Kutinggalkan hati di Tanah Flores

Post

Ini adalah perjalanan pertama saya ke bagian timur Indonesia dan mesti mampir ke rumah sakit sesampainya di daratan setelah sailing komodo. Sehabis makan malam saya diantar oleh seorang teman untuk memeriksa luka kaki saya ke rumah sakit (luka itu saya dapatkan saat terjatuh di kapal ketika sailing komodo). Sebenarnya saya malas mesti ke rumah sakit segala, tapi seseorang nun jauh disana diam-diam khawatir karena luka saya sudah empat hari hanya dibalut dengan perban seadanya. Dia pula yang ngotot kalau saya harus periksa ke dokter malam itu juga, takut infeksi kilahnya saat saya merajuk kalau lukanya pasti akan baik-baik saja. Untung cinta hehehe, padahal kan dia nggak lihat tapi tetep aja saya nurut juga. Saya dan tukang ojek harus nyasar di kegelapan malam Labuan Bajo saat kembali pulang menuju penginapan, masalahnya saya lupa letak hotel yang saya inapi malam itu. Hahaha, oke salahkan Dora yang tidak muncul membawakan peta untuk saya dan handphone saya yang kehabisan baterai. Lengkap sudah hari pertama saya di Labuan Bajo.

Perjalanan ini masih tersisa lima hari lagi setelah sebelumnya sailing komodo selama empat hari tiga malam, tapi semangat kami semakin menggebu-gebu apalagi saat kaki ini mulai menapakkan jejaknya di jalur hutan menuju desa Wae Rebo. Walaupun badan kami lelah selama perjalanan darat berjam-jam serta dengan kondisi jalan yang berliku-liku dan sangat curam tikungannya. Sepanjang jalan kami bertemu dengan warga Flores yang sangat ramah dan selalu menyapa kami. Apalagi anak-anak kecil yang sering melambaikan tangan kecil mereka, minta disapa kembali oleh kami. Tidak salah jika Indonesia terkenal dengan keramah-tamahannya.

Tung..tung..tung.. bunyi pentungan menggema ke seluruh sudut desa. Hari sudah malam, pukul tujuh ketika kami sampai di sebuah bangunan panggung lumayan besar mirip pos kamling. Pentungan tersebut hanya boleh dibunyikan oleh warga sana, yang menandakan bahwa tamu sudah datang. Sebelum kesini saya pernah membaca info bahwa kita belum boleh berfoto-foto sebelum kita melakukan semacam upacara penyambutan oleh warga desa adat Wae Rebo, jadi tak lupa juga saya ingatkan ke teman-teman lain soal hal tersebut. Kami berbincang dengan Bapak Yosef yang malam itu rumahnya dipakai untuk menampung rombongan kami tidur dan makan. Ternyata rumah berbentuk kerucut bernama ‘mbaru niang’ tersebut tidak cukup untuk menampung kami semua yang cukup banyak ini. Akhirnya saya dan kedua teman saya terpaksa tidur di rumah lain yang cukup besar, khusus untuk tamu-tamu saja tanpa ada keluarga yang tinggal disitu dan tanpa dapur yang memiliki perapian ditengahnya. Jadilah malam itu saya merasa kedinginan luar biasa melebihi dinginnya tidur di dalam tenda di gunung (padahal saya pakai sarung tangan, kaos kaki, kupluk dan jaket gunung kesayangan saya). Karena sebelumnya kita tidak bisa tidur, jadi kita bergosip hingga larut dan masuk ke mbaru niang saat lampu sudah padam dan sangat gelap. Salah kita sih, nongkrong sambil cekikikan nggak jelas di luar tadi.

Desa Wae Rebo yang cantik dilihat dari sisi manapun
Desa Wae Rebo yang cantik dilihat dari sisi manapun

Pagi hari di Wae Rebo, udara sejuk tanpa polusi ditemani secangkir kopi hitam nikmat khas Flores yang ditumbuk langsung dari dapur rumah mereka, suara tawa anak-anak kecil, harum masakan dari dapur, seolah itu semua berbaur menjadi perpaduan yang harmonis. Saya berlarian dan berfoto dengan anak-anak Wae Rebo yang menggemaskan dan ramah. Rasanya, saya ingin tinggal saja disana. Tepukan ringan seorang teman menyadarkan lamunan saya bahwa itu tidak mungkin, ternyata dia bermaksud mengajak saya ke atas bukit untuk mengabadikan lanskap rumah adat khas Wae Rebo dari sudut pandang yang lain. Dan benar saja, saya pun terbuai dengan keindahan. Tak lupa ucapan syukur atas takdir-Nya yang membawa saya ke tempat tidak terduga ini, tempat yang tadinya hanya ada di pikiran saja. Tapi ini benar adanya, nyata dan saya diantara mereka. Belum lengkap kalau kesini tidak membeli kain tenunnya yang bagus dan kopi mereka yang khas. Jangan lupa membawa uang tunai selama melakukan perjalanan ke Flores karena jarang ditemukan ATM disana.

