Kerinci Mountain Lakes Breakthrough

Dari sekian banyak petualangan pendakian, menurut saya ini yang tak terlupakan. Ekspedisi danau dataran tinggi 14 November 2014. Danau-danau ini terletak di kecamatan Gunung Raya, Lempur Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara geografis posisi danau-danau ini hanya dipisahkan oleh perbukitan yang merupakan formasi bukit barisan yang aktif bergolak dengan cuaca yang ekstrim. Danau-danau itu adalah danau Lingkat, danau Duo, danau Kecik dan danau Kaco. Danau-danau ini punya karakteristik berbeda, mulai dari warna, struktur geologis, vegetasi, siklus hidrodinamika dan urban legend yang membuat saya dan kawan-kawan komunitas ekowisata tertantang untuk membuka paket wisata petualangan hardcore trekking. Satu hal lagi, danau-danau ini berada dijantung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), ujung selatan kabupaten Kerinci, dekat dengan perbatasan dua propinsi, yaitu Jambi dan Bengkulu. Pada bagian selatan ini, tidak setinggi bagian utara, area Gunung Kerinci, sebaliknya punya keragaman hayati lebih tinggi, ekosistem yang lebih sibuk, dan ditetapkan sebagai Koridor satwa, sekaligus habitat utama Harimau Sumatra yang endangered dan legendaris. Salah satu faktor penentu terjaganya keutuhan ekologi area selatan Kerinci, karena topografinya merupakan percampuran perbukitan dan rawa-rawa dataran tinggi, sehingga merupakan benteng alam yang tak tertembus pada era kolonial Belanda. Disinilah basis garnisun Depati Parbo, kombinasi blokade benteng dan medan berat front Lempur adalah mimpi buruk infanteri Belanda dalam Battle of Manjuto. Sebelum paket wisata alam terbatas ini resmi dibuka, adalah tugas kami bersama komunitas pecinta alam Lempur, Pencagura, untuk memetakan travel pattern dan membuat dokumentasi bahan promosi.

Danau Kaco, Lempur Kerinci
Danau Kaco, Lempur Kerinci

Tidak seperti lazimnya pendakian gunung, ekspedisi danau di Lempur ini memaksa kami menanggalkan sepatu trekking, diganti dengan boot water proof yang biasa dipakai ke sawah dan tentu saja, jauh lebih berat. Badan kami harus terbungkus dengan baik dan rapat saat melewati medan rawa berlumpur yang penuh pacet. Berbeda dengan jalur ekspedisi saya sebelumnya ke danau Kaco, saya tidak mau mengulang pengalaman berleleran darah, jadi saya harus waspada kali ini. Tapi jalur trek kali ini sangat berbeda, manuver breakthrough, memutar hampir satu lingkaran penuh untuk menjangkau semua danau termasuk danau Kaco. Sementara Danau Lingkat yang memang berada dipinggir desa, tidak perlu trekking dan pendakian, bisa langsung dinikmati siapapun.

Danau Lingkat, Lempur Kerinci
Danau Lingkat, Lempur Kerinci

Planning pendakian telah kami sepakati, 13 November persiapan tengah dilakukan dititik rendezvous, desa Lempur. Desa yang dikepung bukit barisan, ladang kulit manis (Casiavera) kualitas terbaik dunia dan sawah beras payo varietas padi lokal F1 yang cuma sekali panen setahun, dengan rumah-rumah tradisional terbuat dari kayu yang tidak dicat, berjenjang bertiang berwarna gelap kecoklatan dimakan usia, tapi sangat kokoh menahan gempa, dengan atap seng seperti pucuk piramid yang juga berwarna coklat tua, tersusun rapi dalam satu barisan dengan aristektur hampir seragam. Di pinggir jalan desa beraspal kasar, pagi hari dipenuhi kesibukan petani yang berangkat ke sawah ladangnya, bersama kerbau, sapi dan anak-anak. Dihalaman rumah banyak yang menjemur kulit manis beralas terpal. Matahari belum kelihatan hingga pukul 08.00 karena terhalang bukit, cuma sinarnya mengintip diatas selimut embun yang tebal.

Landscape desa Lempur
Landscape desa Lempur

H-1 kami memutuskan rombongan pendaki dipecah tiga, diawali dengan workshop komunitas desa tentang ekowisata besok paginya. Rombongan pertama berangkat duluan tanpa harus mengikuti workshop, mengingat mereka bertugas membawa semua logistik dan mendirikan tenda di basecamp Danau Duo. Rombongan kedua dan ketiga berangkat setelah workshop selesai. Rombongan kedua terdiri atas pendaki perempuan dan peserta yang lebih tua, sementara rombongan ketiga adalah tim dokumentasi dan penjelajah die hard. Rombongan ketiga inilah yang akan melakukan operasi breakthrough menyapu semua danau, sementara dua rombongan lainnya hanya mengawal sampai basecamp danau Duo.

