Kepulauan Togean : Surga Tersembunyi di Jantung Sulawesi

 

Tak pernah terbayangkan saya bisa ke Kepulauan Togean. Dulu, sekitar 4 tahun yang lalu baru saya mengenal nama Togean. Awalnya sewaktu lagi berselancar di internet, iseng-iseng saya membuka sebuah website perjalanan (luar negeri) yang cukup terkenal dan menemukan nama Togean,. Tertarik karena gambar dan ulasan yang menarik saya berkata dalam hati, “semoga saja suatu waktu bisa kesana”. Dan ternyata dalam beberapa tahun kemudian alias tahun ini saya bisa mewujudkannya!

20160208_153622

Togean, kedengarannya masih terasa asing di telinga orang Indonesia kebanyakan. Teman-teman saya di kampus dan di tempat les tidak ada yang tau nama pulau ini. Bahkan orang yang mengaku pecinta alam dantraveller pun tidak tahu. Padahal kepulauan ini secara geografis tidaklah tersembunyi. Menurut saya tempatnya tidaklah terasing.

Pulau Batudaka, Togean

Banyak sekali gua-gua di karang yang berisi kelelawar

Togean atau Togian? Banyak orang yang bingung dengan adanya dua nama yang berbeda, termasuk saya. Maka saya pun bertanya pada penduduk lokal disana, “Pak, nama sebenarnya Togean atau Togian sih?”.

“Togian, sebenernya Togian, tapi banyak orang luar yang bilang Togean, katanya lebih enak”, jawab Pak Ambi.

Kepulauan yang sejak tahun 2004 berstatus taman nasional ini terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Tojo Una-una. Luasnya mencapai 292.000 hektar yang berupa lautan dan daratan seluas hanya 70.000 hektar. Dengan luas ini menjadikan Togean taman nasional laut terbesar di Indonesia. Togean sendiri terdiri dari 6 pulau utama yaitu Pulau Batudaka, Waleabahi, Malenge, Una-una, Talatakoh, dan Waleakodi beserta ratusanpulau-pulau kecil lainnya.

Peta Kepulauan Togean

Map of Togean Islands

Wakai adalah nama kecamatannya yang sekaligus berfungsi sebagai “ibukota” kepulauan Togean, disinilah pusat kegiatan masyarakat dan tempat mencari sinyal/internet untuk wisatawan, seperti saya yang sempat ke Wakai hanya untuk browsing dan telpon.

Untuk mencapai Togean saya harus melakukan perjalanan hampir selama 24 jam. Kombinasi transportasi lumayan banyak, mulai dari pesawat, mobil, dan kapal, tergantung dari dari mana kita mulai perjalanannya. Tetapi setelah tiba di Togean, rasa lelah dan penat selama perjalanan terbayar lunas dengan apa yang saya dapatkan.

Berita bagusnya, pada tahun 2016 ini bandara di Ampana selesai dibangun dan beberapa maskapai berjadwal bisa mendarat disini seperti Garuda ataupun Wings. Sebenarnya sudah ada beroperasi penerbangan yang dilayani oleh Aviastar tetapi hanya 3 kali seminggu dan tidak menentu.

Dari pengamatan saya  struktur pulau disini kebanyakan adalah karang/cadas/karst , sama seperti kebanyakan daerah di Sulawesi Tengah. Sekilas mirip Raja Ampat, bahkan ada tempat yaitu sebuah teluk kecil yang berisikan pulau-pulau karst kecil tersebar, saya sendiri menamakan tempat ini “mini Raja Ampat”nya Togean.

20160209_154742

 

 

Togean memiliki segalanya. Keindahan dan keajaiban panorama atas dan bawah lautnya tidak usah ditanyakan. Dengan lokasi yang berada di jantung coral triangle, Togean memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi di laut. Bomba Atoll adalah satu dari puluhan site snorkeling/diving yang terbaik.

dscn1091-min

 

Ada beberapa hewan langka yang endemik dan dilindungi disini. Contohnya kepiting kelapa atau coconutcrab,saya bisa menemukannya di depan cottage, bersembunyi dibalik karang. Di pedalaman hutannya ada gunung berapi aktif yang bernama Gunung Colo terletak di Pulau Una-una. Pantai dengan pasir lembut berwarna putih bertebaran di sekujur pulau. Tempat yang lainnya adalah danau ubur-ubur yang berisikan ribuan ubur-ubur tak menyengat.

20160209_142254

The famous white-sandy beach, Pantai Karina

Mayoritas suku disini adalah Suku Bajo dengan sebutannya “sea gypsy” atau “manusia laut” karena mereka terkenal akan keahliannya dalam mengarungi lautan dan tempat tinggal mereka yang berada di atas laut. Ternyata setelah ditelusuri, bukan hanya suku Bajo yang menetap di wilayah Kepulauan Togean dan bukan hanya orang Bajo yang tinggal di rumah-rumah panggung.

Contohnya saja di Pulau Taupan, sewaktu menyusuri perkampungan kecilnya saya berbincang dengan salah satu keluarga nelayan. Ketika menanyakan asalnya, ternyata mereka berasal dari Gorontalo. Orang tuanya katanya berasal dari Gorontalo dan juga Ampana. Di Desa Bomba ada suku yang bernama Suku Ta yang mempunyai bahasa daerah sendiri! Desa terakhir yang saya kunjungi sangat bersih, rapih, dan keramahan orang-orangnya membuat hati ini ingin tinggal.