Anak-anak Wae Rebo yang heboh saat berfoto
Anak-anak Wae Rebo yang heboh saat berfoto

Kami susuri lagi jalanan kemarin yang mengantarkan kami ke desa terindah di Flores ini. Bersama dengan anak-anak Wae Rebo yang harus ke sekolah di desa lain. Bayangkan seumur mereka harus turun bukit selama dua hingga tiga jam perjalanan dengan kaki. Biasanya mereka akan pulang ke desa Wae Rebo setiap akhir pekan. Mereka tinggal di desa lain selama sekolah. Keceriaan mereka membuat saya malu akan semangat mereka yang luar biasa. Tak jarang mereka menyemangati kami yang mulai kelelahan dan banyak mengeluh ini.

20160819_102108
Tari Caci

20160819_102255 20160819_103047

Tujuan kami setelah ini adalah Desa Cancar kecamatan Ruteng yang memiliki sawah dengan bentuk jaring laba-laba. Di perjalanan kami menuju kesana, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti dan kami diajak menyaksikan sebuah tarian adat yang bernama tari caci di sebuah lapangan pinggir jalan yang kami lewati. Kami disambut dengan baik oleh para panitia penyelenggara maupun orang-orang yang sedang melakukan tarian tersebut. Sungguh beruntung hari itu kami bisa melihat secara langsung tarian tersebut yang katanya hanya ada saat perayaan tertentu saja. Setelah puas melihat tarian adat, kami makan siang dan melanjutkan perjalanan kembali. Sesampainya di Desa Cancar, kami harus menaiki bukit sekitar 10 menit berjalan kaki untuk melihat pemandangan sawah jaring laba-laba dari atas. Menurut penuturan warga disana saat saya bertanya, "Kenapa bentuknya seperti jaring laba-laba?" Jawabannya adalah kepemilikan sawah tersebut disesuaikan dengan urutannya, yang paling besar petaknya itu adalah milik ketua adat disana. Tak banyak yang kami eksplore disana, hanya memandangi kehijauan sawah dan meresapi udara segar yang ditimbulkan oleh angin yang seolah menyapa kami, “selamat menikmati Flores..”

Sawah Jaring Laba-laba
Sawah Jaring Laba-laba
Sawah berbentuk unik yang katanya hanya ada di Indonesia
Sawah berbentuk unik yang katanya hanya ada di Indonesia

Kami yang kelelahan setelah berjalan jauh naik turun bukit, langsung menyatukan diri ke kasur hotel. Ya, kami menginap semalam di Ruteng yang dingin. Mungkin kalau di Bandung ini seperti Lembang hanya jauh lebih dingin. Menikmati roti dan kompiang (kue khas Manggarai) sebagai sarapan pagi dengan asap yang mengepul setiap kami berbicara, menandakan bagaimana dinginnya kota ini.

20160819_082410

Teman seperjalanan saya yang kocak dengan latar belakang danau Ranamese
Teman seperjalanan saya yang kocak dengan latar belakang danau Ranamese

Kabupaten Manggarai Timur memiliki Danau Rana Mese, yang hijau dan sejuk. Danau Rana Mese dapat ditempuh dari Ruteng maupun dari Borong. Apabila berangkat dari Ruteng bisa ditempuh dengan waktu tempuh 30 menit. Sedangkan apabila melalui Borong, perjalanan akan membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Gunung Inerie sebagai latar belakang perjalanan kami menuju Kampung Bena

Gunung Inerie sebagai latar belakang perjalanan kami menuju Kampung Bena

Selama perjalanan ke desa adat Bena, kami dimanjakan dengan pemandangan laut dan gunung. Antara perjalanan melalui laut dan darat sepertinya sama-sama membuat saya mual. Jalan yang berkelok-kelok dan tikungan-tikungan curam yang membuat jantung kadang tidak pada posisinya. *memang saya sering mendramatisir keadaan, tapi itu benar adanya.. Kalian bisa coba pengalaman saya ini.

Pintu masuk kampung adat Bena
Pintu masuk kampung adat Bena

Membuat kain tenun menjadi salah satu mata pencaharian warga disini

Membuat kain tenun menjadi salah satu mata pencaharian warga disini

Kampung Bena yang kami kunjungi kali ini merupakan salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di puncak bukit dengan latar indahnya gunung Inerie. Keterbatasan waktulah yang membuat kami harus segera beranjak ke destinasi selanjutnya, dengan perjalanan seperti tadi ketika akan kesini, kami pun melewati lanskap laut dan gunung serta matahari yang mulai tenggelam. Jangan lupa menyewa pakaian adat kampung bena untuk berfoto sebagai kenang-kenangan telah menginjakkan kaki disana.

