Kampung Halaman yang berhasil menjadi pemahat karakter saya

Hari lebaran selalu menjadi alasan utama untuk kembali ke kampung halaman, The place where my heart is living in.

Kampung halaman saya adalah sebuah desa kecil di kabupaten banyumas, Jawa Tengah bernama Ciwaras dan konon berasal dari dua kata “Ci” yang artinya Air dan “Waras” yang artinya Sehat. Dari dua kata tersebut bisa diambil arti Air yang sehat, mungkin ini dikarenakan banyaknya sumber mata air yang ada di kampung halaman saya, yang terletak di pegunungan, dilewati sungai kecil yang mengairi sawah dan hijaunya sawah di musim penghujan kemudian menjadi keemasan dengan kesabaran dan cinta yang disiramkan para petani di setiap musimnya.

Mungkin Alam di Ciwaras tidak seindah kampung halaman kalian, saya tidak sedang mengagungkan budaya yang ada, bukan juga sedang memamerkan kelezatan kuliner yang menjadi pujaan lidah dan rasa lapar, namun saya bangga karena Ciwaras adalah bagian dari bagaimana saya mengenal dunia, bercengkrama dengan alam dan mengerti tentang arti dari senandung keharmonisan antara hubungan baik bersama manusia lain

Pagi ini saya sengaja berjalan tanpa alas kaki, menapaki aspal yang basah disirami embun yang mulai kehilangan keagungannya, melihat warna hijau di kanan dan kiri, menunggu rasa hangat yang dijanjikan mentari setiap pagi dan mengingat masa kecil dimana saya sering berlari lari disini, bermain bersama lumpur di sawah dan mendulang tawa dari segala kebahagiaan dari kehidupan saya dimasa itu.

Hamparan sawah di Ciwaras

Kemudian kenangan kenangan tersebut membawa saya pergi ke dalam memori yang sudah lama sekali tertidur di dalam otak saya, yaitu kebahagiaan saat “Sambatan”.  Sambatan adalah sebuah tradisi tentang gotong royong ketika salah satu dari warga membuat rumah baru, dan warga desa lain membantu dengan sukarela, dalam acara ini seluruh warga membaur menjadi keluarga, bersama saling bahu membahu mendirikan rumah dengan semangat kebersamaan dan gotong royong tanpa berfikir imbalan materi tetapi kebahagiaan. Dalam membantu dan kepuasan ketika dapat berpartisipasi dalam mendirikan hunian baru utuk orang lain, yang nantinya akan menjadi tempat berteduh baru dan juga akan menjadi tempat yang akan menjadi saksi dari ribuan cinta yang tumbuh dalam sebuah keluarga baru.

Gotong royong sambatan source: Facebook Meghoen

Dalam acara sambatan orang yang mendirikan rumah disebut dengan yang sedang “Nyambat” sedangkan tetangga yang menjadi peserta disebut dengan “Kesambat”. Karena dalam acara sambatan ini tidak ada imbalan materi, maka orang yang kesambat ini akan disuguhi hidangan makan siang dan camilan sederhana. Makan siang biasanya diistilahkan dengan “Mingdo” berasal dari kata “Ping loro” yang artinya kedua, dan makan siang adalah jam makan kedua setelah sarapan.  Menu saat mingdo ini pun sangat khas yaitu nasi putih yang disajikan dengan lauk wajib sambatan yaitu sayur pepaya, ikan asin, dan rempeyek (rempeyek adalah semacam kerupuk yang terbuat dari tepung beras dan digoreng dengan topping kacang kacangan, terkadang udang kering atau ikan teri kering)

Sayur Pepaya Source: Google
Rempeyek
Source: Google

Dalam acara sambatan ini para pria dewasa bekerjasama dalam mendirikan rumah atau kerangka rumah, sedangkan ibu-ibu membantu memasak di dapur, dan acara sambatan ini seperti acara hajatan dimana para tetangga akan dating untuk memberi sumbangan berupa beras maupun bahan makanan lain seperti gula, mie kering maupun snack yang disajikan.

Acara Sambatan Source Facebook Meghoen

Saya selalu rindu bagaimana keriangan yang dicipta, dari bapak bapak yang saing bahu membahu mendirikan rumah atas dasar rasa ikhlas, dan bagaimana kerukunan yang ditunjukkan oleh ibu ibu yang membantu memasak, dan memberikan sumbangan bahan makanan tanpa rasa mengharap akan imbalan.

Hidup di kota besar seperti Jakarta memang tidak akan bisa seperti di pedesaan yang sarat akan gotong royong, masyarakat yang individualis cenderung menjunjung faham ekonomi diatas rasa gotong royong, dan menjadikkan satuan rupiah menjadi titik ukur dari bayaran rasa lelah. Namun meskipun saya sekarang hidup, bergaul dan mendulang rupiah di Jakarta, rasa gotong royong yang sudah tertanam dalam diri saya, dan saya terapkan di lingkungan dimana saya bersosialisasi dengan orang lain.

Ketika saya #ingetkampung saya selalu ingat darimana saya berasal, bagaimana saya dididik, dan lingkungan seperti apa yang memahat karakter di dalam diri saya ini, saya Bangga tumbuh dan besar di kampung, memiliki kampung halaman yang selalu menjadi tempat untuk pulang dan berulangkali tersirat dalam kata rindu.

 

Leave a Reply