Luka membawaku ke surga kecil di timur Indonesia

Post

Kalau mengingat bagaimana awalnya perjalanan ini bisa terlaksana, miris juga. Berbekal luka hati, aku niatkan melangkah lebih jauh lagi dari sebelumnya. Excited, adalah hal yang mulai bergentayangan di dalam diri saat semakin dekat dengan hari H keberangkatan saya ke Nusa Tenggara Barat. Berawal dari Lombok, Pulau Kenawa, Pulau Moyo, lalu Pulau Satonda dan dilanjutkan ke tujuan utama perjalanan ini, yaitu Flores, Nusa Tenggara Timur. Berbeda dengan pejalan lain yang memulai perjalanan dari Labuan Bajo untuk mengeksplor Flores, saya memilih mengikuti open trip yang memulai perjalanannya dari Lombok. Kenapa saya lebih memilih ikut open trip untuk perjalanan yang cukup menguras isi kantong ini? Pertama, karena saya sudah membuat rincian biaya dan itinerary yang sama persis dengan open trip yang saya ikuti ini, dengan selisih yang lumayan lebih besar biayanya jika saya pergi mandiri tanpa bergabung dengan mereka. Kedua, perjalanan ini saya harap dapat membuat suasana hati saya kembali normal tanpa ada luka lagi.

Pulau Kenawa kala itu sedang mendung

Pulau Kenawa kala itu sedang mendung

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah pulau Kenawa yang letaknya di Nusa Tenggara Barat. Banyak yang sering tertukar antara pulau Kenawa dan pulau Kanawa. Hari pertama saya berada di atas kapal sangat menyiksa karena saya mabuk laut dan badan yang kurang fit akibat kurang istirahat. Saya sarankan untuk trip ke Flores ini, persiapan fisik dan isi dompet sangatlah penting. Pulau Moyo adalah tempat kedua yang kami datangi, disana kita bisa berenang di air tawar dan bermain-main di air terjun yang batunya bisa kita naiki. Bebatuannya tidak licin dan kita bisa merasakan sekujur tubuh kita terbasuh oleh air terjun yang lumayan deras dan rasanya segar sekali. Hihihi akhirnya setelah tiga hari tidak mandi, badan saya merasakan juga terkena cipratan air walaupun belum bisa dibilang itu adalah mandi yang normal.

 

Pulau Moyo, jalan sekitar lima belas menit ke dalam pulau untuk bermain di air terjun
Pulau Moyo, jalan sekitar lima belas menit ke dalam pulau untuk bermain di air terjun

Entah saya dosa apa atau karena memang saya yang kurang hati-hati, sepulang dari Pulau Moyo, saat di kapal saya tergelincir menabrak tangga menuju lantai dua kapal. Saya pikir lukanya hanya luka biasa, tapi ternyata lukanya sangat dalam tepat di tulang kering kaki kiri saya. Sementara kaki kanan saya hanya luka ringan tidak separah yang bagian kiri. Rasanya saya ingin menangis, tapi yang terjadi adalah saya tertawa untuk menutupi rasa sakit luka itu. Walaupun setelah dibandingkan dengan rasa sakit di hati masih kalah rasanya. Jauh lebih sakit. *oke, cukup! Ini sungguh menyakitkan...

Luka yang sudah diobati dengan cara yang sederhana karena peralatan yang seadanya, tetap terus menerus mengeluarkan darah merah segar. Sesegar mata ini dimanjakan oleh birunya air laut yang dipantulkan oleh langit yang luar biasa cerah dan terik selama kita live on board. Memang rasanya ada yang kurang saat melihat teman-teman lain asyik menyatukan diri mereka dengan laut dan bermain dengan makhluk-makhluk laut yang menggemaskan, sementara saya hanya bisa memandangi mereka dari daratan dengan luka di kaki dan hati saya ini. *eitts, curcol =)*

Numpang mandi air tawar di Pulau Satonda, yang juga memiliki sebuah danau jika kita berjalan ke arah belakang pulau.

Numpang mandi air tawar di Pulau Satonda, yang juga memiliki sebuah danau jika kita berjalan ke arah belakang pulau.