Kadang, setengah miris juga melihat keadaan masyarakat yang tinggal disini. Kemiskinan masih menjadi topik utama. “Apakah ada pejabat negara yang pernah kesini, oh, apakah Menteri Susi pernah kesini?”, “menteri Susi pernah kesini, tapi tidak ke semuanya, hanya ke Wakai dan Malenge”, jawab warga di desa Bomba. Ah, untung saja sudah ada yang pernah melihat keadaan disini, mudah-mudahan saja ada perubahan signifikan. Walaupun begitu, saya tetap bisa melihat senyuman manis mereka. Itulah untungnya menjelajahi pelosok negeri, berlibur sekaligus menambahkan rasa bersyukur dan peduli kepada sesama.

 

20160209_160112

Tempat persinggahan nelayan

Cukup banyak tempat-tempat yang saya kunjungi. Tapi sedih juga rasanya tidak sempat ke Pulau Papan, tempat terkenal dimana ada perkampungan orang bajo dan jembatan kayu panjang yang menjadi keunikannya. Tidak juga kesampaian untuk menyelam bersama schooling barracuda yang katanya wajib kalau ke Pulau Una-una. Ini tandanya saya harus kembali kesana, harus.

Katanya, pemerintah daerah baru mulai gencar mempromosikan potensi pariwisata dari Togean. Itu terlihat dari beberapa spanduk promosi dan beberapa acara bertaraf internasional seperti Sail Tomini. Terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk membangun semua fasilitas penunjang pariwisata. Sebagian besar masyarakatnya sudah sadar wisata, itu dilihat dari banyaknya paket tur dan penginapan yang dimiliki lokal. Tinggal pemerintah daerah yang harus bergerak cepat.

Pembangunan pariwisata yang masif bukan berarti melupakan aspek lingkungan. Mudah-mudahan saja pemda, terlebih masyarakat lebih memperhatikan lingkungan lautnya, karena jika lingkungan rusak, yang mengalami kerugian pertama ialah masyarakat itu sendiri. Mengapa saya tulis mengenai ini? Karena berdasarkan pengamatan saya, sudah mulai tanda-tanda bahwa lingkungan sepertinya harus lebih diperhatikan.

Jadilah Traveller yang Peduli Lingkungan.

Let’s Explore The Beauty of Indonesia!

-The Spiffy Traveller-

Travel Notes :

  1. Untuk rute tercepat dari Jakarta Kep. Togean dapat dicapai dengan pesawat rute Jakarta-Makassar-Luwuk (4 jam-an) dengan harga tiket kisaran Rp 1.000.000-1.500.000 sekali jalan (Lion or Sriwijaya). Kemudian menyewa mobil untuk Luwuk-Ampana selama 6 jam dengan harga sekitar Rp 1.000.000,- sekali jalan (bisa ditawar sampe rp 650 rb-an). Naik speedboat umum dari pelabuhan seharga Rp 120.000,- (waktu tergantung tujuan, Bomba:40 menit; Wakai:1,5 jam-an). Jika menggunakan kapal rakyat, semua waktu bertambah 2 jam.
  2. Penginapan ada banyak, tergantung lokasi yang diinginkan. Untuk daerah Bomba/Batudaka rekomendasinya Poya Lisa Cottages, no tlp. + 62 82349951833 (Pak Edy) Pak Edy orang yang sangat baik, selain untuk pemesanan Poya Lisa, beliau bisa mengatur perjalanan selama dari dan ke Togean. Bagi yang ingin menghubungi Pak Ambi bisa di 082312784872  Penginapan lainnya seperti Kadidiri Paradise dan Sifa Cottages. Semua penginapan tersebut adalah milik lokal.
  3. Makanan dan minuman sudah termasuk dalam paket penginapan. Tapi ada baiknya jika membawa snack dan minuman tambahan. Bagi yang vegetarian sangat bisa, caranya tinggal meminta dibuatkan makanan khusus pada hari sebelumnya.
  4. Membawa peralatan snorkeling sangat dianjurkan karena tidak semua penginapan punya peralatan yang memadai. Jika ingin diving ada Dive Center seperti Bomba Divers (Bomba), dive center yang baru sangat dekat dengan Poya Lisa dan lainnya menyatu sama penginapan.
  5. Bawalah uang tunai yang cukup selama di Togean, disana tidak ada sama sekali ATM.
  6. Jangan lupa bawa alat penerangan seperti senter (cahaya lampu terbatas).
  7. Jangan berharap banyak untuk dapat sinyal telepon. Disini sinyal bisa didapat hanya di Wakai.
  8. Ada baiknya menyiapkan obat nyamuk pribadi dan minum anti malaria (optional), Sulawesi Tengah termasuk daerah endemik malaria.
  9. Sulawesi Tengah, khususnya Togean, hampir tidak dipengaruhi kondisi cuaca pada umunya. Misalnya seperti waktu awal bulan februari lalu, yang daerah lain diguyur hujan, saya selama 5 hari disana hujan hanya sekali itupun hanya sebentar, hanya gelombang laut saja yang menghalangi. Jadi bisa dibilang Togean bisa kapan saja dikunjungi😀

Spiffy Blogger & Traveller Hidden Paradise Explorer

Leave a Reply