Ke Pulau Enggano Sehari, Bisa!

Pernah dengar tentang Pulau Enggano?

Ituuu, salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di Provinsi Bengkulu.

Untuk bisa ke sana, dibutuhkan waktu sekitar 12 jam naik feri. Itu pun jadwalnya hanya dua kali seminggu, dan sangat tergantung kondisi cuaca. Orang Bengkulu aja mikir berkali-kali kalau diajak ke sana. Bukan karena pulaunya berhantu, tapi tak sanggup membayangkan mabuk lautnya.

Tapi, sebagai pencinta tempat liburan anti-mainstream, saya penasaran banget ke pulau ini. Apalagi resolusi saya setiap tahun adalah mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.

Dari foto-foto orang yang pernah ke sana, pantai-pantainya tampak bersih dan sunyi. Saya, kan, emang doyan ke lokasi yang nggak banyak orangnya. Lebih nyaman, menurut saya.

Bagi yang berencana ke Pulau Enggano, sangat disarankan untuk memiliki persiapan menerima ketidak pastian. Ini terkait soal jadwal kapal. Bisa maju dan mundur, jadi ada baiknya jangan membuat janji penting bila sedang di Pulau Enggano.

Pengalaman saya dan beberapa teman saat pertama kali ke pulau ini, sangatlah tidak terlupakan. Ceritanya, dalam rangka kegiataan Kelas Inspirasi di Pulau Enggano, kami akan berangkat ke sana hari Rabu, lalu pulang Sabtu. Jadwal ini disesuaikan dengan jadwal kapal dari dan ke Bengkulu.

O.K. Persiapan matang. Secara di sekolahnya cuma setengah hari, otomatis sisanya is having fun dengan menyusuri pantai, berenang, dan snorkeling. Kalau beruntung diajak ke acara kenduriannya warga, bisa makan daging penyu, santapan istimewa yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat.

Selain membawa banyak cemilan, saya juga membawa masker untuk snorkeling. Teman-teman yang lain pun sudah siap dengan perkakas liburannya masing-masing, termasuk bahan masak untuk hasil pancingan teman kami yang membawa alat pancing. FYI, Enggano memang terkenal sebagai lokasi favoritnya para pemancing handal Bengkulu.

Ternyata…

Begitu hari H, saat di depan loket pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa tidak ada kapal dari Enggano pada hari Sabtu. Adanya besok alias Kamis, atau Rabu minggu depan. Atau Senin, kalau mau naik pesawat.

Seketika kami terdiam.

Kami, yang kebanyakan sudah bekerja, hanya izin sampai weekend. Beberapa kami ada yang membawa motor, apa kabar motornya kalau orangnya pulang naik pesawat? Yang tidak bawa motor, siapa yang akan mengantar ke bandara? Dan yang lebih dipertanyakan, apakah pesawat dan kapalnya pasti ada?

Sudahlah, kami berangkat Rabu sore ke Enggano, tiba Kamis subuh, lalu sorenya kembali ke Bengkulu. Lebih lama di laut daripada kami di pulau. Mau gimana lagi, show must go on! Rekan yang sudah berangkat duluan juga kelabakan menerima kabar ini. Mereka bergegas mengubah rencana yang telah disusun rapi.

Untung nggak jadi bawa beras dan peralatan masak karena disana tidak ada tempat makan. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Tim yang berangkat duluan berhasil menemukan orang yang siap menyediakan catering selama kami di sana. Yang nelangsa, teman yang membawa alat pancing. Pokoknya, jangan sampai pancing kering dibawa pulau, guyon mereka yang telah membayangkan mancing ala-ala Mancing Mania.

Syukurlah, tidak ada yang baper, sampai ogah berangkat. Meskipun mengejutkan dengan alasan yang juga kurang jelas, kami tidak terlalu mempermasalahkan ini. Yang penting pergi dulu. Kami sudah ditunggu. Entah kapan lagi bisa ke Enggano kalau bukan sekarang.

Sebelumnya, saya membayangkan suasana di kapal akan membosankan dan mencekam, secara katanya, kapalnya kapal kecil, sehingga akan sangat terasa saat dihempas ombak. Faktanya, kapalnya memang tidak sebesar kapal yang pernah saya naiki dalam penyeberangan Merak – Baukaheuni atau sebaliknya, yang bagian bawahnya mampu memuat banyak bus besar dan truk barang, tapi bukan berarti kapal menuju Enggano ini tidak muat untuk mengangkut kendaraan. Kapalnya lumayan besar, buktinya mobil dan motor bisa masuk meskipun ruangnya terbatas.

Lantai dua khusus penumpang yang berisi bangku-bangku berlapis jok busa, dan ada semacam balai-balai untuk berbaring di bagian tengah. Ada juga satu ruangan VIP ber-AC yang berisi dipan kecil bertingkat dua yang matrasnya cukup untuk satu orang. Di ujung ruangan ada konter untuk memesan minuman dan makanan kecil, dengan dua televisi di kiri dan kanannya. Di ujung satunya, ada musala dan kamar kecil, dengan persediaan air yang banyak, buktinya ada yang bisa mandi.