Kampung Bena
Kampung Bena
Banyak sisi menarik untuk dijadikan objek foto di tempat ini
Banyak sisi menarik untuk dijadikan objek foto di tempat ini

20160819_163250

Tiba di kota Ende sudah malam dan kami harus segera istirahat agar bisa bangun lagi pagi buta untuk menyaksikan matahari terbit di danau Kelimutu. Masih dengan semangat yang sama, kami bangun dan tertidur lagi selama perjalanan di dalam mobil yang membawa kami ke tujuan akhir liburan selama sembilan hari ini. Sungguh luar biasa, saat saya melihat sendiri bagaimana rupa dari danau Kelimutu yang terdapat tiga bagian danau dengan warna berbeda yang setiap waktu warnanya bisa berubah. Bagaimana bisa semua yang ajaib dan aneh ini terdapat di satu tempat, di Indonesia kita tercinta, yang seringnya orang kita sendiri lebih banyak mengeksplorasi luar Indonesia dibandingkan dengan menjelajah di bumi sendiri. Sangat disayangkan memang, selama saya di Flores ini jarang ada orang pribumi yang kami temui, malahan lebih banyak wisatawan dari luar negeri. Seperti biasa saya melakukan ritual saya mensyukuri setiap hal yang saya temui kepada Sang Pencipta, yang telah mengizinkan saya menikmati salah satu ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa dan unik ini. Masya Allah.

Mentari pagi di Kelimutu
Mentari pagi di Kelimutu
Dua Danau yang berbeda warna
Dua Danau yang berbeda warna
Satu dari tiga danau yang terdapat disini, berwarna hitam..
Satu dari tiga danau yang terdapat disini, berwarna hitam..

Tidak terasa sudah sembilan hari saya dan teman-teman yang tadinya saling tidak mengenal, sekarang seperti keluarga. Kemanapun saya pergi, saya biasanya menemukan ‘keluarga baru’, keluarga seperjalanan yang membuat saya lupa akan masalah yang sedang saya hadapi karena mereka tanpa sadar membuat saya tertawa dan melupakan sejenak rutinitas yang membuat bosan.

20160820_105124

20160820_105206
Sayangnya waktu kami kesana penjaga rumah ini sedang tidak ada, jadi hanya bisa berfoto dari luar saja.

 

Sore hari enaknya menikmati suasana pantai di kota Ende, setelah siangnya kita ke tempat pengasingan Bung Karno dan belanja oleh-oleh. Pantai Ria yang kami kunjungi sedang menampakkan semburat jingga, sambil menunggu pesanan makan malam, kami mengabadikan foto kami dengan latar belakang senja terindah di Ende lengkap dengan kapal-kapal beriringan dan matahari yang kemerahan.

20160820_181106
Lembayung senja dari tempat kami berkumpul menikmati makan malam terakhir di kota Ende
20160820_181112
Pantai Ria - Ende

Jarak dari tempat penginapan ke bandara ternyata cukup dekat. Bahkan sebelum bandara di buka kami sudah sampai, ya hari kesepuluh ini kami harus kembali ke habitat masing-masing. Ada perasaan haru saat akan berpisah dengan teman-teman yang seru dan heboh seperti mereka. Hari ini perjalanan saya melalui bandara Ende, kemudian transit di Labuan Bajo dan transit selama enam jam di Bali. Sengaja saya memilih transit lama di Bali. Sekalian mengajak teman saya keliling Kuta dan membeli beberapa oleh-oleh, kebetulan teman saya belum pernah ke Bali. Hehehehe, lupa diri kalau sudah belanja.. Perjalanan saya masih panjang dan lama, tiba di bandara Soekarno Hatta saya harus mencari travel menuju ke Bandung. Ah, rasanya badan ini sudah tidak karuan. Sehari ini saya sudah melewati lima provinsi dengan kondisi badan kurang tidur dan supir travel yang membawa saya ke Bandung mengharuskan saya tetap terjaga. Beberapa kali maut hampir menyapa kami sepanjang perjalanan. Alhamdulillah saya sampai juga dengan selamat di Bandung (tentunya dengan segala macam doa yang terus menerus saya panjatkan dari awal perjalanan hingga sampai di rumah). Tentu selamat, karena akhirnya saya bisa menceritakan Indonesia bagian timur yang masih jarang terjamah oleh kita. Baik daratan maupun lautnya sangat memukau bagi siapapun yang melihatnya. Belum lagi adat dan budaya yang beraneka ragam. Flores telah memulihkan jiwa saya yang rentan ini, yang mengingatkan saya tentang kebesaran-Nya, sungguh masalah yang saya punya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan semua nikmat yang saya rasakan dari setiap perjalanan saya. Kali ini, Flores membuat saya benar-benar jatuh hati (lagi). Ya, saya sengaja meninggalkan hati disana agar bisa kembali lagi suatu saat nanti.

Labuan Bajo tertangkap kamera setelah lepas landas dari bandar udara Komodo
Labuan Bajo terlihat dari ketinggian setelah lepas landas dari bandar udara Komodo

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.