Jelajah Karimun Jawa

img_2328
Yuk, ke Karimun Jawa !

Kalau biasanya saya ngetrip ala-ala koper, trip saya kali ini masih tahap amatir backpacker. Ini pertama kalinya saya ikut open trip, karena diajak temen traveling ya nggak mau nolak :P. Destinasinya Pulau Karimun Jawa, dengan minimal 10 orang.

Kenalkan teman trip kali ini, Nova, dia sahabat kuliah sampai sekarang, dan dua teman baru Irma dan Eno (mereka teman sekantor Nova). Seperti biasa kami rencanakan trip ini jauh hari, beli tiket kereta Ps. Senen-Semarang Tawang PP, sampai hitung estimasi biaya selama di sana. Kalau biasanya saya yang pusing hitung rencana anggaran biaya dan kontak sana-sini, kali ini santai karena sebagaian besar diurus mereka bertiga (senyum princess).

Jakarta – Semarang

Saya naik kereta ekonomi Brantas jam 16:00 sore (hanya Rp 86.000,- tiket termurah di jadwal), walaupun mau berangkat agak ada insiden kecil saat naik ke kereta di menit-menit akhir. Hehehe saya selalu anggap insiden ngetrip adalah bonus cerita luar biasa. Perjalanan Jakarta-Semarang tepat 7 jam, pukul 23:00 sampai Semarang.

Sebenarnya meet point trip di Pelabuhan Kartini Jepara, tapi karena semua pesertanya dari Jakarta termasuk guidenya, sepakat kita sewa ELF ke Pelabuhan Kartini (@Rp 100.000,-/orang PP).  Selama menunggu jam 04:00 pagi, kami memutuskan “numpang menginap”di Mushola stasiun Tawang, ya pertama kali nginap di Mushola. 2 orang tidur 2 orang terjaga, ganti shift sampai subuh datang.

Lagi-lagi insiden kereta si guide kami yang jebol diesel, sehingga kereta delay 2 jam. Ketakutan si mbak guide adalah kita ketinggalan ferry penyebrangan ke Karimun pertama jam 06:00 pagi. Benar saja, kita masuk ELF jam 05:00, sedang perjalanan Semarang-Pelabuhan Kartini 2 jam, pasti tertinggal dan perjalanan ferry berikutnya 2 jam kemudian.

Karena saya tipe orang yang nggak panikan dan selalu berpikir pasti ada solusinya, ya saya tidur aja sepanjang jalan, sesekali terbangun karena supir ELF yang salip kanan terus, tapi bonus ciamik melihat mentari pagi di Jepara. Oiya, di ELF ini saya bertemu peserta open trip yang lain, total peserta 10 orang + 1 guide + 1 fotografer.

Pelabuhan Kartini Jepara – Pulau Karimun Jawa

Benar saja ferry pertama sudah berangkat, solusi mbak guide kami naik kapal cepat, jelas lebih mahal dan lebih cepat sampai. Pembelian tiket berdasarkan KTP, tiket kapal cepat Rp 150.000,-/orang, 2 jam sampai Pulau Karimun. Bandingkan dengan ferry seharga Rp 80.000,-/orang perjalanan 4 jam.

Selesai sarapan mie instan, saya masuk kapal cepat tanpa kursi. Maksudnya, nggak seperti bis dan kereta yang mulai tertib 1 tiket 1 kursi, di kapal laut jangan protes kalau harga tiket sama tapi nggak dapat kursi. Saya dapat tempat di deck belakang, anginnya sepoi-sepoi. Tunggu sampai kapal ini mengarungi lautan ! hm…

Seperti namanya, kapal ini melaju bak ontang-anting, bukan badan aja yang goyang, tapi air laut muncrat kanan kiri. Saya memutuskan masuk ke ruang dalam, Alhamdulillah karena beberapa penumpang kursi penasaran sensasi kecipratan air laut mereka keluar deck, hore saya dapat kursi !. Saya Cuma nggak mau ambil resiko, kurang tidur, basah air laut dan kehujanan, tambah goyang ngeri-ngeri sedap itu namanya cari penyakit sedangkan trip belum dimulai. Saran saya, yang mabok perjalanan, siap minum antimo dan setelahnya minum tolak angin, petugas kapal juga dengan sigap membagikan kantong kresek gratis untuk jackpot. IYKWIM

Pulau Karimun Jawa

Kapal mulai berjalan normal, saya melongok dari jendela terlihat daratan disertai langit mendung, yap tepatnya hujan. Saya kembali ke deck, melihat teman-teman yang kuyup dengan ekspresi linglung. Kadang traveling bukan sekedar mengambil tantangan, tapi keputusan cerdas (hehe padahal saya juga sering salah perhitungan).