Danau Duo, Lempur Kerinci.
Danau Duo, Lempur Kerinci.

14 November 2014 Pukul 13.00, workshop selesai dibarengi hujan november yang sangat lebat, sesuatu yang kami khawatirkan meskipun kami berasumsi cuaca disini sangat cepat berubah. Terpaksa kami menunggu hujan reda. Kegilaan dimulai ketika senja hujan tak juga reda, kami harus memutuskan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Jika kami menunda berangkat sampai besok, maka misi gagal karena logisitik yang telah dibawa rombongan pertama hanya cukup untuk satu malam, dan tidak ada sarana komunikasi untuk menjangkau mereka yang didanau Duo. Akhirnya diputuskan tetap go ahead. Rombongan kedua berangkat sekitar sepuluh orang berdesak-desakan dalam mobil menuju pintu rimba. Kami rombongan ketiga dijemput setengah jam kemudian dengan mobil yang sama, berenam laki-laki semua.

 

Masalah muncul dipintu rimba ketika rombongan ketiga ini cuma punya dua headlamp untuk penerang jalan. Semua headlamp rupanya terbawa oleh rombongan pertama pembawa logistik, karena asumsinya kami semua mendaki sebelum hari gelap. Maka mendakilah rombongan ketiga ini dimalam gelap, ditengah hujan, basah kuyup, di medan berbatu dan lumpur yang sangat licin. Selama dua jam keadaan benar-benar kacau di medan terjal ini, beberapa kali saya tersungkur jatuh bangun, karena yang pegang headlamp bukan saya. tapi pemandu di depan dan sweeper di belakang, saya ditengah cuma bisa melihat tiga meter kedepan, cahaya selebar telapak tangan. Depan belakang headlamp itu bergerak liar karena goncangan, mirip spotlight diskotik. Akibatnya yang ditengah bingung mau lihat kemana, banyak yang ngeloyor mengadu nasib dalam kubangan lumpur. Perlahan saya mulai merasakan ada yang tidak beres di kepala saya, entah hypotermia, tapi saya tahan sedapat mungkin, tetap berusaha sadar walaupun sedikit mual dan kepala berdenyut tak karuan.

 

Menyeberang Jeram Sungai Manjuto
Menyeberang Jeram Sungai Manjuto

Tapi pendakian malam itu sensasinya tak terlupakan, hutan tropis Lempur berkelap kelip seperti metropolitan, rupanya disebabkan jamur-jamur beracun memancarkan sinar (bioluminescent) seperti lentera menerangi pepohonan sepanjang pendakian, sebuah fenomena biokimia tepat pada jam sirkadian mereka, bersinar makin terang saat suhu makin rendah. Saya merasa beruntung menyaksikannya meski tak bisa mengabadikannya karena situasi hujan dan kurang cahaya. Suara serangga dan burung malam, landak dan entah apa lagi, belantara yang gelap punya bisnis pertunjukan tersendiri.

 

Kira-kira pukul 21.30 kami akhirnya sampai di basecamp Danau Duo 1300 mdpl, tenda terang benderang, asap bergulung dari tenda logistik, hujan rintik-rintik, penuh kesibukan seperti perkampungan Indian. Ada yang ngamen dengan gitar, tentu saja gak ada yang bayar. Rupanya rombongan kami sudah ditunggu dengan harap-harap cemas, karena jadwal dinner mereka sudah ditunda cukup lama. Tanpa pikir panjang karena begitu laparnya saya langsung menyelinap ke tenda logistik mencari makanan, mengisi kalori, ganti pakaian kering lalu masuk tenda, tidur

 

Pukul 06.00 pagi 17 November saya terbangun, penasaran seperti apa Danau Duo yang bikin susah ini. Oh my god, air jernih serasa dipantai tapi tidak asin, batu-batu besar, sekelilingnya hijau, hutan asli. Saya langsung pasang tripod, slider, steadycam. Seksi dokumentasi langsung sweeping tanpa komando. Kami punya waktu sampai pukul 10.00 pagi untuk explore danau ini. Pukul 08.30 matahari menyapu kabut, pucuk pepohonan berwarna-warni merah kuning hijau, dilangit yang biru sangat cerah. Freestyle and Freedom.
Tantangan sesungguhnya sudah menunggu, pada pukul 10.00, tim harus menempuh rute panjang berkelok-kelok, naik-turun menerobos hutan lebat, gelap, suram, lembab, basah, licin, dingin, tertutup lumut. Di basecamp Danau Duo tim ekspedisi mendapat bala bantuan dari pemuda desa Lempur yang akan melakukan aksi penyapuan jerat satwa dan penanaman pohon di Danau Kaco. Rombongan yang berangkat bertambah mencapai lima belas orang.

