Kampung Ubud Bali, Kampung Penuh Pesona

Hai, semuanya. Perkenalkan nama saya Dewa Ayu Made Kislina. Lahir di Gianyar, 21 Maret 2001. Sekarang, saya sedang mengenyam pendidikan di SMK N Bali Mandara yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali. SMK N Bali Mandara merupakan sekolah khusus berasrama yang ditujukan bagi siswa kurang mampu dan berdomisili di Bali. Tinggal di sekolah berasrama dan jauh dari kampung halaman membuat saya terkadang merindukan keluarga dan kampung halaman #ingetkampung. Semua kerinduan itu harus dipendam karena saya sedang menuntut ilmu, menempuh perjalanan menemukan masa depan cerah di daerah lain.

Kampung halaman saya berada di Kabupaten Gianyar, Bali. Kampung Ubud, itulah namanya. Untuk sampai ke kampung ini, dapat melewati daerah Desa Tampaksiring. Kampung Ubud sangat menarik dan penuh pesona, sehingga siapa pun yang meninggalkan kampung ini, orang tersebut akan merasakan kerinduan yang amat dalam. 🙂 Hal ini dikarenakan, Kampung Ubud memiliki banyak tempat wisata, budaya, tradisi atau adat istiadat, dan masih banyak lainnya. Banyak sekali hal menarik yang ada di kampung halaman saya ini, seperti:

  1. Monkey Forest, yaitu objek wisata yang sekaligus sebagai kawasan hutan lindung dan di dalamnya terdapat sebuah pura sakral umat Hindu Bali, Pura Dalem Agung Padang Tegal. Di Monkey Forest, kita bisa menikmati udara sejuk, pemandangan hutan yang asri dan melihat tingkah laku monyet yang cerdik. Kita juga bisa memberikan monyet makan, sehingga sifat agresif monyet sedikit berkurang.
  2. Puri Saren Ubud, yaitu tempat destinasi wisata di Bali yang banyak diminati wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal. Puri Saren Ubud Bali juga merupakan istana kerajaan dan peninggalan budaya di Bali. Di tempat ini, kita bisa melihat bentuk istana Bali zaman dahulu. Bangunannya yang khas dan unik, membuat siapa pun yang melihatnya akan terpukau. Berada di tempat ini, kita bisa merasakan nuansa peradaban Bali zaman dahulu.
  3. Goa Gajah, yaitu sebuah goa buatan untuk tempat ibadah yang di dalamnya terdapat Lingga. Di sini kita dapat menikmati keindahan alam dan melihat peninggalan sejarah budaya Bali.

Selain objek wisata, Kampung Ubud juga menyimpan banyak tradisi, salah satunya adalah tradisi Mapeed. Tradisi ini dilakukan dengan cara membawa sesajen (Banten dalam istilah Bali) ke pura sambil berjalan kaki.

Begitu banyak tempat pariwisata maupun tradisi di kampung halamanku. Di Kampung Ubud juga ada sebuah organisasi yang dikhususkan untuk remaja dan dewasa (belum menikah). Organisasi tersebut bernama Seka Teruna Teruni. Saat ini aku sudah tergabung dalam organisasi ini.

Organisasi ini bertujuan sebagai wadah pemuda-pemudi di kampung untuk melakukan berbagai aktivitas dan menjalin hubungan yang baik antar sesama. Aktivitas yang dapat dilakukan oleh organisasi ini, di antaranya :

  1. Muruk ngigel (latihan menari), yaitu pemuda-pemudi dapat melestarikan budaya Bali khususnya menari dengan dibuatkan Sanggar (tempat menari). Pemuda-pemudi dapat latihan menari di sana.
  2. Metabuh, yaitu berlatih gambelan di tempat yang sudah disediakan. Biasanya kami berlatih tabuh di wantilan pura. Di sini pemuda-pemudi dapat berlatih gambelan dan mempelajari lebih banyak tentang gambelan Bali.

Tidak hanya itu saja, di kampung halaman saya juga terdapat makanan tradisional masyarakat Bali, yaitu lawar Bali.

Ayah saya adalah orang yang saya anggap hebat membuat lawar Bali, saya sangat suka dan merindukan nikmatnya makanan lezat ini. Meskipun berada jauh dari kampung halaman, namun saya selalu berdoa agar kampung saya tetap asri dan tidak berubah oleh zaman modern ini. Saya bangga bisa mempunyai Kampung Ubud yang penuh pesona dan saya akan kembali membawa ilmu kebanggaan dari Kabupaten Buleleng ke kampung halamanku, karena tidak ada tempat yang lebih nyaman, selain Kampung Ubud, kampung halamanku.

#ingetkampung

 

1 Comment

Leave a Reply