Lumayan nyaman. Berbeda jauh dari ekspektasi saya.

Baik dari Bengkulu maupun dari Enggano, kapal beroperasi pada sore hari. Jadwal ini membuat penumpang bisa menikmati sunset di tengah laut dalam perjalanan bolak-balik Bengkulu – Enggano – Bengkulu.

Warna langit sore itu sangat magis. Belum pernah saya melihat semburat oranye kemerahan dari tengah laut yang sejelas itu. Cantik sekali. Sayang, modla saya hanya kamera ponsel.

Berkali-kali saya dan teman-teman mengabadikan gerakan matahari yang perlahan tenggelam. Dan pastinya, secara bergantian pula kami minta saling foto dengan latar belakang senja di lautan lepas.

Saat semua gelap, tidak ada yang bisa dilihat lagi, ya, masuk ke dalam kapal. Tidur, bagi yang ngantuk; makan, bagi yang lapar; ngobrol, bagi yang nggak bisa tidur; bengong, bagi yang mati gaya; atau berjoget sambil diiringi video karaoke, bagi yang butuh gerak.

Saya sendiri, berusaha tidur, tapi sulit karena cahaya lampu yang begitu terang, ditambah musik berisik. Udaranya tidak terlalu panas karena ada angin laut yang masuk dari celah-celah terpal yang menutupi sisi kanan dan kiri kapal.

Ganti-ganti posisi sambil menutup wajah dengan jaket, lalu pindah ke tempat yang dipikir lebih nyaman, tetap saya tidak bisa terlelap. Begitu terus sampai kapal bertemu daratan. Berbaring sambil meram, lalu bangun dengan wajah kantuk yang tidak terpuaskan.

Aman aja, tuh, ternyata, penyeberangannya. Kedengaran, emang, suara ombak yang memukul-mukul kapal dan suara terpal yang terhempas angin. Namun pengalaman saya sebagai penumpang, tidaklah semenakutkan cerita orang-orang. Bagi saya, kapal malam itu melaju dengan tenang.

Entahlah, apa memang kebetulan karena niat kami datang ke Enggano ini baik, laut pun ikut bersahabat? Karena menurut rekan kami yang pernah ke Enggano, malam ini laut memang sangat tenang, tidak seperti pengalaman dia ke Enggano sebelumnya, yang merasakan betul bagaimana ganasnya gelombang menggoyang kapal kesana-kemari.

Menjelang subuh, kami berlabuh mulus di Pelabuhan Kahyapu, Desa Kahyapu, Pulau Enggano. Hari masih gelap, kami tidak bisa melihat apa-apa. Sedikit kebingungan, kami mencari tempat untuk menunggu jemputan teman kami yang sudah dari Senin di sini, mempersiapkan segala keperluan kegiatan Kelas Inpsirasi ini.

Singkat cerita, kami dijemput dan dibawa ke rumah Bu Ani, tempat kami beristirahat dan bersih-bersih. Di sini juga kami mendapatkan jatah sarapan. Begitupun makan siang kami akan disiapkan Bu Ani.

Pagi itu kami akan langsung bergerak di empat sekolah. Ada satu sekolah yang terpaksa tidak kami datangi karena lokasinya lumayan jauh. Tapi, ada satu teman yang ditugaskan untuk menyampaikan sumbangan buku ke sana.

Secara sekilas, mata saya menangkap muara di seberang rumah Bu Ani. Pekarangan rumahnya sangat luas, dan saling berjauhan dengan rumah tetangga. Sayang, gerak cepat agar memaksimalkan waktu membuat saya tidak sempat mengabadikan situasi di tempat ini. Untunglah, dalam perjalanan ke desa dengan mobil bak terbuka, ke tempat grup saya ditugaskan, kami sangat menikmati pemandangan alam yang disajikan pulau. Udaranya sangat bersih, dan hijau di mana-mana.

Singkat cerita, setelah nanti mengajar, kami semua akan berkumpul di POSAL (Pangkalan TNI AL) yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Malakoni, tempat kapal perintis bersandar, dan akan berlayar ke Bengkulu pada sore harinya.

Begitulah, ada dua pelabuhan di Pulau Enggano. Satu Pelabuhan Kahyapu, tempat Kapal ASDP Pulo Tello bersandar, dan Pelabuhan Malakoni, tempat kapal perintis, Sabuk Nusantara berlabuh. Bedanya, ketika Kapal ASDP bisa berangkat dua kali seminggu, kapal perintis hanya mampir sekali, setiap sekitar dua minggu.

Sesuai jadwal, kami semua berkumpul di POSAL pada jam makan siang. Di bagian belakang bangunan utama yang lebih terkesan seperti posko kecil, ada semacam rumah dinas yang saling bergandengan. Dua diantaranya kosong, dan boleh kami gunakan sebagai markas. Di sinilah teman kami menginap, dan tempat kami menyimpan barang.

