Mahalnya Kelapa Muda di Pulau Lengkuas, Hingga Merasakan Snorkeling Untuk Kali Pertama

Mesin kapal yang kami tumpangin masih terus mengeluarkan suara khasnya ditemani sesekali deburan ombak laut Belitong yang terkadang membuat kondisi di dalam perahu menjadi sedikit bergoyang.

Dari kejauhan sudah terlihat sebuah menara menjulang tinggi berwarna putih yang seakan-akan berada di tengah-tengah laut. Di sekeliling menara ini terlihat bebatuan berukuran besar yang tak beraturan. Beberapa bagian lainnya juga terlihat hijau oleh pepohonan kelapa serta beberapa pohon.

Semakin mendekati menara putih, kapal yang kami tumpangi semakin pelan. Dari atas kapal ini, saya masih bisa melihat biota di dalam air yang aslinya tidaklah terlalu dalam. Ikan-ikan beraneka bentuk dan warna terlihat berkeliaran mencari makan.

Selamat datang di Pulau Lengkuas. Walaupun namanya Pulau Lengkuas tapi saya tak menemukan sebatang pun tanaman Lengkuas atau Laos dalam bahasa Banjarnegara. Yang ada adalah beberapa pohon kelapa, pantai pasir putih, bebatuan beraneka ukuran dan bentuk, yang terakhir adalah menara pengawas lalu lintas kapal yang menjulang tinggi. Menara ini terlihat masih dalam kondisi bagus dan saat saya ke sini juga sedang diperbaiki dan pada beberapa bagian terlihat dicat. Menara ini merupakan menara pengawas buatan pemerintah Hindia-Belanda saat masih menjajah Indonesia.

Saya, Bastian, Khoerul, Rangga dan Tim KitaINA pun langsung turun dari kapal dan berjalan jinjit sambil sesekali mata nyengir karena teriknya sinar matahari serta panasnya pasir-pasir putih yang terpanggang.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Lengkuas ini? Jadi kami semua langsung berpencar. Ada yang langsung foto-foto. Ada yang ngadem dulu di bawah rindangnya pohon kelapa. Sedangkan saya dan Mas Bastian langsung menuju bagian samping menara menuju bibir pantai yang mempunyai banyak bebatuan unik berukuran besar. Sudah bisa ditebak. Saya mengikuti aktivitas sang fotografer dalam mencari angle yang tepat untuk mengabadikan si putih, menara ini.

Suasana Pulau Lengkuas siang itu begitu tenang. Angin semilir dari berbagai arah menambah kenikmatan pengunjungnya. Sayangnya pas saya ke sini bertepatan dengan hari Jumat dan lebih sayang lagi tidak bisa menunaikan kewajiban Sholat Jumat. Duh maafkan hambamu ini.

Kali ini saya hanya mengikuti sang fotografer dari kejauhan. Maklum, makin ke sini Mas Bastian makin totalitas dalam mencari sudut yang pas untuk mengabadikan obyek. Kali ini dia pun harus berendam di dalam air laut selama hampir setengah jam lebih di tengah terik matahari. Saya yang sudah mulai kepanasan harus menyerah dan minggir di sela-sela bebatuan besar.

Setengah jam sudah lewat dan belum ada tanda-tanda Mas Bastian akan mengakhiri aktivitasnya. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke sekitar menara.

Ada satu pemandangan unik saat hendak berjalan kaki menuju sekitar menara. Di pinggir jalan yang saya lewati terlihat sebuah gubuk beratapkan seng yang di bawahnya terdapat beberapa makam dalam kondisi yang lumayan terawat. Sebenarnya saat itu saya penasaran dengan keberadaan makam ini namun mau tanya-tanya bingung. Kebanyakan di sini adalah wisatawan. Ada memang penjual kelapa muda dan warung kecil namun saat itu tidak kepikiran dan langsung pergi dari lokasi makam tadi.