 

Kesan pertama saya ketika memasuki kanopi hutan ini adalah tingkat kesulitan yang luar biasa dalam membuat video di habitat harimau sumatera ini. Untuk membawa badan saja susah, apalagi kamera bergerak konstan dengan langkah cepat. Tanggung jawab tim dokumentasi ada pada saya. Sebagai operator steadycam, medan seperti ini sangat menguras stamina. Saya harus berjalan tanpa bertumpu pada tungkai, tapi bobot tubuh dialihkan ke tendon betis dan paha, karena operator steadycam manual harus menetralisir vertical bouncing, jadi kaki harus ditekuk sedikit tidak boleh lurus seperti jalan biasa. Selain itu mata memiliki fokus ganda, antara ground dan LCD screen, jadi faktor body balancing sangat menentukan.

 

Ini bukan jalur yang biasa ditempuh pengunjung, kami lewat jalur trek baru. Yang bikin saya kuatir bukannya diterkam si belang, amit-amit lah, karena saya kurus dan gak enak dagingnya, tapi kami harus mencapai danau Kaco sebelum hujan. Pemandu kami memperkirakan kami akan selamat dari hujan tiga jam kedepan. Gila, siapa yang bisa prediksi hujan diketinggian 1500 mdpl? Karena kalau hujan, sungai akan meluap dan mustahil untuk menyeberanginya. Kami harus lima kali menyeberang sungai, yaitu dua kali melewati jembatan pohon mati, tiga kali nyebur kedalam jeram sebelum sampai di tujuan akhir danau Kaco.

 

Satu jam pertama kami berhasil mencapai danau Kecik. Danau yang dikelilingi kebun kulit manis yang berwana warni dengan air yang berwarna kehijauan, tapi tidak ada formasi bebatuan seperti pantai di Danau Duo. Di sekitar danau ini kami istirahat sebentar dibawah naungan pohon-pohon kulit manis tua yang ditumbuhi lumut dan anggrek hutan.

 

Selepas dari danau kecik, sepanjang perjalanan saya dibuat terbengong-bengong karena bentang alam yang spektakuler dan mencekam. Saya seperti tentara kesasar, yang gak jelas asal-usulnya, dari kesatuan mana, bahkan angkatan perang negara mana. Tak jarang posisi saya berada paling belakang dari rombongan, karena berkali-kali saya harus exploring diluar trek untuk mendapatkan visual yang bagus. Saya gak mau menyia-nyiakan momen, meskipun timing sangat ketat dan menentukan.

 

Ketika kami melewati jembatan pohon mati yang kedua, pohonnya besar sekali sepanjang sepuluh meter, diameter setinggi badan saya, melintang sungai Manjuto. Rombongan yang pegang kamera jalan paling belakang. Ada empat orang terakhir yang sedang meniti pohon ini termasuk saya. Tepat ditengah titian saya berhenti, view nya luar biasa, saya minta tiga orang dibelakang saya stop dulu, karena saya mau mengambil gambar. Tiga meter dibawah saya sungai Manjuto mengalir pelan membelah hutan, dengan foreground pohon mati yang ditutup lumut dan pakis. Ketika jari saya mulai menyentuh tombol shutter, orang ke empat (paling belakang) mulai menginjakkan kakinya ke atas titian, dan pohon mati itu terjun bebas kebawah bersama empat penumpang malang, dengan suara berderak patah yang menggelegar, dan sumpah serapah orang-orang yang sedang mempertahankan nyawanya.

Starting point Danau Duo
Starting point Danau Duo

Ajaibnya, tepat sebelum menyentuh permukaan sungai, pohon ini berhenti, kayaknya tertahan lilitan akar. Proses berhentinya tidak menghentak sehingga kami tidak kehilangan keseimbangan, tapi kagetnya setengah mati. Kalau pohon ini jatuh kesungai dan terguling kami gak tau sudah jadi apa. Kawan-kawan yang sudah menyeberang duluan melihat kami dibawah dengan panik. Sementara kami terpaku masih jantungan. Orang keempat diujung jembatan tegak seperti patung memunggungi kami menghadap tebing sungai. Saya pikir dia shock, trauma atau kesurupan. Setelah kami sapa berkali-kali dengan keras, barulah dia bersuara, dia sedang mencari tutup lensanya yang jatuh entah dimana.