"Daripada bengong, mending mandi mumpung ada air tawar di Pulau ini," ucap seorang anak buah kapal yang sedang beristirahat di bawah pohon kepada saya. Ya, di Pulau Satonda ini memang terdapat kamar mandi umum dengan air tawar. Selain itu jika kita berjalan ke arah belakang pulau, akan kita temukan sebuah danau yang luas. Setelah tepat tiga hari dan melewati empat provinsi (Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Nusa Tenggara Barat), saya mandi air tawar sambil membersihkan luka di kaki. Untungnya selama terombang ambing tidak jelas di kapal, saya tetap wangi dan tidak membuat teman-teman seperjalanan saya pingsan dengan sukses. *atau sebenarnya mereka ingin protes tapi nggak enak karena belum kenal dekat dengan saya? ehmm mungkin juga sih :)

Perjalanan yang sesungguhnya dari live on board ini adalah ketika harus berada di atas kapal selama belasan jam nonstop tanpa jeda menuju pulau Gili Lawa Darat. Saya yang tidak tahan dengan mabuk laut lebih memilih tidur saat teman yang lain heboh melihat sunset di belakang kapal. Entah sudah berapa lama saya terlelap, tiba-tiba ada panggilan dari anak buah kapal agar kita makan malam dulu. Heran, semua kompak menggeleng tanda tidak sanggup lagi untuk turun ke bagian bawah kapal hanya untuk sekedar menenangkan perut yang bergejolak karena angin dan ombak yang sangat kencang menerpa setiap pergerakan kapal. Untungnya saya sering membawa madu dan sari kurma yang membuat saya tetap berkalori, mengingat selama perjalanan ini tidak ada sedikitpun nasi yang bisa bertahan di perut saya karena selalu saya muntahkan kembali. Jadi, selama tiga hari saya hanya memakan buah-buahan yang disediakan para ABK (Anak Buah Kapal) dan kurma serta madu. Mabuk laut memang sangat menyiksa tubuh saya, tapi lebih menyiksa pikiran saya saat teringat dia disana yang sudah membuat saya pergi sejauh ini untuk melupakan dia. *yaelah sempat-sempatnya saya ingat dia dan membalas pesannya ketika hanya ditanya "apa kabar?" Setelah membalas pesan itu tiba-tiba sinyal hilang lagi, hahaha aneh masa munculnya di saat pesan dia aja yang masuk.

20160815_094435
Gili Lawa Darat yang mengalihkanmu dari pikiran, eeeaaaa..

Susah payah saya menaiki bukit di Pulau Gili Lawa Darat yang terletak di Sumba Timur Nusa Tenggara Timur (NTT), kalau tidak sedang cedera kaki mungkin kaki ini lebih lincah seperti biasanya saat menapaki sebuah gunung. Tarrrararraaammm... saya berhasil sampai puncak dan seketika itu juga saya refleks terdiam melakukan ritual yang biasanya saya lakukan untuk meresapi semua ciptaan Allah yang sungguh luar biasa ini (menutup mata sejenak dan menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali). Saya pernah membaca di artikel pada majalah yang dikeluarkan oleh salah satu jasa transportasi katanya, "Mungkin Tuhan menciptakan Indonesia ketika sedang tersenyum". Ya saya rasa ungkapan itu tidak mengada-ada, memang benar Indonesia itu sangat luar biasa. Saya langsung jatuh hati pada bumi Flores saat itu juga, lupa kalau hati saya sedang kacau dan terluka. Tidak sia-sia perjalanan panjang saya belasan jam bahkan hari sebelum sampai kesini dari Nusa Tenggara Barat ke Nusa Tenggara Timur. Lalu lukanya? Ya masih tetap ada, hanya terlupakan oleh keindahan bumi pertiwi kita.

Pink Beach
Pink Beach

Belum cukup ketakjuban saya, kami diantarkan ke pantai Pink di Flores yang benar adanya warna pasir disana adalah pink. Saya pikir ini waktunya saya melarungkan luka di kedalaman laut Flores, baik luka di kaki maupun di hati saya. Ahahaha, semakin dalam semakin banyak saya melihat indahnya makhluk Tuhan menari dan berenang kesana kemari. Semakin lama luka itu semakin kebal rasanya, hilang tergantikan oleh luapan rasa senang karena akhirnya saya bisa berenang di laut Flores dengan kaki terbalut perban dan darah yang terus mengalir bersatu dengan asinnya air laut. Ehmm, jangan-jangan pantainya nanti semakin berwarna kemerahan akibat darah saya itu. *Abaikan khayalan saya yang ngaco itu*

