Kirab Malam Satu Sura: Pesona Budaya Solo yang Ngangenin

Bagi kaum perantauan, membicarakan kampung halaman merupakan sesuatu yang sakral. Kalau tidak percaya, coba saja kamu berusaha memancing pembicaraan dengan topik tersebut. Semisal, di kantormu ada pegawai yang berasal dari luar daerah. Tanyakan padanya mengenai apa saja yang dirindukan dari kampung halamannya. Tanpa diminta pasti dari mulutnya akan mengalir kalimat- kalimat yang kentara banget menunjukkan kalau dia sedang kangen kampung halaman. ‘ Di Solo itu ya, jalanan selalu lengang, jadi kalau bepergian bisa diprediksi berangkat jam berapa dan sampai tujuan jam berapa.’ Atau kalimat begini ‘Biasanya pagi- pagi begini nganter ibu ke pasar, pulang dari pasar langsung makan nasi liwet di belakang GOR Manahan. Atau yang ini ‘ Tiap bulan Ramadhan, selalu dibangunkan sahur oleh ibu, di meja sudah tersedia ikan asin kesukaan dan sambal terasi.’ Dan setelah ngomong begitu, mendadak dia menerawang jauh dan mungkin saja sambil mbrebes mili (menitikkan air mata).

http://www.ghumi.id/2017/01/apa-sih-kampung-halaman-itu.html

Tentu saja, setiap orang yang merantau pasti memiliki kenangan yang indah tentang kampung halaman. Entah itu kebersamaan dengan keluarga, sahabat, makanan khas yang lezat, tempat wisata dan lain sebagainya. Saya sendiri adalah seorang perantauan yang berasal dari Solo. Sebetulnya lebih tepatnya perbatasan Solo dan Sukoharjo. Walaupun secara geografis masuk wilayah Sukoharjo, namun mobilitas saya lebih banyak ke Solo. Mulai dari sekolah TK sampai kuliah, magang, PPL, belum lagi dolan- dolannya lebih banyak saya habiskan di Solo. Jadi Solo sudah sangatlah lekat di lubuk sanubari.

Sudah dua tahun ini saya bekerja di sebuah kantor pemerintahan di Jakarta Selatan. Banyak hal yang membuat saya selalu menyimpan Kota Solo di benak saya. Hal itulah yang membuat saya tak pernah melewatkan momen libur panjang seperti lebaran atau Natal untuk pulang kampung. Jangankan libur panjang, bahkan saya memiliki budget sendiri untuk pulang kampung sekali dalam sebulan.  Beberapa waktu yang lalu sampai dua kali dalam sebulan. Ngga capek? Ya capek, tapi demi bertemu dengan keluarga, pasti semua bakal dilakukan dengan senang hati.

Hampir setiap pulang kampung saya menggunakan jasa transportasi kereta api. Seringnya sih saya pilih yang kereta api ekonomi, irit. Namun jangan bayangkan gerbong yang sesak dipenuhi penjual dan penumpang yang tidur- tiduran di lantai. Sejak beberapa tahun yang lalu, kereta api merupakan salah satu mode transportasi terbaik rekomendasi saya. Walaupun kelas ekonomi, namun sudah sangat nyaman. Masing- masing penumpang mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomor yang sudah ditentukan. Penjual asongan pun sudah tidak diperbolehkan masuk ke dalam stasiun apalagi gerbong kereta api, tentu saja menambah kenyamanan penumpang. Namun, jika kamu ingin menggunakan mode transportasi ini, saya sarankan untuk memesan tiket jauh- jauh hari sebelum keberangkatan. Kenapa begitu? Walaupun tidak sedang libur panjang, tiket selalu ludes habis saat weekend. Setidaknya begitu yang saya rasakan untuk jadwal pemberangkatan Jumat malam dari Jakarta menuju Solo serta arus baliknya yaitu Minggu malam dari Solo ke Jakarta. Begitulah para ‘tiket kereta api hunter’ yang tak pernah mau melewatkan satu weekend pun tanpa keluarga.

http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/menyusuri-stasiun-purwosari-stasiun-kereta-api-tertua-di-kota-solo_57c697e93197733c43951a09

Mengenai kampung halaman saya di Solo Jawa Tengah, mungkin seringkali kamu sudah mendengar ceritanya. Tentang orang- orangnya yang ramah, tentang kulinernya yang lezat dan murah atau tentang budayanya yang selalu menarik untuk dikulik. Menurut saya sendiri, Solo adalah sebuah kriteria lengkap untuk sebuah kampung halaman yang memorable dan lovable.