 

Ketika menyeberang jeram, arusnya sangat deras meski dangkal sedengkul. Kami harus hati-hati, karena banyak batu. Kami harus melangkah seperti kepiting untuk menjaga keseimbangan, geser sedikit-sedikit. Pada sungai ketiga dengan kedalaman sepinggang, saya sudah punya firasat, ini ide yang buruk. karena saya melihat kawan yang sudah duluan menjulurkan tangkai kayu untuk pegangan, ini paling deras. Kamera dan tas saya titipkan ke teman saya Bonie dibelakang. Ketika sampai ditengah sepatu boot saya tersandung batu, saya pun hanyut terseret lima meter dalam posisi telentang, kaki dan punggung beberapa kali menghantam batu. Untung tidak patah, tapi saya merasa dengkul kanan ngilu. Dengan sekuat tenaga saya bangkit dengan menjejakkan kaki ke batu, hingga saya meraih tangan kawan saya yang dipinggir sungai. Mereka kelihatan sangat cemas, dan bertanya… “kameranya mana bro? kok gak ada?”

 

Dengan kondisi basah sekujur badan saya meneruskan pengambilan gambar hingga mencapai danau Kaco. Danau kecil berwarna biru dikelilingi pohon berlumut dan tanaman merambat. Air jernih yang mengalir dari hulu menabrak celah-celah batu, terjun kebawah menuju danau menimbulkan buih dan gelembung seperti soda dibawah permukaannya. Beberapa pohon tumbang yang diselimuti lumut, melintang dari pinggir hingga ketengah danau dan ada yang sudah mengeras kayak batu, bertumpu pada bongkahan besar batu yang merupakan dinding dan dasar danau. Diduga komposisi mineral bebatuan ini yang membuat air danau kelihatan biru. Spesies ikan semah endemik Kerinci juga menghuni danau yang sangat dingin ini. Tingkat kejernihan danau ini luar biasa, sehingga visual bawah air yang didapatkan sangat detail.

 

Satu jam kami mengeksplore visual danau, dari atas sampai bawah air, sementara rombongan pemuda Lempur melakukan aksi penanaman pohon disekitar danau, sisanya menyapu jerat yang sering dipasang para pemburu satwa. Tak lama kemudian hujan mulai turun, rombongan mulai berteduh dibawah naungan pohon, kedinginan kayaknya pada pukul 14.00 itu. Anehnya, saya malah gak kedinginan. Cuma saya sendiri yang tegak tanpa baju dan malah terjun berenang mengambil gambar. Saya lupa kalau sebelumnya sudah kecebur duluan dijeram Manjuto, jadi sudah dingin dari awal.

 

Barulah pada pukul 15.00, tepat tiga ratus meter kami meninggalkan danau, saya merasakan sesuatu yang aneh pada lutut bagian kanan. Kombinasi dingin dan basah membuat cidera lutut saya saat insiden di jeram makin parah, ngilu bukan main. Perjalanan pulang dari danau Kaco menuju desa Lempur praktis saya cuma mengandalkan kaki kiri, kaki kanan terseret-seret, ngesot. Saya berada diurutan paling belakang bersama dua orang sweeper. Ketika melewati medan rawa-rawa berlumpur, saya gak mikirin lagi ancaman disana, persetan dengan pacet. Tangan dan kaki penuh ceceran darah. Ditambah lagi pukul 17.00 hujan deras mulai mengguyur trek menurun yang licin dan cadas itu. Tidak ada waktu untuk perawatan medis darurat, saya pikir juga percuma, saya harus memaksakan semua kekuatan saya sambil menahan ngilu. Saat itu hutan sudah sangat gelap dan semakin mencekam, tapi saya tak bisa melupakan betapa eksotisnya suasana suram itu. Disitu adrenalin dan semangat mempertahankan hidup berpacu dengan napas yang tersengal-sengal. Telapak kaki didalam sepatu boot sudah tidak merasakan apa-apa karena beku dan penuh air hujan.

Berpose di danau Kaco
Berpose di danau Kaco

Sekitar pukul 18.00 akhirnya tiga orang terakhir ini mencapai benteng Depati Parbo, titik ekstraksi, mobil jemputan menuju perkampungan sudah siap mengevakuasi, bersama rombongan yang sudah sampai duluan. Tidak banyak percakapan karena hampir black out terkapar. Setiba di homestay desa Lempur, beberapa kali jeritan suara saya melengking saat dukun pijat kampung berusaha mereparasi lutut saya, tentu saja diselingi minum kopi sambil ketawa terbahak-bahak. Sekaligus tak lupa saya menulis laporan tentang misi ekspedisi danau dataran tinggi Lempur Kerinci, dengan rating: “Menyiksa!”

VIdeo: Kerinci Mountain Lakes Breakthrough

Anggota Padmasana Mountain Brigade
Videographer dan 3D Animator berdomisili di Jambi. Penggemar Hardcore Adventure

Leave a Reply