Pulau Padar yang memukau
Pulau Padar yang memukau

Puas bermain air di pantai Pink, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal yang berbeda untuk menuju pulau Padar (kapal kami tetap bersandar di sekitar pantai Pink, jadi untuk ke pulau Padar kami memang harus berganti dengan kapal penduduk sana yang tujuannya adalah berbagi rezeki dengan mereka juga). Ahaa, ini adalah pulau yang sangat ingin saya kunjungi. Pulau yang tadinya hanya bisa saya lihat dari internet saja. Jujur saya iri melihat teman saya sudah menginjakkan kakinya di pulau indah ini. Dilihat dari sudut manapun, tetap cantik dan memukau. Teringat salah satu dari kami yang bilang, "ngapain capek-capek naik, toh nanti bisa lihat gambarnya di google," Duh rasanya ngenes ada orang bilang begitu, padahal dia juga akhirnya ikut naik sampai puncak dan terkagum-kagum sendiri. Hehehe, ya mungkin memang kita bisa dengan mudah melihatnya melalui internet, tapi rasanya berbeda ketika kita sendiri yang berjuang meniti setiap langkah kita dengan hati-hati menuju puncak. Hasilnya sebanding dengan yang kita dapatkan di atas sana. Hamparan laut dengan bentuk tiga cekungan dari setiap bukit serta matahari yang mulai tergelincir pulang ke peraduannya. Berkali-kali pula saya terbuai dengan suasana Pulau Padar yang memukau. Saya beruntung bisa menapakkan kaki disini dan mensyukuri setiap detiknya, melihat sendiri bagaimana menakjubkannya setiap sudut Indonesia yang luar biasa ini. Kami harus segera turun saat matahari mulai gelap, karena jalan turun kembali ke kapal akan lebih sulit ketika gelap tiba. Sesampainya di kapal, kami kembali mengarungi laut menuju kapal kami yang sudah berhari-hari menjadi tempat tinggal sekaligus kendaraan kami selama perjalanan.

Senja di Pulau Padar
Senja di Pulau Padar

Akhirnya malam itu kapal benar-benar bersandar di sekitaran pulau komodo. Ombak malam itu lebih tenang dibandingkan saat perjalanan kami dari pulau Satonda ke Pulau Gili Lawa Darat. Kami yang mulai membaur dan akrab begitu saja, entah siapa yang memulai. Kami seperti sudah mengenal jauh sebelum kami ada disini dan obrolan ringan kami pun berlanjut ke obrolan yang ngaco dan nggak beres serta apapun menjadi objek bahan tertawaan kami yang matanya sudah lelah dan minta istirahat.  Tidak terasa ini adalah malam terakhir kami bermalam di kapal, sebelum besok bertemu dengan sang komodo.

[caption id="attachment_5371" align="alignnone" width="340"]Rumahnya komodo ~ Pulau Rinca Rumahnya komodo ~ Pulau Rinca[/caption]

Pulau Rinca adalah salah satu pulau tempat komodo tinggal, letaknya di sebelah barat Pulau Flores, yang dipisahkan oleh Selat Molo. Selain komodo, terdapat babi liar, rusa dan burung hidup berdampingan disana. Kalau dilihat-lihat komodo itu ganteng dan kekar mirip si dia. *Lhoooo kenapa semua makhluk jadi terlihat seperti dia?* (Padahal gantengan dia kemana-mana lah) Ah, saya harus cepat-cepat kembali ke dunia nyata.

Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo
Komodo ganteng
Komodo ganteng

Nyatanya sang komodo itu saling memakan dengan sesama komodo walaupun itu ibu dengan anak kalau sedang lapar, padahal saya kira komodo itu binatang yang lucu dan menggemaskan seperti iklan pasta gigi yang saya tahu. Hiii saya jadi terbayang yang aneh-aneh, kebetulan luka kaki saya belum kering sehingga saya lebih mendekatkan diri dengan rangernya. Nggak lucu kan kalau saya datang dengan iming-iming menyembuhkan luka hati lalu malah saya jadi santapan komodo. Karena sang komodo tidak bisa diajak main kelereng atau joget-joget norak, akhirnya kami putuskan menyudahi hari kami di pulau rinca dan menuju ke Pulau Kelor.

Pulau Kelor yang tidak ada satupun pohon kelor tumbuh disana
Pulau Kelor yang tidak ada satupun pohon kelor tumbuh disana

Finally, kami sampai juga di Labuan Bajo yang artinya sebagian dari kami yang tidak melanjutkan perjalanan untuk overland Flores, adalah hari terakhir liburan dan perpisahan pun tak dapat kami elak lagi. Memang bertemu itu untuk berpisah lagi. Tapi siapa yang tahu kalau takdir mungkin mempertemukan kami lagi di kesempatan dan destinasi yang lebih menakjubkan.

Suasana senja Labuan Bajo
Suasana senja Labuan Bajo

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.