Jatuh Hati di Ranu Regulo

Persiapan menuju Semeru sudah kupersiapkan dengan matang. Perjalanan dari Surabaya menuju Semeru pun kamu mulai. Kurang lebih memakan waktu 5 jam, karena rombongan kami banyak istirahat di perjalanan. Namun, lamanya perjalanan kami tidak menurunkan semangat pendakian. Pasar Tumpang pun sudah terlihat, saatnya membeli keperluan logistik untuk berkemah di Semeru.

Tidak lupa kami cek kesehatan di puskesmas terdekat, hampir tergesa-gesa karena jam tutup puskesmas hanya sampai jam 3 sore saja. Surat sehat pun kami dapatkan, namun banyak suara pendaki yang lalu lalang “Pendakian ke Semeru masih ditutup, Mbak, Mas” Mataku langsung membelalak, seakan hati ini kecewa, amat sangat kecewa. Waktu cuti kerja, perlengkapan yang sungguh matang akan berakhir sia-sia. Pendakian kala itu ditutup karena masih ada korban yang tersesat di Semeru dan belum ditemukan. Apa daya, kami langsung mencari tujuan pengganti si cantik Semeru.

dscf0673

Akses Menuju Ranu Regulo, tempatnya tidak jauh dari Ranu Kumbolo. Bisa dikatakan Ranu Regulo anak dari Ranu Kumbolo. Tepatnya di Ranupani, Lumajang, Jawa Timur. Jalanan menuju Ranu Regulo masih bisa dicapai menggunakan motor, ataupun mobil, bahkan truk. Hari hampir gelap, matahari mulai turun, dan kabut pun mulai tebal. Gerimisi tipis-tipis menghidupkan suasana romantis. Tiba sudah perjalanan kami di Ranu Regulo, cantik. Aku dan kawan-kawan pun mulai membangun tenda. Di sini sedikit sekali pendaki yang mendirikan tenda. Hujan pun turun dengan deras, suara alunan lagu dari kawan-kawan tak berhenti bernyanyi. Gitar pun beralun dengan merdu di dalam tenda. Kami menikmati malam di Ranu Regulo.

r2

Pagi di Ranu Regulo, matahari terbit dengan malu-malu karena tertutup embun. Kabut tebal masih menyelimuti Ranu Regulo, dingin yang aku rasakan. Aku dan kawan-kawan mengitari Ranu Regulo, hunting foto adalah suatu ibadah bagiku. Ya, mengabadikan moment. Cantik sekali Ranu Regulo, memang benar semua yang diciptakanNya selalu indah. Jika kalian di sini, jangan lupa menyusuri Ranu Regulo, kalian akan menemukan danau yang berbalut rumput di tepinya, pohon nan hijau dikemas sangat menawan. Setelah mencari spot yang cantik untuk foto, kemudian masak dari bekal logistik kami.

r3 r4 r5

Hidup di alam, jangan melulu makan makanan yang serba instan, itu yang saya tanamkan. Ya, anggap saja kami masak besar, ada teh hangat penawar dingin, tumis kacang, ikan pindang, tempe goreng, ayam kecap, capcay, roti telur. Hmm aromanya sangat menggoda, apalagi pisang goreng yang kami masak.

Satu hari kami sudah berlalu, esok harinya kami hanya mempunya waktu setengah hari sampai siang saja. Sebelum pulang, kami memuaskan diri bermain hammock yang bisa digantungkan di pepohonan. Semilir angin berhembus tipis, waktu tidak terasa sudah siang. Hari pun di mana tiba kami untuk pulang dan meninggalkan si cantik Ranu Regulo, ya aku cukup jatuh hati di sini karena kabut tebal dan embun yang menyelimuti rerumputan.

r6

Masih kuingat perjalanan di Ranu Regulo hingga bermalam, dan pulang aku tidak memakan uang banyak. Cukup bensin dari kota asal, kemudian membeli logistik di pasar Tumpang untuk 5 orang sekitar 250 ribu selama dua hari satu malam, biaya parkir per/hari 5000 rupiah untuk satu kendaraan.

O, ya jika kalian ada waktu menuju Regulo, jangan lumpa menghampiri Gunung Bromo, dan berwisatalah sepuas kalian! Keep exploring!

 

Tabik, semoga bermanfaat ^ ^

 

 

Blogger #TimGolonganDarahAB kalau gak jalan-jalan, ya makan-makan

Leave a Reply