Jelajah Mangrove, Menjaga sang Penjaga.

Ekosistem Mangrove di Pesisir Timur Sumatera Utara. photo leica
Ekosistem Mangrove di Pesisir Timur Sumatera Utara.
photo leica

Lewat petualangan ini, saya bisa mendapat banyak pengalaman, pengetahuan, dan tentu saja pemahaman tentang pentingnya ekosistem mangrove untuk kelangsungan bumi.

Pada awalnya saya mengisi liburan kali ini hanya ingin di rumah. Tapi ajakan seorang senior untuk adventure ke hutan mangrove di pesisir Sumatera Utara, membuat saya berubah pikiran. Tak ada salahnya dijalani, pikir saya.

Di benak saya, hutan mangrove pastilah panas dan berlumpur karena berada di garis pantai. Tapi ransel sudah telanjur dikemas, maka perjalanan harus dimulai.

Dengan menumpang sebuah perahu boat milik lembaga penggiat Ekoswisata Mangrove di Medan, saya memulai perjalanan menjelajah kawasan mangrove di sekitar pelabuhan Belawan, Medan. Rute ini juga bisa ditempuh dengan menyewa kapal nelayan setempat dengan harga yang kompromis.

Di sepanjang kuala saya melihat banyak nelayan yang menjaring ikan. Kata Kak Grace Panjaitan, salah satu penggiat konservasi mangrove yang menemani saya, keberadaan ekosistem mangrove sangat penting untuk berkembang biak ikan dan kepiting. “Kebayang kan jika mangrove punah, maka nelayan akan sulit mendapat hasil tangkapan,” jelas Kak Grace.

Menjelajah Mangrove di Kawasan Belawan, Medan.
Menjelajah Mangrove di Kawasan Belawan, Medan.

Indonesia memang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia. Fungsi mangrove ini menjadi penjaga pantai dari abrasi gempuran ombak di pantai. Selain itu, ekosistem mangrove adalah sebuah “rumah besar” untuk burung air dan biota lainnya. Banyak kerang dan kepiting yang bergantung hidupnya dari akar mangrove.

 

Mangrove menjadi rumah untuk burung dan fauna lainnya. photo leica
Mangrove menjadi rumah untuk burung dan fauna lainnya. photo leica

Saya melihat di beberapa pohon ada monyet bergantungan. Kata Kak Grace, jika beruntung kita bisa menjumpai jenis ular bakau yang dikenal dengan nama sebutan Viper. Beruntung ? Aduh, saya merasa ngeri tapi kepingin juga melihatnya. Sayangnya saya kurang beruntung. Tapi senang juga sempat menanam beberapa bibit mangrove, meskipun harus berlumpur-lumpur.

Info yang menarik adalah ternyata pohon mangrove adalah salah satu penghasil oksigen terbesar. Tanaman yang dikenal dengan sebutan bakau ini mampu mengurangi emisi karbon yang mengkotori udara kita. Pantaslah jika negara-negara Eropa dan Amerika Serikat begitu konsern pada penanaman mangrove di Indonesia. Kebayangkan jika udara di bumi kita sudah dipenuhi karbon ?

Pohon Mangrove di Kawasan Jaring Halus yang diperkirakan berusia 30 tahunan. photo leica
Pohon Mangrove di Kawasan Jaring Halus yang diperkirakan berusia 30 tahunan.
photo leica

Kak Grace mengenalkan beberapa jenis pohon mangrove, di antaranya Api-api, Pidada, Airmata Buaya, dan Buta-buta. Namanya unik-unik ya. Nama yang terakhir ini harus diwaspadai karena getahnya mengakibatkan gatal jika terkena kulit.

Beberapa pohon yang saya jumpai ada yang mencapai umur 40 tahun,menjulang hingga 20 meter. Akar mangrove mengikat lumpur di sepanjang pantai agar tidak mudah terkikis ombak.

Selain fungsi ekologis, ternyata mangrove memiliki nilai ekonomis. Masyarakat setempat mengambil mangrove seperlunya untuk kebutuhan rumah tangga.

Masyarakat di sekitar ekosistem mangrove membuat batik dengan pewarna berbahan mangrove. photo leica
Masyarakat di sekitar ekosistem mangrove membuat batik dengan pewarna berbahan mangrove.
photo leica

Saya sempat juga mengunjungi sanggar batik berbahan dasar mangrove. Inovasi ini dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar ekosistem mangrove.

Dan yang lebih mengagumkan, beberapaa jenis buah mangrove juga bisa diolah menjadi sirup dan tepung bahan membuat kue. “Kita menganjurkan masyarakat setempat agar tidak menebang mangrove secara besar-besaran, namun kita juga mengajari warga agar punya penghasilan dari mangrove…” kata Kak Grace.

 

Mengamati Burung

Wisata petualangan ini diselingi dengan menyantap ikan bakar hasil tangkapan para nelayan. Di sepanjang pantai kita bisa berpapasan dengan perahu dengan hasil tangkapan. Bapak-bapak nelayan menawarkan ikannya. Harganya ? tentulah sangat ekonomis.

Hutan Mangrove adalah menjadi penjaga garis pantai dari proses abrasi. Akar mangrove mengikat lumpur agar tahan dari gempuran ombak. photo leica
Hutan Mangrove adalah menjadi penjaga garis pantai dari proses abrasi. Akar mangrove mengikat lumpur agar tahan dari gempuran ombak.
photo leica

Ancaman kepunahan mangrove memang bukan main-main. Sebagaian besar ekosistemnya sudah berganti menjadi lahan bisnis seperti tambak, pertanian, dan perkebunan kelapa sawit. Jika hal ini terus berlangsung, pastilah kejayaan mangrove di tanah air kita kelak akan tinggal cerita.

Jelajah alam yang saya jalani kali ini memang tidak seperti kebanyakan wisata lain. Dengan petualangan ini, saya bisa mendapat banyak pengalaman, pengetahuan, dan tentu saja pemahaman tentang pentingnya ekosistem mangrove untuk kelangsungan bumi.

Saya semakin paham bahwa alam dan manusia memang memiliki hubungan yang unik. Alam bisa memberikan segalanya untuk manusia, namun tidak sebaliknya. Jika manusia terus serakah menguras alam, maka alam akan membalasnya dengan cara yang tragis.

Wisata alam hutan mangrove akan memberikan perenungan buat kita. Betapa alam ini sebenarnya bukan warisan nenek moyang kita, namun hanya titipan anak cucu. Kelak akan dikembalikan ke mereka, tentu saja dengan kondisi yang lebih hijau.

Sungguh saya merasa sangat beruntung dengan wisata yang luar biasa ini. Akankah kawan-kawan yang lain bisa seberuntung saya ?

 

Saya pelajar di SMP Amir Hamzah Medan. Suka traveling, motret, dan jurnalistik.Saya pengen keliling dunia, ketemu banyak orang, dan saling menginspirasi.

Leave a Reply