Sebuah gubuk yang berada di bawah rindangnya pohon kelapa seakan menarik perhatian saya siang itu. Beberapa buah kelapa yang terlihat segar teronggok di meja. Saya pun mendekat dan langsung membeli sebuah. Tak berapa lama, si penjual yang masih remaja ini langsung mengupas kelapa muda sedemikian rupa hingga sang pembeli bisa menikmati air dan daging kelapa mudanya sekaligus.

Dari mana mas? Jakarta ya? Tanya si penjual kelapa muda tadi dengan logat melayu belitong yang khas.

Bukan mas, saya asli dari Banjarnegara, Jawab saya dan si penjual tadi terlihat bingung, mungkin baru dengar daerah Banjarnegara kali pertama.

Berapa mas harganya? Tanya saya kembali.

Dua puluh lima ribu rupiah, mas.

Awalnya agak kaget di dalam hati namun saya langsung mikir cepat, mungkin saja karena di tengah-tengah pulau dan lokasi wisata jadi harganya mungkin “wajar” segitu. Sembari memberikan uang lima puluh ribu rupiah.

Sebuah bangku kayu dan meja terlihat kosong di samping lokasi penjual kelapa muda. Sementara itu di meja seberang terlihat sekelompok anak muda yang tengah menikmati sajian kelapa muda dan juga mie instant dalam cup-cup sterofoam. Ya…biarpun di tengah-tengah laut, Pulau Lengkuas ini menyediakan aneka minuman mulai dari kopi, soda hingga makanan ringan semacam mie instant untuk sekedar pelepas dahaga dan perut yang keroncongan.

Sesaat kemudian, dari kejauhan, Rangga sang tour guide kami melambai-lambaikan tangan sebagai tanda untuk segera menuju kapal dan melanjutkan perjalanan berikutnya.

Kapal pun mulai sedikit menjauh dari Pulau Lengkuas dan tak berapa lama, mesin kapal dimatikan saat berhenti di lokasi snorkling favorit di sekitar pulau ini.

Peralatan untuk snorkling mulai dari pelampung, kaca mata plus alat untuk bernafas serta kaki katak sudah disediakan. Saya yang aslinya tidak bisa berenang agak lumayan was-was. Sementara yang lain sudah mulai menikmati snorkling ditemani ikan-ikan, saya masih mengumpulkan niat untuk segera masuk ke dalam laut.

Oke akhirnya saya pun turun. Dengan menuruni tangga yang diletakan di pinggiran kapal, saya nekat saat itu. Percobaan pertama memakai alat snorkling gagal. Bukanya bernafas dengan mulut yang benar, malah mulut menyedot air laut yang tentu saja super asin. Saat menggunakan kaca mata pun awalnya kesusahan karena berkabut. Saat itu reflek nyoba memakai mata telanjang dan bodohnya malah membuat mata terasa pedas.

Kali ini setelah beberapa kali percobaan akhirnya saya bisa beradaptasi bernafas menggunakan mulut. Tangan satu masih terus memegang tangga yang diletakan di pinggiran kapal, sementara tangan yang satunya memegang roti yang sedari berangkat sudah disiapkan untuk memancing ikan-ikan agar mendekat. Jadi selama snorkeling, saya masih terus berpegangan pada tangga hahahaha. Sebenarnya ingin mencoba mengambang tapi takut terbawa arus.

Jadi bagaimana rasanya snorkling untuk kali pertama? Woww luar biasa. Saya bisa menyaksikan langsung bagaimana ekosistem di dalam laut. Karang-karang cantik dan beraneka bentuk. Ikan-ikan beraneka warna dan rupa. Rasanya menakjubkan. Padahal kedalaman laut yang kami gunakan untuk lokasi snorkeling ini tidak lebih dari lima meter.

Langit mulai sedikit mendung dan ini seperti pertanda untuk kami segera mengakhiri kunjungan di sekitar Pulau Lengkuas ini. Setelah semuanya puas bersnorkeling ria, kami pun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya.

Pulau mana lagi yang akan kami singgahi? Tunggu kelanjutan ceritanya.

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply