhusus bang jimmy sudah berbagi rindu kampung halaman, untuk rudi yang rindunya terlalu sederhana, dan untuk kamu yang sudah merekomendasikan wadah kepenulisan ini.

hanya blogger yang berusaha konsisten dalam menulis

Leave a Reply