Mata saya berkeliling pelabuhan Karimun, lautnya tosca tapi hujan. Ini pertama kali saya ngetrip ke pantai dan hujan, sedang itinerary menunggu diceklis. Banyak cerita yang saya dengar kalau gelombang laut di Karimun Jawa itu sering tinggi, dan cuacanya tidak bisa dipredikasi. Saya sempat ngobrol di kapal dengan orang asli Karimun, kalau ini hujan pertama setelah beberapa hari panas menyengat.

Welcome snack menyambut di dermaga, gorengan dan teh panas, sempurna.

Kami diantar mobil bak terbuka menuju homestay. Seperti halnya pulau terpencil, di Karimun Jawa listrik menyala jam 18:00-05:00 WIB tapi info terbaru PLN sudah dibangun di sana dan sedang masa uji coba full service, mayoritas makanan laut, sulit sinyal dan hilang menjelang tengah malam, dan untuk makanan karena masih di Jawa lidah masih cocok.

Rumah saya selama di Pulau Karimun Planet Snorkel Homestay, Rumah Jawa kuno sisi depan sebagai toko cinderamata dan penyewaan snorkel dan sisi belakang kamar-kamar sewa. Recommended untuk tempat menginap, 6 kamar 2 orang dan 2 kamar mandi.

img_2079
Teman berpose depan homestay.
img_2075
kamar homestay untuk 2 orang dengan fasilitas kipas angin.

Rencana setiba di Karimun Jawa, kami menuju pantai dan Bukit Love. Tapi hujan deras tidak kunjung reda sampai sore, kami berempat hanya tidur seharian, ya kami memang kurang tidur.

Malam hari hujan berhenti, mbak guide mengajak kami ke alun-alun Pulau Karimun. Alun-alun itu sebuah lapangan luas dan berjejer gerobak dagangan di sisinya. Tukang Kerang, ikan bakar, bakso, roti bakar, baju oleh-oleh, dll macam pasar malam di gang Jakarta.

Bukit Love

Ceritanya mau lihat sunrise, tapi mendung jadi trekking aja. Bukit Love ini ternyata awalnya hanya bukit semak biasa, lalu inisiatif pemuda Karimun Jawa yang melihat potensi daerahnya membuka lahan, membuat, dan membangun spot atau icon photoable, salah satunya tulisan LOVE besar. Selain itu ada sangkar burung dari ranting, patung ikan, patung tulisan Karimun Jawa, pokoknya instagramable bangetlah. Biaya masuk Rp 10.000,-/orang dan free air mineral atau teh pucuk.

Disini mereka menjual spot kece untuk foto dan view laut dari atas bukit yang emang udah kece. Saya dukung inovasi mereka sebagai cara daya tarik wisata di daerahnya.

img_2085
Tulisan ini asal muasal nama Bukit Love.
img_2096
Manusia dalam sangkar burung.
img_2128
Jangan sampai lewatkan foto di sini.
img_2138
Spot foto tertinggi di Bukit Love, wajib coba !
img_2136
Laut, hutan, dan Merpati = sempurna.

Penangakaran Hiu Karimun Jawa

Menyebrang sebentar dengan kapal dari Karimun Besar, saya sampai di Penangkaran Hiu. Awalnya saya ragu nyemplung ke kolam hiu atau nggak, selain takut, juga kepikiran, “bener nggak ya kalo kita manusia ganti-gantian nyemplung, cuma karena keegoisan kita selfi ?!”. Tapi penasaran saya membawa raga ini nyemplung, hiunya jinak lebih ke bodo amat, makanya si pawang hiu coba memancing (lebih tepatnya ngeledek) si hiu pakai umpan yang diikat ke tali dan diarahkan ke kita, lagi-lagi untuk kebutuhan selfi. Maaf ya yu!

img_2162
Penangkaran hiu diantri selfie.
img_2416
Cekrek !

Oiya kalau mau foto satu-satu dengan biota laut seperti ikan buntal, bintang laut, dan  ikan batu cukup bayar Rp 25.000,-/orang.

It’s time to snorkelling ! Biasanya Cuma kecipak-kecipuk aja di atas air, eh si mbak guide manggil untuk foto underwater bareng nemo. Saya sih big no, karena harus lepas pelampung dan saya nggak bisa nyelam. Tapi saya sempat dibimbing si mbak guide lihat ke spot nemo, wow banget lihat langsung nemo bermain di habitatnya !

Pulau Cemara Kecil

img_2181
Pulau Cemara Kecil.