Kirab Malam Satu Sura

Kali ini saya mau bercerita tentang salah satu tradisi yang menarik yang bisa ditemukan di kampung halamanku, Solo tercinta. Tradisi tersebut adalah peringatan tahun baru Islam Hijriyah atau yang biasanya orang Jawa bilang dengan malam satu Sura. Setiap malam satu Sura, Keraton Kasunanan akan mengadakan sebuah ritual kirab yang sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala.

Dalam kirab tersebut, akan ada iring- iringan rombongan masyarakat serta abdi dalem keraton. Para abdi dalem tersebut berjalan membawa gunungan tumpeng yang terdiri dari hasil kekayaan alam serta benda pusaka.

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/perayaan-satu-suro-tradisi-malam-sakral-masyarakat-jawa

Salah satu hal yang menarik dari kirab tersebut adalah adanya sekelompok kebo (kerbau) bule di sela- sela iringan abdi dalem. Jika selama ini kamu sudah sangat familiar dengan binatang kerbau sebagai binatang yang kuat dan pembajak sawah, namun kerbau bule ini berbeda. Dari segi fisik, seperti namanya, kebo bule memiliki kulit yang putih kemerahan seperti kulit orang bule.

Kebo bule tersebut merupakan binatang yang dikeramatkan sekaligus sebagai salah satu pusaka dari Keraton Kasunanan Solo. Karena dianggap keramat, masyarakat banyak yang percaya bahwa mendapatkan kotoran dari kebo bule ini akan mendatangkan rejeki. Karena itu jangan heran jika saat kirab malam satu Sura, jalanan di Solo yang dilewati oleh iringan kirab akan tumpah ruah dengan masyarakat. Beberapa dari antara mereka bahkan ada yang berasal dari luar daerah. Masyarakat datang dengan ketertarikan masing- masing. Ada yang ingin ikut serta memperebutkan kotoran kebo bule, namun ada juga yang datang menonton karena ingin hanyut dalam euforianya, mungkin saya salah satunya.

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/perayaan-satu-suro-tradisi-malam-sakral-masyarakat-jawa

Kirab tak hanya semata iring- iringan abdi dalem, gunungan dan kebo bule. Di momen tersebut, hadirin akan memanjatkan doa bersama yang bertujuan untuk memohon berkah serta dijauhkan dari marabahaya. Memang sebagai manusia kita harus selalu eling (ingat) sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan waspada untuk tidak terjatuh dalam dosa.

Waktu kecil, saya rela berjalan jauh berkilo- kilo meter untuk menonton kirab budaya malam satu Sura ini. Selain capek juga saya harus menahan kantuk karena kirab tersebut dimulai dini hari di saat seharusnya sedang enak- enaknya beristirahat. Sampai di tujuan, ternyata jalanan sudah dipenuhi dengan hadirin. Tentu saja saya harus bersusah payah menerobos kerumunan untuk dapat menyaksikan kirab dengan jelas.

Namun pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang berharga dalam hidup saya. Saya diajarkan untuk saling menghargai setiap orang dengan berbagai kepercayaannya. Dengan pengalaman tersebut saya juga menjadi semakin mencintai Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Begitu banyak ragam budaya, bahasa, kepercayaan namun tetap satu juga.

Selain kirab budaya malam satu Sura, masih banyak lagi hal menarik dari Solo. Salah satunya yang paling ngangenin adalah kulinernya. Kalau berkunjung ke Solo, cobalah cicipi selat Solo, cabuk rambak, timlo, sego liwet dan es gempol pleret. Kalau malam, cobalah angkringan di Solo. Hidangan sederhana seperti nasi bandeng, wedang jahe serta obrolan ringan dengan sahabat pasti akan membuat malammu di Solo lebih berkesan. Ah, menulis cerita ini aku jadi semakin #ingetkampung, Solo. Tunggulah Solo, sebentar lagi aku akan pulang dan merajut cerita baru lagi denganmu.

 

http://www.tribunnews.com/travel/2015/08/15/cabuk-rambak-kuliner-khas-solo-berisi-potongan-ketupat-yang-gurih-disajikan-di-atas-daun-pisang
http://merahputih.com/post/read/ini-rahasia-cara-membuat-selat-solo-asli-yang-enak-dan-lezat

1 Comment

  1. Solo selalu jadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Terutama until kulinernya kalau buat saya. Galantine, Selat Solo, Bakso saya suka. Kayaknya perlu sekali seumur hidup melihat Kirab Malam Satu Sura. Menarik kelihatannya

Leave a Reply