Dibandingkan rumah warga yang listriknya dibatasi, listrik di sini menyala 24 jam, dan tersedia air tawar hasil saringan yang lumayan bersih. Cocok, karena bisa ngecas handphone, dan mandi.

Sekembalinya dari sekolah, sambil menunggu sore, kami menghabiskan waktu di pantai yang jaraknya hanya belasan meter dari POSAL. Di sinilah kami memuaskan diri menikmati air lautnya Enggano. Dari pantai ini kami bisa melihat kapal yang nanti sore akan mengarungi Samudera Hindia, membawa kami kembali ke Bengkulu.

Seperti mimpi rasanya berada di Enggano kurang dari 24 jam.

Mhm, sebut saja ini Pantai Malakoni karena berada di Desa Malakoni. Pasirnya putih dan dipenuhi butiran koral. Airnya sangat tenang dan terdapat batu karang pada bagian yang dekat dengan bibir pantai. Saya mencoba jalan ke tengah, penasaran sampai sejauh mana saya bisa melangkah tanpa membasahi lutut. Saya berhenti tepat di batu yang ada pancang kayu berbendera kecil, tanda batas aman (mungkin).

Lagi asyik di pantai, ada yang hanya duduk-duduk di pasir, di atas pohon, dan di hammock, sambil melihat teman lain yang sedang basah-basahan di air asin, kami mendapat kabar gembira.

Teman kami berhasil membujuk nakhoda kapal untuk menunda keberangkatan. Feri yang biasanya berangkat jam 5 sore, bersedia memundurkan jadwal ke jam 7 malam. Demi kami.

Entah bagaimana cara salah seorang teman kami yang memang memiliki pergaulan luas itu ngomong ke petinggi kapal. Mungkin, karena kami datang sebagai relawan, dan baru datang tadi pagi, dan kebanyakan kami baru pertama kali ke Enggano, bolehlah diberi sedikit apresiasi dengan memberi kami kesempatan menikmati keindahan Pulau Enggano ini sedikit lebih lama.

Betapa leganya kami mendengar berita ini. Langsung, beberapa kami, termasuk saya, yang tadi ogah basah-basahan, berganti pakaian dan siap basah. Sayang, jika harus melihat kecantikan alam bawah laut Pantai Malakoni, kami harus berenang agak ke tengah. Menggoda, sebenarnya. Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak mau mengambil risiko.

Yeay, akhirnya snorkel saya basah! Dan teman yang membawa pancing juga sudah mojok dari siang, entah di mana.

Cukup puas rasanya, bisa nyemplung di salah satu pantai yang ada di Enggano. Bagi saya, ini pertanda bahwa kunjungan ini bukan yang pertama dan terakhir. Saya mau kembali lagi.

Bagi yang berminat liburan ke Pulau Enggano, catat informasi ini!

Akomodasi:

Tidaka ada penginapan di Enggano. Sangat disarankan membawa peralatan camping atau mencari kenalan untuk bisa menginap di rumah warga.

Makanan:

Ada tempat makan, tapi harganya mahal, apalagi sayur, karena dipasok dari luar pulau. Solusinya, bawa bekal atau pesan ke warga.

Alat transportasi:

Dalam pulau:

Tidak ada transportasi umum di Pulau Enggano. Sebaiknya membawa kendaraan pribadi. Full tank, karena BBM super mahal di sana. Untuk motor, usahakan jangan matic, kasihan motornya, harus dipaksa kerja keras di jalanan yang masih tanah dan berbatu. Hanya sebagian yang hotmix, itupun banyak yang rusak.

Antar pulau:

Satu-satunya akses ke Pulau Enggano hanya dari Kota Bengkulu. Feri, dari Pelabuhan Pulau Baai, dan pesawat terbang dari Bandara Fatmawati. Keberangkatan ke Enggano atau sebaliknya, sangat tergantung cuaca. Meskipun sudah ada jadwal pasti, jika cuaca buruk, kapal tidak akan berlayar.

1. Kapal ASDP Pulo Tello

Tarif Kelas Ekonomi: Rp59.000 per orang. Untuk masuk ke kamar VIP, tinggal bayar Rp50.000 di kapal.

Tarif untuk kendaraan roda dua adalah Rp113.200, sementara roda 4 tarifnya Rp1.374.230.

2. Kapal Perintis Sabuk Nusantara

Rp26.000 per orang (tanpa kelas), dan Rp70.000 untuk kendaraan roda dua. Kapal ini sebenanrnya khusus penumpang, tapi yang membawa kendaraan roda 2, tetap diizinkan menaikkan motornya. Meskipun tarifnya lebih murah, fasilitas di Kapal Perintis lebih nyaman karena semua penumpang mendapatkan space untuk tidur.

3. Pesawat Susi Air

Rp300.000 one way, pada Senin dan Jumat, dengan waktu tempu kurang lebih 40 menit.

Happy holiday!

traveling, outdoor, internet junkie, working online

Leave a Reply