Ya, pulau ini ditumbuhi pohon cemara. Pulau kecil ini berpasir putih dan berlaut tosca. Kami makan siang di pulau ini dengan menu ikan bakar dan sambal mentah, wihh mantap kali ! Tengah menyantap makan siang, hujan kembali turun, kami kocar-kacir meneduh di warung kecil. Umpel-umpelan dengan turis lokal dan asing.

Si mbak guide hujan-hujan malah ngajak berenang di pantai, katanya hangat. Bener loh, airnya malah anget, mungkin karena suhu air hujan lebih dingin dari air laut. Gelombang lautnya juga lebih santai, jadilah kami kecipak-kecipuk di pantai.

img_2324
Menggila bersama kawan.
img_2296
Di tapal batas.
img_2217-12
Menikmati sepoian.

Saya kembali diantar ke spot snorkelling kedua, gerimis jadi hal biasa selama kami berkeliling Karimun Jawa. Karena hujan, air laut agak meninggi, air laut agak keruh karena minim sinar matahari, gelombang juga lumayan kencang. Saya sebenarnya agak sangsi mau snorkelling karena kondisi begitu.

img_2415
Biar gerimis tetap siap nyemplung.

Si bapak pengemudi kapal negur saya, “kenapa mbak nggak berenang?”.

“Saya takut pak, gelombangnya tinggi dan gerimis juga,” jawab saya.

“Nggak apa-apa mbak, yuk tak anter ke sana !”. dengan logat jawanya.

Hah?! Si bapak ini baik banget ! Antara kasihan atau ngelarang saya ngelewatin momen snorkelling di Karimun. Si bapak nyemplung dan membimbing saya dan satu teman saya ke spot snorkelling, matur nuwun nggih pak !

Di sinilah yang menjadikan open trip saya kali ini berbeda dengan sebelumnya, si mbak guide yang sadar saya aja yang belum nyelam foto underwater  langsung diburu. Si mbak guide ini menatap mata saya, memberi sugesti kalo saya bakal safety selama buka life jacket, dan dia akan dorong ke dalam laut. Apa yang membuat berbeda, si mbak guide ini bela-belain bantuin demi saya punya foto underwater, so cool sis ! dan itu nggak saya dapat di trip terdahulu.

img_2490
Like a pro kan !

Pulau Cemara Besar

Ini jadi pulau hinggap yang terakhir, di pulau ini cukup ramai karena berbarengan dengan kegiatan Gowes nasional to Karimun Jawa. Hujan deras kembali mengguyur, saya berlari ke warung yang memang berjejer di pinggir pantai. Gorengan dan kopi jadi pilihan favorit saya. Lumayan lelah, saya Cuma takut KO abis berenang, kena angin pantai, dan kehujanan.

Banyak hal yang bisa dilakukan di pulau ini, tapi hujan membuat saya nggak sempat explore tempat ini. Sang guide kembali memandu kami untuk foto di pohon kelapa miring. Hal menarik selama trip keliling dari penangkaran hiu sampai Pulau Menjangan, kami dipandu guide lokal. Laki-laki muda berkulit hitam, orang ini nggak sabaran maunya semua peserta manut dia, sergep kalau dia panggil, dan itu sama sekali nggak bikin kita takut, malah lucu lihat dia teriak-teriak dengan bahasa Indonesia logat Jawa kental.

img_3716
nyiur melambai

Langit mulai gelap, jangan tanya foto sunset Karimun Jawanya mana, mendung gerimis jadi background kita.

Selama di Karimun Jawa, cuaca menjadi kendala trip tapi saya justru menikmati dan belajar banyak bagaimana orang-orang yang tinggal di pulau kecil berjuang hidup dan mempromosikan daerahnya. Penduduk asli menjamu kami bukan sebagai tamu, tapi keluarga, itulah asiknya Indonesia, biar kamu kiloanmil jauhnya dari rumah, tapi rasanya sedang berada di rumah sendiri.

Sisa semalam di Pulau Karimun saya sempatkan beli oleh-oleh di homestay dan packing. Jam 05:00 kami harus sudah siap, karena ferry pertama jam 06:00 menunggu.

Kapal besar ferry mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Kartini Jepara. Kabar baiknya saya berempat masih stay sehari di Kota Semarang, berkuliner ria. Libur belum usai !

fullsizerender
budget yang saya habiskan 3 hari 2 malam

Berikut open trip yang saya gunakan :

IG : @gerakpetualang

Si buruh perusahaan | Si ceriwis lewat tulisan | Penghayal tingkat tinggi | TouristTraveler | Pengaggum detail | VintageLover

Leave a Reply